alexametrics
24.5 C
Banyuwangi
Sunday, June 26, 2022

Menemukan Inspirasi di Sekitar Kehidupan

DALAM melakukan aktivitas keseharian, membuat saya melihat atau bertemu banyak orang dengan keadaan diri yang berbeda–beda, yang beberapa di antaranya sangat menginspirasi saya.

Seperti pertemuan saya setiap hari dengan seorang wanita sebaya yang mempunyai profesi sebagai mlijo atau pedagang sayur keliling. Sahabat saya ini diberi keistimewaan oleh Tuhan tubuh yang mungil. Namun dia mempunyai semangat yang tinggi dalam menjalani kehidupan. Mengayuh sepeda mini dengan dilengkapi dua keranjang besar berisi sayuran, buah–buahan, kue, bumbu dapur, dan macam–macam.

Sahabat saya ini tak kenal lelah berkeliling untuk menjajakan dagangannya. Dengan beban dagangan yang cukup berat karena sarat isi di keranjang besar yang di boncengannya. Sahabat saya ini tak memedulikan teriknya sinar matahari, atau dinginnya air hujan yang mengenai tubuhnya.

Setiap berhenti di tempat saya untuk menawarkan dagangan, sering saya ajak singgah dulu untuk sekadar melepas lelah setelah mengayuh sepeda mini. Sering kali sahabat saya ini menolak dengan mengatakan, banyak yang menunggu kedatangannya. Dan itu merupakan rezeki yang harus dijemputnya. Saya hanya bisa tersenyum namun takjub dengan sahabat saya ini.

Di lain hari, saat saya bertemu dengan seorang ibu pemulung yang sudah tua. Dia duduk di teras tempat tinggal saya untuk melepas penat dan meletakkan sebuah karung besar berisi botol bekas, kardus bekas, juga beberapa barang bekas lainnya.

Dalam obrolan ringan di antara kami, ibu itu mengatakan kalau sudah lama menjalani profesi sebagai pemulung dan berkeliling jauh dari rumahnya untuk mencari barang–barang bekas yang masih layak diambil. Nanti hasilnya digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup yang terus berjalan.

Sebuah karung berisi barang–barang bekas yang dibawa oleh ibu pemulung itu. Bagi sebagian orang, mungkin tidak terlalu berat untuk dibawa. Namun untuk ibu itu, membawa karung dengan berjalan kaki sampai tiba di rumahnya dengan keadaan yang sudah tidak muda lagi, bukankah membutuhkan sebuah perjuangan yang luar biasa? Yang pasti tenaga dan keadaan fisik sudah berbeda dan jauh berkurang dibanding waktu muda dulu.

Sementara itu, seorang bapak tua penjual gedek bambu yang sering lewat juga menarik perhatian saya. Dengan jalan yang tertatih, terlihat keletihan dan tetesan keringat di wajah bapak itu. Meskipun hanya selembar gedek bambu yang dibawa dengan gerobak kayu, namun terbayang betapa susahnya dan apakah gedek bambu itu mesti laku setiap hari?

Belum lagi, saat bapak itu akan menyeberang di tengah keramaian lalu lintas untuk meneruskan perjalanan menjajakan gedek bambu. Tak jarang ada pengguna jalan yang berhenti dan membantu untuk menyeberangkan.

Memang tempat tinggal saya di salah satu sudut pertigaan besar yang setiap hari banyak lalu lalang pengguna jalan baik yang mengendarai sepeda, motor, mobil atau pejalan kaki yang kalau tidak berhati–hati dapat membahayakan diri sendiri maupun orang lain.

Kisah perjuangan menjalani kehidupan sahabat saya yang seorang mlijo, ibu pemulung, dan bapak penjual gedek bambu tersebut, sangat menginspirasi saya untuk pantang menyerah dalam menjalani kehidupan ini.

Kadang ada jeda dalam langkah kita meniti kehidupan yang memberi kesempatan kita untuk belajar dari kehidupan orang lain di sekitar kita. Tak dipungkiri, mungkin kita pernah membandingkan diri sendiri dengan orang lain yang menurut kita kehidupannya lebih baik dan hanya menyisakan rasa tidak nyaman di hati. Lebih baik bersyukur dan menemukan inspirasi–inspirasi di sekitar kita, untuk menjalani kehidupan dengan damai.

Teriring doa, semoga wabah pandemi segera berakhir. Mari bersama–sama kita jalani kehidupan dengan tetap semangat dan terus berjuang. Salam. (*)

*) Warga Dusun Cangaan, Desa Genteng Wetan, Kecamatan Genteng, Banyuwangi.

DALAM melakukan aktivitas keseharian, membuat saya melihat atau bertemu banyak orang dengan keadaan diri yang berbeda–beda, yang beberapa di antaranya sangat menginspirasi saya.

Seperti pertemuan saya setiap hari dengan seorang wanita sebaya yang mempunyai profesi sebagai mlijo atau pedagang sayur keliling. Sahabat saya ini diberi keistimewaan oleh Tuhan tubuh yang mungil. Namun dia mempunyai semangat yang tinggi dalam menjalani kehidupan. Mengayuh sepeda mini dengan dilengkapi dua keranjang besar berisi sayuran, buah–buahan, kue, bumbu dapur, dan macam–macam.

Sahabat saya ini tak kenal lelah berkeliling untuk menjajakan dagangannya. Dengan beban dagangan yang cukup berat karena sarat isi di keranjang besar yang di boncengannya. Sahabat saya ini tak memedulikan teriknya sinar matahari, atau dinginnya air hujan yang mengenai tubuhnya.

Setiap berhenti di tempat saya untuk menawarkan dagangan, sering saya ajak singgah dulu untuk sekadar melepas lelah setelah mengayuh sepeda mini. Sering kali sahabat saya ini menolak dengan mengatakan, banyak yang menunggu kedatangannya. Dan itu merupakan rezeki yang harus dijemputnya. Saya hanya bisa tersenyum namun takjub dengan sahabat saya ini.

Di lain hari, saat saya bertemu dengan seorang ibu pemulung yang sudah tua. Dia duduk di teras tempat tinggal saya untuk melepas penat dan meletakkan sebuah karung besar berisi botol bekas, kardus bekas, juga beberapa barang bekas lainnya.

Dalam obrolan ringan di antara kami, ibu itu mengatakan kalau sudah lama menjalani profesi sebagai pemulung dan berkeliling jauh dari rumahnya untuk mencari barang–barang bekas yang masih layak diambil. Nanti hasilnya digunakan untuk memenuhi kebutuhan hidup yang terus berjalan.

Sebuah karung berisi barang–barang bekas yang dibawa oleh ibu pemulung itu. Bagi sebagian orang, mungkin tidak terlalu berat untuk dibawa. Namun untuk ibu itu, membawa karung dengan berjalan kaki sampai tiba di rumahnya dengan keadaan yang sudah tidak muda lagi, bukankah membutuhkan sebuah perjuangan yang luar biasa? Yang pasti tenaga dan keadaan fisik sudah berbeda dan jauh berkurang dibanding waktu muda dulu.

Sementara itu, seorang bapak tua penjual gedek bambu yang sering lewat juga menarik perhatian saya. Dengan jalan yang tertatih, terlihat keletihan dan tetesan keringat di wajah bapak itu. Meskipun hanya selembar gedek bambu yang dibawa dengan gerobak kayu, namun terbayang betapa susahnya dan apakah gedek bambu itu mesti laku setiap hari?

Belum lagi, saat bapak itu akan menyeberang di tengah keramaian lalu lintas untuk meneruskan perjalanan menjajakan gedek bambu. Tak jarang ada pengguna jalan yang berhenti dan membantu untuk menyeberangkan.

Memang tempat tinggal saya di salah satu sudut pertigaan besar yang setiap hari banyak lalu lalang pengguna jalan baik yang mengendarai sepeda, motor, mobil atau pejalan kaki yang kalau tidak berhati–hati dapat membahayakan diri sendiri maupun orang lain.

Kisah perjuangan menjalani kehidupan sahabat saya yang seorang mlijo, ibu pemulung, dan bapak penjual gedek bambu tersebut, sangat menginspirasi saya untuk pantang menyerah dalam menjalani kehidupan ini.

Kadang ada jeda dalam langkah kita meniti kehidupan yang memberi kesempatan kita untuk belajar dari kehidupan orang lain di sekitar kita. Tak dipungkiri, mungkin kita pernah membandingkan diri sendiri dengan orang lain yang menurut kita kehidupannya lebih baik dan hanya menyisakan rasa tidak nyaman di hati. Lebih baik bersyukur dan menemukan inspirasi–inspirasi di sekitar kita, untuk menjalani kehidupan dengan damai.

Teriring doa, semoga wabah pandemi segera berakhir. Mari bersama–sama kita jalani kehidupan dengan tetap semangat dan terus berjuang. Salam. (*)

*) Warga Dusun Cangaan, Desa Genteng Wetan, Kecamatan Genteng, Banyuwangi.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/