alexametrics
23.5 C
Banyuwangi
Friday, August 12, 2022

Lihat Waktunya!

SEBUAH tim dalam sepak bola mempunyai cara tersendiri untuk menang. Salah satunya adalah dengan mencari peluang untuk mencetak gol. Apalagi sampai terjadi kemelut di depan gawang. Seorang striker menjadi ujung tombak dari finishing yang harus membuahkan gol. Jika tidak demikian, maka target untuk menang akan menjadi mimpi belaka.

Setelah terjadi perebutan bola yang cukup sengit dan untuk menerobos pertahanan lawan pun menjadi challenge bagi striker. Nah, ketika melihat celah pertahanan lawan, sang striker pun tidak menyia-nyiakan kesempatan. Ia melihat peluang, kemudian diselesaikan untuk dijadikan gol. Hal ini sering menjadi tontonan indah para suporter.

Begitu juga dengan kebiasaan para santri di pesantren. Hidup yang serba antre itu, memicu adrenalin tersendiri untuk hidup lebih mandiri. Mau mandi, beli sarapan, dan bahkan urusan minum pun harus ”antre”.

Kesempatan yang ada dan tidak diselesaikan dengan baik, maka tidak akan berbuah hasil. Dan malah akan memperparah atau memperlama proses antre. Kita ambil contoh. Misal, ketika kita antre di kamar mandi. Ketika si Santri sakit perut, perasaan ingin cepat-cepat masuk ke WC itu menjadi impian terbesarnya kala itu. Apalagi ketika sakit perut, semua santri sedang bergegas untuk mandi.

Nah, kalau kita tidak melihat peluang, maka impian terbesar itu tidak akan pernah tercapai. Dan boleh jadi, hal yang tidak diinginkan terjadi. Apa peluangnya? Ia minta izin untuk masuk duluan atau menyerobot ketika para pengantre sedang leha-leha untuk masuk.

Baca Juga :  Fenomena (Tidak) Puasa

Dalam menatap kehidupan, seseorang butuh pemikiran yang visioner untuk mewujudkan cita-cita hidupnya; untuk hidup sukses. Seorang dengan pemikiran yang visioner tidak dapat terpisahkan dengan waktu. Setiap gerak-gerik hidupnya ia benturkan dengan waktu. ”Kalau bukan waktunya, aku tidak mau berangkat”.

Managing time menjadi kunci utama untuk mengejawantah keinginan kita itu. Seseorang yang lalai dalam mengatur waktu, tentu ia tidak akan pernah sukses untuk mewujudkan impian hidupnya. Kita ambil sampel yang gampang saja. Ketika kita hendak pergi untuk melaksanakan ujian. Dan agar perut tidak terkena penyakit mag, makan teratur menjadi kewajiban. Ujian dilaksanakan pukul 7, sedangkan makan pun harus tidak lebih dari pukul 8.

Kalau kebiasaan sehari-hari kita baru makan pukul setengah 8, maka ketika kondisi yang semacam itu, kita harus bangun pagi untuk membeli nasi dan kemudian berangkat ke sekolah untuk ujian. Hal yang sepele itu jika tidak kita manfaatkan dengan baik, maka mag pun akan menghantui kita.

Sering juga kita jumpai dalam berbagai seminar, bahwa waktu ibarat pedang yang siap menebas siapa saja. Jika pedang itu tidak digunakan oleh seorang ahli, menebas tangan sendiri akan menjadi kemungkinan terbesar. Karena tidak tahu cara bagaimana mengendalikan. Waktu menjadi persoalan penting dan menjadi napas dari aktivitas setiap manusia. Banyak orang tidak sadar, bahwa hidupnya telah dijadikan gagal karena persoalan gagal memanfaatkan waktu.

Baca Juga :  Melawan Keputusasaan

Begitu pun seorang pemuda. Masa muda yang seharusnya menjadi kesempatan besar untuk berusaha penuh mempersiapkan bekal untuk masa tua, akan menjadi bumerang bagi ia yang tidak memanfaatkan masa mudanya dengan baik. Kebiasaan hidup yang hedon dan terlalu sibuk bercumbu dengan minuman beralkohol, hanya akan memakan masa mudanya yang menjadi harapan semua kalangan.

Persoalan waktu bukan hanya urusan ”kegiatan kita pukul berapa”, tapi tentang kecerdasan dalam menata hidup dengan baik. Termasuk memanfaatkan masa muda dan memetik hasil di masa tua. Anggapan demikian hampir menjadi impian hidup setiap manusia. Ya. Impian hanya menjadi impian, jika kita tidak pernah berusaha untuk menuntaskannya. Agar kita tidak menjadi manusia yang rugi, maka lihat waktunya! Waallahu A’lam. (*)

 

*) Mantan Sekjend Rayon IKSASS Sumenep.

SEBUAH tim dalam sepak bola mempunyai cara tersendiri untuk menang. Salah satunya adalah dengan mencari peluang untuk mencetak gol. Apalagi sampai terjadi kemelut di depan gawang. Seorang striker menjadi ujung tombak dari finishing yang harus membuahkan gol. Jika tidak demikian, maka target untuk menang akan menjadi mimpi belaka.

Setelah terjadi perebutan bola yang cukup sengit dan untuk menerobos pertahanan lawan pun menjadi challenge bagi striker. Nah, ketika melihat celah pertahanan lawan, sang striker pun tidak menyia-nyiakan kesempatan. Ia melihat peluang, kemudian diselesaikan untuk dijadikan gol. Hal ini sering menjadi tontonan indah para suporter.

Begitu juga dengan kebiasaan para santri di pesantren. Hidup yang serba antre itu, memicu adrenalin tersendiri untuk hidup lebih mandiri. Mau mandi, beli sarapan, dan bahkan urusan minum pun harus ”antre”.

Kesempatan yang ada dan tidak diselesaikan dengan baik, maka tidak akan berbuah hasil. Dan malah akan memperparah atau memperlama proses antre. Kita ambil contoh. Misal, ketika kita antre di kamar mandi. Ketika si Santri sakit perut, perasaan ingin cepat-cepat masuk ke WC itu menjadi impian terbesarnya kala itu. Apalagi ketika sakit perut, semua santri sedang bergegas untuk mandi.

Nah, kalau kita tidak melihat peluang, maka impian terbesar itu tidak akan pernah tercapai. Dan boleh jadi, hal yang tidak diinginkan terjadi. Apa peluangnya? Ia minta izin untuk masuk duluan atau menyerobot ketika para pengantre sedang leha-leha untuk masuk.

Baca Juga :  Konflik Satwa-Manusia sebagai Masalah Agraria

Dalam menatap kehidupan, seseorang butuh pemikiran yang visioner untuk mewujudkan cita-cita hidupnya; untuk hidup sukses. Seorang dengan pemikiran yang visioner tidak dapat terpisahkan dengan waktu. Setiap gerak-gerik hidupnya ia benturkan dengan waktu. ”Kalau bukan waktunya, aku tidak mau berangkat”.

Managing time menjadi kunci utama untuk mengejawantah keinginan kita itu. Seseorang yang lalai dalam mengatur waktu, tentu ia tidak akan pernah sukses untuk mewujudkan impian hidupnya. Kita ambil sampel yang gampang saja. Ketika kita hendak pergi untuk melaksanakan ujian. Dan agar perut tidak terkena penyakit mag, makan teratur menjadi kewajiban. Ujian dilaksanakan pukul 7, sedangkan makan pun harus tidak lebih dari pukul 8.

Kalau kebiasaan sehari-hari kita baru makan pukul setengah 8, maka ketika kondisi yang semacam itu, kita harus bangun pagi untuk membeli nasi dan kemudian berangkat ke sekolah untuk ujian. Hal yang sepele itu jika tidak kita manfaatkan dengan baik, maka mag pun akan menghantui kita.

Sering juga kita jumpai dalam berbagai seminar, bahwa waktu ibarat pedang yang siap menebas siapa saja. Jika pedang itu tidak digunakan oleh seorang ahli, menebas tangan sendiri akan menjadi kemungkinan terbesar. Karena tidak tahu cara bagaimana mengendalikan. Waktu menjadi persoalan penting dan menjadi napas dari aktivitas setiap manusia. Banyak orang tidak sadar, bahwa hidupnya telah dijadikan gagal karena persoalan gagal memanfaatkan waktu.

Baca Juga :  Hegemoni Empat Belas Februari

Begitu pun seorang pemuda. Masa muda yang seharusnya menjadi kesempatan besar untuk berusaha penuh mempersiapkan bekal untuk masa tua, akan menjadi bumerang bagi ia yang tidak memanfaatkan masa mudanya dengan baik. Kebiasaan hidup yang hedon dan terlalu sibuk bercumbu dengan minuman beralkohol, hanya akan memakan masa mudanya yang menjadi harapan semua kalangan.

Persoalan waktu bukan hanya urusan ”kegiatan kita pukul berapa”, tapi tentang kecerdasan dalam menata hidup dengan baik. Termasuk memanfaatkan masa muda dan memetik hasil di masa tua. Anggapan demikian hampir menjadi impian hidup setiap manusia. Ya. Impian hanya menjadi impian, jika kita tidak pernah berusaha untuk menuntaskannya. Agar kita tidak menjadi manusia yang rugi, maka lihat waktunya! Waallahu A’lam. (*)

 

*) Mantan Sekjend Rayon IKSASS Sumenep.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/