alexametrics
28.9 C
Banyuwangi
Friday, August 12, 2022

Teman Usaha Rakyat

JUJUR. Kadang saya iri. Kepada teman-teman pelaku UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) Banyuwangi. Mereka biasa berkembang—lebih tepatnya mengembangkan diri. Ditantang untuk terus kreatif.

Suasana seperti itu tidak tercipta begitu saja. Tapi diciptakan. Dikondisikan. Oleh pemerintah. Terutama Pemkab Banyuwangi—menyesuaikan program pemerintah pusat, tentunya.

Beberapa tahun silam, pemkab membuat khusus: mencetak 1.000 entrepreneur. Digelar setiap tahun. Selalu banyak pesertanya. Anak-anak muda. Memenuhi GOR Tawangalun. Mereka punya satu tujuan: ingin menjadi pengusaha. Pengusaha muda. Yang sukses. Seperti banyak pengusaha muda Indonesia, umumnya.

Pematerinya hebat-hebat. Mulai praktisi sampai akademisi. Mereka pun tidak hanya mendengar kiat-kiat sukses. Tapi, juga melihat langsung. Orang yang sukses itu seperti apa.

Setelah mendapat ilmu dari para pemateri, peserta tidak dilepas begitu saja. Melainkan terus dipantau. Bahkan, bagi yang serius, mendapat pendampingan. Dari pemerintah. Sampai menjadi pengusaha beneran.

Bentuk pendampingannya macam-macam. Diajari bikin kemasan (packaging) yang keren dan modern. Sehingga layak bersaing. Dengam produk-produk ternama. Lalu, dibantu akses permodalan. Bermitra dengan bank. BUMN maupun BUMD. Atau, bantuan sumber permodalan yang lain.

Tentu saja, tidak mudah mendapat bantuan modal. Maka, pemkab memosisikan diri sebagai Teman Usaha Rakyat. Namanya teman, dekat lagi, pasti selalu mendampingi UMKM. Berusaha ikut merasakan kesulitan yang dialaminya. Ketemulah ini: fasilitas izin usaha mikro. Itu senjata penting bagi UMKM, agar bankable. Mudah mendapat fasilitas permodalan dari bank.

Bagi anak muda yang baru merintis usaha, pemkab juga menyediakan wadah khusus: Rumah Kreatif. Di tempat itu, siapa saja boleh datang. Diskusi. Konsultasi. Atau, blak-blakan saja: minta diajari. Juga gak masalah. Ada tim kreatif yang siap meladeninya. Sampai bisa. Sampai berhasil mewujudkan dalam bentuk produk.

Tak berhenti di situ. Bantuan juga merambah pemasaran. Fasilitas online, tentu. Lewat pelatihan berkali-kali, pemerintah mendatangkan beberapa narasumber. Yang mengajarkan trik-trik khusus. Bagaimana berjualan secara online. Sistemnya seperti apa. Dsb. Dst.

Baca Juga :  Refleksi Hari Pendidikan Nasional

Masih terkait pemasaran produk. Pemkab Banyuwangi masih berbaik hati. Menyiapkan juru foto. Sekaligus modelnya. Model didatangkan ke lokasi tenant UMKM. Model itu lalu difoto. Bersama produk UMKM tadi. Hasilnya berupa ”iklan”. Dengan model khusus. Layaknya produk-produk branded. Yang selalu ditampilkan dengan model artis top. Yang gambarnya nampang di baliho-baliho pinggir jalan. Atau di hutan penjualan online.

Program itu sangat bagus. Kita tahu, persaingan jualan via online begitu ketat. Harus menampilkan foto produk semenarik mungkin. Bila ingin laku. Jangan sampai menampilkan foto ecek-ecek. Pasti tidak ada yang melihatnya. Foto model sedang memegang produk, bisa menjadi magnet. Daya tarik tersendiri. Sebab, calon pembeli tidak bisa melihat secara langsung kondisi produknya.

Pengusaha sangat kecil (mikro) menjadi sasaran empuk rentenir. Makanya, mereka harus dinaikkan kelasnya. Terus didorong. Dengan berbagai insentif. Misal, diberi pinjaman modal dengan bunga sangat ringan. Jauh lebih ringan dari yang diberikan rentenir. Walhasil, warung-warung pun terus dibantu. Supaya tidak lagi menjadi warung biasa. Mereka harus naik kelas.

Semua itu bukan ilusi. Bukan cerita kosong. Tapi, fakta. Dan, sudah banyak UMKM yang membuktikannya. Sayang sekali, di saat semangat mereka untuk maju lagi hebat-hebatnya, ada ujian dari Langit. Sudah setahun lebih dunia dikangkangi oleh Covid-19. Yang merusak semua rencana. Bahkan, prestasi dan reputasi. Banyak perusahaan besar terpaksa tutup. Apalagi yang kecil. Yang baru akan berkembang. Dan, modalnya pas-pasan.

Di lain pihak, pelaku UMKM sudah telanjur memproduksi. Stok produksi pun melimpah. Penjualan lewat online juga jalan terus. Tapi, tetap saja: tidak bisa mengirim kepada pembeli. Karena pembeli enggan dibebani ongkos kirim (ongkir). Puyeng deh. Pusing tujuh keliling.

Beruntung mereka punya teman setia. Teman Usaha Rakyat, c.q Pemkab Banyuwangi. Yang namanya teman setia, selalu ikut merasakan kesulitan temannya. Maka, lahirnya program gratis ongkir. Bagi teman-teman UMKM. Ke seluruh Indonesia. Lewat PT Pos Indonesia.

Baca Juga :  Umyah Tawon

Setiap UMKM mendapat limit ongkir Rp 300 ribu. Sementara ada 300 dari 400-an UMKM yang menerima fasilitas itu. Setiap UMKM bebas mengirim ke alamat mana pun. Asal masih di wilayah Indonesia. Caranya mudah. Mereka cukup bawa produk yang akan dikirim. Ke Kantor Pos yang sudah ditentukan. Sesuai wilayah tenant UMKM. Tentu saja, syarat dan ketentuan berlaku. Misalnya, kemasannya harus begini dan begitu. Sesuai arahan PT Pos.

Deposit Rp 300 ribu itu bisa digunakan sesuka hati. Bisa untuk sekali pengiriman. Atau, untuk berkali-kali. Tergantung berat barang yang akan dikirim. Semakin ringan barang yang dikirim, tentu saja semakin murah ongkosnya. Dan, masih banyak depositnya.

UMKM yang mengirim barang tidak perlu mengeluarkan uang. Karena pemkab sudah membayarkan depositnya, yang Rp 300 ribu, ke Kantor Pos. Mereka hanya menerima catatan (laporan). Telah menggunakan deposit sekian rupiah. Pada tanggal sekian. Dan, sisa depositnya sekian. Sisa deposit itu bisa digunakan kapan saja. Saat akan mengirim barang jualan kepada pembelinya.

Lumayan. Bantuan ongkir itu bisa untuk berhemat. Setidaknya memangkas anggaran Rp 300 ribu. Bisa digunakan sebagai tambahan modal usaha. Menambah volume produksi. Dan, semestinya, labanya ikut bertambah. Seiring bertambah modal tadi.

Wa ba’du. Di kala pelaku UMKM di daerah lain bingung mencari solusi, UMKM di kota the Sunrise of Java bisa bernafas lega. Karena mereka punya teman setia: Teman Usaha Rakyat. Yang terus-menerus ikut memikirkan nasib para UMKM. Semoga saja, UMKM daerah lain itu tidak putus asa. Lalu hijrah ke Banyuwangi.

Selamat Idul Fitri. Mohon maaf lahir batin.

*) Budayawan, Penulis Banyuwangi

JUJUR. Kadang saya iri. Kepada teman-teman pelaku UMKM (Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah) Banyuwangi. Mereka biasa berkembang—lebih tepatnya mengembangkan diri. Ditantang untuk terus kreatif.

Suasana seperti itu tidak tercipta begitu saja. Tapi diciptakan. Dikondisikan. Oleh pemerintah. Terutama Pemkab Banyuwangi—menyesuaikan program pemerintah pusat, tentunya.

Beberapa tahun silam, pemkab membuat khusus: mencetak 1.000 entrepreneur. Digelar setiap tahun. Selalu banyak pesertanya. Anak-anak muda. Memenuhi GOR Tawangalun. Mereka punya satu tujuan: ingin menjadi pengusaha. Pengusaha muda. Yang sukses. Seperti banyak pengusaha muda Indonesia, umumnya.

Pematerinya hebat-hebat. Mulai praktisi sampai akademisi. Mereka pun tidak hanya mendengar kiat-kiat sukses. Tapi, juga melihat langsung. Orang yang sukses itu seperti apa.

Setelah mendapat ilmu dari para pemateri, peserta tidak dilepas begitu saja. Melainkan terus dipantau. Bahkan, bagi yang serius, mendapat pendampingan. Dari pemerintah. Sampai menjadi pengusaha beneran.

Bentuk pendampingannya macam-macam. Diajari bikin kemasan (packaging) yang keren dan modern. Sehingga layak bersaing. Dengam produk-produk ternama. Lalu, dibantu akses permodalan. Bermitra dengan bank. BUMN maupun BUMD. Atau, bantuan sumber permodalan yang lain.

Tentu saja, tidak mudah mendapat bantuan modal. Maka, pemkab memosisikan diri sebagai Teman Usaha Rakyat. Namanya teman, dekat lagi, pasti selalu mendampingi UMKM. Berusaha ikut merasakan kesulitan yang dialaminya. Ketemulah ini: fasilitas izin usaha mikro. Itu senjata penting bagi UMKM, agar bankable. Mudah mendapat fasilitas permodalan dari bank.

Bagi anak muda yang baru merintis usaha, pemkab juga menyediakan wadah khusus: Rumah Kreatif. Di tempat itu, siapa saja boleh datang. Diskusi. Konsultasi. Atau, blak-blakan saja: minta diajari. Juga gak masalah. Ada tim kreatif yang siap meladeninya. Sampai bisa. Sampai berhasil mewujudkan dalam bentuk produk.

Tak berhenti di situ. Bantuan juga merambah pemasaran. Fasilitas online, tentu. Lewat pelatihan berkali-kali, pemerintah mendatangkan beberapa narasumber. Yang mengajarkan trik-trik khusus. Bagaimana berjualan secara online. Sistemnya seperti apa. Dsb. Dst.

Baca Juga :  Refleksi Hari Pendidikan Nasional

Masih terkait pemasaran produk. Pemkab Banyuwangi masih berbaik hati. Menyiapkan juru foto. Sekaligus modelnya. Model didatangkan ke lokasi tenant UMKM. Model itu lalu difoto. Bersama produk UMKM tadi. Hasilnya berupa ”iklan”. Dengan model khusus. Layaknya produk-produk branded. Yang selalu ditampilkan dengan model artis top. Yang gambarnya nampang di baliho-baliho pinggir jalan. Atau di hutan penjualan online.

Program itu sangat bagus. Kita tahu, persaingan jualan via online begitu ketat. Harus menampilkan foto produk semenarik mungkin. Bila ingin laku. Jangan sampai menampilkan foto ecek-ecek. Pasti tidak ada yang melihatnya. Foto model sedang memegang produk, bisa menjadi magnet. Daya tarik tersendiri. Sebab, calon pembeli tidak bisa melihat secara langsung kondisi produknya.

Pengusaha sangat kecil (mikro) menjadi sasaran empuk rentenir. Makanya, mereka harus dinaikkan kelasnya. Terus didorong. Dengan berbagai insentif. Misal, diberi pinjaman modal dengan bunga sangat ringan. Jauh lebih ringan dari yang diberikan rentenir. Walhasil, warung-warung pun terus dibantu. Supaya tidak lagi menjadi warung biasa. Mereka harus naik kelas.

Semua itu bukan ilusi. Bukan cerita kosong. Tapi, fakta. Dan, sudah banyak UMKM yang membuktikannya. Sayang sekali, di saat semangat mereka untuk maju lagi hebat-hebatnya, ada ujian dari Langit. Sudah setahun lebih dunia dikangkangi oleh Covid-19. Yang merusak semua rencana. Bahkan, prestasi dan reputasi. Banyak perusahaan besar terpaksa tutup. Apalagi yang kecil. Yang baru akan berkembang. Dan, modalnya pas-pasan.

Di lain pihak, pelaku UMKM sudah telanjur memproduksi. Stok produksi pun melimpah. Penjualan lewat online juga jalan terus. Tapi, tetap saja: tidak bisa mengirim kepada pembeli. Karena pembeli enggan dibebani ongkos kirim (ongkir). Puyeng deh. Pusing tujuh keliling.

Beruntung mereka punya teman setia. Teman Usaha Rakyat, c.q Pemkab Banyuwangi. Yang namanya teman setia, selalu ikut merasakan kesulitan temannya. Maka, lahirnya program gratis ongkir. Bagi teman-teman UMKM. Ke seluruh Indonesia. Lewat PT Pos Indonesia.

Baca Juga :  Mengenali Software dan Hardware dari Tuhan untuk Pendidikan Anak

Setiap UMKM mendapat limit ongkir Rp 300 ribu. Sementara ada 300 dari 400-an UMKM yang menerima fasilitas itu. Setiap UMKM bebas mengirim ke alamat mana pun. Asal masih di wilayah Indonesia. Caranya mudah. Mereka cukup bawa produk yang akan dikirim. Ke Kantor Pos yang sudah ditentukan. Sesuai wilayah tenant UMKM. Tentu saja, syarat dan ketentuan berlaku. Misalnya, kemasannya harus begini dan begitu. Sesuai arahan PT Pos.

Deposit Rp 300 ribu itu bisa digunakan sesuka hati. Bisa untuk sekali pengiriman. Atau, untuk berkali-kali. Tergantung berat barang yang akan dikirim. Semakin ringan barang yang dikirim, tentu saja semakin murah ongkosnya. Dan, masih banyak depositnya.

UMKM yang mengirim barang tidak perlu mengeluarkan uang. Karena pemkab sudah membayarkan depositnya, yang Rp 300 ribu, ke Kantor Pos. Mereka hanya menerima catatan (laporan). Telah menggunakan deposit sekian rupiah. Pada tanggal sekian. Dan, sisa depositnya sekian. Sisa deposit itu bisa digunakan kapan saja. Saat akan mengirim barang jualan kepada pembelinya.

Lumayan. Bantuan ongkir itu bisa untuk berhemat. Setidaknya memangkas anggaran Rp 300 ribu. Bisa digunakan sebagai tambahan modal usaha. Menambah volume produksi. Dan, semestinya, labanya ikut bertambah. Seiring bertambah modal tadi.

Wa ba’du. Di kala pelaku UMKM di daerah lain bingung mencari solusi, UMKM di kota the Sunrise of Java bisa bernafas lega. Karena mereka punya teman setia: Teman Usaha Rakyat. Yang terus-menerus ikut memikirkan nasib para UMKM. Semoga saja, UMKM daerah lain itu tidak putus asa. Lalu hijrah ke Banyuwangi.

Selamat Idul Fitri. Mohon maaf lahir batin.

*) Budayawan, Penulis Banyuwangi

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/