alexametrics
24.6 C
Banyuwangi
Saturday, June 25, 2022

Pendidikan dalam Kelas Tiga Dinding

BAPAK Pendidikan Nasional Ki Hajar Dewantara adalah salah seorang pahlawan nasional yang menjadi pelopor pendidikan bagi kaum pribumi Indonesia pada zaman penjajahan Belanda. Peraih gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas Gadjah Mada (UGM) ini mewariskan tiga ajaran yang hingga kini masih terkenal, ”Ing Ngarsa Sung Tulodo, Ing Madya Mangun Karsa, dan Tut Wuri Handayani”. Konsep ini bermakna, ”Di depan memberi teladan, di tengah memberi semangat, dan di belakang memberi dorongan”. Konsep tersebut masih relevan diterapkan dalam dunia pendidikan nasional dewasa ini.

Menurut Ki Hajar Dewantara, pendidikan merupakan tuntutan di dalam hidup tumbuhnya anak-anak. Pendidikan harus menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak itu agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya. Dengan berbagai ide yang dimiliki Ki Hajar Dewantara, ada satu konsep yang tidak terlalu dikenal publik, yaitu konsep ”Kelas Tiga Dinding”.

Bagaimanakah bentuk kelas dengan tiga dinding? Bukankah setiap ruang kelas terdiri dari empat dinding? Tentu konsep yang dilontarkan Ki Hajar Dewantara ini tidak hanya diterjemahkan secara eksplisit semata. Coba diingat bentuk ruang kelas saat kita berada di bangku sekolah, atau mungkin secara umum kelas yang ada di sekolah-sekolah saat ini. Kelas dengan empat dinding tembok, dengan jendela tinggi-tinggi, sehingga kita yang saat itu masih kecil tidak bisa melihat keluar.

Nah, Ki Hajar Dewantara menyarankan ruang kelas itu hanya dibangun tiga sisi dinding saja, sehingga ada satu sisi yang terbuka. Dinding terbuka inilah yang menjadi penghubung dengan dunia luar sekolah. Konsep ini memiliki filosofi yang luar biasa. Satu dinding terbuka seolah hendak menegaskan tidak ada batas atau jarak antara di dalam kelas dengan realitas di luar.

Konsep ini menekankan akan penyadaran realitas kepada para pelaku pendidikan, dinding keempat yang ditiadakan itu diibaratkan sebagai celah agar siswa tidak terkungkung dalam kelas. Pembelajaran perlu didekatkan dengan kondisi lingkungan alam dan sosial. Siswa harus diberi kesempatan agar dapat mengetahui dan melihat realitas yang perlu mereka benahi ketika telah menyelesaikan pembelajaran. Persoalan kontekstual yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari mereka dapat dibahas dan diupayakan penyelesaiannya dengan mengembangkan ide-ide kreatif dari siswa.

Mengutip pemikiran seorang teoritikus pendidikan, Paulo Freire yaitu ”The teacher is of course an artist, but being an artist does not mean that he or she can make the profile, can shape the students. What the educator does in teaching is to make it possible for the students to become themselves”. Freire menyatakan bahwa guru dan murid merupakan subjek dalam pendidikan, sedangkan objeknya sendiri adalah realitas sosial. Semakin jelas bahwa ruang kelas tiga dinding merupakan perumpamaan bahwa sejatinya proses pembelajaran di dalam kelas tidak boleh terlepas dari realitas sosial yang ada.

Perubahan zaman yang begitu cepat sangat memengaruhi permasalahan atau tantangan yang akan dihadapi peserta didik. Konsep Kelas Tiga Dinding ini menuntut guru untuk terus belajar agar mampu membantu siswa mencapai hasil terbaik dalam proses belajarnya. Seorang guru profesional datang untuk mencerahkan, membukakan wawasan, dan mendorong anak agar terpanggil untuk berkarya. Pendidikan akan terasa lebih nikmat dan menyenangkan. Dan yang terpenting, satuan pendidikan yang menerapkan konsep tersebut bisa menghasilkan lulusan yang berkualitas, terampil menghadapi tantangan hidup di dunia nyata.

Pendidikan harus dimulai dari persamaan persepsi pemangku pendidikan tentang konsep pendidikan itu sendiri. Konsep pendidikan yang kurang memperhatikan realitas atau kehidupan nyata membuahkan lulusan yang kurang kompetitif. Dari kenyataan ini, konsep Kelas Tiga Dinding yang diajarkan Ki Hajar Dewantara tentu menjadi benar adanya. Sistem pendidikan harus sesuai dengan kebutuhan masyarakat sebagai pengguna.

Penggagas teori belajar bermakna, David Paul Ausubel menyatakan bahwa jika seorang anak berkeinginan untuk mengingat sesuatu tanpa mengaitkan hal yang satu dengan yang lain, maka baik proses maupun hasil pembelajaran dapat dinyatakan tidak bermakna sama sekali baginya. Maka, konsep Kelas Tiga Dinding adalah solusi. Solusi cara pandang baru terhadap pembelajaran. Pembelajaran yang berlangsung di rumah, sekolah, dan masyarakat. Pembelajaran yang menerapkan prinsip bahwa siapa saja adalah guru, siapa saja adalah siswa, dan di mana saja adalah kelas. (*)

 *) Guru SMA Negeri 2 Situbondo.

BAPAK Pendidikan Nasional Ki Hajar Dewantara adalah salah seorang pahlawan nasional yang menjadi pelopor pendidikan bagi kaum pribumi Indonesia pada zaman penjajahan Belanda. Peraih gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas Gadjah Mada (UGM) ini mewariskan tiga ajaran yang hingga kini masih terkenal, ”Ing Ngarsa Sung Tulodo, Ing Madya Mangun Karsa, dan Tut Wuri Handayani”. Konsep ini bermakna, ”Di depan memberi teladan, di tengah memberi semangat, dan di belakang memberi dorongan”. Konsep tersebut masih relevan diterapkan dalam dunia pendidikan nasional dewasa ini.

Menurut Ki Hajar Dewantara, pendidikan merupakan tuntutan di dalam hidup tumbuhnya anak-anak. Pendidikan harus menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak itu agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapat mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya. Dengan berbagai ide yang dimiliki Ki Hajar Dewantara, ada satu konsep yang tidak terlalu dikenal publik, yaitu konsep ”Kelas Tiga Dinding”.

Bagaimanakah bentuk kelas dengan tiga dinding? Bukankah setiap ruang kelas terdiri dari empat dinding? Tentu konsep yang dilontarkan Ki Hajar Dewantara ini tidak hanya diterjemahkan secara eksplisit semata. Coba diingat bentuk ruang kelas saat kita berada di bangku sekolah, atau mungkin secara umum kelas yang ada di sekolah-sekolah saat ini. Kelas dengan empat dinding tembok, dengan jendela tinggi-tinggi, sehingga kita yang saat itu masih kecil tidak bisa melihat keluar.

Nah, Ki Hajar Dewantara menyarankan ruang kelas itu hanya dibangun tiga sisi dinding saja, sehingga ada satu sisi yang terbuka. Dinding terbuka inilah yang menjadi penghubung dengan dunia luar sekolah. Konsep ini memiliki filosofi yang luar biasa. Satu dinding terbuka seolah hendak menegaskan tidak ada batas atau jarak antara di dalam kelas dengan realitas di luar.

Konsep ini menekankan akan penyadaran realitas kepada para pelaku pendidikan, dinding keempat yang ditiadakan itu diibaratkan sebagai celah agar siswa tidak terkungkung dalam kelas. Pembelajaran perlu didekatkan dengan kondisi lingkungan alam dan sosial. Siswa harus diberi kesempatan agar dapat mengetahui dan melihat realitas yang perlu mereka benahi ketika telah menyelesaikan pembelajaran. Persoalan kontekstual yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari mereka dapat dibahas dan diupayakan penyelesaiannya dengan mengembangkan ide-ide kreatif dari siswa.

Mengutip pemikiran seorang teoritikus pendidikan, Paulo Freire yaitu ”The teacher is of course an artist, but being an artist does not mean that he or she can make the profile, can shape the students. What the educator does in teaching is to make it possible for the students to become themselves”. Freire menyatakan bahwa guru dan murid merupakan subjek dalam pendidikan, sedangkan objeknya sendiri adalah realitas sosial. Semakin jelas bahwa ruang kelas tiga dinding merupakan perumpamaan bahwa sejatinya proses pembelajaran di dalam kelas tidak boleh terlepas dari realitas sosial yang ada.

Perubahan zaman yang begitu cepat sangat memengaruhi permasalahan atau tantangan yang akan dihadapi peserta didik. Konsep Kelas Tiga Dinding ini menuntut guru untuk terus belajar agar mampu membantu siswa mencapai hasil terbaik dalam proses belajarnya. Seorang guru profesional datang untuk mencerahkan, membukakan wawasan, dan mendorong anak agar terpanggil untuk berkarya. Pendidikan akan terasa lebih nikmat dan menyenangkan. Dan yang terpenting, satuan pendidikan yang menerapkan konsep tersebut bisa menghasilkan lulusan yang berkualitas, terampil menghadapi tantangan hidup di dunia nyata.

Pendidikan harus dimulai dari persamaan persepsi pemangku pendidikan tentang konsep pendidikan itu sendiri. Konsep pendidikan yang kurang memperhatikan realitas atau kehidupan nyata membuahkan lulusan yang kurang kompetitif. Dari kenyataan ini, konsep Kelas Tiga Dinding yang diajarkan Ki Hajar Dewantara tentu menjadi benar adanya. Sistem pendidikan harus sesuai dengan kebutuhan masyarakat sebagai pengguna.

Penggagas teori belajar bermakna, David Paul Ausubel menyatakan bahwa jika seorang anak berkeinginan untuk mengingat sesuatu tanpa mengaitkan hal yang satu dengan yang lain, maka baik proses maupun hasil pembelajaran dapat dinyatakan tidak bermakna sama sekali baginya. Maka, konsep Kelas Tiga Dinding adalah solusi. Solusi cara pandang baru terhadap pembelajaran. Pembelajaran yang berlangsung di rumah, sekolah, dan masyarakat. Pembelajaran yang menerapkan prinsip bahwa siapa saja adalah guru, siapa saja adalah siswa, dan di mana saja adalah kelas. (*)

 *) Guru SMA Negeri 2 Situbondo.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/