Selasa, 25 Jan 2022
Radar Banyuwangi
Home / Kolom
icon featured
Kolom

Fenomena Spirit Doll, Demi Konten atau Tren?

Oleh: Aji Jatmiko*

13 Januari 2022, 15: 00: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

Fenomena Spirit Doll, Demi Konten atau Tren?

Share this      

BARU-BARU ini, fenomena spirit doll (boneka arwah) sedang viral dan menjadi banyak perbincangan warga di tanah air Indonesia baik di media cetak maupun elektronik. Di berbagai media sosial pun seperti WhatsApp, Facebook, Instagram, dan lainnya, juga sedang marak dengan posting-an mainan boneka tersebut. Menjadi trending topic dalam sebuah acara talkshow karena disiarkan oleh sebuah televisi swasta dan yang memulainya dari kalangan artis terkenal yang juga seorang desainer kondang seperti Ivan Gunawan atau Igun dan sejumlah kalangan selebritis lainnya.

Fenomena boneka arwah telah menimbulkan kegelisahan dan keresahan di tengah masyarakat dan juga memberikan banyak pandangan dari berbagai tokoh di kalangan publik seperti tokoh agama, psikolog atau psikiater, dan pengamat sosial budaya lainnya. Dalam setiap kemunculan berita yang viral tentu akan membawa banyak dampak bagi orang di sekelilingnya. Fenomena boneka arwah salah satunya, telah memberi ruang diskusi yang hangat di antara banyak tokoh dan pengamat di dalam menyikapi dan memberikan berbagai komentar dan meme jenaka yang beragam.

Berdasar informasi yang penulis dapatkan di berbagai media, bahwa kemunculan boneka arwah pertama kali dan mulai merebak di Thailand sekitar tahun 2016. Dengan banyaknya boneka yang diberi pemberkatan oleh para biksu Buddha. Boneka yang mereka miliki diberi semacam jimat keberuntungan atau aksesori berupa kalung tasbih yang diikatkan di leher kepala boneka tersebut. Konon, para biksu ini juga sebelumnya telah melakukannya terhadap mobil atau beberapa benda berharga lainnya selama ratusan tahun silam, sebelum boneka-boneka tersebut menjadi viral hingga saat ini, khususnya di tanah air.

Baca juga: Transformasi Layanan Umat

Mereka yang memiliki boneka arwah tersebut percaya bahwa boneka-boneka tersebut membawa kenyamanan, keberuntungan, dan kebahagiaan, bagi pemiliknya. Sehingga boneka itu diperlakukan seperti bayi atau anak manusia pada umumnya. Bahkan, di media sosial, ada yang berani mencarikan pengasuh bagi boneka arwah tersebut dengan iming-iming gaji fantastis puluhan juta setiap bulannya, dengan persyaratan tertentu dari pemilik boneka bayi tersebut.

Saat ini, para warga yang notabene sudah banyak belajar dan berpikir cerdas serta berliterasi dengan baik banyak memberikan tanggapan terhadap merebaknya adopsi boneka mainan tersebut. Ada yang beranggapan bahwa adopsi boneka mainan tersebut merupakan tren bagi sebagian kalangan artis di seluruh dunia yang menjadi public figure bagi para penggemarnya.

Sebagian orang juga memiliki anggapan bahwa fenomena adopsi boneka mainan itu memiliki kekuatan atau daya tarik tersendiri yang bisa dimanfaatkan terhadap peningkatan sebuah konten di media sosial. Tujuannya agar banyak penggemar atau orang yang menyukai dan mengikuti channel media sosial pemiliknya. Dua hal yang berbeda, tapi memberi dampak yang sama terhadap pola hidup dan pola pikir bagi orang yang memanfaatkan fenomena tersebut agar semakin terkenal di kalangan penggemarnya.

Oleh karena itu, kemunculan tren dan konten dari fenomena spirit doll tersebut telah memberi pengaruh atau dampak terhadap tatanan kehidupan sosial yang berkembang di masyarakat.

Pada prinsipnya, tren adopsi boneka mainan tersebut menimbulkan kontroversi. Para tokoh agama, pemerhati atau pengamat sosial budaya dan masyarakat ikut berkomentar dan memberikan tanggapannya. Inginnya menjadi sebuah tren, namun ditentang banyak masyarakat.

Sejumlah tokoh agama menilai, boneka mainan tersebut adalah bentuk-bentuk berhala modern yang bisa berbahaya dan menyesatkan akidah muslim saat ini. Itu adalah bentuk penyimpangan dalam agama yang mengantarkan kepada hal-hal yang berbau mistis dan menuhankan selain Allah SWT.

Selain itu, boneka arwah itu bisa digolongkan sebagai makhluk halus yang di dalam agama kita dilarang untuk memelihara atau berteman dengannya. Bukankah kita lebih baik mengadopsi anak yatim piatu atau anak panti asuhan sebagai anak asuh yang tentu saja mereka membutuhkan kasih dan sayang dari kita? Daripada menghabiskan uang puluhan juta rupiah hanya untuk membeli boneka, lebih baik uang itu diberikan atau disumbangkan kepada orang-orang yang membutuhkan seperti fakir miskin, anak-anak telantar, dan sebagainya. Tentu saja, itu akan lebih baik dan mulia serta bernilai pahala.

Selanjutnya, bagi seorang psikolog, memiliki dan merawat boneka arwah tersebut adalah perilaku yang tidak lazim dan memiliki ciri atau tanda ada gangguan mental atau psikologis bagi pemiliknya. Sisi lainnya adalah orang tersebut tidak bisa menjadi dirinya sendiri karena telah menjadikan boneka mainan yang termasuk benda mati itu menjadi teman pendamping dalam hidupnya. Kebahagiaan sesaat itu adalah kamuflase bagi dirinya. Sementara, kebahagiaan yang hakiki bagi dirinya tidak bisa dia raih dengan sepenuh hati. Bukankah sebagai makhluk sosial yang berinteraksi dengan orang lain, kita membutuhkan pertolongan satu sama lainnya. Kita juga perlu hidup berdampingan dan saling melengkapi serta hidup harmonis dengan pasangan kita masing-masing. Kehidupan yang harmonis tersebut diperoleh dengan pernikahan yang sah menurut agama sehingga nantinya menjadikan kita pasangan suami dan istri yang sah dan menghasilkan keturunan anak yang saleh dan salehah.

Memiliki dan merawat boneka kesukaan boleh-boleh saja. Memiliki boneka mainan untuk hiburan dalam bermain tidak masalah. Namun, satu hal yang perlu diperhatikan adalah jangan sampai boneka-boneka itu diperlakukan secara istimewa dan berlebihan seperti dijadikan teman curhat yang bisa diajak bicara, sebagai alat mengabulkan permintaan yang bisa mendatangkan keberkahan atau keberuntungan, dan sebagainya. Jika itu terjadi, maka hal itu wajib ditinggalkan karena hal tersebut adalah bentuk kesyirikan dan dilarang dalam agama.

Ingat, boneka tersebut adalah benda mati yang tak bernyawa dan bergerak. Satu hal yang sangat penting kita perhatikan adalah jangan terjebak dengan konten dan tren yang sedang viral di tengah masyarakat agar terhindar dari bentuk kejahatan dan tipu muslihat syaitan yang bisa membawa kita kepada perbuatan-perbuatan salah dan dosa.

Selain itu, kita wajib berhati-hati dalam menyikapi dan menghindari konten dan tidak ikut-ikutan tren yang diciptakan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab atas viralnya suatu peristiwa yang terjadi di tanah air. (*)

 *) Guru SMPN 1 Suboh, Situbondo.

(bw/*/als/JPR)

©2022 PT. JawaPos Group Multimedia