alexametrics
28.9 C
Banyuwangi
Friday, August 12, 2022

Strategi Membentuk Karakter Siswa di Tengah Pandemi

Sejak pandemi melanda Indonesia Maret 2020 lalu, banyak sektor terdampak, salah satunya pendidikan. Agar proses pembelajaran tidak terhenti, maka ditetapkan kebijakan agar kegiatan belajar mengajar tidak lagi di sekolah, melainkan dengan melakukan pembelajaran jarak Jauh (PJJ). Peserta didik belajar dari rumah dengan bimbingan dari guru dan pengawasan dari orang tua.

Pihak madrasah diharuskan mengatur strategi pembelajaran yang tepat untuk menghadapi masa pandemi ini. Salah satunya adalah penggunaan aplikasi e-Learning Madrasah yang digunakan dalam pembelajaran daring. E-Learning Madrasah dipilih karena memiliki kelebihan dibandingkan aplikasi lainnya, antara lain memiliki beberapa fitur yang membuat guru bisa berinovasi dan berkreasi misalnya membuat video pembelajaran dan setelah itu meletakkan di e-Learning. Fitur yang ada misalnya seperti fitur teleconference, fitur BK, dan fitur wali kelas. Dari fitur tersebut peran wali kelas dan BK tetap bisa dijalankan dengan baik.

Dengan adanya pembelajaran daring ini, peserta didik maupun guru mengalami kendala karena baru pertama kali diterapkan. Kendala yang ada dapat berupa kurangnya tanggung jawab siswa dalam mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru, kejujuran siswa yang dicerminkan melalui menjawab soal yang diberikan oleh guru dengan menyalin langsung dari internet tanpa dibaca dan dipahami.

Masalah kedua adalah adanya siswa yang berbohong kepada orang tua mengenai informasi di sekolah atau pun tugasnya. Dari kendala yang ada inilah terlihat bahwa ciri dari siswa berkarakter yang merupakan tujuan dari kurikulum mulai pudar.

Baca Juga :  Habiskan atau Jangan Minum Sama Sekali

Pembentukan siswa berkarakter terdapat pada kompetensi inti 2 Kurikulum 2013 revisi, di mana siswa dapat menunjukkan perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli, santun, percaya diri dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam dalam pergaulan dan keberadaannya. Kompetensi ini dapat dicapai melalui pembelajaran tidak langsung yaitu dengan adanya keteladanan, pembiasaan, dan budaya sekolah. Dengan kondisi siswa harus belajar dari rumah kurang memungkinkan bagi guru untuk membangun karakter ini karena masih dianggap minim oleh para orang tua.

Guru perlu menyiasati supaya tujuan dari KI-2 tetap terlaksana. Pendidikan berkarakter saat pembelajaran daring ini dapat tetap dikontrol oleh guru. Salah satunya dengan melakukan kontrol melalui video meeting pada fitur teleconference di e-Learning. Dengan video meeting guru dapat melihat secara langsung siswa melaksanakan tanggung jawabnya untuk belajar. Selain itu, guru juga dapat memberikan live quiz saat panggilan video berjalan. Sehingga dapat meminimalkan siswa menyalin jawaban langsung dari internet.

Adapun cara lain yang dapat dilakukan guru untuk membentuk karakter siswa ini, yaitu dengan memberikan lembar kontrol karakter kepada siswa dan orang tua. Setelah itu, guru menilai lembar kontrol ini dan memberikan umpan balik dengan tujuan untuk menguatkan karakter yang sudah baik dan mengubah karakter yang belum sesuai.

Baca Juga :  Membaca Pola dan Corak Kehidupan Masyarakat Desa

Penguatan terhadap karakter yang sudah baik ini dapat juga dilakukan dengan cara memberikan penghargaan kepada siswa yang berprestasi dan selalu mengerjakan tanggung jawabnya. Penghargaan yang diberikan dapat berupa ucapan selamat di e-Learning sehingga dapat menumbuhkan semangat untuk siswa yang lainnya. Sedangkan untuk memperbaiki karakter yang belum sesuai dapat diberikan hukuman, seperti mengingatkan secara langsung baik melalui telepon atau chat melalui fitur BK di e-Learning kepada siswa yang bersangkutan agar nama baik anak tetap terjaga dan tidak merasa direndahkan oleh teman-temannya.

Selain itu, guru juga harus selalu mengontrol setiap kata-kata yang ditulis oleh siswa baik di dalam tugas, e-Learning maupun di grup WhatsApp. Hal ini dilakukan sebagai bentuk penanaman karakter sopan dan santun. Jadi, pendidikan karakter di masa pandemi ini merupakan tanggung jawab bersama guru dan orang tua untuk melaksanakan tujuan KI-2 dan tidak menghilangkan karakter baik siswa sekalipun dunia sedang diterpa badai pandemi. (*)

 

*) Guru Bimbingan dan Konseling (BK) MTsN 3 Banyuwangi.

Sejak pandemi melanda Indonesia Maret 2020 lalu, banyak sektor terdampak, salah satunya pendidikan. Agar proses pembelajaran tidak terhenti, maka ditetapkan kebijakan agar kegiatan belajar mengajar tidak lagi di sekolah, melainkan dengan melakukan pembelajaran jarak Jauh (PJJ). Peserta didik belajar dari rumah dengan bimbingan dari guru dan pengawasan dari orang tua.

Pihak madrasah diharuskan mengatur strategi pembelajaran yang tepat untuk menghadapi masa pandemi ini. Salah satunya adalah penggunaan aplikasi e-Learning Madrasah yang digunakan dalam pembelajaran daring. E-Learning Madrasah dipilih karena memiliki kelebihan dibandingkan aplikasi lainnya, antara lain memiliki beberapa fitur yang membuat guru bisa berinovasi dan berkreasi misalnya membuat video pembelajaran dan setelah itu meletakkan di e-Learning. Fitur yang ada misalnya seperti fitur teleconference, fitur BK, dan fitur wali kelas. Dari fitur tersebut peran wali kelas dan BK tetap bisa dijalankan dengan baik.

Dengan adanya pembelajaran daring ini, peserta didik maupun guru mengalami kendala karena baru pertama kali diterapkan. Kendala yang ada dapat berupa kurangnya tanggung jawab siswa dalam mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru, kejujuran siswa yang dicerminkan melalui menjawab soal yang diberikan oleh guru dengan menyalin langsung dari internet tanpa dibaca dan dipahami.

Masalah kedua adalah adanya siswa yang berbohong kepada orang tua mengenai informasi di sekolah atau pun tugasnya. Dari kendala yang ada inilah terlihat bahwa ciri dari siswa berkarakter yang merupakan tujuan dari kurikulum mulai pudar.

Baca Juga :  Bingkai Hati Menjadi Penyemangat Guru

Pembentukan siswa berkarakter terdapat pada kompetensi inti 2 Kurikulum 2013 revisi, di mana siswa dapat menunjukkan perilaku jujur, disiplin, tanggung jawab, peduli, santun, percaya diri dalam berinteraksi secara efektif dengan lingkungan sosial dan alam dalam pergaulan dan keberadaannya. Kompetensi ini dapat dicapai melalui pembelajaran tidak langsung yaitu dengan adanya keteladanan, pembiasaan, dan budaya sekolah. Dengan kondisi siswa harus belajar dari rumah kurang memungkinkan bagi guru untuk membangun karakter ini karena masih dianggap minim oleh para orang tua.

Guru perlu menyiasati supaya tujuan dari KI-2 tetap terlaksana. Pendidikan berkarakter saat pembelajaran daring ini dapat tetap dikontrol oleh guru. Salah satunya dengan melakukan kontrol melalui video meeting pada fitur teleconference di e-Learning. Dengan video meeting guru dapat melihat secara langsung siswa melaksanakan tanggung jawabnya untuk belajar. Selain itu, guru juga dapat memberikan live quiz saat panggilan video berjalan. Sehingga dapat meminimalkan siswa menyalin jawaban langsung dari internet.

Adapun cara lain yang dapat dilakukan guru untuk membentuk karakter siswa ini, yaitu dengan memberikan lembar kontrol karakter kepada siswa dan orang tua. Setelah itu, guru menilai lembar kontrol ini dan memberikan umpan balik dengan tujuan untuk menguatkan karakter yang sudah baik dan mengubah karakter yang belum sesuai.

Baca Juga :  Strategi Mendobrak Pintu PTN via SNMPTN

Penguatan terhadap karakter yang sudah baik ini dapat juga dilakukan dengan cara memberikan penghargaan kepada siswa yang berprestasi dan selalu mengerjakan tanggung jawabnya. Penghargaan yang diberikan dapat berupa ucapan selamat di e-Learning sehingga dapat menumbuhkan semangat untuk siswa yang lainnya. Sedangkan untuk memperbaiki karakter yang belum sesuai dapat diberikan hukuman, seperti mengingatkan secara langsung baik melalui telepon atau chat melalui fitur BK di e-Learning kepada siswa yang bersangkutan agar nama baik anak tetap terjaga dan tidak merasa direndahkan oleh teman-temannya.

Selain itu, guru juga harus selalu mengontrol setiap kata-kata yang ditulis oleh siswa baik di dalam tugas, e-Learning maupun di grup WhatsApp. Hal ini dilakukan sebagai bentuk penanaman karakter sopan dan santun. Jadi, pendidikan karakter di masa pandemi ini merupakan tanggung jawab bersama guru dan orang tua untuk melaksanakan tujuan KI-2 dan tidak menghilangkan karakter baik siswa sekalipun dunia sedang diterpa badai pandemi. (*)

 

*) Guru Bimbingan dan Konseling (BK) MTsN 3 Banyuwangi.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/