alexametrics
24.9 C
Banyuwangi
Monday, August 8, 2022

Lebih Kenal Artis Korea atau Nama Pahlawan Kita

DRAKOR kependekan dari Drama Korea yang merupakan serial drama TV berasal dari negara Korea Selatan. Drakor identik dengan pemeran artis-artis Korea yang memiliki paras rupawan, sehingga kaum milenial sangat tertarik untuk melihat drakor.

Selain pemain yang rupawan drakor memiliki alur cerita yang menarik untuk diikuti dan juga setiap dramanya memiliki makna dan pesan tersirat, serta mampu menarik penonton untuk ikut merasakan emosi dalam drama tersebut. Alur cerita Drakor membuat penonton terinspirasi atas perjalanan si tokoh dalam drama.

Saat menonton drama Korea kita akan disuguhi dengan hal-hal yang tidak pernah kita alami di negara kita, kita selalu tertarik dengan hal-hal yang terlihat berbeda dari kita. Misalnya musim salju, musim bunga, bahasa dan budayanya. Faktor fashion juga menjadi alasan mengapa remaja lebih suka menonton drakor.

Media audio visual selalu menjadi daya tarik bagi pemirsanya. Tak tertutup kemungkinan seperti halnya drama televisi yang satu ini, apalagi kalau bukan genre drama yang datangnya dari Korea. Jutaan orang menggandrungi drakor. Di berbagai belahan dunia, tak terkecuali Indonesia, tak sedikit yang tertarik dengan tayangan-tayangan yang datangnya dari Korea ini, sehingga menjadi daya tarik tersendiri khususnya kaum milenial yang barang kali butuh hiburan alternatif tayangan di antara tayangan yang ada di media kita sendiri.

Berbagai alasan bisa diungkapkan ketika tertarik pada tayangan drakor. Selain pemerannya yang memang menarik, berperan dengan berbagai karakter yang boleh dibilang kaya, mulai dari yang kejam, psikopat, cerdas, penguasa, sampai yang lembut, cantik, dan menggoda, lengkap bisa ditemui dalam berbagai tayangan yang bisa meraih perhatian khususnya penggemar milenial. Sebut saja Lee Min-ho. Tokoh ini berperan di berbagai cerita, yang pasti selalu dengan karakter dan peran yang hebat. Peran orang kaya atau kalangan atas, bahkan peran raja dan peran pewaris tunggal yang kaya dan lain-lain, sehingga memiliki kesan tersendiri untuk pemirsanya yang tentu saja akan bisa memunculkan ketertarikan yang luar biasa dan menjadi idola yang selalu ditunggu-tunggu kehadirannya.       

Lee Min-ho mulai dikenal luas di Korea maupun Asia berkat perannya sebagai Gu Jun-pyo dalam serial drama Boys Over Flowers pada tahun 2009. Peran tersebut membawanya memenangkan penghargaan Aktor Pendatang Terbaik di Baeksang Arts Awards ke-45. Lahir pada 22 Juni 1987, Heukseok-dong Seoul Korea Selatan serta memiliki tinggi 1,87 meter. Sudah banyak drama yang ia bintangi seperti The Heirs, Boys Over Flowers, Legend of the Blue Sea, The King: Eternal Monarch, dan masih banyak lagi. Lee Min-ho juga pernah mendapatkan penghargaan SBS untuk kategori berpasangan (Wikipedia).

Beda lagi dengan Park Seo-joon. Dia memberikan inspirasi bagi pemirsanya dalam perannya yang terlahir dari rakyat biasa, bahkan cenderung miskin, akan tetapi dengan berbagai usahanya yang keras, serta diikuti kesabaran, hingga meraih kesuksesan yang bisa meraih simpati pemirsanya dan bisa menginspirasi bagi kalangan milenial. Walaupun barang kali terkesan sentimentil dan seperti dongeng layaknya, akan tetapi cerita-cerita berbasis seperti kemiskinan, kemelaratan, kesengsaraan, dan sebagainya yang akhirnya sukses masih menjadi jalan cerita yang bisa dijual, dieksploitasi oleh penulis skenario dan dengan kemasan yang apik akan memunculkan cerita yang bisa mengharu-biru pemirsanya sehingga akan sangat berkesan dan lama-kelamaan muncul simpati sehingga berkembang menjadi idola.

Baca Juga :  Pendidikan Akhlak Membentengi Santri dari Dampak Demoralisasi

Park Seo-joon dikenal karena perannya sebagai Si Woo dalam serial televisi Korea KBS2, Dream High 2. Pertama kali debut pada tahun 2011, menjadi model video clip Bang Yongguk ”I Remember”. Lahir pada 16 Desember 1988, Korea Selatan serta memiliki tinggi 1,85 meter. Banyak judul drama yang sudah ia perankan seperti Itaewon Class, What’s Wrong with Secretary Kim, Hwarang: The Poet Warrior Youth dan masih banyak lagi. Ia pernah mendapatkan penghargaan Film Blue Dragon untuk Bintang Populer (Wikipedia).

Belum lagi nama pemeran yang satu ini, yaitu Song Joong-ki. Peran tentara, peran pengacara, menjadikan pemirsa memiliki alternatif tokoh yang bisa digandrungi, dengan ketampanan dan kegagahan, membela rakyat berjuang sehingga memunculkan peran yang luar biasa di benak pemirsanya, khususnya kaum milenial. Tampil seolah pahlawan, tentu akan menyedot perhatian pemirsa milenialnya, yang bisa menumbuhkan simpati bahkan bisa merasa memiliki ”pahlawan” yang mewakili generasinya sehingga memunculkan idola tersendiri.

Song Joong-ki adalah seorang aktor, model, dan pembawa acara yang memiliki tinggi badan 1,78 meter dari Korea Selatan. Ia mulai terkenal saat membintangi drama bersejarah Sungkyunkwan Scandal dan acara varietas Running Man sebagai salah satu anggota pemain awal ketika dimulai pada tahun 2010. Ia lahir pada 19 September 1985, Distrik Dong, Daejeon Korea Selatan (Wikipedia).

Setelah melihat karakter dalam drakor, baik yang gagah, pemberani, pahlawan, heroik, pembela kebenaran, yang diperankan oleh pemain yang tampan, juga tentu saja pemain yang cantik, memesona, pesolek, genit, dan sebagainya untuk pemain perempuannya, apalagi kepantasan pemain drakor tampak semakin memesona ketika terlihat natural saat berakting di depan kamera, otomatis terkait erat dengan olah tubuh yang bagus, gestur yang meyakinkan, penjiwaan yang kuat, sehingga tampak wajar sesuai karakter peran yang dimainkannya. Maka pertanyaannya akankah kita generasi milenial ini lebih ingat, lebih kenal, lebih terpesona, lebih mendapatkan contoh dari peran-peran tersebut daripada pahlawan kita yang sebenarnya berjuang di negeri ini, yang benar-benar nyata heroiknya, nyata jiwa patriotiknya, nyata bentuk perjuangannya dari sekadar cerita yang mungkin hanya imajinatif semata?

Benarkah kita kenal pahlawan-pahlawan kita, kita kenal dari mana asalnya, dari pulau mana mereka berjuang yang bisa mempersatukan Indonesia, semisal Diponegoro dari Yogyakarta. Cut Nyak Dien dan Teuku Umar dari Aceh, Bung Tomo dari Surabaya, dan lain-lain. Atau jangan-jangan kita memang sekarang ini lebih mengenal tokoh-tokoh dalam drakor yang setiap saat kita nikmati di layar-layar media elektronik TV, di ponsel kita, di aplikasi-aplikasi di sekitar kita? Ayo, jujur dalam hati kita lebih kenal mana? Sangat mungkin kita lebih hafal dan mengenal nama-nama artis Korea. 

Baca Juga :  Perekonomian Banyuwangi Rebound Melalui Pariwisata

Mengapa lebih mengenal dan mencintai artis Korea? Karena artis Korea merupakan bentuk nyata yang masih bisa dilihat melalui media sosial ataupun secara nyata. Akan tetapi jika pahlawan bangsa mungkin akan sulit untuk menemui di dunia nyata karena pahlawan berbeda generasi dan hidup jauh sebelum adanya era milenial. Kuatnya arus budaya kontemporer dan pop, menjadikan nilai-nilai sejarah terlupakan, sehingga generasi milenial ini lebih mengenal artis-artis luar negeri, artis Korea khususnya daripada pahlawan bangsa.

Sebaik apa pun yang dimiliki artis Korea, seharusnya sebagai warga negara Indonesia harus bangga memiliki pahlawan yang memperjuangkan kemerdekaan, menjadikan sebuah panutan yang pantang menyerah serta cinta tanah air. Jika tidak ada pahlawan bangsa mungkin sekarang tidak ada Indonesia yang merdeka. Menjadi panutan tidak harus dengan bisa melihat secara nyata, akan tetapi bisa dengan mendengarkan sejarah akan kehebatan pahlawan melawan penjajah dengan tidak mengenal lelah, rasa takut, serta keegoisan diri sendiri. Pahlawan berjuang bersama untuk negeri tercinta ini Indonesia.

Para pahlawan memiliki rasa keindonesiaan yang sangat kuat dan semangat nasionalisme. Hal ini mampu menyatukan rasa untuk melawan penjajah. Para pahlawan juga memiliki cita-cita yang luhur untuk meraih kemerdekaan, hal ini bisa menumbuhkan semangat pantang menyerah melawan penjajah. Cita-cita luhur terhadap negeri diwujudkan dalam tindakan yang tanpa pamrih serta tidak pernah mengharapkan penghargaan. Tindakan ini menumbuhkan sifat mengedepankan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi. Hal ini yang patut dicontoh oleh generasi milenial yang selalu ingin menang sendiri tanpa memikirkan orang lain. Presiden pertama Republik Indonesia pernah berkata never leave history. ”Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah” (pidato Soekarno tahun 1966).

Dengan adanya sejarah sebagai pengingat baik buruknya kehidupan di masa lampau, pengingat hanya dengan bambu runcing berusaha sekuat tenaga mempertahankan harkat dan martabat kita serta menjadikan modal perjuangan kita ke depannya untuk Indonesia. Sejarah sebagai pemersatu, Indonesia merupakan multikultural memiliki banyak keragaman budaya agama suku bangsa. Sebagai penyemangat, sejarah memberikan kita semangat untuk belajar agar hidup lebih baik ke depannya dan menjadikan masa lalu sebagai acuan untuk menata di kehidupan selanjutnya.

Terakhir, selalu ingat ”jika kita lupa nilai sejarah akan berpengaruh pada sikap seseorang, yang cenderung hidup untuk dirinya sendiri tanpa memikirkan kepentingan orang lain”. Semoga saja kita bisa menyikapi bahwa drakor cukup sebagai hiburan, jangan sampai kita lebih kenal aktor drakor daripada pahlawan yang berjuang dan mempersatukan Indonesia yang patut kita kenal dan tak boleh kita lupakan jasa-jasanya. (*)

 

*) Mahasiswi asal Banyuwangi, Jurusan Pendidikan Seni Tari, Universitas Negeri Yogyakarta.

DRAKOR kependekan dari Drama Korea yang merupakan serial drama TV berasal dari negara Korea Selatan. Drakor identik dengan pemeran artis-artis Korea yang memiliki paras rupawan, sehingga kaum milenial sangat tertarik untuk melihat drakor.

Selain pemain yang rupawan drakor memiliki alur cerita yang menarik untuk diikuti dan juga setiap dramanya memiliki makna dan pesan tersirat, serta mampu menarik penonton untuk ikut merasakan emosi dalam drama tersebut. Alur cerita Drakor membuat penonton terinspirasi atas perjalanan si tokoh dalam drama.

Saat menonton drama Korea kita akan disuguhi dengan hal-hal yang tidak pernah kita alami di negara kita, kita selalu tertarik dengan hal-hal yang terlihat berbeda dari kita. Misalnya musim salju, musim bunga, bahasa dan budayanya. Faktor fashion juga menjadi alasan mengapa remaja lebih suka menonton drakor.

Media audio visual selalu menjadi daya tarik bagi pemirsanya. Tak tertutup kemungkinan seperti halnya drama televisi yang satu ini, apalagi kalau bukan genre drama yang datangnya dari Korea. Jutaan orang menggandrungi drakor. Di berbagai belahan dunia, tak terkecuali Indonesia, tak sedikit yang tertarik dengan tayangan-tayangan yang datangnya dari Korea ini, sehingga menjadi daya tarik tersendiri khususnya kaum milenial yang barang kali butuh hiburan alternatif tayangan di antara tayangan yang ada di media kita sendiri.

Berbagai alasan bisa diungkapkan ketika tertarik pada tayangan drakor. Selain pemerannya yang memang menarik, berperan dengan berbagai karakter yang boleh dibilang kaya, mulai dari yang kejam, psikopat, cerdas, penguasa, sampai yang lembut, cantik, dan menggoda, lengkap bisa ditemui dalam berbagai tayangan yang bisa meraih perhatian khususnya penggemar milenial. Sebut saja Lee Min-ho. Tokoh ini berperan di berbagai cerita, yang pasti selalu dengan karakter dan peran yang hebat. Peran orang kaya atau kalangan atas, bahkan peran raja dan peran pewaris tunggal yang kaya dan lain-lain, sehingga memiliki kesan tersendiri untuk pemirsanya yang tentu saja akan bisa memunculkan ketertarikan yang luar biasa dan menjadi idola yang selalu ditunggu-tunggu kehadirannya.       

Lee Min-ho mulai dikenal luas di Korea maupun Asia berkat perannya sebagai Gu Jun-pyo dalam serial drama Boys Over Flowers pada tahun 2009. Peran tersebut membawanya memenangkan penghargaan Aktor Pendatang Terbaik di Baeksang Arts Awards ke-45. Lahir pada 22 Juni 1987, Heukseok-dong Seoul Korea Selatan serta memiliki tinggi 1,87 meter. Sudah banyak drama yang ia bintangi seperti The Heirs, Boys Over Flowers, Legend of the Blue Sea, The King: Eternal Monarch, dan masih banyak lagi. Lee Min-ho juga pernah mendapatkan penghargaan SBS untuk kategori berpasangan (Wikipedia).

Beda lagi dengan Park Seo-joon. Dia memberikan inspirasi bagi pemirsanya dalam perannya yang terlahir dari rakyat biasa, bahkan cenderung miskin, akan tetapi dengan berbagai usahanya yang keras, serta diikuti kesabaran, hingga meraih kesuksesan yang bisa meraih simpati pemirsanya dan bisa menginspirasi bagi kalangan milenial. Walaupun barang kali terkesan sentimentil dan seperti dongeng layaknya, akan tetapi cerita-cerita berbasis seperti kemiskinan, kemelaratan, kesengsaraan, dan sebagainya yang akhirnya sukses masih menjadi jalan cerita yang bisa dijual, dieksploitasi oleh penulis skenario dan dengan kemasan yang apik akan memunculkan cerita yang bisa mengharu-biru pemirsanya sehingga akan sangat berkesan dan lama-kelamaan muncul simpati sehingga berkembang menjadi idola.

Baca Juga :  Apakah Hanya Cukup Tri Dharma Perguruan Tinggi?

Park Seo-joon dikenal karena perannya sebagai Si Woo dalam serial televisi Korea KBS2, Dream High 2. Pertama kali debut pada tahun 2011, menjadi model video clip Bang Yongguk ”I Remember”. Lahir pada 16 Desember 1988, Korea Selatan serta memiliki tinggi 1,85 meter. Banyak judul drama yang sudah ia perankan seperti Itaewon Class, What’s Wrong with Secretary Kim, Hwarang: The Poet Warrior Youth dan masih banyak lagi. Ia pernah mendapatkan penghargaan Film Blue Dragon untuk Bintang Populer (Wikipedia).

Belum lagi nama pemeran yang satu ini, yaitu Song Joong-ki. Peran tentara, peran pengacara, menjadikan pemirsa memiliki alternatif tokoh yang bisa digandrungi, dengan ketampanan dan kegagahan, membela rakyat berjuang sehingga memunculkan peran yang luar biasa di benak pemirsanya, khususnya kaum milenial. Tampil seolah pahlawan, tentu akan menyedot perhatian pemirsa milenialnya, yang bisa menumbuhkan simpati bahkan bisa merasa memiliki ”pahlawan” yang mewakili generasinya sehingga memunculkan idola tersendiri.

Song Joong-ki adalah seorang aktor, model, dan pembawa acara yang memiliki tinggi badan 1,78 meter dari Korea Selatan. Ia mulai terkenal saat membintangi drama bersejarah Sungkyunkwan Scandal dan acara varietas Running Man sebagai salah satu anggota pemain awal ketika dimulai pada tahun 2010. Ia lahir pada 19 September 1985, Distrik Dong, Daejeon Korea Selatan (Wikipedia).

Setelah melihat karakter dalam drakor, baik yang gagah, pemberani, pahlawan, heroik, pembela kebenaran, yang diperankan oleh pemain yang tampan, juga tentu saja pemain yang cantik, memesona, pesolek, genit, dan sebagainya untuk pemain perempuannya, apalagi kepantasan pemain drakor tampak semakin memesona ketika terlihat natural saat berakting di depan kamera, otomatis terkait erat dengan olah tubuh yang bagus, gestur yang meyakinkan, penjiwaan yang kuat, sehingga tampak wajar sesuai karakter peran yang dimainkannya. Maka pertanyaannya akankah kita generasi milenial ini lebih ingat, lebih kenal, lebih terpesona, lebih mendapatkan contoh dari peran-peran tersebut daripada pahlawan kita yang sebenarnya berjuang di negeri ini, yang benar-benar nyata heroiknya, nyata jiwa patriotiknya, nyata bentuk perjuangannya dari sekadar cerita yang mungkin hanya imajinatif semata?

Benarkah kita kenal pahlawan-pahlawan kita, kita kenal dari mana asalnya, dari pulau mana mereka berjuang yang bisa mempersatukan Indonesia, semisal Diponegoro dari Yogyakarta. Cut Nyak Dien dan Teuku Umar dari Aceh, Bung Tomo dari Surabaya, dan lain-lain. Atau jangan-jangan kita memang sekarang ini lebih mengenal tokoh-tokoh dalam drakor yang setiap saat kita nikmati di layar-layar media elektronik TV, di ponsel kita, di aplikasi-aplikasi di sekitar kita? Ayo, jujur dalam hati kita lebih kenal mana? Sangat mungkin kita lebih hafal dan mengenal nama-nama artis Korea. 

Baca Juga :  Kecelakaan Penerbangan, Hukum Pidana, serta Keterlibatan Profesional

Mengapa lebih mengenal dan mencintai artis Korea? Karena artis Korea merupakan bentuk nyata yang masih bisa dilihat melalui media sosial ataupun secara nyata. Akan tetapi jika pahlawan bangsa mungkin akan sulit untuk menemui di dunia nyata karena pahlawan berbeda generasi dan hidup jauh sebelum adanya era milenial. Kuatnya arus budaya kontemporer dan pop, menjadikan nilai-nilai sejarah terlupakan, sehingga generasi milenial ini lebih mengenal artis-artis luar negeri, artis Korea khususnya daripada pahlawan bangsa.

Sebaik apa pun yang dimiliki artis Korea, seharusnya sebagai warga negara Indonesia harus bangga memiliki pahlawan yang memperjuangkan kemerdekaan, menjadikan sebuah panutan yang pantang menyerah serta cinta tanah air. Jika tidak ada pahlawan bangsa mungkin sekarang tidak ada Indonesia yang merdeka. Menjadi panutan tidak harus dengan bisa melihat secara nyata, akan tetapi bisa dengan mendengarkan sejarah akan kehebatan pahlawan melawan penjajah dengan tidak mengenal lelah, rasa takut, serta keegoisan diri sendiri. Pahlawan berjuang bersama untuk negeri tercinta ini Indonesia.

Para pahlawan memiliki rasa keindonesiaan yang sangat kuat dan semangat nasionalisme. Hal ini mampu menyatukan rasa untuk melawan penjajah. Para pahlawan juga memiliki cita-cita yang luhur untuk meraih kemerdekaan, hal ini bisa menumbuhkan semangat pantang menyerah melawan penjajah. Cita-cita luhur terhadap negeri diwujudkan dalam tindakan yang tanpa pamrih serta tidak pernah mengharapkan penghargaan. Tindakan ini menumbuhkan sifat mengedepankan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi. Hal ini yang patut dicontoh oleh generasi milenial yang selalu ingin menang sendiri tanpa memikirkan orang lain. Presiden pertama Republik Indonesia pernah berkata never leave history. ”Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah” (pidato Soekarno tahun 1966).

Dengan adanya sejarah sebagai pengingat baik buruknya kehidupan di masa lampau, pengingat hanya dengan bambu runcing berusaha sekuat tenaga mempertahankan harkat dan martabat kita serta menjadikan modal perjuangan kita ke depannya untuk Indonesia. Sejarah sebagai pemersatu, Indonesia merupakan multikultural memiliki banyak keragaman budaya agama suku bangsa. Sebagai penyemangat, sejarah memberikan kita semangat untuk belajar agar hidup lebih baik ke depannya dan menjadikan masa lalu sebagai acuan untuk menata di kehidupan selanjutnya.

Terakhir, selalu ingat ”jika kita lupa nilai sejarah akan berpengaruh pada sikap seseorang, yang cenderung hidup untuk dirinya sendiri tanpa memikirkan kepentingan orang lain”. Semoga saja kita bisa menyikapi bahwa drakor cukup sebagai hiburan, jangan sampai kita lebih kenal aktor drakor daripada pahlawan yang berjuang dan mempersatukan Indonesia yang patut kita kenal dan tak boleh kita lupakan jasa-jasanya. (*)

 

*) Mahasiswi asal Banyuwangi, Jurusan Pendidikan Seni Tari, Universitas Negeri Yogyakarta.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/