alexametrics
26.3 C
Banyuwangi
Saturday, August 13, 2022

Upaya Menumbuhkan Minat Baca Siswa

SEKOLAH tatap muka, bagi saya adalah sesuatu sekali. Mungkin bukan hanya saya yang merindukan belajar dengan Pertemuan Tatap Muka (PTM), tetapi seluruh pelajar di kota tercinta Banyuwangi.

SMPN 3 Songgon termasuk sekolah yang diberikan kesempatan oleh Dinas Pendidikan Banyuwangi untuk menyelenggarakan PTM lebih awal. Sejak dimulai PTM di sekolah pada 3 Februari 2021 lalu, pekan ini sudah memasuki pekan keempat. Para peserta didik di SMPN 3 Songgon menikmati indahnya bergaul dan bersenda gurau di sekolah. Meski PTM berlangsung secara bergantian, tampak sekali para murid dan para guru sudah sangat merindukan suasana ini. 

Hampir semua anak terkejut melihat perubahan wajah sekolah. Di sisi utara area sekolah ada Taman Literasi.  Para siswa semula tidak tahu apa sebenarnya yang dimaksud dengan Taman Literasi. Masuk pada pekan kedua, Kepala Sekolah Bapak Mashudi menginformasikan tentang program Gerakan Literasi Sekolah (GLS). Sebagian siswa, terutama yang perempuan sangat antusias menyambut program tersebut. GLS terpusat di Taman Literasi yang sengaja dibuat oleh bapak dan ibu dewan guru dengan suasana ASRI (Adem, Sejuk, Rindang, Indah).

Dengan latar belakang rendahnya minat dan gairah membaca warga di sekolah, kegiatan literasi digerakkan. Sebagian besar warga sekolah masih merasakan kuatnya tradisi lisan sehingga tradisi baca terabaikan. Saat ini sudah tiga pekan GLS tersebut dilakukan. 

Baca Juga :  Phobia Kerahasiaan Data Pribadi

Pada musim pandemi ini, kegiatan literasi dilaksanakan oleh seluruh siswa SMP Negeri 3 Songgon dengan tetap mematuhi protokol kesehatan. Para siswa melakukan kegiatan membaca di tempat terpisah, selain di Taman Literasi yang telah disediakan. Kegiatan ini dilaksanakan mulai pukul 07.45 sampai 08.00 WIB yaitu setelah melaksanakan salat Duha. Selama kegiatan dilakukan, empat sampai lima anak didampingi oleh seorang guru/staf TU.

GLS dimaksudkan agar semua bisa membaca dengan baik dan mengenal lebih banyak pengetahuan. Untuk itu, kegiatan ini diharapkan akan menjadi kebiasaan baru yang berlangsung terus dan berkelanjutan. Para siswa dibekali dengan jurnal harian. Setiap selesai melakukan kegiatan membaca selama kurang lebih 15 menit mereka ditugasi untuk menulis pokok-pokok bacaan di jurnal.

Selanjutnya, jurnal dikumpulkan kepada pendamping  agar diketahui seberapa tingkat kemampuan siswa dalam melaksanakan literasi. Jurnal harian juga bertujuan sebagai bukti siswa telah melaksanakan literasi pada hari itu.

Sebagai sebuah upaya untuk membiasakan para siswa membaca, pada awal-awal GLS dilakukan dengan sedikit paksaan dan pengawasan. Anak-anak belum terbiasa membaca untuk waktu yang agak lama. Sebagian dari mereka lebih banyak bergurau dan bercerita. Setelah agak terbiasa, yaitu setelah masuk minggu ketiga, sebagian besar murid sudah tahu apa yang harus dilakukan setiap selesai salat Duha.

Agar GLS ini menjadi budaya dan merupakan ikon sekolah, pengurus OSIS membentuk Satgas yang khusus membantu petugas perpustakaan untuk menyiapkan dan mengawasi kegiatan literasi. Selain itu, secara berkala Satgas ini menghimpun aneka tulisan dari para siswa untuk dimuat di mading sekolah. Ada tulisan berupa puisi, cerita, gambar karikatur, atau sekadar rangkuman bacaan. Meski belum banyak siswa yang mau menulis, diharapkan lambat laun akan semakin banyak siswa yang termotivasi untuk turut menulis dan dipajang di mading.

Baca Juga :  Misi Tulus Berharap Mulus

GLS akan menjadi budaya literasi di sekolah. Jika masa itu tiba, persoalan yang akan muncul adalah keterbatasan bahan bacaan yang ada di rak perpustakaan. Untuk masalah ini, sejak sekarang seharusnya sudah diusahakan bagaimana agar buku-buku perpustakaan bertambah banyak. Para siswa diminta membawa buku bacaan yang bukan pelajaran sekolah dari rumah atau sekolah berupaya bekerja sama dengan Perpustakaan Keliling yang dimiliki Pemkab Banyuwangi. Cara yang lain yaitu dengan meminta kenang-kenangan kepada kelas IX yang akan lulus.

Akhirnya, kami berharap semoga pemerintah memperhatikan keadaan sekolah yang tidak banyak memiliki jumlah buku. Literasi harus terus digalakkan demi menumbuhkan minat baca para siswa. (*)

 

*) Siswi Kelas VIII, SMPN 3 Songgon Satu Atap, Banyuwangi.

SEKOLAH tatap muka, bagi saya adalah sesuatu sekali. Mungkin bukan hanya saya yang merindukan belajar dengan Pertemuan Tatap Muka (PTM), tetapi seluruh pelajar di kota tercinta Banyuwangi.

SMPN 3 Songgon termasuk sekolah yang diberikan kesempatan oleh Dinas Pendidikan Banyuwangi untuk menyelenggarakan PTM lebih awal. Sejak dimulai PTM di sekolah pada 3 Februari 2021 lalu, pekan ini sudah memasuki pekan keempat. Para peserta didik di SMPN 3 Songgon menikmati indahnya bergaul dan bersenda gurau di sekolah. Meski PTM berlangsung secara bergantian, tampak sekali para murid dan para guru sudah sangat merindukan suasana ini. 

Hampir semua anak terkejut melihat perubahan wajah sekolah. Di sisi utara area sekolah ada Taman Literasi.  Para siswa semula tidak tahu apa sebenarnya yang dimaksud dengan Taman Literasi. Masuk pada pekan kedua, Kepala Sekolah Bapak Mashudi menginformasikan tentang program Gerakan Literasi Sekolah (GLS). Sebagian siswa, terutama yang perempuan sangat antusias menyambut program tersebut. GLS terpusat di Taman Literasi yang sengaja dibuat oleh bapak dan ibu dewan guru dengan suasana ASRI (Adem, Sejuk, Rindang, Indah).

Dengan latar belakang rendahnya minat dan gairah membaca warga di sekolah, kegiatan literasi digerakkan. Sebagian besar warga sekolah masih merasakan kuatnya tradisi lisan sehingga tradisi baca terabaikan. Saat ini sudah tiga pekan GLS tersebut dilakukan. 

Baca Juga :  Syukur

Pada musim pandemi ini, kegiatan literasi dilaksanakan oleh seluruh siswa SMP Negeri 3 Songgon dengan tetap mematuhi protokol kesehatan. Para siswa melakukan kegiatan membaca di tempat terpisah, selain di Taman Literasi yang telah disediakan. Kegiatan ini dilaksanakan mulai pukul 07.45 sampai 08.00 WIB yaitu setelah melaksanakan salat Duha. Selama kegiatan dilakukan, empat sampai lima anak didampingi oleh seorang guru/staf TU.

GLS dimaksudkan agar semua bisa membaca dengan baik dan mengenal lebih banyak pengetahuan. Untuk itu, kegiatan ini diharapkan akan menjadi kebiasaan baru yang berlangsung terus dan berkelanjutan. Para siswa dibekali dengan jurnal harian. Setiap selesai melakukan kegiatan membaca selama kurang lebih 15 menit mereka ditugasi untuk menulis pokok-pokok bacaan di jurnal.

Selanjutnya, jurnal dikumpulkan kepada pendamping  agar diketahui seberapa tingkat kemampuan siswa dalam melaksanakan literasi. Jurnal harian juga bertujuan sebagai bukti siswa telah melaksanakan literasi pada hari itu.

Sebagai sebuah upaya untuk membiasakan para siswa membaca, pada awal-awal GLS dilakukan dengan sedikit paksaan dan pengawasan. Anak-anak belum terbiasa membaca untuk waktu yang agak lama. Sebagian dari mereka lebih banyak bergurau dan bercerita. Setelah agak terbiasa, yaitu setelah masuk minggu ketiga, sebagian besar murid sudah tahu apa yang harus dilakukan setiap selesai salat Duha.

Agar GLS ini menjadi budaya dan merupakan ikon sekolah, pengurus OSIS membentuk Satgas yang khusus membantu petugas perpustakaan untuk menyiapkan dan mengawasi kegiatan literasi. Selain itu, secara berkala Satgas ini menghimpun aneka tulisan dari para siswa untuk dimuat di mading sekolah. Ada tulisan berupa puisi, cerita, gambar karikatur, atau sekadar rangkuman bacaan. Meski belum banyak siswa yang mau menulis, diharapkan lambat laun akan semakin banyak siswa yang termotivasi untuk turut menulis dan dipajang di mading.

Baca Juga :  Menyibak Wajah Kusam Perpusda

GLS akan menjadi budaya literasi di sekolah. Jika masa itu tiba, persoalan yang akan muncul adalah keterbatasan bahan bacaan yang ada di rak perpustakaan. Untuk masalah ini, sejak sekarang seharusnya sudah diusahakan bagaimana agar buku-buku perpustakaan bertambah banyak. Para siswa diminta membawa buku bacaan yang bukan pelajaran sekolah dari rumah atau sekolah berupaya bekerja sama dengan Perpustakaan Keliling yang dimiliki Pemkab Banyuwangi. Cara yang lain yaitu dengan meminta kenang-kenangan kepada kelas IX yang akan lulus.

Akhirnya, kami berharap semoga pemerintah memperhatikan keadaan sekolah yang tidak banyak memiliki jumlah buku. Literasi harus terus digalakkan demi menumbuhkan minat baca para siswa. (*)

 

*) Siswi Kelas VIII, SMPN 3 Songgon Satu Atap, Banyuwangi.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/