Kamis, 02 Dec 2021
Radar Banyuwangi
Home / Kolom
icon featured
Kolom

Ibu, Madrasah Pertama bagi Anaknya

Oleh: Akhmad Nurhudah *

10 Januari 2021, 06: 30: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

Ibu, Madrasah Pertama bagi Anaknya

Share this      

Sudahkah kita menempatkan ibu sebagaimana layaknya syariat agama kita? Tentu yang bisa menjawab adalah kita. Ibu merupakan rumah bagi anak sebelum anak itu dilahirkan. Sembilan bulan ibu mengandung, tiada merasa terbebani atau pun lelah menjalani itu semua. Kemudian melahirkan, mengasuh, serta merawat anaknya.

Perjuangan seorang ibu untuk anaknya memang bukanlah hal yang mudah dan tanpa batas. Bahkan nyawa pun menjadi taruhannya. Ibu tidak pernah berhenti memberikan yang terbaik untuk anaknya, memberikan kasih sayang yang tak terhingga untuk anaknya. Ibu begitu tulus, ikhlas sepenuh jiwa dan raga memberikan kasih sayang dan perhatiannya. Tanpa pamrih dan mengharap imbalan apa pun dari anaknya.

Bahkan di masa pandemi ini, seorang ibu seolah tidak ada waktu sedikit pun beristirahat. Pekerjaan seorang ibu bertambah banyak, mengurusi pekerjaan rumah sebagai seorang istri ditambah lagi harus menjadi guru di rumah untuk putra maupun putrinya yang harus belajar di rumah. Apalagi putra maupun putrinya yang masih duduk di tingkat TK maupun SD. Bagi ibu yang tidak ada tugas yang lain mungkin hal itu bisa teratasi, tapi bagi ibu yang memiliki tugas lain (ibu karir) mungkin ini menuntut harus pandai membagi waktu.

Dari ibulah seorang anak banyak belajar hal baru dalam hidupnya. Belajar mulai berbicara, belajar cara memakai pakaian sendiri, belajar cara makan, melatih motorik kasar dan halus. Hal-hal tersebut dimulai dari seorang guru yang hebat tidak lain seorang ibu. Ibu adalah pengajar, pembimbing, serta penasihat bahkan pengayom terbaik bagi anaknya. Ketika seorang anak tengah bingung tidak tahu arah, ketika seorang anak tengah ada masalah, ketika seorang anak tengah gundah dan gelisah maka ibu adalah tempat ternyaman untuk mencurahkan isi hati. Bahkan, tempat solusi akhir bagi anak-anaknya.

Seorang anak senantiasa mendambakan ibu yang baik dan juga saleh apalagi di masa pandemi ini. Seorang ibu selalu menjadi terminal akhir untuk memecahkan masalah. Ibu yang ideal secara Islam adalah seorang ibu yang memiliki budi pekerti luhur, taat dalam beribadah menjalankan syariat agama Islam, dan menjadi teladan bagi anaknya. Seorang ibu yang ideal menurut pandangan Islam adalah ibu yang mengerti, bagaimana mengajarkan nilai-nilai ketauhidan kepada anaknya ketika masih di dalam kandungan, sampai anak itu lahir seorang ibu harus mengerti bagaimana mendidik anak dengan nilai-nilai keislaman, mengajarkan hal-hal mengenai permasalahan agama.

Melatih anak sejak kecil dapat memberikan dampak yang luar biasa bagi seorang anak. Bentuk pembiasaan sejak kecil memberikan dampak kepada anak yaitu memiliki keterampilan serta kepribadian yang baik dan berkualitas, berakhlak mulia, kuat secara fisik dan juga mental. Ibu yang baik tentunya ibu yang selalu mendoakan anak-anaknya. Ibu yang senantiasa memberikan kasih sayang yang tulus, yang tak pernah lupa akan tanggung jawabnya dalam mengasuh anak. Membentuk kepribadian anak adalah tanggung jawab ibu. Dalam hal ini ibu yang lebih besar perannya dari pada ayah.

Tidak hanya mendidik anak ketika masih kecil saja, peran ibu juga sangat dibutuhkan ketika anak memasuki masa remaja. Sudah selayaknya sebagai ibu yang baik, ibu senantiasa memberikan pendampingan dan pengarahan kepada anak ketika memasuki masa remaja. Masa remaja yaitu masa anak mencari jati dirinya. Usaha yang dilakukan ibu seharusnya memberikan pengarahan dalam ranah pendidikan yang baik untuk anaknya, memberikan pengertian terhadap perubahan yang terjadi pada anaknya, serta tetap terbuka terhadap anak.

Ketika anak memasuki masa balig mereka telah memasuki fase yang benar-benar harus diperhitungkan dan atau diperhatikan lebih. Ibu harus memberikan gambaran bahwa pada masa ini anak telah wajib menjalankan kewajiban beragama, menjelaskan tentang batas-batas aurat bagi mereka, menjaga adab Islam terlebih kepada lawan jenis. Ibu seharusnya tetap menjadi sosok yang terbuka dan friendly kepada anak, mendengarkan ceritanya, membantu dan mengarahkan mereka sehingga mereka tidak jatuh pada hal yang tidak diinginkan.

Tidak diragukan lagi betapa pentingnya peran ibu dalam mendidik anak. Terbukti sejak masih gadis ibu telah mempersiapkan dengan membekali diri lewat nilai-nilai kebaikan, supaya menjadi ibu yang baik bagi anak-anak kelak. Secara emosional ibu adalah orang terdekat bagi anaknya, dengan kasih sayang dan kelembutan seorang ibu mampu membangkitkan mental anak menjadi pribadi yang kuat, percaya diri dan juga lembut. Ibu menjadi sosok yang selalu siap siaga dan serba bisa, ketika anaknya serta keluarga membutuhkan.

Berkaitan hal itu ada seorang penyair ternama Hafiz Ibrahim mengungkapkan sebagai berikut: ”Al-Ummu madrasatul ula, iza a’dadtaha a’dadta sya’ban thayyibal a’raq”. Artinya: Ibu merupakan madrasah (sekolah) pertama bagi anaknya. Jika engkau persiapkan ia dengan baik, maka sama halnya engkau persiapkan bangsa yang baik pokok pangkalnya.

Berangkat dari syair tersebut dapatkan dikatakan ibu merupakan madrasah pertama yang nanti akan memberikan keteladanan bagi sikap, perilaku, dan kepribadian anak. Jika seorang ibu itu memiliki karakter baik, maka baik pula karakter anaknya. Sebab, secara tidak langsung semua apa yang dilakukan ibu akan menjadi panutan atau sebagai suri teladan bagi anaknya.

Ketika seorang ibu menjalankan kewajiban dan fungsinya dengan baik dalam rumah tangga, bukan tidak mungkin akan melahirkan anak-anak yang saleh-salehah yang kelak menjadi tunas berdirinya masyarakat yang berbakti kepada kedua orang tua, berkualitas, dan berbudi pekerti luhur. Bahkan berbangsa dan bernegara pun akan secara tidak langsung akan melekatkan pada putra dan putri kita. Akhirnya, mari kita menempatkan ibu yang sebenar-benarnya pada tempatnya. (*)

*) Pengawas Pendidikan di Banyuwangi.

Baca juga: Ekonomi Pulih, Pariwisata Indonesia Bangkit

(bw/*/als/JPR)

©2021 PT. JawaPos Group Multimedia