alexametrics
23.3 C
Banyuwangi
Sunday, August 14, 2022

Pandemi Meningkatkan Risiko Angka Putus Sekolah

DEWASA ini, masih ada masyarakat yang belum memahami arti pentingnya pendidikan. Beberapa masyarakat beranggapan bahwa pendidikan tidak menentukan kesuksesan. Mereka percaya bahwa kesuksesan diraih dan ditentukan oleh motivasi diri sendiri di luar dari pendidikan seperti Bu Susi Pudjiastuti (Mantan menteri kelautan) yang bisa sukses hanya dengan menempuh pendidikan hingga SMP. Mereka merasa pendidikan yang ditempuh sudah cukup sehingga tidak melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Faktor keberuntungan juga merupakan salah satu pembenaran mereka bahwa pendidikan tidak menentukan segalanya.

Selain faktor motivasi, kurangnya biaya untuk menempuh pendidikan merupakan hal yang dapat memutus pendidikan seseorang. Memang pemerintah telah mengeluarkan dana bantuan operasional sekolah sehingga para siswa gratis dalam menempuh pendidikan. Namun, yang menjadi masalah adalah pengeluaran pendukung untuk sekolah seperti biaya perjalanan ke sekolah, membeli buku, seragam, dan peralatan sekolah lainnya, tidak murah harganya.

Mereka harus memikirkan biaya lain selain biaya pendidikan yang bahkan lebih mahal dibandingkan biaya pendidikan itu sendiri. Selain itu, biaya hidup yang semakin tinggi membuat masyarakat lebih memilih untuk bekerja mencari nafkah dibanding harus melanjutkan pendidikan.

Pandemi Covid-19 memperparah dua faktor di atas tentang alasan mengapa anak putus sekolah. Pandemi ini mengakibatkan efek domino di mana tidak hanya masalah kesehatan namun menyangkut masalah lainnya seperti ekonomi dan pendidikan. Seperti yang kita ketahui pandemi ini mengharuskan masyarakat untuk selalu berjaga jarak dan menghindari kerumunan. Otomatis salah satu pilihan untuk melanjutkan pendidikan di Indonesia adalah dengan sistem pembelajaran jarak jauh (PJJ).

Sistem ini meningkatkan risiko anak putus sekolah lantaran terpaksa bekerja demi membantu perekonomian keluarga. Faktor fasilitas juga menjadi alasan untuk tidak melanjutkan sekolah karena ketimpangan ekonomi yang semakin jauh juga berefek pada penyediaan fasilitas penunjang pendidikan sistem jarak jauh. Banyaknya tugas yang diberikan kepada siswa oleh guru untuk mengejar kurikulum membuat tingkat jenuh dan stres siswa semakin tinggi sehingga akan menimbulkan risiko motivasi atau pemikiran untuk putus sekolah.

Hal ini dikonfirmasi dan ditegaskan oleh Nadiem Makarim selaku Menteri Pendidikan pada konferensi pers di YouTube. Dia mengemukakan bahwa ada tiga dampak utama, satu ancaman putus sekolah, ada berbagai macam anak yang terpaksa bekerja, dan karena kondisi sekolah PJJ tidak optimal, akhirnya mereka putus sekolah. Kemudian akhirnya persepsi orang tua berubah dalam peran sekolah dalam proses pembelajaran yang tidak optimal. ”Karena itu, ancaman putus sekolah adalah dampak yang riil dan bisa berdampak seumur hidup bagi anak-anak kita,” ujar Nadiem, Jumat (7/8/2020).

Baca Juga :  Pendekatan Konten dalam Pembelajaran, Sudahkan Dilaksanakan?

Memang tidak ada salahnya memiliki pendapat atau argumen tersendiri karena kita memiliki hak untuk bersuara. Meskipun begitu kita juga tidak bisa memaksakan pilihan seseorang. Namun di era pandemi ini, pendidikan harus tetap di tempuh karena mampu membantu kita untuk menentukan keputusan di masa yang akan datang. Dengan cara melihat dari segala sudut pandang dan pengalaman pada saat menempuh pendidikan.

Pendidikan juga mampu menyiapkan generasi bangsa berikutnya yang mampu bersaing pada dunia global, serta memberikan pemikiran-pemikiran yang logis dan tepat yang membuat kita mampu untuk bertahan di kehidupan nyata. Selain itu, pendidikan dapat menghindarkan diri dari kemiskinan dengan berbagai ilmu yang telah diperoleh serta mampu membangun relasi dengan orang-orang baru.

Dari penjelasan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa pendidikan dapat meningkatkan peluang kesuksesan seseorang. Karena itu pendidikan tetap harus ditempuh meskipun di era pandemi ini karena pendidikan merupakan fondasi atau aset dalam individu untuk membekali diri di masa yang akan datang.

Berdasar data Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) mengungkapkan data angka anak putus sekolah di Indonesia pada 2019.

Sepanjang tahun itu, sekitar 4,3 juta siswa Indonesia putus sekolah di berbagai jenjang. Jika 2019 menunjukkan angka 4,3 juta angka putus sekolah, tentu jika terjadi di era pandemi angka tersebut akan meningkat lebih tinggi. Angka putus sekolah akan memengaruhi angka partisipasi kasar pendidikan di Indonesia karena tidak sesuainya usia dengan jenjang pendidikan yang seharusnya ditempuh.

Pada keadaan di luar pandemi, data BPS menyebutkan salah satu alasan tidak melanjutkan pendidikan adalah kurangnya kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan. Meskipun banyak faktor yang menyebabkan seseorang tidak melanjutkan sekolah seperti bekerja, menikah, kekurangan biaya, atau merasa pendidikan sudah cukup. Pada era pandemi hal-hal tersebut semakin memburuk karena efek domino dari pandemi yang menyulitkan ekonomi dan pendidikan sehingga siswa dihadapkan pada pilihan yang sulit antara turut memperbaiki ekonomi keluarga atau menempuh pendidikan.

Baca Juga :  Profesor Bau

Berdasar data di atas pemerintah melalui menteri pendidikan sebaiknya mengevaluasi lebih lanjut tentang sistem pembelajaran jarak jauh di era pandemi ini. Dari penerapan sistem pembelajaran ini, dampak negatif yang ditimbulkan akan lebih besar dari pada dampak positifnya karena banyak faktor yang tidak dipenuhi jika menggunakan sistem pembelajaran jarak jauh dibandingkan dengan sistem pembelajaran tatap muka.

Solusi yang dapat dilakukan pemerintah di era pandemi yaitu menetapkan atau menyusun kembali kurikulum pendidikan yang disesuaikan dengan sistem pembelajaran jarak jauh. Pemerintah juga harus memikirkan bagi siswa yang tidak memiliki fasilitas pendukung pembelajaran jarak jauh.

Solusi yang dapat dilakukan oleh pemerintah yaitu menganggarkan fasilitas-fasilitas pendukung seperti bantuan wifi gratis di pelosok desa dan bantuan gadget bagi siswa yang tidak memiliki fasilitas pendukung dari sistem pembelajaran jarak jauh. Jika pandemi ini berakhir, solusi yang dapat digunakan pemerintah untuk membangkitkan semangat bersekolah kembali yaitu dengan meningkatkan sosialisasi tentang pentingnya pendidikan kepada masyarakat sekitar untuk peningkatan kesiapan masa depan bangsa.

 Kemudian lebih memperbanyak beasiswa bagi masyarakat yang kurang mampu sehingga membuka kesempatan untuk mereka menempuh pendidikan yang lebih tinggi. Program uang saku tambahan juga harus diberikan untuk keperluan biaya pendukung pendidikan bagi masyarakat yang kurang mampu.

Pertimbangan tentang membuka program-program pendidikan terapan yang mengikuti perkembangan zaman seperti pendidikan terapan tentang konten kreator, programmer, pengembangan artificial intelligence, pengembangan akuntansi cryptocurrency, dan lain sebagainya. Sehingga menarik siswa untuk bersemangat dalam menempuh pendidikan sekaligus mempersiapkan pada masa depan industri 4.0. (*)

*) Mahasiswa Jurusan Akuntansi, Fakultas Ekonomi & Bisnis, Universitas Muhammadiyah Malang.

DEWASA ini, masih ada masyarakat yang belum memahami arti pentingnya pendidikan. Beberapa masyarakat beranggapan bahwa pendidikan tidak menentukan kesuksesan. Mereka percaya bahwa kesuksesan diraih dan ditentukan oleh motivasi diri sendiri di luar dari pendidikan seperti Bu Susi Pudjiastuti (Mantan menteri kelautan) yang bisa sukses hanya dengan menempuh pendidikan hingga SMP. Mereka merasa pendidikan yang ditempuh sudah cukup sehingga tidak melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Faktor keberuntungan juga merupakan salah satu pembenaran mereka bahwa pendidikan tidak menentukan segalanya.

Selain faktor motivasi, kurangnya biaya untuk menempuh pendidikan merupakan hal yang dapat memutus pendidikan seseorang. Memang pemerintah telah mengeluarkan dana bantuan operasional sekolah sehingga para siswa gratis dalam menempuh pendidikan. Namun, yang menjadi masalah adalah pengeluaran pendukung untuk sekolah seperti biaya perjalanan ke sekolah, membeli buku, seragam, dan peralatan sekolah lainnya, tidak murah harganya.

Mereka harus memikirkan biaya lain selain biaya pendidikan yang bahkan lebih mahal dibandingkan biaya pendidikan itu sendiri. Selain itu, biaya hidup yang semakin tinggi membuat masyarakat lebih memilih untuk bekerja mencari nafkah dibanding harus melanjutkan pendidikan.

Pandemi Covid-19 memperparah dua faktor di atas tentang alasan mengapa anak putus sekolah. Pandemi ini mengakibatkan efek domino di mana tidak hanya masalah kesehatan namun menyangkut masalah lainnya seperti ekonomi dan pendidikan. Seperti yang kita ketahui pandemi ini mengharuskan masyarakat untuk selalu berjaga jarak dan menghindari kerumunan. Otomatis salah satu pilihan untuk melanjutkan pendidikan di Indonesia adalah dengan sistem pembelajaran jarak jauh (PJJ).

Sistem ini meningkatkan risiko anak putus sekolah lantaran terpaksa bekerja demi membantu perekonomian keluarga. Faktor fasilitas juga menjadi alasan untuk tidak melanjutkan sekolah karena ketimpangan ekonomi yang semakin jauh juga berefek pada penyediaan fasilitas penunjang pendidikan sistem jarak jauh. Banyaknya tugas yang diberikan kepada siswa oleh guru untuk mengejar kurikulum membuat tingkat jenuh dan stres siswa semakin tinggi sehingga akan menimbulkan risiko motivasi atau pemikiran untuk putus sekolah.

Hal ini dikonfirmasi dan ditegaskan oleh Nadiem Makarim selaku Menteri Pendidikan pada konferensi pers di YouTube. Dia mengemukakan bahwa ada tiga dampak utama, satu ancaman putus sekolah, ada berbagai macam anak yang terpaksa bekerja, dan karena kondisi sekolah PJJ tidak optimal, akhirnya mereka putus sekolah. Kemudian akhirnya persepsi orang tua berubah dalam peran sekolah dalam proses pembelajaran yang tidak optimal. ”Karena itu, ancaman putus sekolah adalah dampak yang riil dan bisa berdampak seumur hidup bagi anak-anak kita,” ujar Nadiem, Jumat (7/8/2020).

Baca Juga :  New Normal dari Perspektif Sosial Budaya

Memang tidak ada salahnya memiliki pendapat atau argumen tersendiri karena kita memiliki hak untuk bersuara. Meskipun begitu kita juga tidak bisa memaksakan pilihan seseorang. Namun di era pandemi ini, pendidikan harus tetap di tempuh karena mampu membantu kita untuk menentukan keputusan di masa yang akan datang. Dengan cara melihat dari segala sudut pandang dan pengalaman pada saat menempuh pendidikan.

Pendidikan juga mampu menyiapkan generasi bangsa berikutnya yang mampu bersaing pada dunia global, serta memberikan pemikiran-pemikiran yang logis dan tepat yang membuat kita mampu untuk bertahan di kehidupan nyata. Selain itu, pendidikan dapat menghindarkan diri dari kemiskinan dengan berbagai ilmu yang telah diperoleh serta mampu membangun relasi dengan orang-orang baru.

Dari penjelasan di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa pendidikan dapat meningkatkan peluang kesuksesan seseorang. Karena itu pendidikan tetap harus ditempuh meskipun di era pandemi ini karena pendidikan merupakan fondasi atau aset dalam individu untuk membekali diri di masa yang akan datang.

Berdasar data Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas) mengungkapkan data angka anak putus sekolah di Indonesia pada 2019.

Sepanjang tahun itu, sekitar 4,3 juta siswa Indonesia putus sekolah di berbagai jenjang. Jika 2019 menunjukkan angka 4,3 juta angka putus sekolah, tentu jika terjadi di era pandemi angka tersebut akan meningkat lebih tinggi. Angka putus sekolah akan memengaruhi angka partisipasi kasar pendidikan di Indonesia karena tidak sesuainya usia dengan jenjang pendidikan yang seharusnya ditempuh.

Pada keadaan di luar pandemi, data BPS menyebutkan salah satu alasan tidak melanjutkan pendidikan adalah kurangnya kesadaran masyarakat akan pentingnya pendidikan. Meskipun banyak faktor yang menyebabkan seseorang tidak melanjutkan sekolah seperti bekerja, menikah, kekurangan biaya, atau merasa pendidikan sudah cukup. Pada era pandemi hal-hal tersebut semakin memburuk karena efek domino dari pandemi yang menyulitkan ekonomi dan pendidikan sehingga siswa dihadapkan pada pilihan yang sulit antara turut memperbaiki ekonomi keluarga atau menempuh pendidikan.

Baca Juga :  Bingkai Hati Menjadi Penyemangat Guru

Berdasar data di atas pemerintah melalui menteri pendidikan sebaiknya mengevaluasi lebih lanjut tentang sistem pembelajaran jarak jauh di era pandemi ini. Dari penerapan sistem pembelajaran ini, dampak negatif yang ditimbulkan akan lebih besar dari pada dampak positifnya karena banyak faktor yang tidak dipenuhi jika menggunakan sistem pembelajaran jarak jauh dibandingkan dengan sistem pembelajaran tatap muka.

Solusi yang dapat dilakukan pemerintah di era pandemi yaitu menetapkan atau menyusun kembali kurikulum pendidikan yang disesuaikan dengan sistem pembelajaran jarak jauh. Pemerintah juga harus memikirkan bagi siswa yang tidak memiliki fasilitas pendukung pembelajaran jarak jauh.

Solusi yang dapat dilakukan oleh pemerintah yaitu menganggarkan fasilitas-fasilitas pendukung seperti bantuan wifi gratis di pelosok desa dan bantuan gadget bagi siswa yang tidak memiliki fasilitas pendukung dari sistem pembelajaran jarak jauh. Jika pandemi ini berakhir, solusi yang dapat digunakan pemerintah untuk membangkitkan semangat bersekolah kembali yaitu dengan meningkatkan sosialisasi tentang pentingnya pendidikan kepada masyarakat sekitar untuk peningkatan kesiapan masa depan bangsa.

 Kemudian lebih memperbanyak beasiswa bagi masyarakat yang kurang mampu sehingga membuka kesempatan untuk mereka menempuh pendidikan yang lebih tinggi. Program uang saku tambahan juga harus diberikan untuk keperluan biaya pendukung pendidikan bagi masyarakat yang kurang mampu.

Pertimbangan tentang membuka program-program pendidikan terapan yang mengikuti perkembangan zaman seperti pendidikan terapan tentang konten kreator, programmer, pengembangan artificial intelligence, pengembangan akuntansi cryptocurrency, dan lain sebagainya. Sehingga menarik siswa untuk bersemangat dalam menempuh pendidikan sekaligus mempersiapkan pada masa depan industri 4.0. (*)

*) Mahasiswa Jurusan Akuntansi, Fakultas Ekonomi & Bisnis, Universitas Muhammadiyah Malang.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/