alexametrics
28.2 C
Banyuwangi
Wednesday, June 29, 2022

Jadilah Penulis

IMAM hujjatul islam Abu Hamid bin Muhammad bin Muhammad Al Ghozali dalam sebuah maqolahnya mengatakan bahwa, “Jika engkau bukan anak seorang Raja, atau anak dari ulama besar, maka jadilah penulis”.

Menulis merupakan salah satu dari sekian banyak hal perbuatan yang dilakukan manusia. Aktivitas menulis ini, tidak akan pernah ditinggalkan dan dilupakan oleh manusia, khususnya kalangan pelajar seperti siswa, santri, dan mahasiswa. Juga kalangan pengajar seperti guru, ustad, dan dosen.

Dalam proses pembelajaran di instansi sekolah, pesantren, dan perkuliahan, para pengajar menyalurkan ilmu yang akan diberikan kepada para pelajar melalui tulisan-tulisan pengetahuan yang telah dihimpun menjadi sebuah buku dan sebuah kitab. Ini menunjukkan bahwa seorang guru atau ustad memerlukan sebuah buku atau kitab, yang di dalamnya berisi tulisan ilmu pengetahuan sebagai bentuk referensi dan juga sebagai akses proses pembelajaran ilmu bisa tersalurkan dengan mudah. Sedangkan bagi kalangan pelajar, dalam proses mendukungnya pembelajaran bisa berjalan dengan baik, juga memerlukan sebuah buku yang fungsinya sebagai pencatat dari ilmu-ilmu yang didapat. Karena ilmu bisa diibaratkan seperti burung, jika ilmu tidak dikurung maka akan hilang, seperti halnya burung jika tidak dikurung maka akan terbang dan juga hilang.

Seorang novelis ternama Indonesia, yang sangat masyhur di kalangan para cendekiawan, pelajar dan pengajar. Dalam sebuah kutipan tulisannya, Promoedya Ananta Toer mengatakan bahwa, “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang dalam masyarakat dan sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”

Dari kutipan tulisan Pramoedya Ananta Toer ini dapat kita tarik benang merah, bahwa menjadi seorang penulis memiliki beberapa keuntungan, manfaat dan keistimewaan yang saling berkaitan, antara lain:

Yang pertama, menjadi seorang penulis adalah satu langkah dalam bentuk mengarsipkan pemikiran dari ilmu-ilmu pengetahuan dan juga pengalaman-pengalaman yang ia dapat. Dengan begitu, pemikiran-pemikiran serta ide-ide yang dituangkan dalam bentuk tulisan, akan ada dan terus ada sehingga bisa dibaca oleh generasi sekarang dan generasi selanjutnya, seperti buku dan kitab yang dikarang oleh kalangan salafunass sholeh seperti Imam Ghozali dan Imam Nawawi.

Yang kedua, sebagai bentuk mengaktualisasi diri. Hadratus Syaikh K.H Hasyim Asy’ari dalam kutipan Kalam Hikmah mengatakan bahwa, “Tatkala waktuku habis tanpa karya dan pengetahuan, lantas apa makna umurku ini”.

Tentunya, maksud dari kata karya yang dikatakan oleh Hadratus Syaikh K.H Hasyim Asy’ari tersebut ialah tertuju pada tulisan. Dengan menjadi seorang penulis yang menghasilkan sebuah karya, maka kita akan dianggap ada bagi kalangan para pembaca, dikenal dan dikenang seiring dengan bertambahnya usia zaman.

Yang ketiga, menjadi terkenal. Sering kali mungkin kita semua mendengar bahwa pepatah mengatakan, “Jika ingin mengenal dunia, maka membacalah. Jika ingin dikenal dunia, maka menulislah”.

Perkataan dari pepatah ini memang benar, jika tulisan ini bisa tersebar di berbagai media, maka kesimpulannya mungkin kami sebagai penulis tulisan ini akan dikenal dan terkenal di kalangan para pembaca. Dalam tanda kutip, kegiatan menulis masih aktif kami lakukan dan kami bisa menghasilkan karya-karya yang bermanfaat. Mohon doanya ya.

Yang keempat, mendapatkan hadiah. Banyak sekali dari instansi, mulai dari sekolah, kuliah, pesantren dan juga perusahaan-perusahaan, serta organisasi-organisasi yang ada. Mengadakan sebuah perlombaan yang di dalamnya ada lomba menulis, entah lomba menulis opini, artikel, cerpen atau pun puisi. Dari perlombaan yang telah diadakan, pasti para pemenang dari lomba menulis itu akan diberikan hadiah, baik berupa uang, piagam, sertifikat, trophy, dan juga hadiah doorprize yang lain. Ini menunjukkan bahwa setiap tulisan yang bermanfaat memiliki nilai yang berharga bagi para pembaca, dan khususnya bagi penulis itu sendiri.

Nah para pembaca yang budiman, setelah kita mengetahui sedikit manfaat dari menjadi penulis yang bisa kami sampaikan dalam tulisan ini. Besar harapan kita semua bisa membudidayakan kegiatan literasi, yaitu kegiatan membaca dan menulis. Membaca agar mengenal dunia, dan menulis agar dikenal dunia. Tulislah apa yang Anda pikirkan dan jangan pernah berpikir untuk tidak menulis, karena menulis itu mudah. Sekali lagi kami ungkapkan, “Jika engkau bukan anak seorang Raja, atau anak dari ulama besar, maka jadilah penulis”. Semoga bermanfaat. (*)

 

*) Santri Mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam Universitas Ibrahimy, asal Banyuwangi.

IMAM hujjatul islam Abu Hamid bin Muhammad bin Muhammad Al Ghozali dalam sebuah maqolahnya mengatakan bahwa, “Jika engkau bukan anak seorang Raja, atau anak dari ulama besar, maka jadilah penulis”.

Menulis merupakan salah satu dari sekian banyak hal perbuatan yang dilakukan manusia. Aktivitas menulis ini, tidak akan pernah ditinggalkan dan dilupakan oleh manusia, khususnya kalangan pelajar seperti siswa, santri, dan mahasiswa. Juga kalangan pengajar seperti guru, ustad, dan dosen.

Dalam proses pembelajaran di instansi sekolah, pesantren, dan perkuliahan, para pengajar menyalurkan ilmu yang akan diberikan kepada para pelajar melalui tulisan-tulisan pengetahuan yang telah dihimpun menjadi sebuah buku dan sebuah kitab. Ini menunjukkan bahwa seorang guru atau ustad memerlukan sebuah buku atau kitab, yang di dalamnya berisi tulisan ilmu pengetahuan sebagai bentuk referensi dan juga sebagai akses proses pembelajaran ilmu bisa tersalurkan dengan mudah. Sedangkan bagi kalangan pelajar, dalam proses mendukungnya pembelajaran bisa berjalan dengan baik, juga memerlukan sebuah buku yang fungsinya sebagai pencatat dari ilmu-ilmu yang didapat. Karena ilmu bisa diibaratkan seperti burung, jika ilmu tidak dikurung maka akan hilang, seperti halnya burung jika tidak dikurung maka akan terbang dan juga hilang.

Seorang novelis ternama Indonesia, yang sangat masyhur di kalangan para cendekiawan, pelajar dan pengajar. Dalam sebuah kutipan tulisannya, Promoedya Ananta Toer mengatakan bahwa, “Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tidak menulis, ia akan hilang dalam masyarakat dan sejarah. Menulis adalah bekerja untuk keabadian.”

Dari kutipan tulisan Pramoedya Ananta Toer ini dapat kita tarik benang merah, bahwa menjadi seorang penulis memiliki beberapa keuntungan, manfaat dan keistimewaan yang saling berkaitan, antara lain:

Yang pertama, menjadi seorang penulis adalah satu langkah dalam bentuk mengarsipkan pemikiran dari ilmu-ilmu pengetahuan dan juga pengalaman-pengalaman yang ia dapat. Dengan begitu, pemikiran-pemikiran serta ide-ide yang dituangkan dalam bentuk tulisan, akan ada dan terus ada sehingga bisa dibaca oleh generasi sekarang dan generasi selanjutnya, seperti buku dan kitab yang dikarang oleh kalangan salafunass sholeh seperti Imam Ghozali dan Imam Nawawi.

Yang kedua, sebagai bentuk mengaktualisasi diri. Hadratus Syaikh K.H Hasyim Asy’ari dalam kutipan Kalam Hikmah mengatakan bahwa, “Tatkala waktuku habis tanpa karya dan pengetahuan, lantas apa makna umurku ini”.

Tentunya, maksud dari kata karya yang dikatakan oleh Hadratus Syaikh K.H Hasyim Asy’ari tersebut ialah tertuju pada tulisan. Dengan menjadi seorang penulis yang menghasilkan sebuah karya, maka kita akan dianggap ada bagi kalangan para pembaca, dikenal dan dikenang seiring dengan bertambahnya usia zaman.

Yang ketiga, menjadi terkenal. Sering kali mungkin kita semua mendengar bahwa pepatah mengatakan, “Jika ingin mengenal dunia, maka membacalah. Jika ingin dikenal dunia, maka menulislah”.

Perkataan dari pepatah ini memang benar, jika tulisan ini bisa tersebar di berbagai media, maka kesimpulannya mungkin kami sebagai penulis tulisan ini akan dikenal dan terkenal di kalangan para pembaca. Dalam tanda kutip, kegiatan menulis masih aktif kami lakukan dan kami bisa menghasilkan karya-karya yang bermanfaat. Mohon doanya ya.

Yang keempat, mendapatkan hadiah. Banyak sekali dari instansi, mulai dari sekolah, kuliah, pesantren dan juga perusahaan-perusahaan, serta organisasi-organisasi yang ada. Mengadakan sebuah perlombaan yang di dalamnya ada lomba menulis, entah lomba menulis opini, artikel, cerpen atau pun puisi. Dari perlombaan yang telah diadakan, pasti para pemenang dari lomba menulis itu akan diberikan hadiah, baik berupa uang, piagam, sertifikat, trophy, dan juga hadiah doorprize yang lain. Ini menunjukkan bahwa setiap tulisan yang bermanfaat memiliki nilai yang berharga bagi para pembaca, dan khususnya bagi penulis itu sendiri.

Nah para pembaca yang budiman, setelah kita mengetahui sedikit manfaat dari menjadi penulis yang bisa kami sampaikan dalam tulisan ini. Besar harapan kita semua bisa membudidayakan kegiatan literasi, yaitu kegiatan membaca dan menulis. Membaca agar mengenal dunia, dan menulis agar dikenal dunia. Tulislah apa yang Anda pikirkan dan jangan pernah berpikir untuk tidak menulis, karena menulis itu mudah. Sekali lagi kami ungkapkan, “Jika engkau bukan anak seorang Raja, atau anak dari ulama besar, maka jadilah penulis”. Semoga bermanfaat. (*)

 

*) Santri Mahasiswa Komunikasi dan Penyiaran Islam Universitas Ibrahimy, asal Banyuwangi.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/