Sabtu, 23 Oct 2021
Radar Banyuwangi
Home / Kolom
icon featured
Kolom

Masa Pandemi, Masyarakat Rentan Kena Sindrom Fomo

Oleh: Putri Novia Wulandari*

16 September 2021, 15: 00: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

Masa Pandemi, Masyarakat Rentan Kena Sindrom Fomo

Share this      

SEJAK pandemi, kegiatan masyarakat lebih banyak di rumah. Masyarakat harus terbiasa dengan aktivitas baru seperti, work from home, sekolah daring, belanja online, dan aktivitas lain yang menggunakan peran gawai. Gawai menjadi salah satu barang penting di masa pandemi ini. Selain untuk urusan pekerjaan dan pendidikan, fungsi gawai juga sebagai sarana hiburan dan pusat segala informasi terbaru.

Penggunaan gawai makin lama menjadi berlebihan. Karena kebutuhan masyarakat untuk bersosialisasi dan berinteraksi dengan orang lain menjadi berkurang, akhirnya mereka melampiaskannya dengan bermain gawai atau media sosial. Mereka mengaktualisasikan dirinya di medsos, melihat aktivitas pengguna lain, selalu meng-update apa pun yang sedang viral, terkadang muncul rasa cemas ketika tahu orang lain mengunggah hal yang menyenangkan sedang mereka tidak terlibat di dalamnya. Kecemasan itu meningkat hingga muncul perasaan iri hati dan ingin selalu update agar tidak merasa tertinggal. Fenomena psikologi tersebut kita kenal dengan istilah Fomo.

Fomo adalah singkatan dari Fear of Missing Out dalam bahasa Indonesia berarti takut tertinggal. Istilah Fomo pertama kali dikemukakan oleh Profesor Andrew K. Przybylski pada tahun 2013. Menurutnya, Fomo didefinisikan sebagai kekhawatiran, kecemasan, atau ketakutan yang dialami seseorang ketika dirinya tidak terlibat dalam suatu peristiwa, pengalaman, atau perbincangan dalam lingkungan sosialnya. Meskipun Fomo bukan diagnosis medis, tetapi Fomo adalah suatu masalah sosial. Fomo dapat membuat seseorang bebas menjelajah dunia maya dan mengabaikan aktivitas dunia nyata. Hal ini akan mengakibatkan produktivitas seseorang menurun.

Baca juga: Membangun Infrastruktur Wisata Merak-Baluran Trintegrasi Ekosistem

Fomo juga dapat mengakibatkan stres. Tentu saja hal ini akan mengganggu aktivitas masyarakat bahkan dapat menurunkan imunitas tubuh. Perasaan selalu ingin tahu kegiatan apa saja yang dilakukan orang lain, hal-hal apa saja yang sedang viral, membuat konten-konten sensasional yang terkadang menyalahi etika, semua itu dilakukan karena ingin terlihat selalu update dan mendapatkan banyak viewers.

Banyak orang yang memanipulasi dirinya di medsos agar terlihat selalu bahagia, gaul, hits, dan hidup bak sosialita. Mereka hanya ingin pengakuan dari orang lain. Memanipulasi diri seperti ini berbahaya bagi dirinya sendiri. Hal ini akan membuat hatinya kelam atau subconscious mind.

Seseorang yang terkena sindrom Fomo dapat berdampak pada kesehatan. Mereka akan cepat merasa lelah, kurang konsentrasi, dan insomnia. Bahkan, dapat mengganggu kesehatan jantung hingga kardiovaskuler bila sindrom ini terus dibiarkan. Selain gangguan kesehatan, Fomo juga dapat memengaruhi hubungan sosial. Beberapa contoh perilaku yang bisa menyebabkan hubungan sosial semakin renggang adalah melontarkan kata-kata kasar, memberikan komentar yang tidak sepantasnya kepada orang lain, dan bertindak di luar norma-norma sosial.

Dampak lain dari fenomena Fomo adalah gangguan finansial. Karena takut tertinggal tren, biasanya penderita Fomo ini akan lebih konsumtif. Mereka senang membeli barang-barang baru. Contohnya seperti membeli sepeda, baju, tas, kosmetik, perhiasan yang sedang tren padahal nilai kebutuhannya tidak terlalu penting dan mendesak. Mereka hanya ingin pamer dan mengunggah di media sosial. Selain membeli barang-barang, penderita Fomo ini biasanya antusias mengunjungi tempat-tempat hits seperti kafe, hangout dengan teman, mengunjungi tempat wisata yang tujuan utamanya adalah untuk berfoto dan mem-posting di media sosial agar mendapat like dan viewers yang banyak.

Bagaimana seseorang tahu dia terkena sindrom Fomo? Coba jawab pertanyaan berikut ini. Apakah Anda sering melihat story, status, atau feeds orang lain di media sosial? Jika sedang berlibur atau hangout dengan teman, apakah Anda selalu memikirkan di mana akan mem-posting kegiatan tersebut? Jika teman Anda melakukan suatu hal yang menyenangkan tanpa Anda, apakah ada perasaan gugup atau gelisah? Apakah kegiatan menjelajah feeds, story, atau status di media sosial setiap saat Anda lakukan? Jika sebagian besar jawaban Anda ”iya”, kemungkinan Anda terindikasi sindrom Fomo.

Agar seseorang terhindar dari sindrom Fomo ini, mereka harus bisa mengontrol diri. Mereka harus mampu menyaring mana hal positif dan negatif. Faktor keluarga juga sangat penting. Seseorang butuh pengakuan dan kasih sayang. Apabila kebutuhan tersebut sudah terpenuhi, tentu mereka tidak akan mencari pengakuan dari orang lain.

Bukan berarti tidak boleh bermain media sosial, mereka harus tahu batasan. Agar tidak terlalu fokus pada media sosial dan dunia maya, seseorang harus memperbanyak aktivitas di dunia nyata. Gunakan medsos sebagai sarana mengembangkan jejaring dan belajar. Kita juga harus selalu ingat bahwa jumlah likes dan komentar di media sosial bukanlah representasi kebahagiaan yang sesungguhnya. (*)

*) Guru Bahasa Indonesia, MTsN 1 Banyuwangi.

(bw/*/als/JPR)

©2021 PT. JawaPos Group Multimedia