Rabu, 27 Oct 2021
Radar Banyuwangi
Home / Kolom
icon featured
Kolom

Berbuat Maslahat di Masa Pandemi

Oleh: Heliya Ihromi*

07 September 2021, 10: 35: 59 WIB | editor : Ali Sodiqin

Berbuat Maslahat di Masa Pandemi

Share this      

COVID-19 telah menelan banyak korban di Indonesia. Banyak pihak yang menganggap pemerintah kurang tanggap dalam menangani pandemi. Kalau aturan ditegakkan sejak awal, penularan dan korban yang jatuh mungkin tidak sebanyak ini. Akan tetapi, pemerintah bukan satu-satunya pihak yang bersalah, karena dibutuhkan kerja sama dari semua pihak untuk penanganan pandemi.

Berdasar informasi dari Kementerian Kesehatan dan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, protokol kesehatan yang wajib ditaati masyarakat adalah menjaga kebersihan tangan dengan rutin mencuci tangan dengan sabun atau menggunakan hand sanitizer. Hal lain yang tidak kalah penting adalah menggunakan masker ketika keluar rumah, bahkan sekarang dianjurkan untuk memakai masker ganda dengan kombinasi masker medis dan kain. Tidak lupa juga untuk menjaga jarak, menghindari kerumunan, dan tentunya melakukan vaksin.

Bagaimanapun, pandemi ini memang sangat berdampak besar bagi perekonomian masyarakat. Banyak tempat kerja tutup sehingga terjadi pemutusan kerja dan UMKM sangat sulit bertahan. Namun di sisi lain, virus mengancam siapa saja yang bekerja dan berinteraksi dengan orang lain. Oleh karena itu, masyarakat tentu harus selalu melaksanakan upaya protokol kesehatan yang telah ditetapkan supaya pandemi bisa diatasi.

Baca juga: Pembukaan Wisata, Pelepas Dahaga Pengelola

Saat ini vaksin menjadi salah satu protokol kesehatan yang harus dilakukan. Sayangnya, kurangnya edukasi membuat masyarakat menjadi skeptis terhadap alasan kenapa harus vaksin. Salah satu upaya pemerintah untuk ”memaksa” masyarakat supaya mau vaksin adalah dengan mewajibkan sertifikat vaksin untuk berbagai keperluan, seperti memasuki pusat perbelanjaan dan perjalanan keluar kota. Namun hal ini juga memiliki kekurangan, karena masyarakat menjadi berpikiran untuk melakukan vaksin bukan untuk kesehatan, melainkan hanya untuk administrasi.

Melalui vaksin, tubuh akan terlindungi dengan cara membentuk respons antibodi tanpa harus sakit terlebih dahulu. Artinya, vaksin Covid-19 mampu melindungi tubuh seseorang dari infeksi virus korona. Kalaupun tubuh terinfeksi, vaksin bisa membantu mencegah tubuh dari potensi munculnya komplikasi serius. Selain itu, juga membantu melindungi orang lain dari paparan virus korona, terutama untuk kelompok orang yang berisiko tinggi terkena masalah medis yang parah karena Covid-19.

Setelah vaksin, seseorang tetap harus menjalankan protokol kesehatan karena kekebalan dari vaksin baru optimal setidaknya satu bulan setelah memperoleh suntikan vaksin dosis kedua. Jadi, dia tetap perlu memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan, menghindari kerumunan, dan membatasi mobilitas.

Namun sangat disayangkan karena distribusi vaksin ini belum merata. Ada beberapa daerah yang stok vaksinnya sedikit, hingga menimbulkan kerumunan saat warga mengantre vaksin. Pada beberapa puskesmas di Surabaya, misalnya, terjadi keributan dan berebut antrean sejak pagi untuk memperoleh vaksin dosis kedua.

Untuk mengatasinya, anggota DPRD Kota Surabaya mengusulkan dua aspek untuk mengatur undangan ke warga. Pertama, rentang waktu jadwal pemberian dosis dua. Kedua, menggunakan pertimbangan epidemiologi, misalnya mengutamakan pemberian dosis dua untuk lansia dan pemilik komorbid. Dengan demikian, masyarakat akan lebih tertib saat antre vaksin tanpa melanggar protokol kesehatan.

Setelah melaksanakan vaksin, seseorang akan memperoleh sertifikat vaksin yang bisa diunduh melalui aplikasi PeduliLindungi dan dicetak sendiri. Sertifikat vaksin ini terintegrasi dengan Sistem Baru Kartu Kewaspadaan Kesehatan dan protokol kesehatan yang baru. Maksudnya, sertifikat ini nanti dipakai sebagai syarat baru untuk bisa menghadiri atau menyelenggarakan acara-acara besar.

Selain itu, sertifikat vaksin juga menjadi syarat perjalanan di masa PPKM darurat. Namun, wacana tersebut masih dalam tahap pembicaraan lebih lanjut, karena menunggu populasi penduduk Indonesia yang divaksin mencapai 30–40%.

Kebijakan di atas memang bisa memaksa masyarakat untuk melakukan vaksinasi. Namun kebijakan ini bisa menimbulkan masalah lain, seperti anggapan bahwa vaksin hanya untuk urusan administrasi hingga pemalsuan sertifikat vaksin.

Mirisnya, meski sudah setahun lebih pandemi, teori konspirasi terkait rumah sakit ”meng-covid-kan” masih saja dipercaya. Penyangkalan ini berujung dengan anggapan bahwa orang yang sakit pasti akan dinyatakan sebagai pasien korona, sehingga banyak yang enggan menerapkan protokol kesehatan, tidak memeriksakan diri ketika sakit, dan selalu curiga pada tenaga kesehatan.

Covid-19 memang bisa menjadi salah satu penyebab flu. Jadi, apabila orang yang bergejala flu di-swab antigen/PCR menunjukkan hasil positif Covid-19, maka memang ada virus atau materi genetik di tubuh orang itu. Meski seseorang terserang flu, namun hasil tesnya negatif, maka tidak akan dinyatakan positif. Untuk kehati-hatian, rumah sakit akan menganggap seseorang positif Covid-19 terlebih dulu sampai terbukti negatif, bukan bermaksud ”meng-covid-kan”.

Daripada terus berdebat mengenai isu tersebut, lebih baik fokus untuk berbuat yang maslahat seperti membantu tetangga yang terdampak atau terpapar Covid-19, membantu penyuplai oksigen melalui lembaga amal, dan lain-lain. Ringkasnya, kita lakukan hal-hal seperti mematuhi protokol kesehatan, menjaga komunikasi untuk memberi dukungan, hingga memberi bantuan secara finansial.

Upaya terbaik yang bisa dilakukan untuk melindungi diri sendiri dan orang lain dalam pandemi ini adalah menaati protokol kesehatan, terutama memakai masker. Dengan memakai masker, terutama ketika sakit, Anda akan melindungi orang lain dari penularan penyakit tersebut. Perbuatan sederhana namun berarti banyak untuk menyelamatkan orang lain. (*)

*) Guru di MTsN 2 Banyuwangi.

(bw/*/als/JPR)

©2021 PT. JawaPos Group Multimedia