alexametrics
24.7 C
Banyuwangi
Saturday, August 13, 2022

Kekerasan Seksual Berbalut Agama

JIKA ditilik secara umum, hadirnya agama dalam realitas kehidupan berperan sebagai pengatur perilaku manusia dalam berbagai aspek. Demikian dituangkan dalam bentuk seruan untuk menjalin hubungan baik antar sesama manusia, damai, tentram, tenang dan penuh cinta, merupakan upaya mencegah terjadinya perpecahan dan konflik sosial.

Selain berkaitan dengan aspek spiritual yang sifatnya abstrak/metafisik/dzat, agama juga erat kaitannya pula dengan segi sosial. Dalam setiap agama, aspek hubungan sosial begitu ditekankan, karena merupakan salah satu wujud implementasi dari sistem ajaran yang diturunkan Tuhan terhadap manusia.

Sebagaimana Emile Durkheim yang namanya tidak asing bagi kalangan akademisi dan salah satu tokoh filsafat, menyatakan bahwa agama merupakan serangkaian paraktik dan sistem kepercayaan yang disatukan dalam suatu hubungan di bawah kuasa Dzat yang Maha Tinggi (suci, maupun bersifat ibadah sehingga dapat membentuk kesatuan moral yang sifatnya tunggal serta menciptakan ketentraman.

Agama dalam pandangan Durkheim, hubungannya dengan masyarakat masuk dalam ranah yang intim, sebab terbentuknya agama berasal dari arus sosial (social current), yaitu apa yang disebut proses dari kesadaran kolektif (collective effervescence), yang pada akhirnya berpuncak pada collective consciousness, dimana ketika manusia melakukan serangkaian ritual peribadahan dan menyucikan hal-hal yang dianggap sakral maupun bernilai penuh religiusitas.

Sebuah istilah justru bertolak belakang dengan pendapat Durkheim tentang agama, yaitu “when religion becomes evil”, pernah dipopulerkan oleh Charles Kimball, seorang ketua Departemen Agama Universitas Wake Forest sekaligus Guru Besar bidang Studi Agama-Agama. Dimana dalam nukilan isi karya tulisnya ia menjelaskan bahwa agama merupakan poros utama munculnya masalah di dalam kehidupan manusia.

Secara perlahan dan penuh pesan tersirat bahwa istilah tersebut secara tidak langsung terjadi pada fenomena memasuki penghujung tahun 2021. Bahkan istilah-istilah lain kembali dimunculkan di permukaan publik, bahwa era kini memasuki dark age (era kegelapan) layaknya masa jahiliyah yang acap identik dengan perusakan, peperangan, konflik, dan merosotnya moralitas sosial.

Seperti halnya berita yang hangat dan dimunculkan di rumpun sosial media perihal kekerasan seksual dengan tindak laku pemerkosaan sekitar 21 santriwati yang brutal dengan latar belakang pesantren di Bandung. Ruang publik seketika gempar mengisi segala lini kanal media sosial, pasalnya pelaku kekerasan seksual tersebut adalah seorang pengasuh pesantren. Dari beberapa aksi bejatnya, setidaknya beberapa melahirkan hingga trauma berat menyelimuti sisi mental korban.

Baca Juga :  Menaruh Harapan pada Kurikulum Merdeka

Munculnya kasus tersebut, patut dipertanyakan tentang pemaknaan agama sebenarnya. Pasalnya pelaku yang terlibat notabennya dipercaya sebagai role model dalam segi keagamaan. Layaknya istilah dalam bahasa Jawa dalam memaknai “Guru”: digugu lan ditiru. Dari sini, akankah pengertian agama yang diusung Durkheim yang  masih layak dikatakan sebagai pembawa ketentraman dan ketenangan?.

Atau bahkan istilah “when religion becomes evil” yang diusung Kimball tepat kiranya dimunculkan di ruang publik?, bahwa agama tidak lagi memiliki kedudukan sakral dan penuh moralitas. Manakah yang salah?, agama atau manusianya?. Bahkan apakah benar agama menjadi jalan keluar, atau sumber masalah?. Demikian muncul pertanyaan besar di ruang publik khusunya umat beragama.

Nyatanya ada dua pemaknaan agama yang diungkapkan oleh Kimball. Pertama yaitu dikatakan sebagai pemberi jalan keluar atau solusi atas segenap permasalahan. Kedua dikatakan sebagai sumber masalah/bencana ketika aktor kejahatan melebeli atas nama agama dalam melegalkan aksinya. Bahwa erat kaitannya dengan sistem sosial, tindakan kejahatan yang merugikan orang lain merupakan hal yang bertentangan dengan agama itu sendiri dan moral.

Demikian senada dengan kasus pemerkosaan yang digencarkan seorang pengasuh pondok pesantren di Bandung. Dengan dalih agama dan memanfaatkan kedudukan sosialnya sebagai salah seorang guru agama, ia dengan mudahnya merayu para korban (santriwati) untuk berhubungan intim yang justru sangat bertentangan dengan nilai-nilai luhur agama.

Moral sendiri dalam pandangan Franz Magnis-Suseno selalu mengacu pada baik dan buruknya manusia, baik dalam segi tindakan ataupun hal lain di luar itu. Aspek moral menduduki tingkat pertama dalam mengukur tingkat baik-buruknya manusia sebagai manusia dalam segala lini kehidupan bermasyarakat. Maka tindakan pemerkosaaan secara tegas bertolak belakang dengan aspek inti beragama, yang begitu mengedepankan hubungan sosial dan aspek moralitas.

Dengan adanya penyegaran kasus tiap tahunnya khususnya di Indonesia, tentu kedudukan agama seakan hanya nama semata, tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Demikian disebabkan karena simbol-simbol, dalih, kedudukan sosial, bahkan lembaga berlebel agama acap kali dijadikan kambing hitam dalam melegalkan tindakan bejat yang seakan-akan untuk memenuhi perintah agama yang ternyata berlatarbelakang nafsu belaka.

Jika ditilik dari segi fenomenologi, kasus tersebut nampaknya termasuk salah satu di dalamnya. “Phenomenon” sendiri berasal dari bahasa Yunani phaenesthai, yang berarti menyala, menunjukkan dirinya, muncul. Pandangan pokok fenomenologi, yakni “menuju sesuatu itu sendiri” (to the things themselves). Menuju apa yang muncul dan memberikan dorongan (impetus) untuk adanya pengalaman dan membangkitkan pengetahuan baru.

Baca Juga :  Menggagas Fikih Pandemi

Nampaknya fenomena-fenomena dalam dinamika sosial terus mengalami perkembangan, bahkan dalam hal ini pemerkosaan diberbungkus oleh kain pesantren, menjadi hal yang patut kita hindari, terutama pemeluk Islam. Pesan moral yang dapat dipetik dari munculnya kasus tindak kekerasan seksual yang berbalut agama ini setidaknya ada beberapa faktor yang melatarbelakanginya. Diantara faktor yang dominan adalah pemahaman agama dan moralitas secara setengah-setengah (tidak utuh). Demikian begitu bahaya dan menjadi sinyal merah bagi masyarakat.

Pemahaman agama yang tidak secara utuh meski dalam niat awal berlebel baik, akan tetapi tidak dapat dikatakan baik jika mengandung unsur konflik dan masalah jika diaktualisasikan. Pemahaman yang keliru jika hanya menyandarkan pada teks tanpa memahami konteks menjadikan seseorang terdoktrin dengan pikirannya sendiri, atau termakan oleh interpretasi keterbatasan pengetahuannya.

Sebagai seorang yang beragama, sanad keilmuan dan segala praktik keagamaan patut ditilik terlebih dahulu dengan jeli, apakah mengandung unsur membangun (baik) atau sebaliknya. Hal yang penting untuk dipahami secara seksama, bahwa peran agama semestinya pada dasarnya sebagai pengontrol kehidupan manusia dengan segala keterbatasannya, bukan justru dijadikan alat untuk melegalkan aksi amoral.

Terlebih pada tubuh Islam, yang pada dasarnya diturunkan dengan segala keistimewaannya dan membawa pesan damai, tentram, yang sejatinya jauh dari tindakan amoral dalam segi ajarannya. Tindakan demikian pun tidak dilegalkan oleh al-Qur’an dan Hadits sebagai rujukan primer umat Islam. Demikian tidak dapat menyalahkan agama sebagai sumber kerusakan, namun kembali pada pemahaman tiap individu dalam memahami teks dan konteks pesan-pesan agama yang secara utuh serta sesuai. Aspek terpenting adalah tidak menyalahi aturan agama, aspek moralitas dan hubungan sosial. (*)

 

*) Pegiat literasi dan anggota Centre for Research and Islamic Studies (CRIS) UIN Sunan Ampel Surabaya. Asal Dusun Malangsari, Desa Kebonrejo, Kecamatan Kalibaru, Banyuwangi.

JIKA ditilik secara umum, hadirnya agama dalam realitas kehidupan berperan sebagai pengatur perilaku manusia dalam berbagai aspek. Demikian dituangkan dalam bentuk seruan untuk menjalin hubungan baik antar sesama manusia, damai, tentram, tenang dan penuh cinta, merupakan upaya mencegah terjadinya perpecahan dan konflik sosial.

Selain berkaitan dengan aspek spiritual yang sifatnya abstrak/metafisik/dzat, agama juga erat kaitannya pula dengan segi sosial. Dalam setiap agama, aspek hubungan sosial begitu ditekankan, karena merupakan salah satu wujud implementasi dari sistem ajaran yang diturunkan Tuhan terhadap manusia.

Sebagaimana Emile Durkheim yang namanya tidak asing bagi kalangan akademisi dan salah satu tokoh filsafat, menyatakan bahwa agama merupakan serangkaian paraktik dan sistem kepercayaan yang disatukan dalam suatu hubungan di bawah kuasa Dzat yang Maha Tinggi (suci, maupun bersifat ibadah sehingga dapat membentuk kesatuan moral yang sifatnya tunggal serta menciptakan ketentraman.

Agama dalam pandangan Durkheim, hubungannya dengan masyarakat masuk dalam ranah yang intim, sebab terbentuknya agama berasal dari arus sosial (social current), yaitu apa yang disebut proses dari kesadaran kolektif (collective effervescence), yang pada akhirnya berpuncak pada collective consciousness, dimana ketika manusia melakukan serangkaian ritual peribadahan dan menyucikan hal-hal yang dianggap sakral maupun bernilai penuh religiusitas.

Sebuah istilah justru bertolak belakang dengan pendapat Durkheim tentang agama, yaitu “when religion becomes evil”, pernah dipopulerkan oleh Charles Kimball, seorang ketua Departemen Agama Universitas Wake Forest sekaligus Guru Besar bidang Studi Agama-Agama. Dimana dalam nukilan isi karya tulisnya ia menjelaskan bahwa agama merupakan poros utama munculnya masalah di dalam kehidupan manusia.

Secara perlahan dan penuh pesan tersirat bahwa istilah tersebut secara tidak langsung terjadi pada fenomena memasuki penghujung tahun 2021. Bahkan istilah-istilah lain kembali dimunculkan di permukaan publik, bahwa era kini memasuki dark age (era kegelapan) layaknya masa jahiliyah yang acap identik dengan perusakan, peperangan, konflik, dan merosotnya moralitas sosial.

Seperti halnya berita yang hangat dan dimunculkan di rumpun sosial media perihal kekerasan seksual dengan tindak laku pemerkosaan sekitar 21 santriwati yang brutal dengan latar belakang pesantren di Bandung. Ruang publik seketika gempar mengisi segala lini kanal media sosial, pasalnya pelaku kekerasan seksual tersebut adalah seorang pengasuh pesantren. Dari beberapa aksi bejatnya, setidaknya beberapa melahirkan hingga trauma berat menyelimuti sisi mental korban.

Baca Juga :  Swadesi ala Banyuwangi

Munculnya kasus tersebut, patut dipertanyakan tentang pemaknaan agama sebenarnya. Pasalnya pelaku yang terlibat notabennya dipercaya sebagai role model dalam segi keagamaan. Layaknya istilah dalam bahasa Jawa dalam memaknai “Guru”: digugu lan ditiru. Dari sini, akankah pengertian agama yang diusung Durkheim yang  masih layak dikatakan sebagai pembawa ketentraman dan ketenangan?.

Atau bahkan istilah “when religion becomes evil” yang diusung Kimball tepat kiranya dimunculkan di ruang publik?, bahwa agama tidak lagi memiliki kedudukan sakral dan penuh moralitas. Manakah yang salah?, agama atau manusianya?. Bahkan apakah benar agama menjadi jalan keluar, atau sumber masalah?. Demikian muncul pertanyaan besar di ruang publik khusunya umat beragama.

Nyatanya ada dua pemaknaan agama yang diungkapkan oleh Kimball. Pertama yaitu dikatakan sebagai pemberi jalan keluar atau solusi atas segenap permasalahan. Kedua dikatakan sebagai sumber masalah/bencana ketika aktor kejahatan melebeli atas nama agama dalam melegalkan aksinya. Bahwa erat kaitannya dengan sistem sosial, tindakan kejahatan yang merugikan orang lain merupakan hal yang bertentangan dengan agama itu sendiri dan moral.

Demikian senada dengan kasus pemerkosaan yang digencarkan seorang pengasuh pondok pesantren di Bandung. Dengan dalih agama dan memanfaatkan kedudukan sosialnya sebagai salah seorang guru agama, ia dengan mudahnya merayu para korban (santriwati) untuk berhubungan intim yang justru sangat bertentangan dengan nilai-nilai luhur agama.

Moral sendiri dalam pandangan Franz Magnis-Suseno selalu mengacu pada baik dan buruknya manusia, baik dalam segi tindakan ataupun hal lain di luar itu. Aspek moral menduduki tingkat pertama dalam mengukur tingkat baik-buruknya manusia sebagai manusia dalam segala lini kehidupan bermasyarakat. Maka tindakan pemerkosaaan secara tegas bertolak belakang dengan aspek inti beragama, yang begitu mengedepankan hubungan sosial dan aspek moralitas.

Dengan adanya penyegaran kasus tiap tahunnya khususnya di Indonesia, tentu kedudukan agama seakan hanya nama semata, tidak berfungsi sebagaimana mestinya. Demikian disebabkan karena simbol-simbol, dalih, kedudukan sosial, bahkan lembaga berlebel agama acap kali dijadikan kambing hitam dalam melegalkan tindakan bejat yang seakan-akan untuk memenuhi perintah agama yang ternyata berlatarbelakang nafsu belaka.

Jika ditilik dari segi fenomenologi, kasus tersebut nampaknya termasuk salah satu di dalamnya. “Phenomenon” sendiri berasal dari bahasa Yunani phaenesthai, yang berarti menyala, menunjukkan dirinya, muncul. Pandangan pokok fenomenologi, yakni “menuju sesuatu itu sendiri” (to the things themselves). Menuju apa yang muncul dan memberikan dorongan (impetus) untuk adanya pengalaman dan membangkitkan pengetahuan baru.

Baca Juga :  Apakah Pendidikan Kedokteran Hanya untuk Kalangan Berduit?

Nampaknya fenomena-fenomena dalam dinamika sosial terus mengalami perkembangan, bahkan dalam hal ini pemerkosaan diberbungkus oleh kain pesantren, menjadi hal yang patut kita hindari, terutama pemeluk Islam. Pesan moral yang dapat dipetik dari munculnya kasus tindak kekerasan seksual yang berbalut agama ini setidaknya ada beberapa faktor yang melatarbelakanginya. Diantara faktor yang dominan adalah pemahaman agama dan moralitas secara setengah-setengah (tidak utuh). Demikian begitu bahaya dan menjadi sinyal merah bagi masyarakat.

Pemahaman agama yang tidak secara utuh meski dalam niat awal berlebel baik, akan tetapi tidak dapat dikatakan baik jika mengandung unsur konflik dan masalah jika diaktualisasikan. Pemahaman yang keliru jika hanya menyandarkan pada teks tanpa memahami konteks menjadikan seseorang terdoktrin dengan pikirannya sendiri, atau termakan oleh interpretasi keterbatasan pengetahuannya.

Sebagai seorang yang beragama, sanad keilmuan dan segala praktik keagamaan patut ditilik terlebih dahulu dengan jeli, apakah mengandung unsur membangun (baik) atau sebaliknya. Hal yang penting untuk dipahami secara seksama, bahwa peran agama semestinya pada dasarnya sebagai pengontrol kehidupan manusia dengan segala keterbatasannya, bukan justru dijadikan alat untuk melegalkan aksi amoral.

Terlebih pada tubuh Islam, yang pada dasarnya diturunkan dengan segala keistimewaannya dan membawa pesan damai, tentram, yang sejatinya jauh dari tindakan amoral dalam segi ajarannya. Tindakan demikian pun tidak dilegalkan oleh al-Qur’an dan Hadits sebagai rujukan primer umat Islam. Demikian tidak dapat menyalahkan agama sebagai sumber kerusakan, namun kembali pada pemahaman tiap individu dalam memahami teks dan konteks pesan-pesan agama yang secara utuh serta sesuai. Aspek terpenting adalah tidak menyalahi aturan agama, aspek moralitas dan hubungan sosial. (*)

 

*) Pegiat literasi dan anggota Centre for Research and Islamic Studies (CRIS) UIN Sunan Ampel Surabaya. Asal Dusun Malangsari, Desa Kebonrejo, Kecamatan Kalibaru, Banyuwangi.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/