alexametrics
23.2 C
Banyuwangi
Tuesday, August 9, 2022

Markisa itu “Mari Kita Sabar”

SALAM semangat kawan! Semoga setelah membaca tulisan ini ada secuil ilmu bermanfaat yang mampu kita dapatkan. Hidup tidak semudah mencari jarum dalam tumpukan jerami, pun tak semudah seperti membalikkan telapak tangan bukan? Banyak hal yang ingin segera kita ketahui seperti apa dan bagaimana kehidupan kita di masa mendatang. Apakah kehidupan kita sangat menyenangkan atau malah sebaliknya? Karena, peliknya hidup membuat kita menyerah dan putus asa.

Tidak sedikit orang yang ingin rasanya, untuk segera melalui kehidupan yang sedang ia jalani sekarang, mereka penasaran, kadang juga khawatir.

Seperti bagi kalian dulu, mungkin ada yang pernah merasakan, semasa SD, ingin rasanya untuk segera naik ke tingkat selanjutnya yaitu SMA, dan yang SMA-pun rasanya ingin sekali untuk segera menikmati bagaimana rasanya kuliah. Pun yang kuliah, lebih tidak sabar lagi untuk segera lulus, lalu bekerja juga menikah.

Padahal, semakin pohon itu tumbuh, semakin kencang angin menerjang. Sama seperti hidup, semakin lama kita menyusuri waktu semakin banyak hal-hal yang menjadi beban hidup. Dan pada akhirnya, kita lelah, kita menyerah. Alhasil, ingin rasanya menarik kembali perkataannya dahulu, tetap menjadi anak kecil yang hanya tahu bermain dan bersenang-senang.

Berbicara tentang beban hidup, memang pasti ada, entah itu sifatnya diperuntukkan kita, seperti amanah atau kepercayaan. Atau, sifatnya kita yang memilih dan harus menanggung risikonya, seperti tugas-tugas kuliah, pekerjaan yang kita inginkan, dan kedua sifat itu pasti akan melewati masa yang paling sulit. Bahkan, kita juga akan punya pikiran seperti ini: “Kayaknya di dunia ini, akulah manusia yang paling banyak menanggung beratnya hidup!”

Baca Juga :  Kenali Gejala Stroke, Setiap Menitnya Sangat Berharga

Kawan! Sejatinya menjadi orang di masanya adalah masa-masa ternyaman, meskipun banyak tanggung jawab yang dipikulnya, setumpuk pekerjaan berat di punggungnya, seabrek beban hidup yang selesai satu tumbuh seribu, dan masih banyak lagi. Ssehingga membuat kita harus berpikir, harus memutar otak. Bagaimana semua itu harus selesai dengan hasil yang sesuai.

Kadang beban hidup tidak melulu tentang pekerjaan, melihat teman yang sukses, melihat baju teman yang bagus, ponsel baru, itu juga menimbulkan beban hidup muncul dalam benak kita. Rasanya tidak pede dengan apa yang sudah kita punya, kurang dengan penampilan kita, lalu kita memaksakan diri untuk menyamai mereka. Padahal, itu semua sangat berat.

Lalu apa kuncinya? Kuncinya, yakni “sabar”

“Sabar adalah syukur saat kita tertimpa musibah, dan syukur adalah sabar saat kita diberi nikmat” begitu kata M. Atiatul Muqtadir dan Miftah Farid M. dalam Buku mereka yang berjudul “Berdamai dengan Badai”

Sabar bukan berarti menyerah pada keadaan. Sabar bukan berarti membiarkan beban-beban hidup tadi bergelayut manja di kehidupan kita. Sabar bukan berarti pasrah dengan apa yang Tuhan kasih.  Tapi, sabar di sini adalah sebuah bentuk ikhtiar, apakah kita ikhlas atau tidak, kita berjuang atau tidak dalam mengarungi hidup, kita menerjang badai atau diam diterpa badai, yang terakhir apakah kita menyelesaikan semua beban hidup tadi.

Sesungguhnya, beban hidup adalah ujian dari Tuhan yang Mahakuasa, datangnya dari-Nya dan akan selesai juga karena-Nya. Terkadang, Tuhan mencintai makhluknya dengan diberikannya sebuah ujian berupa beban hidup, dan pastinya Tuhan tidak akan memberikan ujian melewati batas kemampuan.

Tuhan percaya, kita mampu melewati, sangat mampu. Asal kita sabar. Sabar itu harus dilatih, ditelateni, dan dilakukan. Seperti saya sekarang ini, yang notabene adalah seorang santri dan menempati Pondok Pesantren, saya harus bersabar melewati kesulitan-kesulitan di pesantren. Seperti, bersabar harus jauh dari orang tua, bersabar untuk tidak main Fb, InstaGram, TikTok, dan bersabar melewati sulitnya menghafal nadzom imriti, al–fiyyah, balaghoh, ushul fiqh, dan lain sebagainya.

Baca Juga :  Wanita dan Politik

Mungkin yang di rumah juga harus bersabar, sabar dengan omongan tetangga, sabar dengan ekonomi yang terkadang tidak sesuai dengan kantong, dan lain sebagainya. ”Fokus pada apa yang kita punya, bukan apa yang mereka punya. Pikirkan apa yang masih bisa kita lakukan, bukan apa yang orang lain bisa lakukan.” Dengan begitu, hidup akan terasa lebih ringan.

Nah! dengan sabar, sesulit apa pun atau seberat apa pun beban hidup. Pasti kita mampu melewatinya. Tapi, jika sudah bersabar harus ada tindakan untuk menyelesaikannya. Karena, bumbunya sabar yaitu penyelesaian, layaknya kita makan jika tidak ada bumbu yang dimasukkan pasti rasanya kurang nikmat, dan rasa nikmat akan ada, jika makanannya dimasak oleh tangan-tangan yang andal, dalam arti doa juga harus ikut menyertai kesabaran kesabaran kita.

Tujuan kita hidup adalah untuk meraih kebahagiaan yang hakiki, dan rasa bahagia tidak seenaknya kita nikmati, pasti ada gundukan masalah yang menghampiri. Jangan pernah menyerah dengan semua masalah. Layaknya mengayuh sepeda, ketika kita berhenti mengayuh maka kita akan jatuh. (*)

 *) Mahasiswi Jurusan Tadris/ Pendidikan Bahasa Indonesia, IAI Darussalam, Blokagung, Banyuwangi.

SALAM semangat kawan! Semoga setelah membaca tulisan ini ada secuil ilmu bermanfaat yang mampu kita dapatkan. Hidup tidak semudah mencari jarum dalam tumpukan jerami, pun tak semudah seperti membalikkan telapak tangan bukan? Banyak hal yang ingin segera kita ketahui seperti apa dan bagaimana kehidupan kita di masa mendatang. Apakah kehidupan kita sangat menyenangkan atau malah sebaliknya? Karena, peliknya hidup membuat kita menyerah dan putus asa.

Tidak sedikit orang yang ingin rasanya, untuk segera melalui kehidupan yang sedang ia jalani sekarang, mereka penasaran, kadang juga khawatir.

Seperti bagi kalian dulu, mungkin ada yang pernah merasakan, semasa SD, ingin rasanya untuk segera naik ke tingkat selanjutnya yaitu SMA, dan yang SMA-pun rasanya ingin sekali untuk segera menikmati bagaimana rasanya kuliah. Pun yang kuliah, lebih tidak sabar lagi untuk segera lulus, lalu bekerja juga menikah.

Padahal, semakin pohon itu tumbuh, semakin kencang angin menerjang. Sama seperti hidup, semakin lama kita menyusuri waktu semakin banyak hal-hal yang menjadi beban hidup. Dan pada akhirnya, kita lelah, kita menyerah. Alhasil, ingin rasanya menarik kembali perkataannya dahulu, tetap menjadi anak kecil yang hanya tahu bermain dan bersenang-senang.

Berbicara tentang beban hidup, memang pasti ada, entah itu sifatnya diperuntukkan kita, seperti amanah atau kepercayaan. Atau, sifatnya kita yang memilih dan harus menanggung risikonya, seperti tugas-tugas kuliah, pekerjaan yang kita inginkan, dan kedua sifat itu pasti akan melewati masa yang paling sulit. Bahkan, kita juga akan punya pikiran seperti ini: “Kayaknya di dunia ini, akulah manusia yang paling banyak menanggung beratnya hidup!”

Baca Juga :  Memburu Waktu Sukses UNBK

Kawan! Sejatinya menjadi orang di masanya adalah masa-masa ternyaman, meskipun banyak tanggung jawab yang dipikulnya, setumpuk pekerjaan berat di punggungnya, seabrek beban hidup yang selesai satu tumbuh seribu, dan masih banyak lagi. Ssehingga membuat kita harus berpikir, harus memutar otak. Bagaimana semua itu harus selesai dengan hasil yang sesuai.

Kadang beban hidup tidak melulu tentang pekerjaan, melihat teman yang sukses, melihat baju teman yang bagus, ponsel baru, itu juga menimbulkan beban hidup muncul dalam benak kita. Rasanya tidak pede dengan apa yang sudah kita punya, kurang dengan penampilan kita, lalu kita memaksakan diri untuk menyamai mereka. Padahal, itu semua sangat berat.

Lalu apa kuncinya? Kuncinya, yakni “sabar”

“Sabar adalah syukur saat kita tertimpa musibah, dan syukur adalah sabar saat kita diberi nikmat” begitu kata M. Atiatul Muqtadir dan Miftah Farid M. dalam Buku mereka yang berjudul “Berdamai dengan Badai”

Sabar bukan berarti menyerah pada keadaan. Sabar bukan berarti membiarkan beban-beban hidup tadi bergelayut manja di kehidupan kita. Sabar bukan berarti pasrah dengan apa yang Tuhan kasih.  Tapi, sabar di sini adalah sebuah bentuk ikhtiar, apakah kita ikhlas atau tidak, kita berjuang atau tidak dalam mengarungi hidup, kita menerjang badai atau diam diterpa badai, yang terakhir apakah kita menyelesaikan semua beban hidup tadi.

Sesungguhnya, beban hidup adalah ujian dari Tuhan yang Mahakuasa, datangnya dari-Nya dan akan selesai juga karena-Nya. Terkadang, Tuhan mencintai makhluknya dengan diberikannya sebuah ujian berupa beban hidup, dan pastinya Tuhan tidak akan memberikan ujian melewati batas kemampuan.

Tuhan percaya, kita mampu melewati, sangat mampu. Asal kita sabar. Sabar itu harus dilatih, ditelateni, dan dilakukan. Seperti saya sekarang ini, yang notabene adalah seorang santri dan menempati Pondok Pesantren, saya harus bersabar melewati kesulitan-kesulitan di pesantren. Seperti, bersabar harus jauh dari orang tua, bersabar untuk tidak main Fb, InstaGram, TikTok, dan bersabar melewati sulitnya menghafal nadzom imriti, al–fiyyah, balaghoh, ushul fiqh, dan lain sebagainya.

Baca Juga :  Bingung Memilih Jurusan dalam Pendidikan?

Mungkin yang di rumah juga harus bersabar, sabar dengan omongan tetangga, sabar dengan ekonomi yang terkadang tidak sesuai dengan kantong, dan lain sebagainya. ”Fokus pada apa yang kita punya, bukan apa yang mereka punya. Pikirkan apa yang masih bisa kita lakukan, bukan apa yang orang lain bisa lakukan.” Dengan begitu, hidup akan terasa lebih ringan.

Nah! dengan sabar, sesulit apa pun atau seberat apa pun beban hidup. Pasti kita mampu melewatinya. Tapi, jika sudah bersabar harus ada tindakan untuk menyelesaikannya. Karena, bumbunya sabar yaitu penyelesaian, layaknya kita makan jika tidak ada bumbu yang dimasukkan pasti rasanya kurang nikmat, dan rasa nikmat akan ada, jika makanannya dimasak oleh tangan-tangan yang andal, dalam arti doa juga harus ikut menyertai kesabaran kesabaran kita.

Tujuan kita hidup adalah untuk meraih kebahagiaan yang hakiki, dan rasa bahagia tidak seenaknya kita nikmati, pasti ada gundukan masalah yang menghampiri. Jangan pernah menyerah dengan semua masalah. Layaknya mengayuh sepeda, ketika kita berhenti mengayuh maka kita akan jatuh. (*)

 *) Mahasiswi Jurusan Tadris/ Pendidikan Bahasa Indonesia, IAI Darussalam, Blokagung, Banyuwangi.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/