alexametrics
23 C
Banyuwangi
Wednesday, August 17, 2022

Membaca Model Merayakan Kelulusan Siswa

CUKUP terkejut ketika kita membaca koran Jawa Pos Radar Banyuwangi edisi Selasa, 13 April 2021 lalu. Ternyata masih ada siswa-siswi kita yang merayakan kelulusan sekolah dengan cara konvoi dan corat-coret seragam sekolah. Bahkan ada yang berpesta miras. Model merayakan kelulusan seperti ini, perlu mendapatkan perhatian semua pihak. Bukan hanya sekolah dan orang tua, tetapi seluruh elemen masyarakat.

Untuk membaca dan memotret fakta ini, diperlukan kejujuran semua pihak dalam menyelami persoalan. Bukan hanya yang tampak di permukaan, tetapi harus berusaha menyelami lebih dalam pada pola dan tren, struktur penyebabnya, serta kejujuran mental modelnya. Untuk kemudian melakukan rethinking, redesigning, reframing, dan reacting ulang.

Pada fakta yang tampak telah diketahui bersama terjadinya konvoi euforia kelulusan sekolah, mencorat-coret seragam, dan pesta miras. Membaca fakta ini, kita tidak bisa berhenti di sini saja karena tidak akan menyelesaikan persoalan. Penertiban yang dilaksanakan oleh Satpol PP hanyalah menyelesaikan persoalan yang tampak di permukaan. Karena peristiwa itu akan terjadi lagi pada kelulusan yang akan datang.

Hal ini disebabkan, fakta ini akan menjadi pola dan tren di tengah-tengah siswa-siswi generasi berikutnya. Pengulangan-pengulangan peristiwa serupa setiap tahunnya, menandakan sebuah bukti pola dan tren ini. Aksi corat-coret seragam dan pesta miras sebagai sebuah pola untuk mengungkapkan rasa senang karena telah lulus sekolah. Atau mungkin lebih tepatnya, rasa senang bukan semata telah sukses kelulusannya, tetapi sebagai ekspresi rasa senang karena telah terbebas dari rasa terbelenggu dari pelajaran di sekolah.

Ketika para siswa-siswi itu datang ke sekolah dengan tanggung jawab yang harus diembannya baik dari pihak orang tua atau sekolah, sementara mereka menganggapnya sebagai beban, maka sekolah tidak lagi menyenangkan batin mereka. Justru sekolah akan menjadi penjara batin yang membelenggu kebebasan mereka.

Tentu kita ingat kata-kata seorang antropolog budaya, Margaret Mead yang mengatakan: “Nenek menginginkan aku memperoleh pendidikan, karena itu ia melarangku sekolah”. Sebuah ungkapan yang sepertinya paradoks. Satu sisi menginginkan pendidikan, tapi caranya dengan tidak masuk ke sekolah. Ini adalah sebagai ungkapan kritis seorang antropolog budaya ketika melihat sekolah tidak lagi menjadi tempat yang menyenangkan.

Meskipun pada era sekarang, standard kelulusan tidak seperti beberapa tahun belakangan yang menegangkan para siswa. Tetapi masih banyak dijumpai, para orang tua memberikan target kepada anak-anak mereka dengan harus mendapatkan nilai atau angka-angka yang tinggi dan harus mendapatkan ranking atau juara kelas. Tentu pada saat yang sama, para anak-anak itu akan menanggung sebuah tanggung jawab yang berat. Yang tidak semestinya bagi seorang penuntut ilmu. Lalu muncullah sikap pemberontakan dalam diri mereka dengan cara membolos sekolah, pergaulan bebas, dan bahkan penyalahgunaan narkoba.

Baca Juga :  Sopan Santunkan Hapenya!

Inilah yang kemudian menjadi salah satu faktor penyebab terjadinya fakta-fakta yang cukup membuat miris dunia pendidikan. Selain coret-coret kelulusan dan pesta miras, sering kita jumpai ada seorang anak melakukan bunuh diri karena merasa malu dengan teman dan orang tuanya karena nilai rapornya rendah. Ada orang tua yang melakukan kekerasan terhadap anaknya, bahkan hingga meninggal dunia disebabkan angka-angka di sekolah. Dan masih banyak lagi kisah memilukan dalam dunia pendidikan kita.

Dalam kondisi semacam ini, maka harus ada kejujuran dalam diri orang tua dan dunia pendidikan terhadap mental model masing-masing untuk mengurai persoalan ini. Ada sebuah mental model orang tua yang masih menitikberatkan pada angka-angka dalam rapor anak mereka. Ada semacam kepuasan dan kesenangan, ketika anak-anak mereka meraih nilai tinggi dan ranking yang paling atas. Dan pada saat yang sama, banyak dijumpai para orang tua yang merasa kecewa ketika angka dalam nilai akademik mereka rendah.

Demikian juga mental model yang masih ada dalam diri para guru yang merasa, pokoknya tugas mereka hanyalah mengajar. Tanpa merasa tidak punya tanggung jawab terhadap sikap-sikap non akademik anak didik mereka. Mental model dengan membangun gedung-gedung sekolah yang mewah, jumlah siswa yang melimpah, dan tentunya sumbangan pembangunan yang tidak murah. Dan pada saat yang sama, melupakan membangun jiwa para siswanya.

Setelah pada tahap ini, kita harus menyadari bahwa fakta yang tampak di permukaan dalam diri siswa kita, sesungguhnya menyimpan fakta yang tersembunyi dalam mental model para orang tua, dunia pendidikan, dan pemerintah, serta seluruh elemen masyarakat terhadap pendidikan. Maka harus ada rethinking membuat perspektif baru tentang pendidikan. Bahwa pendidikan bukan sekadar nilai dan angka. Kesuksesan anak-anak kita tidak ditentukan oleh sekadar seberapa besar nilai akademik yang diraih. Karena mereka diciptakan untuk sesuatu yang lebih besar dalam hidup ini, tidak sekadar angka dan nilai.

Baca Juga :  Buku, Afirmasi Penjaga Literasi

Langkah selanjutnya melakukan redesigning. Mendesain ulang mental model lama menuju mental model baru. Menjadikan anak-anak / siswa tidak hanya diberi kemampuan untuk belajar/ knowledge. Tetapi juga dibuka wawasannya, sehingga bisa menyesuaikan diri terhadap berbagai masalah di dunia, dan bermacam tantangan yang belum diketahui akan terjadi pada masa mendatang. Dengan begitu, nanti anak-anak yang terus tumbuh dewasa akan bisa berpartisipasi mendesain ulang segala hal. Sehingga berbagai masalah dan kekacauan di dunia selama ini dapat dihindari. Termasuk konflik menyangkut perbedaan latar belakang kehidupan dari berbagai sisi.

Selanjutnya, kita merangkak kembali ke atas dengan berupaya melakukan upaya reframing cara berpikir kita. Mengganti label–menukar perspektif kita saat melihat perilaku/ kejadian. Pada tahap ini, jangan ada lagi ungkapan siswa bandel untuk melegitimasi mereka. Tetapi orang tua dan para pendidik harus menyikapi mereka sebagai orang yang kreatif, yang membutuhkan arahan dengan cara yang benar. Karena bisa jadi, sikap mereka seperti itu disebabkan cara mengajar kita yang salah, atau sikap kita yang tidak bisa dijadikan uswah.

Setiap ada kegagalan dalam ujian akhir dan kenaikan kelas, maka tugas orang tua dan pendidik untuk tidak panik. Tetapi memformat dalam diri mereka sebagai kesuksesan yang memang harus melalui proses tidak mudah.  Dan terus melakukan reframing terhadap sikap-ujar mereka yang dalam bahasa agama dikatakan sebagai sikap husnuzdon. Maka sikapi semua yang negative dengan positif, ubah sebuah kekurangan menjadi sebuah kelebihan.

Jika orang tua dan para pendidik mampu melakukan hal tersebut tentu akan mendapatkan reacting yang berbeda dari fakta-fakta yang tampak ke permukaan sebelumnya dan semakin meningkatkan kemampuan berpikir kreatif dan meningkatkan pemahaman peserta didik. Apakah berat? Tentu tidak, karena yang membuat itu berat adalah prasangka kita saja, maka jadikan itu sebagai penggiat semangat dalam berjihad membentuk generasi lebih baik. (*)

 

*) Penghulu Muda pada KUA Kecamatan Banyuwangi.

CUKUP terkejut ketika kita membaca koran Jawa Pos Radar Banyuwangi edisi Selasa, 13 April 2021 lalu. Ternyata masih ada siswa-siswi kita yang merayakan kelulusan sekolah dengan cara konvoi dan corat-coret seragam sekolah. Bahkan ada yang berpesta miras. Model merayakan kelulusan seperti ini, perlu mendapatkan perhatian semua pihak. Bukan hanya sekolah dan orang tua, tetapi seluruh elemen masyarakat.

Untuk membaca dan memotret fakta ini, diperlukan kejujuran semua pihak dalam menyelami persoalan. Bukan hanya yang tampak di permukaan, tetapi harus berusaha menyelami lebih dalam pada pola dan tren, struktur penyebabnya, serta kejujuran mental modelnya. Untuk kemudian melakukan rethinking, redesigning, reframing, dan reacting ulang.

Pada fakta yang tampak telah diketahui bersama terjadinya konvoi euforia kelulusan sekolah, mencorat-coret seragam, dan pesta miras. Membaca fakta ini, kita tidak bisa berhenti di sini saja karena tidak akan menyelesaikan persoalan. Penertiban yang dilaksanakan oleh Satpol PP hanyalah menyelesaikan persoalan yang tampak di permukaan. Karena peristiwa itu akan terjadi lagi pada kelulusan yang akan datang.

Hal ini disebabkan, fakta ini akan menjadi pola dan tren di tengah-tengah siswa-siswi generasi berikutnya. Pengulangan-pengulangan peristiwa serupa setiap tahunnya, menandakan sebuah bukti pola dan tren ini. Aksi corat-coret seragam dan pesta miras sebagai sebuah pola untuk mengungkapkan rasa senang karena telah lulus sekolah. Atau mungkin lebih tepatnya, rasa senang bukan semata telah sukses kelulusannya, tetapi sebagai ekspresi rasa senang karena telah terbebas dari rasa terbelenggu dari pelajaran di sekolah.

Ketika para siswa-siswi itu datang ke sekolah dengan tanggung jawab yang harus diembannya baik dari pihak orang tua atau sekolah, sementara mereka menganggapnya sebagai beban, maka sekolah tidak lagi menyenangkan batin mereka. Justru sekolah akan menjadi penjara batin yang membelenggu kebebasan mereka.

Tentu kita ingat kata-kata seorang antropolog budaya, Margaret Mead yang mengatakan: “Nenek menginginkan aku memperoleh pendidikan, karena itu ia melarangku sekolah”. Sebuah ungkapan yang sepertinya paradoks. Satu sisi menginginkan pendidikan, tapi caranya dengan tidak masuk ke sekolah. Ini adalah sebagai ungkapan kritis seorang antropolog budaya ketika melihat sekolah tidak lagi menjadi tempat yang menyenangkan.

Meskipun pada era sekarang, standard kelulusan tidak seperti beberapa tahun belakangan yang menegangkan para siswa. Tetapi masih banyak dijumpai, para orang tua memberikan target kepada anak-anak mereka dengan harus mendapatkan nilai atau angka-angka yang tinggi dan harus mendapatkan ranking atau juara kelas. Tentu pada saat yang sama, para anak-anak itu akan menanggung sebuah tanggung jawab yang berat. Yang tidak semestinya bagi seorang penuntut ilmu. Lalu muncullah sikap pemberontakan dalam diri mereka dengan cara membolos sekolah, pergaulan bebas, dan bahkan penyalahgunaan narkoba.

Baca Juga :  Inspirasi Tak Pernah Mati

Inilah yang kemudian menjadi salah satu faktor penyebab terjadinya fakta-fakta yang cukup membuat miris dunia pendidikan. Selain coret-coret kelulusan dan pesta miras, sering kita jumpai ada seorang anak melakukan bunuh diri karena merasa malu dengan teman dan orang tuanya karena nilai rapornya rendah. Ada orang tua yang melakukan kekerasan terhadap anaknya, bahkan hingga meninggal dunia disebabkan angka-angka di sekolah. Dan masih banyak lagi kisah memilukan dalam dunia pendidikan kita.

Dalam kondisi semacam ini, maka harus ada kejujuran dalam diri orang tua dan dunia pendidikan terhadap mental model masing-masing untuk mengurai persoalan ini. Ada sebuah mental model orang tua yang masih menitikberatkan pada angka-angka dalam rapor anak mereka. Ada semacam kepuasan dan kesenangan, ketika anak-anak mereka meraih nilai tinggi dan ranking yang paling atas. Dan pada saat yang sama, banyak dijumpai para orang tua yang merasa kecewa ketika angka dalam nilai akademik mereka rendah.

Demikian juga mental model yang masih ada dalam diri para guru yang merasa, pokoknya tugas mereka hanyalah mengajar. Tanpa merasa tidak punya tanggung jawab terhadap sikap-sikap non akademik anak didik mereka. Mental model dengan membangun gedung-gedung sekolah yang mewah, jumlah siswa yang melimpah, dan tentunya sumbangan pembangunan yang tidak murah. Dan pada saat yang sama, melupakan membangun jiwa para siswanya.

Setelah pada tahap ini, kita harus menyadari bahwa fakta yang tampak di permukaan dalam diri siswa kita, sesungguhnya menyimpan fakta yang tersembunyi dalam mental model para orang tua, dunia pendidikan, dan pemerintah, serta seluruh elemen masyarakat terhadap pendidikan. Maka harus ada rethinking membuat perspektif baru tentang pendidikan. Bahwa pendidikan bukan sekadar nilai dan angka. Kesuksesan anak-anak kita tidak ditentukan oleh sekadar seberapa besar nilai akademik yang diraih. Karena mereka diciptakan untuk sesuatu yang lebih besar dalam hidup ini, tidak sekadar angka dan nilai.

Baca Juga :  Bhinneka Tunggal Ika sebagai Pemersatu Nusantara

Langkah selanjutnya melakukan redesigning. Mendesain ulang mental model lama menuju mental model baru. Menjadikan anak-anak / siswa tidak hanya diberi kemampuan untuk belajar/ knowledge. Tetapi juga dibuka wawasannya, sehingga bisa menyesuaikan diri terhadap berbagai masalah di dunia, dan bermacam tantangan yang belum diketahui akan terjadi pada masa mendatang. Dengan begitu, nanti anak-anak yang terus tumbuh dewasa akan bisa berpartisipasi mendesain ulang segala hal. Sehingga berbagai masalah dan kekacauan di dunia selama ini dapat dihindari. Termasuk konflik menyangkut perbedaan latar belakang kehidupan dari berbagai sisi.

Selanjutnya, kita merangkak kembali ke atas dengan berupaya melakukan upaya reframing cara berpikir kita. Mengganti label–menukar perspektif kita saat melihat perilaku/ kejadian. Pada tahap ini, jangan ada lagi ungkapan siswa bandel untuk melegitimasi mereka. Tetapi orang tua dan para pendidik harus menyikapi mereka sebagai orang yang kreatif, yang membutuhkan arahan dengan cara yang benar. Karena bisa jadi, sikap mereka seperti itu disebabkan cara mengajar kita yang salah, atau sikap kita yang tidak bisa dijadikan uswah.

Setiap ada kegagalan dalam ujian akhir dan kenaikan kelas, maka tugas orang tua dan pendidik untuk tidak panik. Tetapi memformat dalam diri mereka sebagai kesuksesan yang memang harus melalui proses tidak mudah.  Dan terus melakukan reframing terhadap sikap-ujar mereka yang dalam bahasa agama dikatakan sebagai sikap husnuzdon. Maka sikapi semua yang negative dengan positif, ubah sebuah kekurangan menjadi sebuah kelebihan.

Jika orang tua dan para pendidik mampu melakukan hal tersebut tentu akan mendapatkan reacting yang berbeda dari fakta-fakta yang tampak ke permukaan sebelumnya dan semakin meningkatkan kemampuan berpikir kreatif dan meningkatkan pemahaman peserta didik. Apakah berat? Tentu tidak, karena yang membuat itu berat adalah prasangka kita saja, maka jadikan itu sebagai penggiat semangat dalam berjihad membentuk generasi lebih baik. (*)

 

*) Penghulu Muda pada KUA Kecamatan Banyuwangi.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/