alexametrics
24 C
Banyuwangi
Thursday, August 11, 2022

Keajaiban Jika: Strategi Baru Belajar Menulis

Ada banyak cara memprovokasi peserta didik untuk mau belajar menulis. Saya pernah menggunakan strategi: Ayo, Menulis di Sini dan Sekarang! Dengan strategi ini, saya membawa peserta didik pada kondisi kontekstual. Kondisi di mana dan kapan peserta didik berada. Mereka diarahkan untuk menuliskan apa yang ada di sini dan sekarang (baca: ketika proses belajar menulis berlangsung).

Pada kali yang lain saya menerapkan strategi: Berikan Mereka Kesempatan Bersinar. Dengan cara ini, peserta didik diberi pemahaman bahwa semua orang pada dasarnya memiliki kelebihan. Kesuksesan bukan warisan atau bahkan turunan dari orang-orang yang telah sukses. Anak-anak diberi peluang untuk aktualisasi diri. Tulisan karya mereka diapresiasi bersama, dipajang di majalah dinding sekolah, atau sekadar dibacakan di depan kelas. Dengan strategi ini, akhirnya bisa diterbitkan beberapa antologi puisi baik itu karya bersama maupun pribadi.

Kali ini saya mencoba dengan strategi lain: Keajaiban Jika (Magic If). Strategi ini saya adaptasi dari idenya Constantin Stanislavski. Beliau adalah pelopor teater realisme di Rusia. Keajaiban Jika ini sebenarnya adalah upayanya untuk membangun ruang-ruang imajinasi seorang aktor agar dapat mendalami karakter tokoh.

Keajaiban Jika adalah kemampuan untuk membayangkan diri berada pada serangkaian situasi imajinatif dan membayangkan bagaimana dan apa yang akan dilakukan diri dalam menghadapi situasi tersebut. Diri di sini artinya tokoh. Jadi, secara sederhana  Keajaiban Jika adalah kemampuan untuk membayangkan diri sebagai tokoh sedang berada dalam kondisi imaji dan membayangkan kira-kira apa yang akan dilakukannya dalam kondisi imaji tersebut.

Dalam tulisan ini, saya paparkan praktik baik setelah mengadopsi lantas mengadaptasi Keajaiban Jika dari Stanislavski tersebut untuk membersamai anak-anak didik saya belajar menulis. Langkah-langkah yang saya tempuh dalam mengadaptasi strategi ini setidaknya dengan bantuan tujuh pertanyaan, yaitu (1) Siapa aku?  (2) Dimana aku? (3) Kapan ini terjadi? (4) Apa yang aku inginkan? (5) Kenapa aku menginginkan itu? (6) Bagaimana aku bisa mendapatkan itu? (7) Apa yang perlu aku atasi?

Baca Juga :  Sepak Bola dan Destinasi Pariwisata

Pertanyaan-pertanyaan itu harus dijawab dengan ditulis sedetail mungkin oleh peserta didik. Misalnya, pertanyaan siapa aku? Anak-anak harus bisa menjelaskan /aku/ secara detail dalam tulisan deskripsinya. Mulai dari usia, tinggi badan, latar belakang pendidikan, lingkungan pergaulan, dan  sebagainya. Begitu juga dengan pertanyaan lainnya.

Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu lantas dirangkai atau dihimpun menjadi paragraf yang padu. Agar paragraf yang terbentuk memiliki nilai keterbacaan dan kesepahaman, penulis harus memperhatikan dua hal yaitu kohesi dan koherensi paragraf. Dinyatakan kohesi jika antara bentuk kalimat satu dengan bentuk kalimat yang lain di dalam paragraf dapat membentuk sebuah hubungan yang saling berkaitan, sedangkan dinyatakan koherensi jika di dalam sebuah paragraf terdapat hubungan makna yang logis antara kalimat yang satu dengan kalimat yang lain.

Berikut ini contoh paragraf yang memiliki nilai kohesi dan koherensi karya peserta didik.

Kegiatan Gerakan Literasi Sekolah (GLS) adalah kebiasan baru di sekolahku. Pada awalnya aku sangat enggan atau malas mengikuti kegiatan tersebut. Bagiku kegiatan literasi ini sangat membosankan. Namun, seiring berjalannya waktu, aku akhirnya sangat menyukai literasi.

Pertanyaan lain yang bisa digunakan untuk menstimulasi anak-anak dalam strategi Keajaiban Jika adalah  (1) ”Apa yang aku lakukan jika aku adalah tokoh”, (2) ”Apa yang aku pikirkan jika aku adalah tokoh”, dan (3) ”Apa yang aku rasakan jika aku adalah tokoh”. Pertanyaan-pertanyaan tersebut akan membantu peserta didik untuk lebih jauh mengenal tokoh /aku/ yang akan dituliskannya.

Lalu, bagaimana cara melaksanakan strategi ini? Secara garis besar, hal pertama yang harus dilakukan adalah menumbuhkembangkan budaya litarasi baca. Tujuannya adalah untuk menemukan gambaran/deskripsi dan karakter tokoh yang ada dalam bacaan. Bisa juga kebiasaan berliterasi ini untuk memperkaya kosakata peserta didik c.q calon penulis. Jika bahan bacaan berupa teks eksplanasi, pembaca akan memperoleh gambaran tentang alur/proses/dampak sebuah peristiwa.

Baca Juga :  Jamu, Jawaban pada Masa Pandemi

Langkah berikutnya, peserta didik membuat sketsa (outline) misalnya dengan menuliskan apa yang akan tokoh aku lakukan dalam situasi tertentu dan bagaimana bereaksi pada kondisi atau situasi tersebut.  Kemudian, dalam rangka itu ada tujuan dan hambatan. Tujuan adalah apa yang karakter inginkan, dan hambatan adalah hal yang menghalangi upaya karakter untuk mencapai tujuan tersebut. Garis besar tujuan dan hambatan itu juga harus ditulis.

Langkah terakhir adalah memecah sketsa menjadi beberapa paragraf sedetail mungkin. Bahkan disarankan, pada tiap kalimat yang membentuk paragraf harus bisa menggambarkan deskripsi objek, menjelaskan proses, atau menunjukkan langkah-langkah, bergantung pada jenis teks yang akan ditulis. Berikut ini contoh sketsa yang telah dibuat peserta didik.

1.                Ujian sekolah akan dilaksanakan bulan Maret.

2.                Saya harus giat belajar.

3.                Saya gugup setiap mengerjakan soal latihan.

4.                Saya tinggal bersama nenek karena orang tua pergi merantau.

5.                Saya harus mandiri.

Apa pun strateginya, yang paling utama adalah motivasi guru untuk membimbing para peserta didik. Peserta didik adalah individu yang sedang berkembang baik fisik maupun nalar-mentalnya. Oleh karena itu, konsistensi dan kepedulian gurulah yang nanti akan melahirkan peserta didik yang penulis. Semoga! (*)

 

*) Founder TUKAR TUGU dan KS SMPN 3 Songgon Satu Atap

Ada banyak cara memprovokasi peserta didik untuk mau belajar menulis. Saya pernah menggunakan strategi: Ayo, Menulis di Sini dan Sekarang! Dengan strategi ini, saya membawa peserta didik pada kondisi kontekstual. Kondisi di mana dan kapan peserta didik berada. Mereka diarahkan untuk menuliskan apa yang ada di sini dan sekarang (baca: ketika proses belajar menulis berlangsung).

Pada kali yang lain saya menerapkan strategi: Berikan Mereka Kesempatan Bersinar. Dengan cara ini, peserta didik diberi pemahaman bahwa semua orang pada dasarnya memiliki kelebihan. Kesuksesan bukan warisan atau bahkan turunan dari orang-orang yang telah sukses. Anak-anak diberi peluang untuk aktualisasi diri. Tulisan karya mereka diapresiasi bersama, dipajang di majalah dinding sekolah, atau sekadar dibacakan di depan kelas. Dengan strategi ini, akhirnya bisa diterbitkan beberapa antologi puisi baik itu karya bersama maupun pribadi.

Kali ini saya mencoba dengan strategi lain: Keajaiban Jika (Magic If). Strategi ini saya adaptasi dari idenya Constantin Stanislavski. Beliau adalah pelopor teater realisme di Rusia. Keajaiban Jika ini sebenarnya adalah upayanya untuk membangun ruang-ruang imajinasi seorang aktor agar dapat mendalami karakter tokoh.

Keajaiban Jika adalah kemampuan untuk membayangkan diri berada pada serangkaian situasi imajinatif dan membayangkan bagaimana dan apa yang akan dilakukan diri dalam menghadapi situasi tersebut. Diri di sini artinya tokoh. Jadi, secara sederhana  Keajaiban Jika adalah kemampuan untuk membayangkan diri sebagai tokoh sedang berada dalam kondisi imaji dan membayangkan kira-kira apa yang akan dilakukannya dalam kondisi imaji tersebut.

Dalam tulisan ini, saya paparkan praktik baik setelah mengadopsi lantas mengadaptasi Keajaiban Jika dari Stanislavski tersebut untuk membersamai anak-anak didik saya belajar menulis. Langkah-langkah yang saya tempuh dalam mengadaptasi strategi ini setidaknya dengan bantuan tujuh pertanyaan, yaitu (1) Siapa aku?  (2) Dimana aku? (3) Kapan ini terjadi? (4) Apa yang aku inginkan? (5) Kenapa aku menginginkan itu? (6) Bagaimana aku bisa mendapatkan itu? (7) Apa yang perlu aku atasi?

Baca Juga :  Kerentanan Buruh Tani

Pertanyaan-pertanyaan itu harus dijawab dengan ditulis sedetail mungkin oleh peserta didik. Misalnya, pertanyaan siapa aku? Anak-anak harus bisa menjelaskan /aku/ secara detail dalam tulisan deskripsinya. Mulai dari usia, tinggi badan, latar belakang pendidikan, lingkungan pergaulan, dan  sebagainya. Begitu juga dengan pertanyaan lainnya.

Jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu lantas dirangkai atau dihimpun menjadi paragraf yang padu. Agar paragraf yang terbentuk memiliki nilai keterbacaan dan kesepahaman, penulis harus memperhatikan dua hal yaitu kohesi dan koherensi paragraf. Dinyatakan kohesi jika antara bentuk kalimat satu dengan bentuk kalimat yang lain di dalam paragraf dapat membentuk sebuah hubungan yang saling berkaitan, sedangkan dinyatakan koherensi jika di dalam sebuah paragraf terdapat hubungan makna yang logis antara kalimat yang satu dengan kalimat yang lain.

Berikut ini contoh paragraf yang memiliki nilai kohesi dan koherensi karya peserta didik.

Kegiatan Gerakan Literasi Sekolah (GLS) adalah kebiasan baru di sekolahku. Pada awalnya aku sangat enggan atau malas mengikuti kegiatan tersebut. Bagiku kegiatan literasi ini sangat membosankan. Namun, seiring berjalannya waktu, aku akhirnya sangat menyukai literasi.

Pertanyaan lain yang bisa digunakan untuk menstimulasi anak-anak dalam strategi Keajaiban Jika adalah  (1) ”Apa yang aku lakukan jika aku adalah tokoh”, (2) ”Apa yang aku pikirkan jika aku adalah tokoh”, dan (3) ”Apa yang aku rasakan jika aku adalah tokoh”. Pertanyaan-pertanyaan tersebut akan membantu peserta didik untuk lebih jauh mengenal tokoh /aku/ yang akan dituliskannya.

Lalu, bagaimana cara melaksanakan strategi ini? Secara garis besar, hal pertama yang harus dilakukan adalah menumbuhkembangkan budaya litarasi baca. Tujuannya adalah untuk menemukan gambaran/deskripsi dan karakter tokoh yang ada dalam bacaan. Bisa juga kebiasaan berliterasi ini untuk memperkaya kosakata peserta didik c.q calon penulis. Jika bahan bacaan berupa teks eksplanasi, pembaca akan memperoleh gambaran tentang alur/proses/dampak sebuah peristiwa.

Baca Juga :  Jamu, Jawaban pada Masa Pandemi

Langkah berikutnya, peserta didik membuat sketsa (outline) misalnya dengan menuliskan apa yang akan tokoh aku lakukan dalam situasi tertentu dan bagaimana bereaksi pada kondisi atau situasi tersebut.  Kemudian, dalam rangka itu ada tujuan dan hambatan. Tujuan adalah apa yang karakter inginkan, dan hambatan adalah hal yang menghalangi upaya karakter untuk mencapai tujuan tersebut. Garis besar tujuan dan hambatan itu juga harus ditulis.

Langkah terakhir adalah memecah sketsa menjadi beberapa paragraf sedetail mungkin. Bahkan disarankan, pada tiap kalimat yang membentuk paragraf harus bisa menggambarkan deskripsi objek, menjelaskan proses, atau menunjukkan langkah-langkah, bergantung pada jenis teks yang akan ditulis. Berikut ini contoh sketsa yang telah dibuat peserta didik.

1.                Ujian sekolah akan dilaksanakan bulan Maret.

2.                Saya harus giat belajar.

3.                Saya gugup setiap mengerjakan soal latihan.

4.                Saya tinggal bersama nenek karena orang tua pergi merantau.

5.                Saya harus mandiri.

Apa pun strateginya, yang paling utama adalah motivasi guru untuk membimbing para peserta didik. Peserta didik adalah individu yang sedang berkembang baik fisik maupun nalar-mentalnya. Oleh karena itu, konsistensi dan kepedulian gurulah yang nanti akan melahirkan peserta didik yang penulis. Semoga! (*)

 

*) Founder TUKAR TUGU dan KS SMPN 3 Songgon Satu Atap

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/