alexametrics
24.5 C
Banyuwangi
Sunday, June 26, 2022

Guru Kencing Berdiri Murid Kencing Berlari

DARI judul di atas, pasti sudah tidak asing lagi di telinga kita. Sebuah susunan diksi yang memiliki filosofi mendalam bagi para pembacanya. Semua ini adalah perihal akhlak yang harus dimiliki oleh setiap manusia pada umumnya, serta sopan santun antara seorang guru dan murid pada khususnya.

Teringat pada dawuh Abuya Sayyid Muhammad, seorang ulama besar di Makkah, mengenai pentingnya sebuah akhlak, ”Akhlak lebih didahulukan dari pada ilmu”. Betapa pentingnya berperilaku sopan kepada semua insan. Sebab, adab merupakan fondasi raga yang berada di atas segalanya. Walaupun seseorang pandai dalam ilmu pengetahuan tetapi dungu dalam tata krama, maka semuanya akan sia-sia.

Bagaimana seseorang akan mendapatkan ilmu? Sementara ia tak tahu-menahu akhlak tentang menghormati ilmu. Bagaimana seseorang bisa memperoleh ilmu? Apabila ia tak tahu adab untuk memuliakan guru, dan banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang tertuju kepada para pencari ilmu, terutama bagi para murid yang sedang menimba ilmu.

Sebagai murid, tentunya memiliki seorang guru. Maka, wajib bagi murid agar berakhlakul karimah kepada gurunya, meskipun itu temannya sendiri. Setidaknya menghormati guru adalah bentuk supaya ilmu yang didapatkan menjadi ilmu yang manfaat serta berkah kelak.

Di dalam kitab Ta’limul Muta’allim, kitab adab paling fenomenal, ada beberapa cara untuk memulai pembicaraan di dekat guru kecuali dengan izinnya, jangan menanyakan sesuatu ketika guru sedang lelah (yang dapat menimbulkan rasa bosan kepada guru), hendaklah menjaga waktu, dan jangan mengetuk pintu (rumah guru) akan tetapi hendak bersabar sampai beliau keluar. Serta banyak lagi cara yang dapat dilakukan seorang murid kepada guru demi mencari ridho-nya.

Begitu sebaliknya, apabila seorang murid menyakiti hati gurunya maka bersiap untuk tidak mendapatkan keberkahan ilmunya, serta tidak akan bermanfaat ilmu yang diperolehnya.

Sudah banyak peristiwa yang terjadi di lingkup sekolah antara guru dan murid, ada yang mencaci maki gurunya sendiri dengan omongannya yang kasar dan tak tahu diri. Bahkan, sampai ada yang membunuh gurunya tanpa memiliki rasa bersalah sedikit pun. Hal ini seharusnya menjadi pembelajaran bagi kita seorang murid untuk senantiasa menomorsatukan urusan akhlak yang merupakan fondasi raga. Ilmu yang kita istilahkan sebagai bangunan, tanpa adanya fondasi maka runtuh semuanya. Dan yang tersisa hanyalah bongkahan-bongkahan bata yang tidak ada manfaatnya.

Kalau sedari tadi membahas mengenai akhlak murid kepada guru, kini kita beralih kepada sisi yang satunya lagi, yakni dari sang pemberi ilmu atau yang dikenal dengan sebutan guru. Di awal telah disebutkan bahwa akhlak harus dimiliki oleh seluruh manusia tak terkecuali bagi seorang guru yang notabene sebagai contoh bagi siswa-siswinya.

Sehingga sudah sepatutnya, bagi seorang guru untuk lebih menunjukkan akhlak kepada para muridnya. Karena tak jarang seorang guru hanya menyandang gelar sebagai pemberi ilmu tanpa mencerminkan akhlak seorang guru. Sering kali kita lihat guru yang memberikan suatu ilmu, akan tetapi ia sendiri tidak mengamalkan ilmu yang ia berikan.

Contoh kecilnya seperti guru yang menyuruh anak didiknya untuk selalu menjaga kebersihan dengan acuan hadis yang berbunyi ”Kebersihan sebagian dari iman”. Namun, guru itu malah membuang sampah sembarangan. Seakan-akan ia lupa telah mengajarkan sebuah pengetahuan bahwa kebersihan selalu dibenarkan.

Serta ada pula guru yang menginformasikan tentang bersabar, sesuai firman Allah yang artinya ”Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar”. Akan tetapi ia malah marah-marah, ketika muridnya berbuat salah. Lalu siapakah yang patut disalahkan dalam konteks ini?

Pembaca pasti tahu jawabannya sendiri. Sebab, saat ini kita tidak perlu saling menyalahkan, melainkan berbenah diri demi memperbaiki kesalahan yang sebelumnya pernah terjadi. Keteladanan seorang guru kini serupa barang langka yang sulit dicari.

Sebagai contoh bagi para muridnya, tentu profesi guru sangat signifikan terhadap perilaku anak didiknya. Sebab ketika sang pemberi ilmu melakukan hal yang tercela, maka si pencari ilmu pasti akan ikut melakukannya, bahkan lebih parah daripada yang diajarkan oleh gurunya.

Sebagaimana yang tertera pada judul tulisan ini. Apabila sang guru kencing dalam posisi berdiri yang mana tidak dibenarkan dalam adab buang hajat, maka si murid tidak hanya kencing berdiri, mungkin bisa saja ia kencing sambil berlari. Hal itu karena si murid sering melebih-lebihkan suatu perkara yang dilakukan oleh sang guru, sekalipun itu buruk.

Selain karena faktor relasi antara guru dan murid, lingkungan juga memiliki andil yang cukup banyak dalam membentuk sebuah karakter yang bernama akhlak. Perangai yang baik biasanya tercipta dari lingkungan yang baik pula, begitu pun sebaliknya, sikap buruk umumnya berawal dari lingkungan yang buruk.

Tak luput dari hal tersebut, kawan pertemanan juga berperan penting dalam melihat orang tersebut baik atau terbalik. Karena untuk melihat baik tidaknya seseorang lihat saja temannya, apabila temannya baik, ramah, serta rajin menabung, insya Allah orang tersebut akan tertular kebaikannya. Akan tetapi, andai kata kawannya buruk, cuek, serta boros bisa saja orang tersebut terhasut dan terjerumus untuk mengikuti keburukannya, naudzubillahimindzalik.

Sehingga inti dari semuanya tidak lain untuk mengajak pembaca agar menempatkan tata krama di urutan pertama, bukan kedua, ketiga, dan seterusnya. Sebab dunia luar sudah semakin berbahaya. Pergaulan bebas mulai merajalela, pemerkosaan, pencabulan ada di mana-mana, perampokan, pencurian dianggap hal biasa. Serta banyak lagi kasus-kasus yang terjadi di luar sana.

Maka dari itu, salah satu tempat yang benar-benar aman dalam membentengi diri dari ancaman berbahaya di luar sana adalah pondok pesantren namanya. Selain diajarkan tata krama, pesantren juga mengajarkan ilmu agama untuk bekal melawan kejahatan yang sedang marak di negara kita.

Pesantren juga dapat memperbaiki sifat manusia, dari yang sebelumnya tercela, menjadi lebih bijaksana. Karena pesantren merupakan bengkel untuk mengubah akhlak yang rusak demi Indonesia yang damai dan sejahtera. (*)

 

*) Santri di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah, Sukorejo, Situbondo.

DARI judul di atas, pasti sudah tidak asing lagi di telinga kita. Sebuah susunan diksi yang memiliki filosofi mendalam bagi para pembacanya. Semua ini adalah perihal akhlak yang harus dimiliki oleh setiap manusia pada umumnya, serta sopan santun antara seorang guru dan murid pada khususnya.

Teringat pada dawuh Abuya Sayyid Muhammad, seorang ulama besar di Makkah, mengenai pentingnya sebuah akhlak, ”Akhlak lebih didahulukan dari pada ilmu”. Betapa pentingnya berperilaku sopan kepada semua insan. Sebab, adab merupakan fondasi raga yang berada di atas segalanya. Walaupun seseorang pandai dalam ilmu pengetahuan tetapi dungu dalam tata krama, maka semuanya akan sia-sia.

Bagaimana seseorang akan mendapatkan ilmu? Sementara ia tak tahu-menahu akhlak tentang menghormati ilmu. Bagaimana seseorang bisa memperoleh ilmu? Apabila ia tak tahu adab untuk memuliakan guru, dan banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang tertuju kepada para pencari ilmu, terutama bagi para murid yang sedang menimba ilmu.

Sebagai murid, tentunya memiliki seorang guru. Maka, wajib bagi murid agar berakhlakul karimah kepada gurunya, meskipun itu temannya sendiri. Setidaknya menghormati guru adalah bentuk supaya ilmu yang didapatkan menjadi ilmu yang manfaat serta berkah kelak.

Di dalam kitab Ta’limul Muta’allim, kitab adab paling fenomenal, ada beberapa cara untuk memulai pembicaraan di dekat guru kecuali dengan izinnya, jangan menanyakan sesuatu ketika guru sedang lelah (yang dapat menimbulkan rasa bosan kepada guru), hendaklah menjaga waktu, dan jangan mengetuk pintu (rumah guru) akan tetapi hendak bersabar sampai beliau keluar. Serta banyak lagi cara yang dapat dilakukan seorang murid kepada guru demi mencari ridho-nya.

Begitu sebaliknya, apabila seorang murid menyakiti hati gurunya maka bersiap untuk tidak mendapatkan keberkahan ilmunya, serta tidak akan bermanfaat ilmu yang diperolehnya.

Sudah banyak peristiwa yang terjadi di lingkup sekolah antara guru dan murid, ada yang mencaci maki gurunya sendiri dengan omongannya yang kasar dan tak tahu diri. Bahkan, sampai ada yang membunuh gurunya tanpa memiliki rasa bersalah sedikit pun. Hal ini seharusnya menjadi pembelajaran bagi kita seorang murid untuk senantiasa menomorsatukan urusan akhlak yang merupakan fondasi raga. Ilmu yang kita istilahkan sebagai bangunan, tanpa adanya fondasi maka runtuh semuanya. Dan yang tersisa hanyalah bongkahan-bongkahan bata yang tidak ada manfaatnya.

Kalau sedari tadi membahas mengenai akhlak murid kepada guru, kini kita beralih kepada sisi yang satunya lagi, yakni dari sang pemberi ilmu atau yang dikenal dengan sebutan guru. Di awal telah disebutkan bahwa akhlak harus dimiliki oleh seluruh manusia tak terkecuali bagi seorang guru yang notabene sebagai contoh bagi siswa-siswinya.

Sehingga sudah sepatutnya, bagi seorang guru untuk lebih menunjukkan akhlak kepada para muridnya. Karena tak jarang seorang guru hanya menyandang gelar sebagai pemberi ilmu tanpa mencerminkan akhlak seorang guru. Sering kali kita lihat guru yang memberikan suatu ilmu, akan tetapi ia sendiri tidak mengamalkan ilmu yang ia berikan.

Contoh kecilnya seperti guru yang menyuruh anak didiknya untuk selalu menjaga kebersihan dengan acuan hadis yang berbunyi ”Kebersihan sebagian dari iman”. Namun, guru itu malah membuang sampah sembarangan. Seakan-akan ia lupa telah mengajarkan sebuah pengetahuan bahwa kebersihan selalu dibenarkan.

Serta ada pula guru yang menginformasikan tentang bersabar, sesuai firman Allah yang artinya ”Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar”. Akan tetapi ia malah marah-marah, ketika muridnya berbuat salah. Lalu siapakah yang patut disalahkan dalam konteks ini?

Pembaca pasti tahu jawabannya sendiri. Sebab, saat ini kita tidak perlu saling menyalahkan, melainkan berbenah diri demi memperbaiki kesalahan yang sebelumnya pernah terjadi. Keteladanan seorang guru kini serupa barang langka yang sulit dicari.

Sebagai contoh bagi para muridnya, tentu profesi guru sangat signifikan terhadap perilaku anak didiknya. Sebab ketika sang pemberi ilmu melakukan hal yang tercela, maka si pencari ilmu pasti akan ikut melakukannya, bahkan lebih parah daripada yang diajarkan oleh gurunya.

Sebagaimana yang tertera pada judul tulisan ini. Apabila sang guru kencing dalam posisi berdiri yang mana tidak dibenarkan dalam adab buang hajat, maka si murid tidak hanya kencing berdiri, mungkin bisa saja ia kencing sambil berlari. Hal itu karena si murid sering melebih-lebihkan suatu perkara yang dilakukan oleh sang guru, sekalipun itu buruk.

Selain karena faktor relasi antara guru dan murid, lingkungan juga memiliki andil yang cukup banyak dalam membentuk sebuah karakter yang bernama akhlak. Perangai yang baik biasanya tercipta dari lingkungan yang baik pula, begitu pun sebaliknya, sikap buruk umumnya berawal dari lingkungan yang buruk.

Tak luput dari hal tersebut, kawan pertemanan juga berperan penting dalam melihat orang tersebut baik atau terbalik. Karena untuk melihat baik tidaknya seseorang lihat saja temannya, apabila temannya baik, ramah, serta rajin menabung, insya Allah orang tersebut akan tertular kebaikannya. Akan tetapi, andai kata kawannya buruk, cuek, serta boros bisa saja orang tersebut terhasut dan terjerumus untuk mengikuti keburukannya, naudzubillahimindzalik.

Sehingga inti dari semuanya tidak lain untuk mengajak pembaca agar menempatkan tata krama di urutan pertama, bukan kedua, ketiga, dan seterusnya. Sebab dunia luar sudah semakin berbahaya. Pergaulan bebas mulai merajalela, pemerkosaan, pencabulan ada di mana-mana, perampokan, pencurian dianggap hal biasa. Serta banyak lagi kasus-kasus yang terjadi di luar sana.

Maka dari itu, salah satu tempat yang benar-benar aman dalam membentengi diri dari ancaman berbahaya di luar sana adalah pondok pesantren namanya. Selain diajarkan tata krama, pesantren juga mengajarkan ilmu agama untuk bekal melawan kejahatan yang sedang marak di negara kita.

Pesantren juga dapat memperbaiki sifat manusia, dari yang sebelumnya tercela, menjadi lebih bijaksana. Karena pesantren merupakan bengkel untuk mengubah akhlak yang rusak demi Indonesia yang damai dan sejahtera. (*)

 

*) Santri di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah, Sukorejo, Situbondo.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/