alexametrics
25.3 C
Banyuwangi
Thursday, July 7, 2022

MAN NAHNU: PNS 35

Saya kaget. Membaca syarat pendaftaran CPNS (Calon Pegawai Negeri Sipil) Pemkab Banyuwangi itu.

Syarat itu belum diganti. Hingga sekarang. Sejak ditetapkan. Beberapa tahun lalu.

Awalnya saya khawatir. Anda juga, mungkin. 

Kekhawatiran itu memunculkan hipotesis: ribuan CPNS dari luar kota bakal menyerbu Banyuwangi. Ikut seleksi. Mereka akan menyisihkan CPNS putra daerah. Ujung-ujungnya, mereka akan menguasai Pemkab Banyuwangi. Sementara putra-putri terbaik Bumi Blambangan akan tersisih. Menjadi penonton!

Ternyata saya kepeles. Kecele.

Tapi, saya tidak malu. Meski hipotesis saya salah besar.

Sebaliknya, saya merasa bangga besar. Karena jawaban hipotesis saya justru sebaliknya.

Sarjana-sarjana kota Sunrise of Java ternyata sangat hebat. Uwapik-uwapik. Puenter-puenter. Mereka membalikkan prediksi. Sekaligus menjawab keraguan. Bahkan, kekhawatiran sebagian besar masyarakat Banyuwangi. Termasuk saya.

Ndilalah kersane Allah. Secara tidak sengaja, saya mendapatkan data rekrutmen CPNS Banyuwangi. Sejak pemberlakuan IPK sangat tinggi. Yakni 3,5.

Begini bunyi data itu. Total peserta seleksi kompetensi dasar (SKD) CPNS Kota Gandrung berjumlah 1.240 orang. Setelah di-petani, hasilnya cukup mencengangkan. Yang uwong asli Banyuwangi ternyata sebanyak 1.124 orang. Berarti, sisanya yang hanya 116 orang berasal dari luar Banyuwangi. Kalau dipersentase: peserta dari luar kota hanya 9%. Tidak sampai 10% dari total peserta. Sedangkan sebanyak 91% merupakan putra-putri terbaik Banyuwangi. Gila kan!

Yang 91% itu bukan orang Banyuwangi yang tinggal di luar kota, lo. Tapi, mereka adalah orang Banyuwangi dan berdomisili di Banyuwangi.

Salut. Ternyata lare Osing memang pintar-pintar.

Saya tidak kaget atas data itu. Sebab, saya paham betul kualitas SDM (Sumber Daya Manusia) Banyuwangi. Setidaknya dalam lima tahun terakhir. Saat saya menjabat ketua BAZNAS (Badan Amil Zakat Nasional) Banyuwangi. Saya tahu dengan mata saya sendiri. Bukan kata orang.

Kebetulan, BAZNAS memberi beasiswa kepada puluhan mahasiswa Banyuwangi. Dari keluarga tidak mampu. Mereka menerima beasiswa sampai lulus. Beasiswa diserahkan setiap awal semester. Di masa pembayaraan UKT (Uang Kuliah Tunggal).

Penerima beasiswa BAZNAS wajib melampirkan transkrip nilai setiap semester. Saat mengajukan beasiswa semester berikutnya. Dari situ saya tahu. IPK mereka tinggi-tinggi. Paling rendah 3,5. Padahal, mereka kuliah di kampus hebat-hebat. Mulai UGM, ITB, IPB, UNY, Unibraw, UM, Unair, ITS, Unej, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, UIN Jember, dlsb., dst.

Wa ba’du. Masih berdasar data yang saya terima. Setiap tahun PNS Banyuwangi berkurang 400–500 orang. Pensiun. Di sisi lain, tidak setiap tahun ada rekrutmen CPNS. Sebagai penggantinya. Rekrutmen hanya 2–3 tahun. Itu pun jumlahnya tidak seimbang. Njomplang antara yang masuk dan yang pensiun.

Sama dengan perusahaan. Dalam posisi seperti itu, seorang pemimpin (bupati, wali kota, gubernur, bahkan presiden) harus bertindak sebagai seorang entrepreneur. Seperti halnya pemimpin perusahaan.

Bagaimanapun, organisasi pemerintahan tidak boleh terganggu. Bahkan berhenti. Hanya gegara SDM-nya terus berkurang.

Jalan yang bisa ditempuh minimal ada dua. Meningkatkan kemampuan SDM yang ada. Wah, SDM yang ada mayoritas sudah tua. Mendekati pensiun juga. Sulit di-upgrade. Apalagi, di era yang serba digital seperti sekarang. Sangat sulit memaksa mereka untuk ngeh terhadap teknologi. Mentok.

Ambil langkah kedua. Rekrut SDM berkualitas. Yang punya kepandaian dan keahlian di atas rata-rata. Satu orang setara dengan 10 orang. Artinya, pekerjaan yang dulunya dikerjakan 10 orang atau bahkan lebih, bisa dikerjakan hanya orang satu orang. Berkat sistem yang dibuatnya dan juga etos kerjanya.

Rupanya, Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas melakukan dua langkah itu. Sambil terus meng-upgrade kemampuan PNS yang ada, dia melakukan rekrutmen CPNS yang berkualitas. Dia yakin, perpaduan dua langkah itu bisa memperlancar sekaligus mengakselerasi program-program yang sudah disusunnya.

Sudah menjadi rahasia umum, Bupati Anas sangat visioner. Punya visi kuat untuk memajukan Banyuwangi. Lewat program-program unusual. Yang tidak dilakukan oleh pemimpin di daerah lain. Program-program tidak biasa itu harus dikerjakan oleh orang tidak biasa pula. Orang dengan kemampuan khusus.

Dan, tidak sulit mengukur kemampuan seperti itu. Parameter paling gampang adalah IPK. Indeks Prestasi Kumulatif merupakan ukuran kemampuan sarjana. Makin tinggi IPK-nya, makin bagus kemampuannya. Keilmuannya. Dan, dedikasi, loyalitas, serta kreativitas adalah tiga ikutannya.

Betulkah begitu. Kita cek saja langsung. Seperti kondisi Pemkab Banyuwangi. Sekarang. Tepatnya, sejak rekrutmen PNS ber-IPK 3,5. Dibanding dengan sebelumnya.

Ternyata, hasilnya luar biasa. Sebagai orang luar, yang bisa kita lakukan adalah dampak kualitatifnya saja. Sejumlah dinas yang dimasuki banyak PNS ber-IPK tinggi (sebut saja PNS 3,5) mencetak banyak prestasi. Sebut saja, BPKAD. Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah. Kehadiran PNS 3,5 sangat mewarnai. Hasilnya, pemkab Banyuwangi mendapat opini WTP (Wajar Tanpa Pengecualian) untuk laporan keuangan daerah. Selama 8 tahun berturut-turut. 

Beda lagi yang di Dinas Kominfo. Support SDM muda ber-IPK 3,5 memudahkan pelaksanaan E-govt (E-government). Walhasil, Banyuwangi diganjar juara SPBE (Sistem Pemetaan Berbasis Elektronik).

Yang tak kalah bergengsinya, SDM muda brilian di Bappeda berhasil mengantarkan badan yang menjadi otaknya pembangunan itu menjadi juara perencanaan nasional.

Ingat, SDM muda alias PNS 3,5 itu mayoritas asli Banyuwangi. Seperti itu faktanya. Tidak kurang tidak lebih. Dan, mereka telah mengharumkan Banyuwangi. Membanggakan masyarakat Banyuwangi.

Sulit untuk membantahnya. Kecuali, jika Anda menerima data yang salah. (Budayawan, Penyair Banyuwangi).

Saya kaget. Membaca syarat pendaftaran CPNS (Calon Pegawai Negeri Sipil) Pemkab Banyuwangi itu.

Syarat itu belum diganti. Hingga sekarang. Sejak ditetapkan. Beberapa tahun lalu.

Awalnya saya khawatir. Anda juga, mungkin. 

Kekhawatiran itu memunculkan hipotesis: ribuan CPNS dari luar kota bakal menyerbu Banyuwangi. Ikut seleksi. Mereka akan menyisihkan CPNS putra daerah. Ujung-ujungnya, mereka akan menguasai Pemkab Banyuwangi. Sementara putra-putri terbaik Bumi Blambangan akan tersisih. Menjadi penonton!

Ternyata saya kepeles. Kecele.

Tapi, saya tidak malu. Meski hipotesis saya salah besar.

Sebaliknya, saya merasa bangga besar. Karena jawaban hipotesis saya justru sebaliknya.

Sarjana-sarjana kota Sunrise of Java ternyata sangat hebat. Uwapik-uwapik. Puenter-puenter. Mereka membalikkan prediksi. Sekaligus menjawab keraguan. Bahkan, kekhawatiran sebagian besar masyarakat Banyuwangi. Termasuk saya.

Ndilalah kersane Allah. Secara tidak sengaja, saya mendapatkan data rekrutmen CPNS Banyuwangi. Sejak pemberlakuan IPK sangat tinggi. Yakni 3,5.

Begini bunyi data itu. Total peserta seleksi kompetensi dasar (SKD) CPNS Kota Gandrung berjumlah 1.240 orang. Setelah di-petani, hasilnya cukup mencengangkan. Yang uwong asli Banyuwangi ternyata sebanyak 1.124 orang. Berarti, sisanya yang hanya 116 orang berasal dari luar Banyuwangi. Kalau dipersentase: peserta dari luar kota hanya 9%. Tidak sampai 10% dari total peserta. Sedangkan sebanyak 91% merupakan putra-putri terbaik Banyuwangi. Gila kan!

Yang 91% itu bukan orang Banyuwangi yang tinggal di luar kota, lo. Tapi, mereka adalah orang Banyuwangi dan berdomisili di Banyuwangi.

Salut. Ternyata lare Osing memang pintar-pintar.

Saya tidak kaget atas data itu. Sebab, saya paham betul kualitas SDM (Sumber Daya Manusia) Banyuwangi. Setidaknya dalam lima tahun terakhir. Saat saya menjabat ketua BAZNAS (Badan Amil Zakat Nasional) Banyuwangi. Saya tahu dengan mata saya sendiri. Bukan kata orang.

Kebetulan, BAZNAS memberi beasiswa kepada puluhan mahasiswa Banyuwangi. Dari keluarga tidak mampu. Mereka menerima beasiswa sampai lulus. Beasiswa diserahkan setiap awal semester. Di masa pembayaraan UKT (Uang Kuliah Tunggal).

Penerima beasiswa BAZNAS wajib melampirkan transkrip nilai setiap semester. Saat mengajukan beasiswa semester berikutnya. Dari situ saya tahu. IPK mereka tinggi-tinggi. Paling rendah 3,5. Padahal, mereka kuliah di kampus hebat-hebat. Mulai UGM, ITB, IPB, UNY, Unibraw, UM, Unair, ITS, Unej, UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, UIN Jember, dlsb., dst.

Wa ba’du. Masih berdasar data yang saya terima. Setiap tahun PNS Banyuwangi berkurang 400–500 orang. Pensiun. Di sisi lain, tidak setiap tahun ada rekrutmen CPNS. Sebagai penggantinya. Rekrutmen hanya 2–3 tahun. Itu pun jumlahnya tidak seimbang. Njomplang antara yang masuk dan yang pensiun.

Sama dengan perusahaan. Dalam posisi seperti itu, seorang pemimpin (bupati, wali kota, gubernur, bahkan presiden) harus bertindak sebagai seorang entrepreneur. Seperti halnya pemimpin perusahaan.

Bagaimanapun, organisasi pemerintahan tidak boleh terganggu. Bahkan berhenti. Hanya gegara SDM-nya terus berkurang.

Jalan yang bisa ditempuh minimal ada dua. Meningkatkan kemampuan SDM yang ada. Wah, SDM yang ada mayoritas sudah tua. Mendekati pensiun juga. Sulit di-upgrade. Apalagi, di era yang serba digital seperti sekarang. Sangat sulit memaksa mereka untuk ngeh terhadap teknologi. Mentok.

Ambil langkah kedua. Rekrut SDM berkualitas. Yang punya kepandaian dan keahlian di atas rata-rata. Satu orang setara dengan 10 orang. Artinya, pekerjaan yang dulunya dikerjakan 10 orang atau bahkan lebih, bisa dikerjakan hanya orang satu orang. Berkat sistem yang dibuatnya dan juga etos kerjanya.

Rupanya, Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas melakukan dua langkah itu. Sambil terus meng-upgrade kemampuan PNS yang ada, dia melakukan rekrutmen CPNS yang berkualitas. Dia yakin, perpaduan dua langkah itu bisa memperlancar sekaligus mengakselerasi program-program yang sudah disusunnya.

Sudah menjadi rahasia umum, Bupati Anas sangat visioner. Punya visi kuat untuk memajukan Banyuwangi. Lewat program-program unusual. Yang tidak dilakukan oleh pemimpin di daerah lain. Program-program tidak biasa itu harus dikerjakan oleh orang tidak biasa pula. Orang dengan kemampuan khusus.

Dan, tidak sulit mengukur kemampuan seperti itu. Parameter paling gampang adalah IPK. Indeks Prestasi Kumulatif merupakan ukuran kemampuan sarjana. Makin tinggi IPK-nya, makin bagus kemampuannya. Keilmuannya. Dan, dedikasi, loyalitas, serta kreativitas adalah tiga ikutannya.

Betulkah begitu. Kita cek saja langsung. Seperti kondisi Pemkab Banyuwangi. Sekarang. Tepatnya, sejak rekrutmen PNS ber-IPK 3,5. Dibanding dengan sebelumnya.

Ternyata, hasilnya luar biasa. Sebagai orang luar, yang bisa kita lakukan adalah dampak kualitatifnya saja. Sejumlah dinas yang dimasuki banyak PNS ber-IPK tinggi (sebut saja PNS 3,5) mencetak banyak prestasi. Sebut saja, BPKAD. Badan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah. Kehadiran PNS 3,5 sangat mewarnai. Hasilnya, pemkab Banyuwangi mendapat opini WTP (Wajar Tanpa Pengecualian) untuk laporan keuangan daerah. Selama 8 tahun berturut-turut. 

Beda lagi yang di Dinas Kominfo. Support SDM muda ber-IPK 3,5 memudahkan pelaksanaan E-govt (E-government). Walhasil, Banyuwangi diganjar juara SPBE (Sistem Pemetaan Berbasis Elektronik).

Yang tak kalah bergengsinya, SDM muda brilian di Bappeda berhasil mengantarkan badan yang menjadi otaknya pembangunan itu menjadi juara perencanaan nasional.

Ingat, SDM muda alias PNS 3,5 itu mayoritas asli Banyuwangi. Seperti itu faktanya. Tidak kurang tidak lebih. Dan, mereka telah mengharumkan Banyuwangi. Membanggakan masyarakat Banyuwangi.

Sulit untuk membantahnya. Kecuali, jika Anda menerima data yang salah. (Budayawan, Penyair Banyuwangi).

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/