Selamat Datang di Bumi Shalawat Badar

Oleh: SYAFAAT*

SEBUAH syair bukan sekadar barisan huruf yang berjajar rapi membentuk sebuah kalimat, namun juga dapat memberikan makna yang lebih daripada sekadar hiburan. Sebuah syair dapat membangkitkan semangat perjuangan bagi yang mengerti maknanya, dengan syair yang dinyanyikan pesan yang terkandung di dalamnya akan lebih mudah meresap ke jiwa orang yang mendengarkannya.

Tagline Banyuwangi, Bumi Shalawat Badar tidak berlebihan jika disematkan di Kabupaten paling luas di Pulau Jawa ini, karena fakta sejarah mengungkapkan bahwa Syair Shalawat Badar ditulis ketika KH Ali Mansur bertempat tinggal dan menjabat sebagai Kepala Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, meskipun beliau tidak lahir dan besar dan meninggal di Banyuwangi. Suasana kebatinan di Bumi Blambangan yang kebetulan melahirkan inspirasi dituliskan Shalawat Badar tersebut.

Sangat beragam julukan yang disematkan di Bumi bekas Kerajaan Blambangan ini, mulai dari julukan Kota Pisang dengan mengingat pada zaman Belanda dikenal pengekspor Pisang, Julukan dengan mengambil salah satu seni tari yang khas di Banyuwangi yakni Tari Gandrung, hingga The Sunrise of Java. Selanjutnya, Tagline Bumi Shalawat Badar sangat tepat dengan mengingat Shalawat Badar tersebut lahir di Kabupaten Banyuwangi.

Shalawat badar bukan hanya digaungkan di bumi Nusantara. Tetapi sudah menjamah ke seluruh pelosok negeri, hingga mungkin orang lupa, sejak kapan Shalawat Badar tersebut mulai dikumandangkan, di mana, dan oleh siapa. Shalawat Badar mampu menggugah semangat perjuangan umat Islam dengan semangat pasukan Badar yang mampu mengalahkan para musuhnya, meskipun dengan jumlah yang sangat sedikit, dengan jumlah persenjataan yang juga tidak sebanding dengan lawan-lawannya.

Semangat para ahli (perang) Badar inilah yang menjadi inti dari Shalawat Badar, yakni sebuah semangat bahwa dalam menegakkan ajaran Allah SWT tidak harus dengan jumlah yang besar, tetapi walaupun dengan jumlah yang sedikit, namun mempunyai semangat dan iman yang kuat, sebesar apa pun rintangan dapat dihadapi.

Sudah diketahui bersama bahwa Shalawat Badar tersebut digubah oleh KH. Ali Mansur yang saat itu menjabat sebagai Kepala Djawatan Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi yang juga pimpinan Nahdlatul Ulama Kabupaten Banyuwangi. Beliau menjabat Kepala Djawatan Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi setelah menjabat sebagai anggota Dewan Konstituante yang dibubarkan pasca keluarnya Dekrit Presiden 5 Juli 1959.

Ditempatkannya KH. Ali Mansur yang merupakan tokoh Nasional sebagai Kepala Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi saat itu sebagai salah satu tanda bahwa Kabupaten Banyuwangi merupakan satu wilayah yang sangat diperhitungkan dalam pergulatan politik di Indonesia, hal ini mengingat wilayah yang saat ini dikenal dengan julukan The Sunrise of Java tersebut sering dianggap sebuah kunci utama dan awal keberhasilan perjuangan.

Mitos yang berkembang di masyarakat bahwa untuk menjadi pemimpin besar di Indonesia, harus mengunjungi Banyuwangi, yang dianggap mempunyai kekuatan mistis, seperti halnya Alas Purwo yang dianggap dan dipercaya sebagai hutan tertua di Pulau Jawa, karena itu tidak heran jika banyak orang yang menganggap bahwa untuk menguasai Indonesia harus dimulai dari kawasan tertua di Pulau Jawa. Letak Kabupaten Banyuwangi yang berada di lereng timur sebuah pegunungan yang berhadapan langsung dengan laut sangat mendukung teori tersebut. Hal ini dengan mengingat wilayah Kabupaten Banyuwangi dapat menyerap energi sinar matahari sejak sang surya tersebut muncul dari permukaan, sehingga tanah nan subur ini pantas jika dianggap sebagai awal mula tumbuhnya kehidupan.

Bukan tanpa alasan KH. Ali Mansur menggubah Shalawat Badar di Bumi Blambangan, dengan penguasaan ilmu ‘arudh dan qowafi (dasar-dasar ilmu membuat syair berbahasa Arab) yang dimiliki. Ditambah dengan kondisi masyarakat ujung Pulau Jawa yang kaya akan seni dan budaya, menjadikan Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi ini terus berkarya dalam beberapa syair yang salah satunya adalah Shalawat Badar.

Meskipun maksud utama dari syair Shalawat Badar tidak untuk menyaingi lagu Genjer-Genjer yang juga ditulis oleh penyair Banyuwangi dan digunakan sebagai lagu identitas dari kelompok tertentu. Namun Shalawat Badar saat itu telah dijadikan sebagai identitas Organisasi Nahdlatul Ulama untuk menggelorakan semangat perjuangan, di samping syair-syair lain yang lebih dulu ada, Shalawat Badar ini yang dianggap paling populer dan mudah untuk dilafalkan.

Hampir setiap kelompok maupun lembaga mempunyai syair maupun lagu sebagai salah satu identitasnya, baik dalam bentuk himne maupun mars sebagai penyemangat dalam lembaga tersebut. Karena dengan syair yang dilagukan ini lebih mudah untuk dilafalkan dan dihafalkan, lebih mudah pula untuk diresapi maknanya. Karena itu sebuah syair sangat penting artinya bagi sebuah lembaga atau pun organisasi.

Shalawat Badar di samping ucapan Shalawat kepada Nabi Muhammad SAW, juga para ahli (perang) Badar yang dengan semangat dan ketaatannya mampu mengalahkan musuh yang jumlahnya tiga kali lipat dari jumlah Ahli (perang) Badar. Dan hal inilah yang terus dipupuk di kalangan muslim untuk meneladani para Ahli (perang) Badar tersebut dalam hal semangat dan ketaatan atas perintah agama, karena dengan semangat persatuan dan keimanan itulah umat Islam akan mampu mengatasi semua masalah yang dianggap sangat besar dan berat.

Fakta sejarah menyatakan bahwa dengan alunan Shalawat Badar tersebut umat Islam saat itu mampu menggelorakan semangat untuk mempertahankan ideologi pemersatu bangsa yang sudah menjadi kesepakatan para pendiri bangsa yakni Pancasila yang bersumber dari nilai-nilai luhur bangsa Indonesia yang taat beragama.

Tidak berlebihan jika ada usulan KH. Ali Mansur diusulkan sebagai Pahlawan Nasional, karena berkat gubahan Shalawat Badar itu juga yang dapat menggelorakan semangat berjuang bagi Umat Islam di Indonesia untuk mempertahankan keutuhan Bangsa Indonesia yang saat itu hampir cerai-berai karena ideologi yang tidak sepaham dengan Pancasila. (*)

 

*) Ketua Lentera Sastra Kemenag Banyuwangi.