alexametrics
24.1 C
Banyuwangi
Tuesday, July 5, 2022

Menyibak Wajah Kusam Perpusda

PERPUSTAKAAN merupakan lembaga informasi yang paling dekat dengan masyarakat sebagai pusat informasi, yang mana di dalam sebuah perpustakaan terdapat koleksi bahan pustaka dengan berbagai macam bidang keilmuan yang disediakan untuk pemustaka. Adanya perpustakaan diharapkan mampu meningkatkan minat masyarakat sehingga tercipta masyarakat informasi yang berwawasan luas.

Selain itu, perpustakaan mempunyai tugas dan kewajiban dalam memberikan layanan informasi bagi pemustaka, mulai dari mengadakan bahan pustaka, mengolah, menyiapkan, dan menyelenggarakan penyuluhan, pameran untuk membagikan pengetahuan kepada masyarakat. Sumber ilmu yang diberikan oleh perpustakaan tentu berguna untuk melestarikan dan menambah kekayaan intelektual.

Sering kali, perpustakaan menghadapi berbagai kesenjangan selama perkembangannya bahkan hingga saat ini. Berbagai kesenjangan yang dihadapi mulai dari sumber daya manusia (SDM), administrasi, birokrasi, hingga dana. Ini menjadi sebuah tantangan tersendiri bagi perpustakaan sebagai lembaga informasi.

Contoh kasus pada Perpustakaan Daerah (Perpusda) di Banyuwangi, yang mengalami kekurangan tenaga ahli yang kompeten di bidang perpustakaan, menyebabkan kendala dalam beberapa hal penataan koleksi yang sedikit banyak masih perlu dibenahi.

 

Kualitas Layanan

Tidak sampai di situ, pada aspek pelayanan, sejauh ini tidak banyak staf yang mengelola Perpusda bukanlah seorang pustakawan yang memiliki track record studi pada bidang ilmu perpustakaan. Selain itu, sarana prasarana yang kurang memadai, karena kurangnya dana pun juga sering kali menjadi hambatan dalam melakukan pengadaan koleksi dan memaksimalkan kualitas layanan di sebuah perpustakaan.

Sehingga koleksi dalam sebuah perpustakaan tidak dapat maksimal. Begitu pun pelayanan seperti penyediaan komputer maupun sistem yang digunakan untuk proses sirkulasi dan pencarian buku melalui katalogisasi daring.

Hemat penulis, saat ini apresiasi masyarakat terhadap perpustakaan dapat dikatakan rendah. Karena perpustakaan masih dianggap membosankan oleh sebagian besar masyarakat.  sehingga menimbulkan kesenjangan.

Ketimpangan ini, baik dari sisi sosial budaya, dan kurangnya perhatian terhadap peran perpustakaan sebagai sumber informasi seumur hidup. Sering kali perpustakaan yang didirikan di daerah, yang ditujukan untuk memenuhi dan meratakan literasi di daerah tersebut, malah justru tidak terawat. Dan ditambah kurangnya budaya membaca masyarakatnya.

Pun begitu, dalam permasalahan yang pernah saya hadapi ketika membantu mengelola perpustakaan fakultas. Memang diakui, kesenjangan-kesenjangan perihal SDM, dana, sarana, prasarana, hingga sosial budaya, karena masih kurang maksimalnya perhatian dari lembaga terkait terhadap pengelolaan perpustakaan.

Dampaknya, perpustakaan hanya mampu memberikan pelayanan yang seadanya. Dengan literasi pengelolaan perpustakaan yang seadanya pula, tanpa seorang pustakawan yang memang ahli dalam bidangnya. Walakin, pelayanan dan misi yang diusung perpustakaan kadang tidak tepat sasaran.

 

Lembaga Serupa

Selain perpustakaan, ada lembaga-lembaga informasi lain yang ada di Indonesia juga bernasib sama jika keliru dalam pengelolaannya. Empat kategori yang mahfum dikenal dengan sebutan GLAM, yaitu Gallery, Library, Archieve, dan Museum, yang memiliki peran dan fungsi berbeda baik dalam jenis koleksi dan sistem pengelolaannya. Meskipun pada garis besarnya memiliki kesamaan dalam memberikan informasi kepada masyarakat.

Secara sederhana, berikut peran dan fungsi dari masing-masing lembaga tersebut.

Pertama, Galeri. Tata kelola dan peran Galeri Nasional diatur dalam Undang-Undang Nomor 32 tahun 2005 bahwa Galeri Nasional memiliki tugas untuk mengkaji, melestarikan, mengumpulkan, merawat segala macam yang berkaitan dengan seni rupa dalam bidang administrasi hingga manajerial. Dalam hal ini, Galeri Nasional juga bertugas memublikasikan karya seni rupa baik dalam bentuk pameran sebagai pemenuhan kewajiban dalam memberikan edukasi kepada masyarakat.

Kedua, Arsip. Arsip merupakan lembaga informasi yang berperan dalam hal pelestarian dokumen yang terbagi menjadi dua jenis yaitu arsip statis dan arsip dinamis. ANRI menjadi lembaga yang bertanggung jawab dalam kegiatan pengelolaan berbagai jenis arsip yang ada di Indonesia. Kearsipan sebagai salah satu lembaga informasi di Indonesia memiliki tujuan untuk menjamin terciptanya arsip, menjamin keamanan dan keselamatan arsip sebagai dokumen yang memiliki nilai informasi, nilai hukum, nilai sejarah, dan nilai guna lainnya seperti yang telah tertulis dalam UU No. 27 tahun 2009 tentang Kearsipan.

Ketiga, Museum. Museum memiliki peran krusial sebagai sumber informasi sejarah bagi sebuah bangsa. Tugas dan peran museum pada hakikatnya ialah untuk melestarikan dan menjaga peninggalan sejarah sebagai sumber informasi kesejarahan yang merupakan bentuk dari hasil karya suatu bangsa, agar dapat terus diketahui peninggalan dan kebudayaan bangsa. Museum didirikan memiliki tujuan sebagai lembaga pendidikan, pengkajian, dan rekreasi sesuai ketentuan umum museum pada PP 66 tahun 2015, bahwa museum ialah lembaga yang berfungsi melindungi, mengembangkan, memanfaatkan koleksi, dan mengomunikasikannya kepada masyarakat. (*)

 

*) Mahasiswa asal Banyuwangi, pada Jurusan Ilmu Perpustakaan dan Informasi, Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim, Malang.

PERPUSTAKAAN merupakan lembaga informasi yang paling dekat dengan masyarakat sebagai pusat informasi, yang mana di dalam sebuah perpustakaan terdapat koleksi bahan pustaka dengan berbagai macam bidang keilmuan yang disediakan untuk pemustaka. Adanya perpustakaan diharapkan mampu meningkatkan minat masyarakat sehingga tercipta masyarakat informasi yang berwawasan luas.

Selain itu, perpustakaan mempunyai tugas dan kewajiban dalam memberikan layanan informasi bagi pemustaka, mulai dari mengadakan bahan pustaka, mengolah, menyiapkan, dan menyelenggarakan penyuluhan, pameran untuk membagikan pengetahuan kepada masyarakat. Sumber ilmu yang diberikan oleh perpustakaan tentu berguna untuk melestarikan dan menambah kekayaan intelektual.

Sering kali, perpustakaan menghadapi berbagai kesenjangan selama perkembangannya bahkan hingga saat ini. Berbagai kesenjangan yang dihadapi mulai dari sumber daya manusia (SDM), administrasi, birokrasi, hingga dana. Ini menjadi sebuah tantangan tersendiri bagi perpustakaan sebagai lembaga informasi.

Contoh kasus pada Perpustakaan Daerah (Perpusda) di Banyuwangi, yang mengalami kekurangan tenaga ahli yang kompeten di bidang perpustakaan, menyebabkan kendala dalam beberapa hal penataan koleksi yang sedikit banyak masih perlu dibenahi.

 

Kualitas Layanan

Tidak sampai di situ, pada aspek pelayanan, sejauh ini tidak banyak staf yang mengelola Perpusda bukanlah seorang pustakawan yang memiliki track record studi pada bidang ilmu perpustakaan. Selain itu, sarana prasarana yang kurang memadai, karena kurangnya dana pun juga sering kali menjadi hambatan dalam melakukan pengadaan koleksi dan memaksimalkan kualitas layanan di sebuah perpustakaan.

Sehingga koleksi dalam sebuah perpustakaan tidak dapat maksimal. Begitu pun pelayanan seperti penyediaan komputer maupun sistem yang digunakan untuk proses sirkulasi dan pencarian buku melalui katalogisasi daring.

Hemat penulis, saat ini apresiasi masyarakat terhadap perpustakaan dapat dikatakan rendah. Karena perpustakaan masih dianggap membosankan oleh sebagian besar masyarakat.  sehingga menimbulkan kesenjangan.

Ketimpangan ini, baik dari sisi sosial budaya, dan kurangnya perhatian terhadap peran perpustakaan sebagai sumber informasi seumur hidup. Sering kali perpustakaan yang didirikan di daerah, yang ditujukan untuk memenuhi dan meratakan literasi di daerah tersebut, malah justru tidak terawat. Dan ditambah kurangnya budaya membaca masyarakatnya.

Pun begitu, dalam permasalahan yang pernah saya hadapi ketika membantu mengelola perpustakaan fakultas. Memang diakui, kesenjangan-kesenjangan perihal SDM, dana, sarana, prasarana, hingga sosial budaya, karena masih kurang maksimalnya perhatian dari lembaga terkait terhadap pengelolaan perpustakaan.

Dampaknya, perpustakaan hanya mampu memberikan pelayanan yang seadanya. Dengan literasi pengelolaan perpustakaan yang seadanya pula, tanpa seorang pustakawan yang memang ahli dalam bidangnya. Walakin, pelayanan dan misi yang diusung perpustakaan kadang tidak tepat sasaran.

 

Lembaga Serupa

Selain perpustakaan, ada lembaga-lembaga informasi lain yang ada di Indonesia juga bernasib sama jika keliru dalam pengelolaannya. Empat kategori yang mahfum dikenal dengan sebutan GLAM, yaitu Gallery, Library, Archieve, dan Museum, yang memiliki peran dan fungsi berbeda baik dalam jenis koleksi dan sistem pengelolaannya. Meskipun pada garis besarnya memiliki kesamaan dalam memberikan informasi kepada masyarakat.

Secara sederhana, berikut peran dan fungsi dari masing-masing lembaga tersebut.

Pertama, Galeri. Tata kelola dan peran Galeri Nasional diatur dalam Undang-Undang Nomor 32 tahun 2005 bahwa Galeri Nasional memiliki tugas untuk mengkaji, melestarikan, mengumpulkan, merawat segala macam yang berkaitan dengan seni rupa dalam bidang administrasi hingga manajerial. Dalam hal ini, Galeri Nasional juga bertugas memublikasikan karya seni rupa baik dalam bentuk pameran sebagai pemenuhan kewajiban dalam memberikan edukasi kepada masyarakat.

Kedua, Arsip. Arsip merupakan lembaga informasi yang berperan dalam hal pelestarian dokumen yang terbagi menjadi dua jenis yaitu arsip statis dan arsip dinamis. ANRI menjadi lembaga yang bertanggung jawab dalam kegiatan pengelolaan berbagai jenis arsip yang ada di Indonesia. Kearsipan sebagai salah satu lembaga informasi di Indonesia memiliki tujuan untuk menjamin terciptanya arsip, menjamin keamanan dan keselamatan arsip sebagai dokumen yang memiliki nilai informasi, nilai hukum, nilai sejarah, dan nilai guna lainnya seperti yang telah tertulis dalam UU No. 27 tahun 2009 tentang Kearsipan.

Ketiga, Museum. Museum memiliki peran krusial sebagai sumber informasi sejarah bagi sebuah bangsa. Tugas dan peran museum pada hakikatnya ialah untuk melestarikan dan menjaga peninggalan sejarah sebagai sumber informasi kesejarahan yang merupakan bentuk dari hasil karya suatu bangsa, agar dapat terus diketahui peninggalan dan kebudayaan bangsa. Museum didirikan memiliki tujuan sebagai lembaga pendidikan, pengkajian, dan rekreasi sesuai ketentuan umum museum pada PP 66 tahun 2015, bahwa museum ialah lembaga yang berfungsi melindungi, mengembangkan, memanfaatkan koleksi, dan mengomunikasikannya kepada masyarakat. (*)

 

*) Mahasiswa asal Banyuwangi, pada Jurusan Ilmu Perpustakaan dan Informasi, Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim, Malang.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/