Selasa, 25 Jan 2022
Radar Banyuwangi
Home / Kolom
icon featured
Kolom

Sekolah Utama dan Guru Luar Biasa

Oleh: Syamsul Bahri*

13 Januari 2022, 19: 30: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

Sekolah Utama dan Guru Luar Biasa

Share this      

SEGALA faktor yang dapat memberikan pengaruh perkembangan anak, disengaja atau tidak, sejak kecil hingga masa dia siap menjalankan peran dalam kehidupannya, itulah makna pendidikan. Demikian menurut Mahmud Yunus dalam buku At-Tarbiyah wa at-Ta’lim. Jadi bagaimana keadaan seseorang saat ini, disadari atau tidak, adalah hasil didikan orang tua, guru, dan mereka semua di sekitar kehidupannya baik 10 tahun atau mungkin beberapa puluh tahun lalu. 

Tumbuh kembang anak sungguh tidak akan pernah lepas dari tanggung jawab orang tua selaku pendidik dan guru pertama. Betapa banyak orang tua, setelah memasukkan anaknya di lembaga pendidikan, seakan lepas tangan. Terutama terkait tanggung jawab pendidikan atas anaknya. Menyerahkan sepenuhnya beban tanggung jawab hanya kepada guru, yang bersama anak hanya beberapa jam. Padahal, di mana pun anak belajar, guru utama dalam hidupnya tetap orang tua.

Ibarat makan tiga kali sehari, maka tetap sarapan pagi dan makan sore, anak-anak berada di rumah bersama orang tua. Di sekolah, dia hanya mendapat makan siang, atau hanya bekal makanan ringan (jajan). Tanpa makan siang atau tambahan jajan pun, sebenarnya tidak terlalu bermasalah bagi tumbuh kembang anak, jika sarapan dan makan sore sudah baik, gizi dan nutrisi sudah tercukupi.

Baca juga: Industri Manufaktur Jatim di Tengah Wabah Covid-19

Begitu pula pendidikan di sekolah. Hakikatnya hanya menambah pendidikan dan materi yang mungkin belum bisa diberikan orang tua di rumah. Sekolah utama adalah rumah dan kedua orang tua guru utamanya. Sungguh, jika pendidik utama (orang tua) telah menjalankan peran dengan baik, dipastikan di mana, kapan, dan bagaimanapun, anak akan tetap dalam kebaikan.

Setiap rumah sesungguhnya sekolah utama bagi anak. Maka jika didapati anak tampak ”bermasalah” di sekolah, bisa dipastikan akibat dari pola asuh yang salah dari rumah. Pola asuh salah itulah yang kemudian menjadikan anak bermasalah.

Menurut Jaisyurrahman, pengasuhan anak itu seperti utang. Jika tidak diberikan kepada anak di masa kecil, maka mereka akan menagihnya saat dewasa dalam bentuk perilaku yang menyebalkan.

Tak dapat dimungkiri, sosok orang tua, terutama ibu yang paling banyak berperan dalam pendidikan dan tumbuh kembang anak. Sehingga Syekh Hafizh Ibrahim dalam syairnya menuliskan; ”Ibu adalah sekolah utama. Bila engkau mempersiapkannya, maka engkau telah mempersiapkan generasi terbaik. Ibu adalah guru para pendidik ulung yang pengaruhnya menyebar segala penjuru dunia peradaban”.

Namun bukan berarti, bapak tidak memiliki peran, sehingga masa bodoh dalam pendidikan anak. Jika ibu itu guru utama bagi anak dalam rumah, maka bapak berperan sebagai kepala sekolah. Sosok bapak beserta ibu, harus bekerja sama menyusun visi, misi, silabus, dan mengevaluasi jalan pendidikan yang dilakukan terhadap anak. Ini yang jarang disadari ortu, sehingga banyak jalannya pendidikan dalam rumah kurang terarah. Karena masing-masing tidak mengetahui tugas pokok dan fungsinya.

Sementara itu tak disangka, seluruh belahan bumi mengalami masa pandemi Covid-19. Ini benar-benar mengubah tatanan segala aspek kehidupan. Tak terkecuali dunia pendidikan. Beragam kebijakan dilakukan demi keberlangsungan pendidikan. Termasuk skenario pembelajaran dari rumah. Berarti tanggung jawab pendidikan anak hampir sepenuhnya dikembalikan kepada orang tua. 

Pandemi secara tidak langsung menjadi cara Sang Pencipta menyadarkan semua (orang tua khususnya), bagaimana seharusnya mereka berperan dan fungsinya sebagai pendidik utama bagi anak. Ketika belum diperkenankan proses tatap muka, banyak orang tua mengeluhkan dan sadar bagaimana beratnya guru mendidik anak selama ini.

Mari orang tua menjalankan peran dan fungsi sebaik mungkin di rumah, yang merupakan sekolah utama anak-anak. Jika pendidikan moral, akhlak, dan kasih sayang orang tua untuk anak-anak terpenuhi, teladan mereka dapati dari figur orang tua. Yakinlah, sekolah ibarat makanan tambahan, karena makanan dan nutrisi mereka telah tercukupi.

Pendidikan akhlak dan agama anak dari orang tua di rumah itulah, akhirnya menjadi benteng dalam bersosialisasi di lingkungan sepanjang kehidupannya. Itu akan menjadi sikap serta akhlak yang akan dibawa ke mana, kapan pun, dan bagaimanapun kelak.

Dari musibah pandemi ini, betapa banyak platform, aplikasi, dan model pembelajaran era digital yang kita akhirnya ketahui. Pelajari dan terapkan dalam pembelajaran bersama anak didik selama masa pandemi.

Jika hasil riset 2015 lalu, situs Glassdoor menyebutkan, hampir 30 persen pekerjaan sudah tergantikan oleh mesin dan teknologi. Maka menurut analisis, otomatisasi akan meningkat drastis pada tahun 2033 mendatang. Pada saat itu, Glassdoor mengklaim sebanyak 47 persen dari pekerjaan manusia yang ada saat ini akan diambil alih tenaga mesin dan teknologi.

Tanpa perlu lama menuju masa itu, sekarang kita dapat menyaksikan betapa banyak profesi yang satu dekade lalu masih ada, kini secara perlahan jarang atau benar-benar hilang. Sebab tergantikan oleh mesin dan teknologi, dari tukang pengantar surat, operator, pengawas, dan sebagainya.

Bahkan tidak menutup kemungkinan, profesi guru di masa yang akan datang akan tergantikan. Jika guru sekadar berfungsi sebagai sumber pengetahuan dan media transfer informasi, saat ini peran itu telah tergantikan oleh internet. Apa pun yang anak-anak ingin ketahui, cukup bertanya di mesin pencarian, semua sudah dapat diakses langsung.

Jadi pendidikan yang dilakukan guru dan orang tua saat ini adalah menyiapkan dan membekali anak untuk hidup pada 20 hingga 30 tahun mendatang. Di mana keadaan dunia kehidupan, informasi, dan teknologi, juga sudah jauh berbeda. Jangan pernah menyamakan pola pendidikan kepada anak-anak sebagaimana pada masa dahulu. Sungguh tertinggal jika guru, orang tua, dan pendidik, masih memakai cara lama, tanpa mengembangkan serta upgrade diri sesuai perkembangan zaman.

Terlalu cepat waktu berubah, jangan sampai guru, orang tua, dan pendidik, tidak membekali anak untuk kehidupan masa depan. Sehingga mereka kelak hanya jadi penonton, atau jadi sumber daya tergantikan oleh mesin dan teknologi. Hanya guru zaman now dan anak didik yang dibekali dan memiliki spesifikasi serta kompetensi tertentu, yang tidak bakal tergantikan hingga kapan pun.

Guru dan anak yang dimaksud adalah mereka yang memiliki kreativitas, pintar berkomunikasi, pandai berkolaborasi, mencintai ilmu atau literasi, berpikiran kritis dan berkarakter, inilah yang tidak akan pernah tergantikan. Karena spesifikasi itu tidak mungkin dapat dilakukan oleh mesin, yang hakikatnya benda mati dan tidak memiliki jiwa. Hanya dengan enam kompetensi inilah, guru dan anak akan tetap eksis di kehidupan masa mendatang.

Pendidik zaman now harus terus pandai meng-upgrade keilmuan dan pengetahuan, sebagaimana kemajuan zaman. Jangan sampai sepanjang hidup hanya mengandalkan pengetahuan pada masa lalu. Guru yang memiliki enam kompetensi: kreatif, pandai berkomunikasi, berkolaborasi, mencintai ilmu atau literasi, berpikiran kritis, dan berkarakter, inilah yang kelak akan tetap mampu bersaing. Bahkan, tak akan pernah tergantikan di mana pun, kapan pun, dengan apa pun. (*)

*) Guru SD Lazuardi Tursina Banyuwangi.

(bw/*/als/JPR)

©2022 PT. JawaPos Group Multimedia