Selasa, 25 Jan 2022
Radar Banyuwangi
Home / Kolom
icon featured
Kolom

Inflasi Jawa Timur Rendah, Apa Dampaknya?

Oleh: Akhmad Dardiri*

14 Januari 2022, 18: 35: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

Inflasi Jawa Timur Rendah, Apa Dampaknya?

Share this      

INFLASI Jawa Timur sepanjang tahun 2021 sebesar 2,45 persen. Angka ini masih sesuai dengan target Bank Indonesia antara 2–4 persen. Sementara itu, angka inflasi nasional justru berada di bawah target, yaitu sebesar 1,87 persen.

Inflasi dapat diartikan sebagai kenaikan harga barang dan jasa secara umum secara terus-menerus dalam jangka waktu tertentu. Deflasi merupakan kebalikan dari inflasi, yakni penurunan harga barang secara umum dan terus-menerus. Selama ini angka inflasi dihitung dan dirumuskan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) dengan melakukan pendataan di kota-kota inflasi yang ada di Indonesia.

Inflasi terjadi karena banyak faktor. Namun secara umum, inflasi terjadi karena permintaan yang tinggi terhadap suatu barang atau jasa sehingga membuat harga mengalami kenaikan. Walaupun masih ada faktor lain seperti: uang yang beredar di masyarakat lebih banyak ketimbang yang dibutuhkan atau pun adanya peningkatan biaya produksi yang mendorong perusahaan menaikkan harga barang dan jasa.

Baca juga: Fenomena Spirit Doll, Demi Konten atau Tren?

Sepanjang sejarah, Indonesia pernah mengalami inflasi yang sangat tinggi atau disebut hiper-inflasi. Kondisi ini terjadi selama kurun waktu tahun 1963–1965 dengan tingkat inflasi saat itu menyentuh angka 600 persen lebih. Hal ini memaksa pemerintah untuk melakukan pemotongan nilai rupiah atau disebut ”sanering”. Mata uang yang awalnya sebesar Rp 1.000 merosot nilainya menjadi Rp 1.

Inflasi tinggi lain yang pernah terjadi di Indonesia adalah pada tahun 1998, di mana saat itu nilai inflasi meroket sampai dengan 77,63 persen. Penyebab awal terjadinya inflasi saat itu adalah terjadinya krisis ekonomi yang diawali oleh tingginya depresiasi rupiah. Nilai rupiah saat itu terjun hingga 109,6 persen pada bulan Desember 2008.

Inflasi berhubungan erat dengan pertumbuhan ekonomi. Inflasi yang terlalu tinggi akan membuat roda ekonomi berputar lamban. Kenaikan harga yang tinggi membuat daya beli masyarakat menjadi tergerus. Selain itu, pendapatan riil masyarakat juga ikut turun karena pendapatan yang didapatkan kurang mampu untuk memenuhi kebutuhan akibat kenaikan harga.

Sebaliknya, inflasi yang terlalu rendah, bahkan mendekati deflasi juga akan menekan pertumbuhan ekonomi. Negara-negara di Eropa dan Jepang pernah mengalami tekanan deflasi yang mengakibatkan pertumbuhan ekonomi mereka mengecil. Sehingga setiap daerah atau pun negara perlu memperhatikan dua faktor sekaligus, yaitu level inflasi yang membuat denyut perekonomian bisa optimal dan sekaligus tidak membuat daya beli masyarakat turun.

Artinya, inflasi perlu dijaga agar tidak terlalu tinggi atau pun terlalu rendah. Inflasi yang terlalu tinggi akan membuat roda perekonomian berjalan lambat, sedangkan inflasi yang terlalu rendah akan membuat daya beli menjadi menurun. Karena inflasi merupakan sesuatu yang tidak bisa dihindari, namun tetap bisa dikendalikan.

Angka inflasi Jawa Timur pada tahun 2021 tergolong rendah, walaupun masih dalam rentang target Bank Indonesia. Namun, angka ini masih lebih tinggi dibandingkan dengan inflasi pada tahun 2020 yaitu sebesar 1,44 persen (di bawah target Bank Indonesia antara 2–4 persen persen). Artinya, kondisi perekonomian Jawa Timur pada tahun 2021 masih lebih baik dibandingkan dengan kondisi tahun 2020 bila menilik dari tingkat inflasi yang terjadi.

Penyebab rendahnya inflasi pada kurun waktu dua tahun terakhir adalah pandemi Covid-19 yang terjadi di seluruh belahan dunia. Akibatnya, perputaran ekonomi menjadi lamban akibat adanya pembatasan serta penutupan akses pergerakan masyarakat. Pembatasan mobilitas masyarakat dalam rangka meredam penularan virus Covid-19 secara tidak langsung juga berdampak terhadap melambatnya proses ekonomi. Hal ini tecermin pada dari nilai pertumbuhan ekonomi Jawa Timur sejak triwulan 2 tahun 2020 sampai dengan triwulan 1 tahun 2021 yang mengalami kontraksi.

Pertumbuhan ekonomi triwulan 3 Provinsi Jawa Timur juga menunjukkan kenaikan sebesar 3,23 persen (year on year). Angka ini memang lebih rendah dibandingkan triwulan 2 yang tumbuh sebesar 7,05 persen. Walaupun angka ini dianggap berupa angka semu, karena efek low base effect akibat kondisi tahun sebelumnya yang terpuruk. Namun, hal ini merupakan indikator bahwa ekonomi Jawa Timur dalam proses pemulihan. Selain itu, banyak pengamat ekonomi memprediksi ekonomi akan kembali tumbuh di triwulan 4. Prediksi tersebut dilandasi oleh aktivitas ekonomi disertai pengendalian pandemi Covid-19 yang terus membaik.

Tahun 2021 sudah berlalu, saatnya Jawa Timur menatap tahun 2022 yang lebih baik. Perbaikan stabilitas ekonomi perlu segera dilakukan untuk mendorong ekonomi Jawa Timur menjadi lebih berkualitas. Inklusivitas pertumbuhan ekonomi harus tercipta agar target-target pembangunan seperti penciptaan lapangan kerja, bertambahnya output nasional, penerimaan pajak, pengentasan kemiskinan, pengurangan pengangguran, dan bertambahnya tingkat kesejahteraan masyarakat dapat tercapai.

Saat ini, pandemi Covid-19 memang belum berakhir. Bahkan, masih ada varian Omicron yang bakal menjadi ancaman baru. Sehingga proses perbaikan ekonomi harus sejalan dengan pengawalan ketat pada aspek kesehatan. Kedua hal tersebut harus berjalan beriringan untuk menciptakan dan menjamin perekonomian tetap berkinerja baik. Semoga tahun 2022 menjadi titik awal perbaikan ekonomi Jawa Timur. (*)

*) Statistisi Muda BPS Provinsi Jawa Timur.

(bw/*/als/JPR)

©2022 PT. JawaPos Group Multimedia