Sabtu, 23 Oct 2021
Radar Banyuwangi
Home / Kolom
icon featured
Kolom

Pasar Digital dan Peningkatan Daya Saing Industri Mikro Kecil

Oleh: Ahmad Junaedi*

14 Oktober 2021, 08: 00: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

Pasar Digital dan Peningkatan Daya Saing Industri Mikro Kecil

Share this      

Pandemi Covid-19 memberikan dampak terhadap segala sektor di Indonesia. Berbagai kebijakan pemerintah dalam usaha menekan dan menghentikan penularan virus mulai dari PSBB hingga PPKM mengakibatkan akses pergerakan kegiatan ekonomi menjadi terbatas. Daya beli masyarakat yang rendah akibat menurunnya pendapatan berimbas pada menurunnya konsumsi masyarakat. Padahal menurut data BPS, distribusi PDB Indonesia pada tahun 2020 sekitar 68,25 persen ditopang oleh konsumsi dalam negeri. Industri mikro dan kecil (IMK) sebagai salah satu sektor produksi juga terimbas aturan kebijakan penanganan pendemi ini. 

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), jumlah IMK 2019 di Indonesia sekitar 4,38 juta usaha/perusahaan. Dari sejumlah itu  94,22 persen diantaranya adalah usaha industri mikro, sedangkan sisanya adalah usaha industri kecil. IMK ditanah air mampu menyediakan lapangan kerja bagi sekitar 9,58 juta orang. IMK mampu menyerap 14,96 persen dari total angkatan kerja nasional, dengan pendapatan mencapai 501,45 triliyun rupiah. Ini menunjukkan IMK mempunyai kontribusi penting bagi perekonomian nasional.

Keberpihakan pemerintah terhadap UMKM termasuk IMK dengan diwujudkan melalui Permenkeu nomor 199/PMK.04/2019 tentang pajak E-commerce yang berlaku efektif pada 30 Januari 2020. Dirjen Bea dan Cukai telah menerapkan ketentuan baru mengenai ambang batas nilai pembebasan bea masuk atas barang kiriman, dari 75 dollar AS menjadi 3 dollar AS. Hal ini cukup beralasan mengingat belanja impor melalui E-commerce cukup tinggi. Tahun 2019 belanja impor E-commerce masyarakat diperkirakan mencapai 673,87 juta USD. Tetapi pandemi memupus harapan para pelaku usaha IMK menikmati tuah pajak E-commerce.

Baca juga: Kekang-mengekang lewat Aturan

Pasar Digital IMK

Pandemi memberikan banyak perubahan pada sistem yang sudah berjalan di masyarakat, termasuk sistem jual beli online. Sistem ini  sebenarnya merupakan dampak perkembangan jaman dengan maraknya penggunanaan uang elektronik. Pandemi yang membatasi pergerakan masyarakat, bisa mengadaptasi perubahan ini. Masyarakat tidak lagi direpotkan dengan mobilitas dan uang fisik dalam bertransaksi. Sistem ini semakin berkembang pesat seiring digitalisasi berbagai pelayanan. Munculnya pasar-pasar digital atau pasar online, dan sistem pembayaran digital serta berkembangnya jasa pengiriman, mampu meningkatkan efektifitas transaksi masyarakat dalam memenuhi kebutuhannya. Transaksi bisnis tidak lagi bertemu secara fisik dalam menjalankan bisnisnya.

Perkembangan pasar digital ini belum sepenuhnya menyentuh usaha IMK. Mayoritas usaha IMK nasional didominasi usaha mikro yang berpendidikan rendah. Dari data IMK tahun 2019, sekitar 77,20 persen pengusaha IMK berpendidikan SMP kebawah. Kondisi ini memberikan tantangan tersendiri bagi transfer teknologi digital, karena baru sekitar 11,94 persen usaha IMK yang sudah menggunakan internet. Penggunaan internet dengan tujuan pemasaran hasil usaha baru mencapai sekitar 196,86 ribu usaha IMK. Para pengusaha muda IMK diharapkan menjadi pelopor dalam pengembangan pasar digital bagi produk-produk mereka. Data menunjukkan bahwa kelompok umur pengusaha IMK 91,02 persen berada dalam rentang usia 25 sampai 64 tahun. Pemerintah sebenarnya sudah memberikan perhatian yang cukup baik bagi perkembangan UMKM di Indonesia. Banyak program pelatihan dijalankan baik offline maupun online yang difasilitasi oleh Kementrian Koperasi dan UMKM, maupun oleh LSM yang  fokus terhadap kemajuan UMKM nasional.

Daya Saing IMK

Perlindungan UMKM terutama IMK melalui kebijakan pajak E-commerce tidak akan efektif jika daya saing mereka terutama pada pasar global masih lemah. Daya saing IMK tidak melulu pada desain model dan kualitas bahan, tetapi juga penguasaan teknologi, manajemen informasi dan sistem pemasaran modern. Dukungan dan kerjasama dari perusahaan-perusahaan besar sangat diharapkan untuk membantu meningkatkan daya saing IMK. Melalui program kemitraan yang saling menguntungkan dan keterkaitan usaha diharapkan menjadi sarana alih teknologi dan pembelajaran manajemen dari perusahaan besar ke IMK. Namun sayang  data menunjukkan dari 4,38 juta usaha IMK yang ada, hanya 9,02 persen usaha yang menjalin kemitraan dengan jenis kemitraan terbesar adalah kemitraan pemasaran hasil dan pengadaan bahan baku.

Akses modal yang rendah juga menyulitkan usaha IMK nasional untuk meningkatkan daya saing. Sekitar 87,68 persen modal IMK merupakan milik sendiri, sisanya sebagian atau seluruh modalnya berasal dari pihak lain. Investasi pada usaha IMK masih belum sepenuhnya tersentuh lembaga perbankan. Koperasi sebagai lembaga yang diharapkan mampu memberikan pelayanan permodalan  hanya diakses sekitar 0,95 persen usaha IMK. Dengan modal yang kecil usaha IMK akan sulit untuk mengembangkan diri. Sekitar 2,09 juta usaha atau sekitar 47,6 persen masih berpendapatan dibawah dua juta rupiah perbulan. Pendapatan yang minim menyulitkan IMK nasional untuk bersaing pada tataran global, bahkan pada level asia tenggara jika dukungan finansialnya kecil.

Dibutuhkan komitmen dan kerjasama yang kuat antar pemerintah dan perusahaan besar untuk meningkatkan daya saing IMK. Program Corporate Social Responsibility (CSR) yang selama ini sudah berjalan, perlu diperbanyak dan diperkuat. Dibutuhkan LSM yang menjembatani komunikasi usaha IMK dengan lembaga pemerintah dan perusahaan besar. Agar  segala informasi yang dibutuhkan oleh usaha IMK dapat tersampaikan dengan baik. Pembentukan kelompok-kelompok usaha dan sentra-sentra IMK penting untuk dilakukan agar akses permodalan, transfer teknologi dan manajemen menjadi lebih tepat sasaran dan mudah diimplementasikan. Beberapa produk-produk IMK mulai menunjukkan daya saingnya.  Peningkatan kualitas produk dan manajemen pemasaran yang baik mulai terlihat dipasar digital dalam negeri. Tantangan bersaing dengan produk impor terutama produk Cina mulai menguat. IMK sebagai salah satu kekuatan ekonomi yang tahan terhadap guncangan ekonomi, memupuk harapan besar pemerintah dalam pengembangannya. Semakin kuat digitalisasi pasar dan daya saing IMK diharapkan mampu menjaga perekonomian masyarakat menengah kebawah terutama disaat pandemi seperti sekarang ini.  

*) Statistisi Ahli Madya BPS Provinsi Jawa Timur

(bw/*/als/JPR)

©2021 PT. JawaPos Group Multimedia