alexametrics
25.5 C
Banyuwangi
Wednesday, July 6, 2022

Pendidikan Akhlak Membentengi Santri dari Dampak Demoralisasi

DAMPAK globalisasi semakin terasa di masa kini. Fenomena demoralisasi semakin merajalela. Tidak terkecuali dalam lingkup pesantren. Saat ini, pesantren menjadi pilihan yang tepat bagi remaja penerus bangsa.

Tapi apakah benar adanya, jika pesantren dapat 100% membentengi santrinya dari pengaruh negatif globalisasi? Sanggupkah santri mengimplementasikan pendidikan akhlak dalam kehidupan sehari- hari?

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) akhlak berarti budi pekerti; kelakuan. Sedangkan akhlaq al-karimah bermakna perilaku mulia; pendidikan yang mencetak para sarjana yang berkarakter dan mempunyai spesialisasi keilmuan. Akhlak sangat penting dalam kehidupan manusia. Terlebih pada era globalisasi yang dipenuhi beragam kesenangan duniawi.

Dalam kitab Akhlaqul lil Banat juz 3, Imam al-Syafi’i pernah berkata, ”Tidaklah Allah memberikan manusia suatu karunia yang lebih utama daripada akal dan tata karma. Keduanya membuat seorang pemuda menjadi hidup. Bila ia tak memilikinya, maka lebih baik ia mati.”

Pernyataan ini sejalan dengan sabda Nabi Muhammad SAW. Beliau telah menyatakan bahwa, ”Tujuanku diutus kepada umat manusia adalah untuk menyempurnakan akhlak mulia.” Rasulullah SAW juga pernah memberi perumpamaan sebagaimana dalam sabdanya, ”Sesungguhnya akhlak itu wadahnya agama”.

Menurut Imam Abu Hamid al-Ghazali dalam kitab karyanya, Ihya’ Ulum Al-Din, akhlak merupakan suatu perangai (watak, tabiat) yang menetap kuat dalam jiwa seseorang dan merupakan sumber timbulnya perbuatan-perbuatan tertentu dari dirinya secara mudah dan ringan tanpa perlu dipikirkan atau direncanakan.

Pendidikan akhlak merupakan pembelajaran wajib dalam lingkup pesantren. Para santri diberi berbagai wawasan serta edukasi terkait akhlak secara terperinci. Mulai adab ketika berjalan, makan, minum, hingga adab kepada ahli ilmu dan pada ilmu itu sendiri. Karena disebutkan dalam kitab Ta’lim Al-Muta’alim karya Syeikh al-Zarnuji, ”Sesungguhnya santri (orang yang menuntut ilmu) tidak akan mendapat ilmu dan juga ilmunya tidak akan bermanfaat, kecuali dengan mengagungkan ilmu itu, mengagungkan ahli ilmu, serta mengagungkan dan menghormati guru.”

Dari sini kita mendapat gambaran akan seberapa pentingnya akhlaq al-karimah dalam kehidupan manusia. Sementara itu, pada masa remaja, manusia tidak dapat disebut dewasa tetapi tidak pula disebut anak-anak. Masa remaja adalah masa peralihan dari anak-anak menuju dewasa. Pada masa ini, manusia sering berada pada titik puncak ketidakstabilan emosi. Pada masa remaja, emosi cenderung meluap-luap. Keadaan seperti ini biasanya diakibatkan problem dan persoalan yang dihadapi remaja.

Demoralisasi merupakan bentuk kemerosotan akan adanya pengalaman moral, sikap, maupun akhlak seseorang yang ditandai dengan pertentangan terhadap norma dan nilai-nilai sosial di masyarakat. Sehingga pada akhirnya terwujud dalam perilaku seseorang yang melakukan pencurian, pergaulan bebas, pembunuhan, dan lain-lain.

Dapat kita saksikan, bahwa realita di era globalisasi, fenomena demoralisasi mulai gencar menjalari setiap sudut kehidupan. Contohnya, kita dapat mengambil potret dari lingkungan sekitar. Seperti yang sedang marak saat ini, yaitu ketika para pemuda yang seharusnya sibuk berjuang menimba ilmu demi memajukan kehidupan bangsa di masa depan, justru malah menyia-nyiakan waktunya yang berharga hanya untuk sekadar nongkrong di klub malam, mengonsumsi minum keras, juga obat terlarang.

Pesantren sebagai lembaga pendidikan, sosial, dan dakwah tertua di Indonesia, memiliki andil besar dalam mengatasi permasalahan ini. Dalam hal ini pesantren memiliki dua fungsi yakni:

Pertama, pesantren beserta segala nilai-nilai agama yang terkandung di dalamnya berperan sebagai benteng untuk para santrinya selaku remaja milenial.

Kedua, pesantren berperan sebagai bengkel yang akan menjadi wadah bagi para remaja yang telanjur membutuhkan servis untuk dirinya. Servis dalam konteks ini bermakna memperbaiki akhlak yang telanjur rusak, dengan cara memberi dan menyampaikan berbagai edukasi terkait akhlak al-karimah, yang kemudian penerapannya akan dilatih secara kontinu dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga jika penerapan akhlak al-karimah ini berhasil menjadi kebiasaan, pasti timbul perasaan bersalah serta tidak nyaman jika melakukan perbuatan yang tidak sesuai dengan syariat agama. Dengan begitu, kebiasaan buruk dapat sedikit berangsur hilang.

Namun sekali lagi, ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Pada dasarnya, suatu perkara yang sudah menjadi kebiasaan, jika sudah melekat pada diri, pasti akan sulit mengubahnya. Perlu proses secara berkala dengan jangka waktu yang berbeda bagi setiap individu, tergantung pada tekad dan kemampuan masing- masing.

Para santri yang pernah terjerumus dalam dunia kelam, sangat kecil kemungkinan jika mereka dapat dengan mudah menerima segala materi pembelajaran yang disampaikan. Khususnya, yang berkaitan dengan akhlak. Karena ilmu ini merupakan ilmu praktik, yang bukan sekadar memuat materi, namun perlu dan harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Namun, tetap tidak menutup kemungkinan jika sebagian dari mereka ada yang berhasil melalui tahap ini. Karena sejak awal dia memang telah memiliki tekad dan kemauan kuat untuk berubah menjadi lebih baik.

Menurut Ahmad Amin buku berjudul Etika (Ilmu Akhlak), bagi pesantren minimal ada tujuh strategi dalam membentuk perilaku santri.

Pertama, strategi keteladanan. Dalam hal ini guru berperan penting dalam memberi contoh keteladanan bagi santri. Para ustad/ustadah ini tidak sekadar memerintah untuk menerapkan konsep-konsep akhlak al-karimah tersebut. Melainkan ikut memberikan contoh kepada para santri.

Kedua, latihan dan pembiasaan. Setelah para santri meninjau sendiri contoh yang telah diperlihatkan oleh para guru, mereka secara otomatis juga akan mengikuti jejak para ustad/ustadah.

Ketiga, pergaulan dengan sesama santri. Lingkup pergaulan santri juga sangat berpengaruh bagi pembentukan dan perkembangan karakter mereka. Karena santri yang sebagian besar terdiri dari remaja, tengah berada pada masa pencarian jati diri. Sehingga pada kondisi seperti ini, mereka cenderung mudah terpengaruh lingkungan sekitar, khususnya lingkup pergaulan.

Keempat, nasihat (mauidzah). Di pesantren para santri juga diberi nasihat-nasihat (mauidzah). Hal ini bertujuan supaya para santri mendapat bekal tambahan untuk menghadapi persoalan hidupnya. Sehingga meski mereka menghadapi problem sesulit apa pun, mereka tetap akan berpegang teguh pada syariat agama.

Kelima, kedisiplinan. Tegas dalam menerapkan kedisiplinan untuk para santri juga dibutuhkan. Supaya santri belajar hidup dan melakukan segala kegiatan secara teratur dan sistematis.

Keenam, pujian dan sanksi. Ketika mereka berhasil mencapai sesuatu yang membanggakan, pujian perlu disampaikan supaya santri merasa bahwa suatu perkara yang mereka kerjakan itu berharga dan pantas mendapat apresiasi. Sehingga timbul rasa semangat dan percaya diri. Begitu pula dengan sanksi. Sanksi dibutuhkan untuk memberi efek jera pada santri yang melakukan pelanggaran. Sehingga santri tidak akan berpikir untuk mengulangi kesalahannya.

Ketujuh, mendidik melalui kemandirian. Poin terakhir ini dapat dikatakan sudah menjadi ciri khas dari pondok pesantren. Yaitu santri dididik untuk jauh dari rumah, orang tua, dan keluarga, juga melakukan segala sesuatu sendiri. Hal ini bertujuan supaya tumbuh karakter mandiri dalam diri santri.

Bukan tanpa alasan pesantren sejak dulu dipandang memiliki citra yang baik, melainkan pesantren memang sudah terbukti berhasil melahirkan banyak alumni hebat berakhlak mulia, berpendidikan, serta berwawasan luas. Mereka inilah bibit-bibit unggul untuk menduduki kursi kepemimpinan di negara ini, demi mewujudkan masa depan bangsa yang gemilang. (*)

 *) Siswi Kelas 9 Jurusan Bahasa MTs Al-Amiriyyah, Santri Blokagung, Banyuwangi.

DAMPAK globalisasi semakin terasa di masa kini. Fenomena demoralisasi semakin merajalela. Tidak terkecuali dalam lingkup pesantren. Saat ini, pesantren menjadi pilihan yang tepat bagi remaja penerus bangsa.

Tapi apakah benar adanya, jika pesantren dapat 100% membentengi santrinya dari pengaruh negatif globalisasi? Sanggupkah santri mengimplementasikan pendidikan akhlak dalam kehidupan sehari- hari?

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) akhlak berarti budi pekerti; kelakuan. Sedangkan akhlaq al-karimah bermakna perilaku mulia; pendidikan yang mencetak para sarjana yang berkarakter dan mempunyai spesialisasi keilmuan. Akhlak sangat penting dalam kehidupan manusia. Terlebih pada era globalisasi yang dipenuhi beragam kesenangan duniawi.

Dalam kitab Akhlaqul lil Banat juz 3, Imam al-Syafi’i pernah berkata, ”Tidaklah Allah memberikan manusia suatu karunia yang lebih utama daripada akal dan tata karma. Keduanya membuat seorang pemuda menjadi hidup. Bila ia tak memilikinya, maka lebih baik ia mati.”

Pernyataan ini sejalan dengan sabda Nabi Muhammad SAW. Beliau telah menyatakan bahwa, ”Tujuanku diutus kepada umat manusia adalah untuk menyempurnakan akhlak mulia.” Rasulullah SAW juga pernah memberi perumpamaan sebagaimana dalam sabdanya, ”Sesungguhnya akhlak itu wadahnya agama”.

Menurut Imam Abu Hamid al-Ghazali dalam kitab karyanya, Ihya’ Ulum Al-Din, akhlak merupakan suatu perangai (watak, tabiat) yang menetap kuat dalam jiwa seseorang dan merupakan sumber timbulnya perbuatan-perbuatan tertentu dari dirinya secara mudah dan ringan tanpa perlu dipikirkan atau direncanakan.

Pendidikan akhlak merupakan pembelajaran wajib dalam lingkup pesantren. Para santri diberi berbagai wawasan serta edukasi terkait akhlak secara terperinci. Mulai adab ketika berjalan, makan, minum, hingga adab kepada ahli ilmu dan pada ilmu itu sendiri. Karena disebutkan dalam kitab Ta’lim Al-Muta’alim karya Syeikh al-Zarnuji, ”Sesungguhnya santri (orang yang menuntut ilmu) tidak akan mendapat ilmu dan juga ilmunya tidak akan bermanfaat, kecuali dengan mengagungkan ilmu itu, mengagungkan ahli ilmu, serta mengagungkan dan menghormati guru.”

Dari sini kita mendapat gambaran akan seberapa pentingnya akhlaq al-karimah dalam kehidupan manusia. Sementara itu, pada masa remaja, manusia tidak dapat disebut dewasa tetapi tidak pula disebut anak-anak. Masa remaja adalah masa peralihan dari anak-anak menuju dewasa. Pada masa ini, manusia sering berada pada titik puncak ketidakstabilan emosi. Pada masa remaja, emosi cenderung meluap-luap. Keadaan seperti ini biasanya diakibatkan problem dan persoalan yang dihadapi remaja.

Demoralisasi merupakan bentuk kemerosotan akan adanya pengalaman moral, sikap, maupun akhlak seseorang yang ditandai dengan pertentangan terhadap norma dan nilai-nilai sosial di masyarakat. Sehingga pada akhirnya terwujud dalam perilaku seseorang yang melakukan pencurian, pergaulan bebas, pembunuhan, dan lain-lain.

Dapat kita saksikan, bahwa realita di era globalisasi, fenomena demoralisasi mulai gencar menjalari setiap sudut kehidupan. Contohnya, kita dapat mengambil potret dari lingkungan sekitar. Seperti yang sedang marak saat ini, yaitu ketika para pemuda yang seharusnya sibuk berjuang menimba ilmu demi memajukan kehidupan bangsa di masa depan, justru malah menyia-nyiakan waktunya yang berharga hanya untuk sekadar nongkrong di klub malam, mengonsumsi minum keras, juga obat terlarang.

Pesantren sebagai lembaga pendidikan, sosial, dan dakwah tertua di Indonesia, memiliki andil besar dalam mengatasi permasalahan ini. Dalam hal ini pesantren memiliki dua fungsi yakni:

Pertama, pesantren beserta segala nilai-nilai agama yang terkandung di dalamnya berperan sebagai benteng untuk para santrinya selaku remaja milenial.

Kedua, pesantren berperan sebagai bengkel yang akan menjadi wadah bagi para remaja yang telanjur membutuhkan servis untuk dirinya. Servis dalam konteks ini bermakna memperbaiki akhlak yang telanjur rusak, dengan cara memberi dan menyampaikan berbagai edukasi terkait akhlak al-karimah, yang kemudian penerapannya akan dilatih secara kontinu dalam kehidupan sehari-hari. Sehingga jika penerapan akhlak al-karimah ini berhasil menjadi kebiasaan, pasti timbul perasaan bersalah serta tidak nyaman jika melakukan perbuatan yang tidak sesuai dengan syariat agama. Dengan begitu, kebiasaan buruk dapat sedikit berangsur hilang.

Namun sekali lagi, ternyata tidak semudah yang dibayangkan. Pada dasarnya, suatu perkara yang sudah menjadi kebiasaan, jika sudah melekat pada diri, pasti akan sulit mengubahnya. Perlu proses secara berkala dengan jangka waktu yang berbeda bagi setiap individu, tergantung pada tekad dan kemampuan masing- masing.

Para santri yang pernah terjerumus dalam dunia kelam, sangat kecil kemungkinan jika mereka dapat dengan mudah menerima segala materi pembelajaran yang disampaikan. Khususnya, yang berkaitan dengan akhlak. Karena ilmu ini merupakan ilmu praktik, yang bukan sekadar memuat materi, namun perlu dan harus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Namun, tetap tidak menutup kemungkinan jika sebagian dari mereka ada yang berhasil melalui tahap ini. Karena sejak awal dia memang telah memiliki tekad dan kemauan kuat untuk berubah menjadi lebih baik.

Menurut Ahmad Amin buku berjudul Etika (Ilmu Akhlak), bagi pesantren minimal ada tujuh strategi dalam membentuk perilaku santri.

Pertama, strategi keteladanan. Dalam hal ini guru berperan penting dalam memberi contoh keteladanan bagi santri. Para ustad/ustadah ini tidak sekadar memerintah untuk menerapkan konsep-konsep akhlak al-karimah tersebut. Melainkan ikut memberikan contoh kepada para santri.

Kedua, latihan dan pembiasaan. Setelah para santri meninjau sendiri contoh yang telah diperlihatkan oleh para guru, mereka secara otomatis juga akan mengikuti jejak para ustad/ustadah.

Ketiga, pergaulan dengan sesama santri. Lingkup pergaulan santri juga sangat berpengaruh bagi pembentukan dan perkembangan karakter mereka. Karena santri yang sebagian besar terdiri dari remaja, tengah berada pada masa pencarian jati diri. Sehingga pada kondisi seperti ini, mereka cenderung mudah terpengaruh lingkungan sekitar, khususnya lingkup pergaulan.

Keempat, nasihat (mauidzah). Di pesantren para santri juga diberi nasihat-nasihat (mauidzah). Hal ini bertujuan supaya para santri mendapat bekal tambahan untuk menghadapi persoalan hidupnya. Sehingga meski mereka menghadapi problem sesulit apa pun, mereka tetap akan berpegang teguh pada syariat agama.

Kelima, kedisiplinan. Tegas dalam menerapkan kedisiplinan untuk para santri juga dibutuhkan. Supaya santri belajar hidup dan melakukan segala kegiatan secara teratur dan sistematis.

Keenam, pujian dan sanksi. Ketika mereka berhasil mencapai sesuatu yang membanggakan, pujian perlu disampaikan supaya santri merasa bahwa suatu perkara yang mereka kerjakan itu berharga dan pantas mendapat apresiasi. Sehingga timbul rasa semangat dan percaya diri. Begitu pula dengan sanksi. Sanksi dibutuhkan untuk memberi efek jera pada santri yang melakukan pelanggaran. Sehingga santri tidak akan berpikir untuk mengulangi kesalahannya.

Ketujuh, mendidik melalui kemandirian. Poin terakhir ini dapat dikatakan sudah menjadi ciri khas dari pondok pesantren. Yaitu santri dididik untuk jauh dari rumah, orang tua, dan keluarga, juga melakukan segala sesuatu sendiri. Hal ini bertujuan supaya tumbuh karakter mandiri dalam diri santri.

Bukan tanpa alasan pesantren sejak dulu dipandang memiliki citra yang baik, melainkan pesantren memang sudah terbukti berhasil melahirkan banyak alumni hebat berakhlak mulia, berpendidikan, serta berwawasan luas. Mereka inilah bibit-bibit unggul untuk menduduki kursi kepemimpinan di negara ini, demi mewujudkan masa depan bangsa yang gemilang. (*)

 *) Siswi Kelas 9 Jurusan Bahasa MTs Al-Amiriyyah, Santri Blokagung, Banyuwangi.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/