Sabtu, 23 Oct 2021
Radar Banyuwangi
Home / Kolom
icon featured
Kolom

Bingung Memilih Jurusan dalam Pendidikan?

Oleh: Niko Pahlevi Hentika*

17 September 2021, 08: 30: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

Bingung Memilih Jurusan dalam Pendidikan?

Share this      

SAAT musim tahun ajaran baru, banyak terjadi kebingungan yang dirasakan siswa-siswi sekolah menengah atas (SMA) tingkat akhir dalam memilih jurusan/program studi sebagai tujuan pasca sekolah. Sebenarnya fenomena ini tidak hanya dialami siswa-siswi pasca lulus SMA. Namun juga dialami oleh siswa sekolah menengah pertama (SMP) saat ingin melanjutkan ke SMA atau SMK. Fenomena ini tentu saja merupakan salah satu contoh indikasi kegagalan dalam pendidikan anak.

Celakanya dalam kasus tersebut, kebanyakan orang tua tidak bisa memberikan saran yang baik kepada putra-putrinya. Sehingga banyak dari para orang tua menyarankan mengambil jurusan yang hanya didasarkan pada prospek pekerjaan yang dianggap menjanjikan di masa depan. Atau malah orang tua memberi saran untuk mengambil jurusan yang kebanyakan diambil oleh teman sekelas atau juga jurusan yang dianggap populer.

Padahal seharusnya, para orang tua harus mempertimbangkan minat dan bakat yang dimiliki anak dalam menentukan pilihan jurusan untuk melanjutkan pendidikan mereka. Sebenarnya orang tua dan anak tidak perlu terlalu bingung, cukup sesuaikan pemilihan jurusan dengan dunia yang selama ini akrab dan disenangi si anak.

Baca juga: Banyuwangi, Toleransi dan Keberagaman Berbagi

Misalnya, jika si anak mulai dari balita sampai remaja tertarik dengan mobil-mobilan dan dunia otomotif. Maka sarankan untuk mengambil teknik otomotif. Jika si anak suka menggambar, maka sarankan mengambil seni rupa atau program studi yang masih berkaitan dengan menggambar.

Sehingga jika anak-anak mengambil jurusan yang dia senangi. Maka dia akan menikmati proses pendidikan dan pembelajaran. Sebaliknya, jika anak dipaksa untuk mengambil jurusan yang tidak ia senangi, maka akan berisiko membuat anak jenuh. Terutama pada saat si anak menjalani kuliah di semester empat ke atas, dia akan jenuh dan bingung; dan mempertanyakan kembali mengapa dia memilih jurusan tersebut? Dan pada banyak kasus faktor inilah yang menyebabkan si anak tidak dapat menyelesaikan studinya (mutung) atau si anak tidak berprestasi saat kuliah.

Dalam hal ini orang tua dan anak harus paham bahwa Tuhan telah menitipkan anugerah berupa kecenderungan, minat, dan bakat yang berbeda-beda kepada masing-masing anak. Sehingga ketika anak dititipkan minat dan bakat tertentu akan menjadikan si anak cepat sekali menguasai sesuatu pelajaran.

Misalnya, terdapat anak yang diberikan minat dan bakat di bidang musik, sehingga anak tersebut cepat sekali menyerap pelajaran yang berkaitan dengan musik. Berbeda halnya dengan teman sebayanya yang tidak diberikan minat dan bakat di bidang musik yang menyebabkan mengalami kesulitan dalam proses pembelajaran. Maka jangan paksakan anak untuk mengambil jurusan di mana anak tidak memiliki minat dan bakat di sana.

Tentu selanjutnya, banyak orang tua yang berkomentar. Misalnya, bakat dan minat anak saya menggambar, nanti kalau dia mengambil program studi seni rupa mau jadi apa? Di sini, kadang para orang tua terlalu menyederhanakan tujuan pendidikan; di mana pendidikan diorientasikan hanya sekadar untuk mencapai profesi sebagai apa.

Harusnya para orang tua harus berpikir ke jauh ke depan; bisa jadi hari ini, program studi yang dipilih si anak tidak prospek untuk pekerjaan, tetapi siapa tahu di masa mendatang bidang tersebut ternyata banyak dilirik orang. Sehingga pada saat itu tiba, anak-anak Anda menjadi salah satu dari sedikit orang yang dicari masyarakat.

Sebagai contoh, dulu profesi sebagai atlet dipandang sebelah mata. Tetapi di masa olahraga sudah menjadi industri seperti sekarang, seorang atlet diperlakukan istimewa. Selanjutnya, para orang tua seharusnya juga berpikir lebih luas. Bahwa tujuan pendidikan tidak hanya untuk mengejar pekerjaan di masa depan bagi si anak.

Dari fenomena tersebut kita harus bisa mengevaluasi sistem pendidikan kita bersama-sama. Di mana anak yang sudah lulus SMA seharusnya sudah bisa menentukan dengan mantap. Jurusan apa yang dia pilih dan pekerjaan apa yang akan dia geluti di masa depan. Harus sudah paham juga karakter dirinya, kelebihan dan kelemahannya, minat dan bakatnya yang harus dia kembangkan. Harus mantap juga dia secara mental dan karakternya. (*)

 

*) Wakil Dekan FISIP Untag 1945 Banyuwangi.

(bw/*/als/JPR)

©2021 PT. JawaPos Group Multimedia