alexametrics
27.2 C
Banyuwangi
Tuesday, May 24, 2022

Belajar Ilmu Pesantren dengan Tradisi Banyuwangi

DI Indonesia, beraneka ragam suku bangsa di setiap daerah pasti memiliki suatu budaya. Di sini, kita akan membahas salah satu budaya dari daerah, yakni Banyuwangi, kota strategis yang berada di ujung timur Pulau Jawa.

Banyuwangi, sejak zaman dahulu menjadi tempat bertemu dan berinteraksinya beraneka suku bangsa, budaya, dan agama. Banyuwangi dikenal memiliki kebudayaan yang unik dan berbeda bila dibandingkan dengan daerah lain di Indonesia. Sebab, Banyuwangi memiliki keberagaman etnis. Paling tidak, terdapat tujuh etnis besar yang hidup dengan mengedepankan sikap toleransi antarsuku, agama, dan budaya di Banyuwangi. Antara lain ada suku Osing, Jawa Mataraman, Madura, Bali, Mandar, Tionghoa, dan Arab.

Tradisi yang masih dilakukan oleh suku Banyuwangi sampai sekarang adalah tradisi Kuntulan merupakan seni pertunjukan musik dan tarian yang hidup dan berkembang di Banyuwangi. Kuntulan merupakan potret budaya musik tradisi yang unik, karena di dalamnya menyatukan elemen-elemen musik dari berbagai kebudayaan, di antaranya budaya musik Jawa, Bali, dan budaya Osing–masyarakat pribumi asli Banyuwangi.

Seni pertunjukan Kuntulan merupakan kelanjutan dari seni pertunjukan Islami yang disebut hadrah yang berkembang di Banyuwangi seiring masuknya ajaran agama Islam. Dalam perkembangannya sekarang ini, Kuntulan fungsinya tidak hanya untuk aktivitas dakwah Islami, tetapi juga untuk fungsi hiburan yang sifatnya sekuler.

Perkembangan unsur-unsur sajian pertunjukan, baik unsur musikal maupun tarian dikembangkan berbasis kreasi artistik dan selera estetik masyarakat Osing, meskipun menggunakan elemen-elemen musik dari budaya lain yang ada di Banyuwangi.

Kuntulan adalah salah satu khas tarian kesenian yang dimiliki Banyuwangi. Kuntulan pada tahun 1950 saat kesenian hadrah muncul, masih sangat Islami atau masih kental bernuansa keislamannya. Musik yang digunakan untuk mengiringi adalah musik rebana dan kendang. Pengiring tembang yang dilantunkan adalah baid-baid burdah, alat musik yang digunakan enam buah rebana sebagai alat musik yang utama, dan ada penambahan alat musik yang lainnya seperti drum, beduk yang besar, beduk kecil, kenong, kluncing, gong, dan yang lainnya. Musik yang mengandung nilai-nilai yang sangat religius.

Baca Juga :  Rusaknya Mental karena Dibandingkan

Kuntulan ini sangat berhubungan dengan Islam karena penyajinya tampil menggunakan alat musik rebana dan yang lainnya yang mengandung unsur-unsur keislaman. Dan biasanya tampil pada waktu Maulid Nabi, Isra Mikraj. Musik yang dimainkan sangat mengandung nilai-nilai Islami seperti tembangan, pujian-pujian, dan yang lainnya.

Dalam berpakaian atau menggunakan busananya juga sangat agamis sekali, pakaian yang di gunakan pun juga sudah memenuhi syariat Islam. Seperti memakai kerudung dan sarung tangan, hingga memakai kaus kaki yang menutupi seluruh aurat pada tubuh, sehingga sangat kental sekali dengan ajaran agama Islam.

Kuntulan yang sudah dikembangkan dengan kombinasi beberapa unsur musik tradisi Banyuwangi lainnya seperti musik angklung paglak, dan unsur musik pada kesenian gandrung. Beberapa kesenian itu sendiri merupakan pertunjukan musik khas Banyuwangi yang sangat atraktif, rancak dan unik. Sehingga dapat membuat sebuah daya Tarik masyarakat karena kolaborasi yang membuat karya ini lebih menarik.

Pesantren sebagai organisasi pendidikan Islam tradisional di Jawa. Pesantren tumbuh dari pengajaran membaca Alquran, dan pengajian kitab-kitab lainnya. Selain untuk mengkaji ilmu agama, pesantren juga sebagai wadah komunikasi untuk mengembangkan keahlian santri, seperti mengembangkan seni tradisional yang ada pada diri santri tersebut, seperti seni selawatan, rebana dan Barzanji, yang terpenting kesenian itu masih dalam pengaruh Islam. Apalagi musik rebana adalah sebuah bentuk hiburan yang paling digemari dan pelajari mayoritas santri. Karena apa dari aktivitas kegiatan santri yang begitu padat, santri berhibur diri dengan belajar seni musik rebana.

Baca Juga :  Menyembuhkan Luka Batin

Dari sini tercipta seni budaya Jawa dalam mengembangkan agama Islam, dapat dilihat melalui elemen-elemen pertunjukan, antara lain yang paling menonjol adalah vokal (tembang). Pesan-pesan dakwah terdapat hampir di setiap tembang Jawa. Tembang-tembang itu merupakan teks yang dapat dijumpai di berbagai serat atau babad. Dalam tembang-tembang Jawa sebagai teks vokal kesenian terdapat pesan-pesan, misalnya perintah salat, meyakini takdir, berakhlak baik terhadap sesama, dan lain sebagainya.

Kesenian Islam di Banyuwangi adalah salah satu ruang dan waktu yang digunakan sebagai tempat mengekspresikan suatu seni. Kesenian Islam di Banyuwangi ini terbentuk karena adanya budaya-budaya Islam yang diterapkan dalam sendi-sendi kehidupan sosial masyarakat. Satu hal yang tidak bisa lepas dari pengekspresian esensi seorang muslim adalah dengan tidak meninggalkan tujuan hidupnya yaitu keridaan Allah, bahagia dunia dan akhirat serta memberi rahmat bagi semua manusia dan alam sekelilingnya.

Esensi dari kesenian Islami adalah dapat berfungsi sebagai pendukung konsep Islam tersebut. Salah satu kesenian Islam yang tumbuh dan berkembang di Banyuwangi adalah kesenian Kuntulan. Keberadaan kesenian ini masih ada hingga saat ini didukung karena mayoritas penduduk Banyuwangi adalah agama Islam.

Sehingga konsep Islam yang diterapkan dalam melakukan kesenian masih memiliki fungsi sebagai sarana pendukung kegiatan tradisi budayanya. Di sini peran generasi muda di Banyuwangi turut melestarikan dan menjaga sebuah seni kuntulan dengan turut aktif belajar agama dari nilai budaya yang terkandung di dalamnya. Dari situlah, akan muncul sebuah histori Banyuwangi yang bisa menarik khalayak luar daerah untuk bersinggah ke Bumi Banyuwangi. (*)

 *) Mahasiswa Pendidikan Tadris Bahasa Indonesia 2019, IAI Darussalam, Blokagung, Banyuwangi.

DI Indonesia, beraneka ragam suku bangsa di setiap daerah pasti memiliki suatu budaya. Di sini, kita akan membahas salah satu budaya dari daerah, yakni Banyuwangi, kota strategis yang berada di ujung timur Pulau Jawa.

Banyuwangi, sejak zaman dahulu menjadi tempat bertemu dan berinteraksinya beraneka suku bangsa, budaya, dan agama. Banyuwangi dikenal memiliki kebudayaan yang unik dan berbeda bila dibandingkan dengan daerah lain di Indonesia. Sebab, Banyuwangi memiliki keberagaman etnis. Paling tidak, terdapat tujuh etnis besar yang hidup dengan mengedepankan sikap toleransi antarsuku, agama, dan budaya di Banyuwangi. Antara lain ada suku Osing, Jawa Mataraman, Madura, Bali, Mandar, Tionghoa, dan Arab.

Tradisi yang masih dilakukan oleh suku Banyuwangi sampai sekarang adalah tradisi Kuntulan merupakan seni pertunjukan musik dan tarian yang hidup dan berkembang di Banyuwangi. Kuntulan merupakan potret budaya musik tradisi yang unik, karena di dalamnya menyatukan elemen-elemen musik dari berbagai kebudayaan, di antaranya budaya musik Jawa, Bali, dan budaya Osing–masyarakat pribumi asli Banyuwangi.

Seni pertunjukan Kuntulan merupakan kelanjutan dari seni pertunjukan Islami yang disebut hadrah yang berkembang di Banyuwangi seiring masuknya ajaran agama Islam. Dalam perkembangannya sekarang ini, Kuntulan fungsinya tidak hanya untuk aktivitas dakwah Islami, tetapi juga untuk fungsi hiburan yang sifatnya sekuler.

Perkembangan unsur-unsur sajian pertunjukan, baik unsur musikal maupun tarian dikembangkan berbasis kreasi artistik dan selera estetik masyarakat Osing, meskipun menggunakan elemen-elemen musik dari budaya lain yang ada di Banyuwangi.

Kuntulan adalah salah satu khas tarian kesenian yang dimiliki Banyuwangi. Kuntulan pada tahun 1950 saat kesenian hadrah muncul, masih sangat Islami atau masih kental bernuansa keislamannya. Musik yang digunakan untuk mengiringi adalah musik rebana dan kendang. Pengiring tembang yang dilantunkan adalah baid-baid burdah, alat musik yang digunakan enam buah rebana sebagai alat musik yang utama, dan ada penambahan alat musik yang lainnya seperti drum, beduk yang besar, beduk kecil, kenong, kluncing, gong, dan yang lainnya. Musik yang mengandung nilai-nilai yang sangat religius.

Baca Juga :  Diabetes, Si Manis yang Perlu Dihindari

Kuntulan ini sangat berhubungan dengan Islam karena penyajinya tampil menggunakan alat musik rebana dan yang lainnya yang mengandung unsur-unsur keislaman. Dan biasanya tampil pada waktu Maulid Nabi, Isra Mikraj. Musik yang dimainkan sangat mengandung nilai-nilai Islami seperti tembangan, pujian-pujian, dan yang lainnya.

Dalam berpakaian atau menggunakan busananya juga sangat agamis sekali, pakaian yang di gunakan pun juga sudah memenuhi syariat Islam. Seperti memakai kerudung dan sarung tangan, hingga memakai kaus kaki yang menutupi seluruh aurat pada tubuh, sehingga sangat kental sekali dengan ajaran agama Islam.

Kuntulan yang sudah dikembangkan dengan kombinasi beberapa unsur musik tradisi Banyuwangi lainnya seperti musik angklung paglak, dan unsur musik pada kesenian gandrung. Beberapa kesenian itu sendiri merupakan pertunjukan musik khas Banyuwangi yang sangat atraktif, rancak dan unik. Sehingga dapat membuat sebuah daya Tarik masyarakat karena kolaborasi yang membuat karya ini lebih menarik.

Pesantren sebagai organisasi pendidikan Islam tradisional di Jawa. Pesantren tumbuh dari pengajaran membaca Alquran, dan pengajian kitab-kitab lainnya. Selain untuk mengkaji ilmu agama, pesantren juga sebagai wadah komunikasi untuk mengembangkan keahlian santri, seperti mengembangkan seni tradisional yang ada pada diri santri tersebut, seperti seni selawatan, rebana dan Barzanji, yang terpenting kesenian itu masih dalam pengaruh Islam. Apalagi musik rebana adalah sebuah bentuk hiburan yang paling digemari dan pelajari mayoritas santri. Karena apa dari aktivitas kegiatan santri yang begitu padat, santri berhibur diri dengan belajar seni musik rebana.

Baca Juga :  Haul Majemuk Sebagai Sikap Teladan Hidup

Dari sini tercipta seni budaya Jawa dalam mengembangkan agama Islam, dapat dilihat melalui elemen-elemen pertunjukan, antara lain yang paling menonjol adalah vokal (tembang). Pesan-pesan dakwah terdapat hampir di setiap tembang Jawa. Tembang-tembang itu merupakan teks yang dapat dijumpai di berbagai serat atau babad. Dalam tembang-tembang Jawa sebagai teks vokal kesenian terdapat pesan-pesan, misalnya perintah salat, meyakini takdir, berakhlak baik terhadap sesama, dan lain sebagainya.

Kesenian Islam di Banyuwangi adalah salah satu ruang dan waktu yang digunakan sebagai tempat mengekspresikan suatu seni. Kesenian Islam di Banyuwangi ini terbentuk karena adanya budaya-budaya Islam yang diterapkan dalam sendi-sendi kehidupan sosial masyarakat. Satu hal yang tidak bisa lepas dari pengekspresian esensi seorang muslim adalah dengan tidak meninggalkan tujuan hidupnya yaitu keridaan Allah, bahagia dunia dan akhirat serta memberi rahmat bagi semua manusia dan alam sekelilingnya.

Esensi dari kesenian Islami adalah dapat berfungsi sebagai pendukung konsep Islam tersebut. Salah satu kesenian Islam yang tumbuh dan berkembang di Banyuwangi adalah kesenian Kuntulan. Keberadaan kesenian ini masih ada hingga saat ini didukung karena mayoritas penduduk Banyuwangi adalah agama Islam.

Sehingga konsep Islam yang diterapkan dalam melakukan kesenian masih memiliki fungsi sebagai sarana pendukung kegiatan tradisi budayanya. Di sini peran generasi muda di Banyuwangi turut melestarikan dan menjaga sebuah seni kuntulan dengan turut aktif belajar agama dari nilai budaya yang terkandung di dalamnya. Dari situlah, akan muncul sebuah histori Banyuwangi yang bisa menarik khalayak luar daerah untuk bersinggah ke Bumi Banyuwangi. (*)

 *) Mahasiswa Pendidikan Tadris Bahasa Indonesia 2019, IAI Darussalam, Blokagung, Banyuwangi.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/