Selasa, 25 Jan 2022
Radar Banyuwangi
Home / Kolom
icon featured
Kolom

Pentingnya Komunikasi Terapeutik Perawat untuk Kesembuhan Pasien

Oleh: Annisa Nur Nazmi*

13 Januari 2022, 10: 35: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

Pentingnya Komunikasi Terapeutik Perawat untuk Kesembuhan Pasien

Share this      

SALAH satu aset berharga yang dimiliki oleh manusia adalah kesehatan. Kesehatan merupakan salah satu faktor yang sangat penting untuk melakukan aktivitas sehari hari. Maka dari itu ketika seseorang merasa sakit mereka akan berusaha mencari cara untuk menyembuhkan rasa sakitnya dan mengatasi keluhannya. Salah satu caranya adalah pergi ke klinik maupun rumah sakit.

Tetapi tidak semua orang yang berobat ke rumah sakit bisa hanya menjalani rawat jalan, sebagian dari mereka disarankan untuk rawat inap ketika dirasa penyakitnya membutuhkan perawatan dari tenaga medis yang intensif. Bagi pasien yang dirawat inap kerap kali merasa takut, cemas, dan merasa tidak nyaman ketika mereka menjalani rawat inap di rumah sakit, perasaan takut dan cemas tersebut biasanya dirasakan karena pasien ketakutan terhadap penyakit yang sedang dihadapinya, mendengar dari orang lain tentang penyakit tersebut, dan juga perasaan takut mati dan lain sebagainya sehingga hal tersebut memicu seseorang merasakan stress.

Dari beberapa artikel terkait, seorang dokter mengatakan bahwa penyakit itu 90% berasal dari pikiran, 10%-nya lagi dari pola makanan sehari-hari. Maka dari itu perasaan-perasaan cemas yang dirasakan oleh pasien saat mereka sakit dan di rawat inap tentu saja membuat keadaan tidak menjadi baik dan dapat memperburuk kondisi seseorang secara psikologis sehingga hal ini juga dapat berpengaruh dalam menghambat proses penyembuhannya dan ditambah lagi dengan kurangnya informasi yang memadai tentang kesehatan dan juga kurangnya komunikasi dengan tenaga kesehatan untuk mengonsultasikan apa yang mereka rasakan.

Baca juga: Merdeka Belajar dengan Pembelajaran Berdiferensiasi

Dalam dunia kesehatan, pada saat proses perawatan berlangsung, seorang pasien cenderung lebih banyak berinteraksi dengan perawat dan dokter, tetapi intensitas pertemuan pasien cenderung lebih banyak untuk bertemu dengan perawat. Sebuah keterampilan dalam berinteraksi atau berkomunikasi merupakan critical skill yang memang seharusnya dikuasai oleh seorang perawat, karena perawat sendiri dalam profesinya memiliki sebuah komunikasi yang bertujuan sebagai upaya penyembuhan pada pasien.

Komunikasi dalam keperawatan disebut dengan komunikasi terapeutik, yang merupakan komunikasi yang dilakukan oleh seorang perawat pada saat melakukan intervensi keperawatan sehingga memberikan khasiat terapi bagi proses penyembuhan pasien. Maka komunikasi terapeutik ini juga termasuk dalam komunikasi interpersonal yaitu dengan titik tolak saling memberi sebuah pengertian antara seorang perawat dengan seorang pasien. Persoalan paling dasar dari komunikasi terapeutik ini yaitu adanya saling membutuhkan antar pasien dengan perawat, sehingga hal ini dapat dikategorikan dalam komunikasi pribadi antar perawat dengan pasien, peran perawat di sini yaitu membantu dalam sebuah upaya penyembuhan dan pasien di sini menerima bantuan dari perawat.

Komunikasi terapeutik dapat digambarkan melalui situasi yang apabila dalam sebuah komunikasi, perawat mampu mendapatkan gambaran yang jelas tentang kondisi pasien yang dirawat, seperti keluhan yang dirasakan dan lain sebagainya. Dari hal inilah perawat akan mendapat gambaran yang berguna untuk menentukan tindakan apa yang akan dilakukan pada pasien, dengan tujuan agar tindakan keperawatan yang dilakukan sesuai atau tepat sasaran sehingga dapat membantu mempercepat proses kesembuhan pasien.

Saat menjalani proses komunikasi terapeutik, seorang perawat melakukan kegiatan dari mulai pengkajian, menentukan masalah keperawatan, menentukan rencana tindakan, melakukan tindakan keperawatan sesuai dengan yang telah direncanakan sampai dengan evaluasi yang semuanya itu bisa dicapai dengan maksimal apabila terjadi proses komunikasi yang efektif dan intensif pada pasien.

Melalui penjelasan di atas, dapat ditarik kesimpulan, bahwa bagaimana cara perawat memberikan informasi kesehatan kepada pasiennya, dapat menjadi salah satu faktor yang mendukung atau pun motivasi bagi kesembuhan pasien. Pasien yang awalnya cemas terhadap penyakitnya, menjadi paham tentang penyakit yang dialami bahkan menerima kondisinya. Sehingga pasien akan lebih menerima tindakan yang harus diberikan untuk kesembuhan.

Ilmu komunikasi yang baik seperti ini juga sangat bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, tidak hanya perawat kepada pasien. Dapat juga diterapkan kepada keluarga terhadap pasien, bagaimana keluarga memberi dukungan kepada pasien juga perlu dikomunikasikan dengan baik. (*)

*) Dosen S1 Keperawatan Stikes Banyuwangi.

(bw/*/als/JPR)

©2022 PT. JawaPos Group Multimedia