alexametrics
23.5 C
Banyuwangi
Friday, August 12, 2022

BAH, Putu Wijaya, dan Keteladanan Remaja

BELAJAR itu bisa di mana pun, kapan pun, dan dengan siapa pun. Suatu pepatah yang bertubi-tubi dilontarkan pada setiap orang yang sedang mencari ilmu. Karena belajar bukan hanya tentang ilmu duniawi yang terpampang penjelasannya di lingkungan sekolah, namun juga banyak jenis pembelajaran lain yang perlu masyarakat pelajari. Pembelajaran moral salah satunya. Penerapan ilmu sosial ini sangat penting ditanamkan sejak dini, dimulai dari lingkup terkecil yaitu keluarga.

Lalu seperti pepatah yang telah disebutkan di atas, maka pembelajaran moral juga dapat diperoleh dengan pandangan yang sama. Mulai dari kesantunan yang selalu diajarkan oleh orang tua masing-masing, hingga perolehan pribadi dengan membaca dan mencari informasi. Maka, salah satu cara memperoleh pembelajaran moral yang akan disebutkan dalam opini ini adalah dengan membaca naskah drama yang memiliki amanat dan dapat diterima oleh masing-masing pembacanya.

Sebelum melanjutkan pembahasan ke hubungan amanat pada drama dan pembelajaran moral, kita perlu mengetahui terlebih dahulu, apa itu naskah drama bukan? Naskah drama adalah salah satu karya sastra yang di dalamnya memuat dialog-dialog antartokoh, juga penjelas laku dalam naskah drama. Tujuan penulisan naskah drama sebagian besar bukan hanya untuk dibaca, namun digambarkan dengan sedemikian rupa.

Oleh karena itu, semakin banyak dialog dan lakuan yang ada, maka akan semakin kompleks pula suatu cerita dapat disuguhkan. Di Indonesia sendiri, banyak sekali sastrawan yang berhasil membuat naskah drama untuk dipentaskan, salah satu tokoh yang terkenal dalam dunia sastra adalah Putu Wijaya. Bersama karya-karyanya, Putu Wijaya selalu mengamati peristiwa yang terjadi di masyarakat, dan isi dari dramanya banyak sekali memuat nilai-nilai moral yang sangat baik untuk dipelajari.

BAH, salah satu karya Putu Wijaya yang tidak kalah menarik dari karya fenomenalnya ”Bila Malam Bertambah Malam”. BAH, menceritakan tentang perselisihan antara orang biasa dan aparat yang dianggap lebih tinggi pangkatnya di masyarakat. Dimulai dari judul, banyak orang yang kurang tertarik membaca naskah ini karena dianggap rumit dan tidak mudah menemukan titik temu antara judul dan isinya.

Baca Juga :  Manajemen Bisnis Rasulullah SAW

Bagi Anda yang masih belum familiar dengan karya-karya Putu Wijaya, saya bisa bilang jika sebagian besar judul yang dipilih oleh beliau sangat unik, misalnya AUT, ANU, BOR, CIPOA, dan lain sebagainya. Namun sebenarnya jika ditelusuri lebih dalam, ”BAH” ini tidak memiliki arti. Namun, justru judul yang hanya terdiri dari tiga huruf tersebut dapat menggambarkan apa yang ingin disampaikan oleh Putu Wijaya. Perselisihan yang menggambarkan aparat kurang bertanggung jawab dan hanya memikirkan keuntungan diri sendiri, dan warganya yang mudah tersulut emosi dan menyalahkan satu sama lain. Perasaan marah, kecewa, sedih, dan lainnya bercampur menjadi satu sehingga tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata.

Kita, hanya bisa mengeluarkan gabungan perasaan itu dengan keluhan, bah! Jika dibaca lebih teliti, kita akan menemukan benang merah yang dimaksudkan dalam drama ini. Politik dalam masyarakat, bersama dengan keadaan yang terjadi di masyarakat saat itu. Lurah dan hansip yang menjadi tokoh naskah menggambarkan aparat pemerintah, dan masyarakat biasa yang selalu menunggu bantuan datang dengan berbagai keluhan mereka.

Mengapa pemerintah belum juga bisa mementingkan kesejahteraan rakyat? Mengapa rakyat selalu menyalahkan apa pun yang terjadi kepada pemerintah? Dan mengapa negara yang harusnya bersatu menuju satu impian malah menjadi dua koloni yang terbagi? Pertanyaan-pertanyaan tersebut akan Anda dapatkan jika mempelajari alur naskah ini dengan saksama.

Baca Juga :  Berbuka Air Mata

Bukan tanpa alasan, naskah drama yang ditulis pada tahun 1986 ini bertepatan dengan adanya peristiwa Orde Baru, yang pada saat itu terjadi berbagai gesekan antara penguasa dengan masyarakat. Misalnya peristiwa Tanjung Priok pada tahun 1984 yang menewaskan lebih dari 24 orang karena tindakan aparat. Dari tahun terbitnya naskah ini, tentu saja berbagai peristiwa yang terjadi dapat dikaitkan menjadi latar belakang kemunculan naskah tersebut. Namun, seperti kebanyakan karyanya, naskah ini dibuat dengan sarkasme kepada keadaan negara yang tidak frontal saat dibaca.

Mengacu pada keteladanan, nilai moral yang dapat diambil di antaranya adalah saat sudah dipercayai untuk melakukan sesuatu, maka lakukanlah itu dengan tanggung jawab penuh. Jangan menjadi seperti tokoh hansip yang dimintai pertolongan oleh masyarakat malah kabur dan membiarkan masyarakat kembali gaduh.

Selain itu, cobalah untuk selalu mengontrol emosi dan mendinginkan kepala terlebih dahulu saat akan menghadapi suatu masalah, agar tidak memperkeruh suasana. Juga jangan pernah meremehkan orang lain yang dirasa memiliki pangkat lebih rendah, karena tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi ke depannya.

Naskah drama ini memiliki nilai moral yang cukup banyak bila dipelajari dengan saksama, juga kisah antara hansip dan masyarakat biasa seakan ingin membuat kita juga mudah menerima alur penceritaannya. Naskah ini juga bisa digunakan sebagai rekomendasi pertunjukan drama di tingkat sekolah menengah, agar amanat tetap dapat didapat di sela-sela komedi. Sayangnya, dialog yang hanya tertuju pada tokoh tertentu membuat naskah ini terasa monoton dan terkadang kurang dapat dipahami. (*)

 

*) Siswa Kelas XII, MAN 1 Banyuwangi.

BELAJAR itu bisa di mana pun, kapan pun, dan dengan siapa pun. Suatu pepatah yang bertubi-tubi dilontarkan pada setiap orang yang sedang mencari ilmu. Karena belajar bukan hanya tentang ilmu duniawi yang terpampang penjelasannya di lingkungan sekolah, namun juga banyak jenis pembelajaran lain yang perlu masyarakat pelajari. Pembelajaran moral salah satunya. Penerapan ilmu sosial ini sangat penting ditanamkan sejak dini, dimulai dari lingkup terkecil yaitu keluarga.

Lalu seperti pepatah yang telah disebutkan di atas, maka pembelajaran moral juga dapat diperoleh dengan pandangan yang sama. Mulai dari kesantunan yang selalu diajarkan oleh orang tua masing-masing, hingga perolehan pribadi dengan membaca dan mencari informasi. Maka, salah satu cara memperoleh pembelajaran moral yang akan disebutkan dalam opini ini adalah dengan membaca naskah drama yang memiliki amanat dan dapat diterima oleh masing-masing pembacanya.

Sebelum melanjutkan pembahasan ke hubungan amanat pada drama dan pembelajaran moral, kita perlu mengetahui terlebih dahulu, apa itu naskah drama bukan? Naskah drama adalah salah satu karya sastra yang di dalamnya memuat dialog-dialog antartokoh, juga penjelas laku dalam naskah drama. Tujuan penulisan naskah drama sebagian besar bukan hanya untuk dibaca, namun digambarkan dengan sedemikian rupa.

Oleh karena itu, semakin banyak dialog dan lakuan yang ada, maka akan semakin kompleks pula suatu cerita dapat disuguhkan. Di Indonesia sendiri, banyak sekali sastrawan yang berhasil membuat naskah drama untuk dipentaskan, salah satu tokoh yang terkenal dalam dunia sastra adalah Putu Wijaya. Bersama karya-karyanya, Putu Wijaya selalu mengamati peristiwa yang terjadi di masyarakat, dan isi dari dramanya banyak sekali memuat nilai-nilai moral yang sangat baik untuk dipelajari.

BAH, salah satu karya Putu Wijaya yang tidak kalah menarik dari karya fenomenalnya ”Bila Malam Bertambah Malam”. BAH, menceritakan tentang perselisihan antara orang biasa dan aparat yang dianggap lebih tinggi pangkatnya di masyarakat. Dimulai dari judul, banyak orang yang kurang tertarik membaca naskah ini karena dianggap rumit dan tidak mudah menemukan titik temu antara judul dan isinya.

Baca Juga :  Estafet Perjuangan Santri dan Kiai Menuju Indonesia Emas

Bagi Anda yang masih belum familiar dengan karya-karya Putu Wijaya, saya bisa bilang jika sebagian besar judul yang dipilih oleh beliau sangat unik, misalnya AUT, ANU, BOR, CIPOA, dan lain sebagainya. Namun sebenarnya jika ditelusuri lebih dalam, ”BAH” ini tidak memiliki arti. Namun, justru judul yang hanya terdiri dari tiga huruf tersebut dapat menggambarkan apa yang ingin disampaikan oleh Putu Wijaya. Perselisihan yang menggambarkan aparat kurang bertanggung jawab dan hanya memikirkan keuntungan diri sendiri, dan warganya yang mudah tersulut emosi dan menyalahkan satu sama lain. Perasaan marah, kecewa, sedih, dan lainnya bercampur menjadi satu sehingga tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata.

Kita, hanya bisa mengeluarkan gabungan perasaan itu dengan keluhan, bah! Jika dibaca lebih teliti, kita akan menemukan benang merah yang dimaksudkan dalam drama ini. Politik dalam masyarakat, bersama dengan keadaan yang terjadi di masyarakat saat itu. Lurah dan hansip yang menjadi tokoh naskah menggambarkan aparat pemerintah, dan masyarakat biasa yang selalu menunggu bantuan datang dengan berbagai keluhan mereka.

Mengapa pemerintah belum juga bisa mementingkan kesejahteraan rakyat? Mengapa rakyat selalu menyalahkan apa pun yang terjadi kepada pemerintah? Dan mengapa negara yang harusnya bersatu menuju satu impian malah menjadi dua koloni yang terbagi? Pertanyaan-pertanyaan tersebut akan Anda dapatkan jika mempelajari alur naskah ini dengan saksama.

Baca Juga :  Manajemen Garam

Bukan tanpa alasan, naskah drama yang ditulis pada tahun 1986 ini bertepatan dengan adanya peristiwa Orde Baru, yang pada saat itu terjadi berbagai gesekan antara penguasa dengan masyarakat. Misalnya peristiwa Tanjung Priok pada tahun 1984 yang menewaskan lebih dari 24 orang karena tindakan aparat. Dari tahun terbitnya naskah ini, tentu saja berbagai peristiwa yang terjadi dapat dikaitkan menjadi latar belakang kemunculan naskah tersebut. Namun, seperti kebanyakan karyanya, naskah ini dibuat dengan sarkasme kepada keadaan negara yang tidak frontal saat dibaca.

Mengacu pada keteladanan, nilai moral yang dapat diambil di antaranya adalah saat sudah dipercayai untuk melakukan sesuatu, maka lakukanlah itu dengan tanggung jawab penuh. Jangan menjadi seperti tokoh hansip yang dimintai pertolongan oleh masyarakat malah kabur dan membiarkan masyarakat kembali gaduh.

Selain itu, cobalah untuk selalu mengontrol emosi dan mendinginkan kepala terlebih dahulu saat akan menghadapi suatu masalah, agar tidak memperkeruh suasana. Juga jangan pernah meremehkan orang lain yang dirasa memiliki pangkat lebih rendah, karena tidak ada yang tahu apa yang akan terjadi ke depannya.

Naskah drama ini memiliki nilai moral yang cukup banyak bila dipelajari dengan saksama, juga kisah antara hansip dan masyarakat biasa seakan ingin membuat kita juga mudah menerima alur penceritaannya. Naskah ini juga bisa digunakan sebagai rekomendasi pertunjukan drama di tingkat sekolah menengah, agar amanat tetap dapat didapat di sela-sela komedi. Sayangnya, dialog yang hanya tertuju pada tokoh tertentu membuat naskah ini terasa monoton dan terkadang kurang dapat dipahami. (*)

 

*) Siswa Kelas XII, MAN 1 Banyuwangi.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/