alexametrics
23.3 C
Banyuwangi
Sunday, August 14, 2022

Buku Penyambung Silaturahim

SETELAH lama tak bersua, akhirnya bertemu juga. Walau hanya lewat buku. Begitulah cara penulis melakukan silaturahim. Membaca karyanya saja serasa bertemu langsung dengan si pemilik buku. Dan, perasaan seperti itu nyata. Sering saya alami sendiri. Dari dulu. Sekarang malah lebih sering.

Belum genap sebulan terakhir, saya menerima tujuh buku. Dari penulis yang berbeda-beda. Buku penyambung tali silaturahim itu di kirim alamat rumah. Juga ke kantor. Bahkan, awal pekan lalu ada satu buku yang diantar langsung penulisnya. Ke kantor saya: Jawa Pos Radar Banyuwangi. Penulisnya belum tua. Sangat kreatif. Sangat militan. Tapi tetap nyufi. Terus mencari kesejatian hidup. Dengan tetap berpegang kuat pada ‘ilmu’ dari Yang Mahaberilmu. Sesuai namanya: Taufiq Wr. Hidayat. Hanya saja, saya tidak sempat bertemu dengan penulis yang juga penyair muda Bumi Blambangan itu. Sayang sekali.

Karena kangen, langsung saya buka bukunya. Sangat bagus covernya. Apalagi isinya. Covernya bergambar badut. Mengilustrasikan judul bukunya: Dan Badut pun Past Berlalu. Yang membanggakan, buku karya Taufiq itu 100% produk lokal. Penulisnya asli Banyuwangi. di-lay out oleh anak Banyuwangi. Ilustratornya, Sinar Lintang, juga Laros (Lare Osing). Fatah Yasin Noor yang memeriksa aksara buku Taufiq merupakan penyair “Cinta’’ Kota Gandrung. Dan, yang menggembirakan, buku Badut Taufiq dierbitkan oleh Lareka, penerbit Banyuwangi yang bermarkas di Perum Puri Brawijaya Blok SG 5, Kebalenan. Maka, tidak ada alasan untuk minder. Sebaliknya warga Banyuwangi patut bangga. Sekarang kota ini punya penerbit buku. Produknya tidak kalah dari penerbit-penerbit mapan di kota besar. seperti Jogjakarta dan Jakarta, misalnya.

Untuk buku terbaru Taufiq sendiri, saya merasa tidak perlu membaca sampai tamat. Cukup memeriksa halaman per halaman yang tebalnya 399. Membaca judulnya saja saya sudah paham: kenapa judul artikel di halaman 212 (Dan Badut pun Pasti Berlalu) sekaligus dijadikan judul buku itu. Karena saya paham betul siapa gerangan Taufiq. Saya terus mengikuti proses kreatifnya. Bukan karena sama-sama berdarah Madura! Tetapi karena saya tahu persis potensinya. Menimba ilmu Sastra Indonesia di UGM dan Unej sudah cukup jadi garansi keilmuannya. Dengan bahasa yang nyastra, peraih penghargaan sastra Jawa Timur versi Balai Pusat Bahasa Surabaya itu menyajikan bukan hanya wajah Banyuwangi. Tapi lebih luas lagi. Dia bicara tentang Indonesia. Tentang budaya serta politik. Dan, tak ketinggalan juga, menyelipkan virus sufisme.

Baca Juga :  Dua Jenis Teman

Karena tak ingin tampak seperti badut, maka saya cukupkan membahas tentang Taufiq dan buku barunya sampai di sini. Jika masih penasaran, silakan pembaca buru bukunya di toko buku. Atau telepon langsung ke penulisnya (+62 852 571 481 39).

Beberapa hari setelah buku Taufiq datang, saya kembali menerima dua buku yang cukup bagus. Dikirim oleh deklamator nomor wahid di Indonesia: Sosiawan Leak. Satu buku berjudul Memo untuk Wakil Rakyat. Lumayan tebal: 392 halaman. Berisi kumpulan puisi dari 134 penyair di Indonesia. Buku itu hanya membahas satu tema: korupsi. Tapi dipuisikan dalam suasana beragam. Mulai dari sindiran sampai hujatan dan sumpah serapah kepada koruptor tersaji dalam bahasa puitik.

Mas Leak (begitu saya biasa memanggil teman seperjuangan saat ngamen puisi keliling berbagai kota itu) rupanya juga ingin saya memahami gejolak hatinya. Tapi bukan cinta yang membuat hati Mas Leak bergejolak. Sebab, hati penyair yang setia menggondrongkan rambutnya itu akan terus bergejolak selama jamur korupsi masih tumbuh di negeri ini. Hatinya akan makin gejolak ketika melihat jurang ketimpangan si kaya dan si miskin masih menganga di antara kita. Semua gejolak itu saya rasakan menghebat ketika membaca buku yang dia kirim: Wathathitha. Kumpulan sajak Sosiawan Leak itu cukup kocak. Pas sekali untuk menertawakan kondisi bangsa dan negara mutakhir ini.

Yang membuat saya terkejut sampai hari ini adalah kiriman buku dari Joko Pinurbo. Tentu saya sangat tersanjung. Saya belum mengenal dia secara face to face. Saya mengenal Jokpin hanya lewat karya-karyanya yang mainstream. Bahkan, salah satu puisinya ‘’Memeluk Agama’’, saya bahas khusus di tulisan saya: ‘’Pinurbo Memeluk Agama’’ (kolom Bahasa majalah Tempo, 2 Mei 2016). 

Penyair yang punya nama beken Jokpin itu tidak hanya mengirimkan satu buku. Tapi langsung tiga: Telepon Genggam, Selamat Menunaikan Ibadah Puisi, dan Malam Ini Aku Tidur di Matamu. Tiga buku puisi yang sangat bagus. Saya tak bosan membaca berulang-ulang puisi dalam tiga buku itu. Saya pun jadi lebih akrab dengan Pak Jokpin. Sebagaimana saya mengakrabi kejelian Pak Jokpin dalam membaca fenomena di sekitarnya. Fenomena yang sederhana diungkapkan dalam bahasa yang sederhana tapi bernas. Jadilah puisi dengan daya pukau yang luar biasa. Puisi ‘’Buku’’ ini salah satu contohnya:

Hadiah terindah yang kudapat dari buku

ialah ingatan: pacar terakhir yang selalu

membujukku agar tidak mudah mati

dalam kehidupan, hidup dalam kematian.

Baca Juga :  Industri Manufaktur Jatim di Tengah Wabah Covid-19

Ah, kita tinggalkan Jokpin. Saya takut Anda larut dalam penyesalan. Seperti saya. Membaca puisi-puisi Jokpin sama dengan mengolok-olok diri sendiri. Betapa kita ini terlalu angkuh. Tak peduli terhadap apa yang disodorkan oleh lingkungan sekitar. Untuk direkam. Sekalipun hanya dalam bentuk buku catatan. Apalagi dalam larik-larik puisi.

Terakhir, dua buku dari Pulau Garam juga menambah koleksi perpustakaan saya. Ketika mudik ke Sumenep Lebaran lalu, penyair Celurit Emas D. Zawawi Imron datang ke rumah orang tua saya. Mendahului saya yang sudah di jalan menuju Batang-Batang, kediaman Pak Zawawi. Saya pun balik kanan. Selain mengantar tiga lukisan yang harus saya bawa ke Banyuwangi, Pak Zawawi juga menghadiahi buku ‘’Kelenjar Laut’’.  Itu bukan sembarang uku puisi. Tapi buku puisi yang sangat bagus. Dua tahun berturut-turut buku itu meraih penghargaan prestisius: Mastera 2010 dari Kerajaan Malaysia dan The S.E.A Write Award 2011 dari Kerajaan Thailand. Sambil menyerahkan buku itu Pak Zawawi membisikkan kalimat: cukup baca buku juara ini, puisimu akan bertambah bagus. 

Ya, akhir-akhir ini saya dan Pak Zawawi memang sering terlibat diskusi dalam Rustra (Ruang Sastra). Beliau tampaknya mengikuti beberapa puisi dan komentar yang saya unggah di grup WA penyair se Indonesia itu. Termasuk sesekali mengelindingkan ide menghadirkan Presiden Penyair RI Sutardji Chalzoum Bahri ke Banyuwangi. Bersama sejumlah penyair hebat lainnya. Membagi ilmunya kepada pencinta sastra, sastrawan, dan guru bahasa Indonesia di Bumi Blambangan.

Satu buku lagi yang saya bawa dari Madura berjudul ‘’Pengantar Kebahagiaan’’. Buku puisi karya penyair Sumenep Faidi Rizal Alief. Bukunya bagus sebagus isinya yang penuh metafora Madura. Sesuai jiwanya yang masih muda.

Tiada kegembiraan yang bisa mengalahkan perasaan ketika dapat buku baru. Yang dikirim langsung oleh penulisnya. Yang diberikan penulisnya secara langsung. Hati makin berbunga-bunga ketika membuka halaman pertama di balik sampul terbubuh tanda tangan si penulisnya.

Saya tidak pernah bertanya apa maksud dan tujuan hadiah-hadiah buku itu. Mungkin mereka tahu saya suka sekali buku. Suka membaca buku apapun. Alasan lainnya, juga mungkin, mereka tahu saya juga menulis resensi buku. Entahlah. Pastinya, buku-buku yang terus berdatangan itu berebut tempat di perpustakaan pribadi saya. Yang makin sempit saja raknya, berdesakan dengan buku-buku baru yang terus saya beli di toko buku.

Wa ba’du. Ketika membaca buku mata jadi lelah. Tapi tidak dengan pikiran dan hati. Pikiran jadi luas. Hati pun jadi terang. (@AdlawiSamsudin, kaosing93@gmail.com)

SETELAH lama tak bersua, akhirnya bertemu juga. Walau hanya lewat buku. Begitulah cara penulis melakukan silaturahim. Membaca karyanya saja serasa bertemu langsung dengan si pemilik buku. Dan, perasaan seperti itu nyata. Sering saya alami sendiri. Dari dulu. Sekarang malah lebih sering.

Belum genap sebulan terakhir, saya menerima tujuh buku. Dari penulis yang berbeda-beda. Buku penyambung tali silaturahim itu di kirim alamat rumah. Juga ke kantor. Bahkan, awal pekan lalu ada satu buku yang diantar langsung penulisnya. Ke kantor saya: Jawa Pos Radar Banyuwangi. Penulisnya belum tua. Sangat kreatif. Sangat militan. Tapi tetap nyufi. Terus mencari kesejatian hidup. Dengan tetap berpegang kuat pada ‘ilmu’ dari Yang Mahaberilmu. Sesuai namanya: Taufiq Wr. Hidayat. Hanya saja, saya tidak sempat bertemu dengan penulis yang juga penyair muda Bumi Blambangan itu. Sayang sekali.

Karena kangen, langsung saya buka bukunya. Sangat bagus covernya. Apalagi isinya. Covernya bergambar badut. Mengilustrasikan judul bukunya: Dan Badut pun Past Berlalu. Yang membanggakan, buku karya Taufiq itu 100% produk lokal. Penulisnya asli Banyuwangi. di-lay out oleh anak Banyuwangi. Ilustratornya, Sinar Lintang, juga Laros (Lare Osing). Fatah Yasin Noor yang memeriksa aksara buku Taufiq merupakan penyair “Cinta’’ Kota Gandrung. Dan, yang menggembirakan, buku Badut Taufiq dierbitkan oleh Lareka, penerbit Banyuwangi yang bermarkas di Perum Puri Brawijaya Blok SG 5, Kebalenan. Maka, tidak ada alasan untuk minder. Sebaliknya warga Banyuwangi patut bangga. Sekarang kota ini punya penerbit buku. Produknya tidak kalah dari penerbit-penerbit mapan di kota besar. seperti Jogjakarta dan Jakarta, misalnya.

Untuk buku terbaru Taufiq sendiri, saya merasa tidak perlu membaca sampai tamat. Cukup memeriksa halaman per halaman yang tebalnya 399. Membaca judulnya saja saya sudah paham: kenapa judul artikel di halaman 212 (Dan Badut pun Pasti Berlalu) sekaligus dijadikan judul buku itu. Karena saya paham betul siapa gerangan Taufiq. Saya terus mengikuti proses kreatifnya. Bukan karena sama-sama berdarah Madura! Tetapi karena saya tahu persis potensinya. Menimba ilmu Sastra Indonesia di UGM dan Unej sudah cukup jadi garansi keilmuannya. Dengan bahasa yang nyastra, peraih penghargaan sastra Jawa Timur versi Balai Pusat Bahasa Surabaya itu menyajikan bukan hanya wajah Banyuwangi. Tapi lebih luas lagi. Dia bicara tentang Indonesia. Tentang budaya serta politik. Dan, tak ketinggalan juga, menyelipkan virus sufisme.

Baca Juga :  Antara Islam dan Pergaulan: Nabi Muhammad di Tengah Yahudi dan Nasrani

Karena tak ingin tampak seperti badut, maka saya cukupkan membahas tentang Taufiq dan buku barunya sampai di sini. Jika masih penasaran, silakan pembaca buru bukunya di toko buku. Atau telepon langsung ke penulisnya (+62 852 571 481 39).

Beberapa hari setelah buku Taufiq datang, saya kembali menerima dua buku yang cukup bagus. Dikirim oleh deklamator nomor wahid di Indonesia: Sosiawan Leak. Satu buku berjudul Memo untuk Wakil Rakyat. Lumayan tebal: 392 halaman. Berisi kumpulan puisi dari 134 penyair di Indonesia. Buku itu hanya membahas satu tema: korupsi. Tapi dipuisikan dalam suasana beragam. Mulai dari sindiran sampai hujatan dan sumpah serapah kepada koruptor tersaji dalam bahasa puitik.

Mas Leak (begitu saya biasa memanggil teman seperjuangan saat ngamen puisi keliling berbagai kota itu) rupanya juga ingin saya memahami gejolak hatinya. Tapi bukan cinta yang membuat hati Mas Leak bergejolak. Sebab, hati penyair yang setia menggondrongkan rambutnya itu akan terus bergejolak selama jamur korupsi masih tumbuh di negeri ini. Hatinya akan makin gejolak ketika melihat jurang ketimpangan si kaya dan si miskin masih menganga di antara kita. Semua gejolak itu saya rasakan menghebat ketika membaca buku yang dia kirim: Wathathitha. Kumpulan sajak Sosiawan Leak itu cukup kocak. Pas sekali untuk menertawakan kondisi bangsa dan negara mutakhir ini.

Yang membuat saya terkejut sampai hari ini adalah kiriman buku dari Joko Pinurbo. Tentu saya sangat tersanjung. Saya belum mengenal dia secara face to face. Saya mengenal Jokpin hanya lewat karya-karyanya yang mainstream. Bahkan, salah satu puisinya ‘’Memeluk Agama’’, saya bahas khusus di tulisan saya: ‘’Pinurbo Memeluk Agama’’ (kolom Bahasa majalah Tempo, 2 Mei 2016). 

Penyair yang punya nama beken Jokpin itu tidak hanya mengirimkan satu buku. Tapi langsung tiga: Telepon Genggam, Selamat Menunaikan Ibadah Puisi, dan Malam Ini Aku Tidur di Matamu. Tiga buku puisi yang sangat bagus. Saya tak bosan membaca berulang-ulang puisi dalam tiga buku itu. Saya pun jadi lebih akrab dengan Pak Jokpin. Sebagaimana saya mengakrabi kejelian Pak Jokpin dalam membaca fenomena di sekitarnya. Fenomena yang sederhana diungkapkan dalam bahasa yang sederhana tapi bernas. Jadilah puisi dengan daya pukau yang luar biasa. Puisi ‘’Buku’’ ini salah satu contohnya:

Hadiah terindah yang kudapat dari buku

ialah ingatan: pacar terakhir yang selalu

membujukku agar tidak mudah mati

dalam kehidupan, hidup dalam kematian.

Baca Juga :  Buku, Melindungi dan Menyelamatkanmu

Ah, kita tinggalkan Jokpin. Saya takut Anda larut dalam penyesalan. Seperti saya. Membaca puisi-puisi Jokpin sama dengan mengolok-olok diri sendiri. Betapa kita ini terlalu angkuh. Tak peduli terhadap apa yang disodorkan oleh lingkungan sekitar. Untuk direkam. Sekalipun hanya dalam bentuk buku catatan. Apalagi dalam larik-larik puisi.

Terakhir, dua buku dari Pulau Garam juga menambah koleksi perpustakaan saya. Ketika mudik ke Sumenep Lebaran lalu, penyair Celurit Emas D. Zawawi Imron datang ke rumah orang tua saya. Mendahului saya yang sudah di jalan menuju Batang-Batang, kediaman Pak Zawawi. Saya pun balik kanan. Selain mengantar tiga lukisan yang harus saya bawa ke Banyuwangi, Pak Zawawi juga menghadiahi buku ‘’Kelenjar Laut’’.  Itu bukan sembarang uku puisi. Tapi buku puisi yang sangat bagus. Dua tahun berturut-turut buku itu meraih penghargaan prestisius: Mastera 2010 dari Kerajaan Malaysia dan The S.E.A Write Award 2011 dari Kerajaan Thailand. Sambil menyerahkan buku itu Pak Zawawi membisikkan kalimat: cukup baca buku juara ini, puisimu akan bertambah bagus. 

Ya, akhir-akhir ini saya dan Pak Zawawi memang sering terlibat diskusi dalam Rustra (Ruang Sastra). Beliau tampaknya mengikuti beberapa puisi dan komentar yang saya unggah di grup WA penyair se Indonesia itu. Termasuk sesekali mengelindingkan ide menghadirkan Presiden Penyair RI Sutardji Chalzoum Bahri ke Banyuwangi. Bersama sejumlah penyair hebat lainnya. Membagi ilmunya kepada pencinta sastra, sastrawan, dan guru bahasa Indonesia di Bumi Blambangan.

Satu buku lagi yang saya bawa dari Madura berjudul ‘’Pengantar Kebahagiaan’’. Buku puisi karya penyair Sumenep Faidi Rizal Alief. Bukunya bagus sebagus isinya yang penuh metafora Madura. Sesuai jiwanya yang masih muda.

Tiada kegembiraan yang bisa mengalahkan perasaan ketika dapat buku baru. Yang dikirim langsung oleh penulisnya. Yang diberikan penulisnya secara langsung. Hati makin berbunga-bunga ketika membuka halaman pertama di balik sampul terbubuh tanda tangan si penulisnya.

Saya tidak pernah bertanya apa maksud dan tujuan hadiah-hadiah buku itu. Mungkin mereka tahu saya suka sekali buku. Suka membaca buku apapun. Alasan lainnya, juga mungkin, mereka tahu saya juga menulis resensi buku. Entahlah. Pastinya, buku-buku yang terus berdatangan itu berebut tempat di perpustakaan pribadi saya. Yang makin sempit saja raknya, berdesakan dengan buku-buku baru yang terus saya beli di toko buku.

Wa ba’du. Ketika membaca buku mata jadi lelah. Tapi tidak dengan pikiran dan hati. Pikiran jadi luas. Hati pun jadi terang. (@AdlawiSamsudin, kaosing93@gmail.com)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

DKB Gelar Workshop Teater dan Pantomim

Tarif Ojol Akan Naik

Ditinggal Ziarah Haji, Rumah Terbakar

/