alexametrics
25.5 C
Banyuwangi
Wednesday, July 6, 2022

Tradisi dan Adat Istiadat Desa dalam Bayang-Bayang Modernisasi

Hingga tahun 2000-an, masyarakat desa yang memiliki televisi masih bisa dihitung dengan jari. Mungkin hanya dua hingga tiga orang dalam satu dusun. Kala itu televisi adalah barang mewah. Hanya orang-orang berkecukupan yang memilikinya. Akhirnya nyaris saban malam anggota keluarga yang tidak memilikinya berkumpul di rumah salah seorang warga untuk nonton bareng.

Hal positifnya, setiap kali waktu iklan, obrolan-obrolan yang memacu keakraban sering terjadi. Tema yang dibicarakan cukup beragam, mulai dari pertanian, peternakan, hingga urusan pernikahan.

Sepuluh tahun berikutnya, terlihat pemandangan yang sangat kontras. Televisi menjadi barang privat. Setiap keluarga sudah memilikinya. Bahkan, dalam satu rumah bisa terdapat lebih dari satu televisi, tergantung jumlah kamar dan keluarga. Akibatnya, masyarakat desa tidak lagi tertarik untuk berkumpul seperti periode sebelumnya guna mendapatkan hiburan atau sekadar basa-basi.

Teknologi tidak hanya menggeser generasi tua, kaum milenial juga ikutan terseret. Sebagai contoh, permainan tradisional yang biasa dimainkan oleh anak-anak saat ini juga jarang ditemui di pedesaan. Hampir setiap anak asyik bermain dengan ponsel. Teknologi memaksa anak-anak agar lebih akrab dengan jenis permainan daring dibanding permainan tradisional.

Inilah yang terjadi di tengah masyarakat desa, khususnya di kawasan Tapal Kuda, Jawa Timur. Corak utama masyarakat desa yang tradisional, memiliki ikatan sosial erat, pola interaksi intensif, dan sebagainya mulai hilang. Teknologi telah menghilangkan banyak hal yang sangat bernilai dari masyarakat desa.

 

Kontestasi Antar-Generasi

Kalau diamati, sebenarnya kemajuan teknologi cukup sering menjadi pemicu ketegangan antara kelompok tua yang lahir sekitar tahun 1970-an dengan generasi 1990-an. Generasi kedua dapat dibilang sebagai native teknologi yang sangat mahir menggunakannya. Nyaris segala bentuk kebutuhan, hiburan, maupun tugas-tugas sekolah dikerjakan dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi. Khususnya ponsel dan laptop.

Sebaliknya, mayoritas generasi tua tidak melek teknologi. Sehingga pekerjaan sehari-hari lebih sering dioperasikan secara manual. Dan kadang mereka memandang sinis teknologi.

Lebih dari itu, ketegangan antargenerasi berada dalam domain nilai dan norma. Secara tidak langsung kemajuan teknologi memengaruhi eksistensi dan transmisi dua hal tersebut. Sejumlah kasus yang biasa dijumpai di desa, seorang anak asyik bermain gawai sehingga lalai berangkat ke Madrasah Diniyah, malas mengikuti bimbingan membaca Alquran di masjid, lebih gemar menyendiri di rumah daripada bersosialisasi dengan keluarga dan tetangga.

Kejadian semacam itu kerap terjadi di semua daerah. Seperti berita waktu lalu, bocah kecanduan game sehingga tidak mau belajar. Akhirnya ibu berinisiatif memoleskan zat pewarna hitam pada kedua kelopak mata anak.

Ide sang ibu bekerja dengan baik, saat anak bangun dari tidur langsung merasa ketakutan dan jera bermain game online. Sepintas kasus ini terlihat baik-baik saja, bahkan lucu. Namun secara psikologis, tentu tidak baik karena berpotensi trauma, juga tidak langsung mengajari anak berbohong.

Dalam kasus di atas, keberadaan teknologi dan lunturnya nilai-norma semata-mata media dan efek, bukan sebagai faktor. Hemat penulis, ada dua faktor yang melatarbelakangi ketegangan:

Pertama, orang tua gagap memahami kemajuan teknologi, sehingga gagal mengantisipasi dan menyelesaikan hal-hal negatif yang ditimbulkan teknologi. Masih ada sejumlah orang tua yang menyalahkan teknologi, dan bahkan sama sekali melarang anaknya menggunakannya. Namun alih-alih melindungi anak dari efek negatif teknologi, justru membuat anak ketinggalan informasi dan perkembangan zaman.

Kedua, adalah lemahnya kontrol pada diri anak. Generasi muda atau anak adalah kelas kedua dalam struktur keluarga. Logikanya, segala sesuatu yang ada pada diri anak baik fisik maupun psikis adalah turunan dari orang tua, khususnya ayah dan ibu. Artinya, alat-alat canggih milik anak kemungkinan besar dari orang tua, sehingga orang tua seharusnya sadar atas efek yang ditimbulkan dan mengetahui cara menanggulangi sisi negatifnya.

Demikian juga masalah mental, lemahnya kontrol. Anak adalah hasil imitasi dan kreasi orang tua. Anak yang memiliki kontrol lemah atas tindakan dan perilakunya kemungkinan besar adalah titik kulminatif dari proses kehidupan yang dijalaninya bersama keluarga. Anak tidak akan lalai dengan kewajiban belajar, ketika ayah atau ibu sudah lebih awal membangun sistem yang baik. Sebagai contoh, keluarga membuat perjanjian kapan dan di mana anak boleh menggunakan gawai, serta target apa saja yang harus dilakukan sebelum dan sesudahnya. Dalam konteks kehidupan masyarakat desa, upaya ini perlu dilakukan sebelum benar-benar terlambat.

 

Ancaman Modernisasi

Modernisasi tidak hanya mengancam integrasi sosial, tetapi juga merambah pada aspek sufistik masyarakat desa, seperti berprasangka baik, keikhlasan, kepasrahan, ke-ta’dziman, dan keberkahan. Karena sebagian besar penduduk desa termasuk para pemuka agama sudah memiliki akun media sosial. Mereka sama-sama gemar mengunggah foto, menulis status, dan memberi komentar atas unggahan orang lain.

Sepanjang aktivitas di media daring masih dalam koridor, maka bermedia sosial tidak menjadi masalah. Bahkan, dapat dijadikan sebagai media dakwah. Namun bagaimanapun, tak dapat dinafikan bahwa dunia maya sarat berita bohong, ujaran kebencian, pornografi, dan hal negatif lainnya. Maka sangat memungkinkan algoritme tersebut berhasil mendiami alam bawah sadar masyarakat desa, sehingga pada gilirannya akan menjadi referensi dalam bersikap dan berperilaku.

Ada sejumlah bukti warga desa terpapar tindakan negatif. Dua di antaranya adalah pencabulan yang dilakukan oleh anak SD terhadap temannya, dan insiden sekelompok pemuda yang nyaris mati karena menenggak oplosan yang diketahuinya dari media sosial.

Aplikasi WhatsApp juga sangat populer sejak beberapa tahun terakhir. Bahkan, penggunaan aplikasi ini lebih intens dibanding media online lainnya. Namun, filter terhadap pesan atau berita yang diterima sangat lemah. Sepanjang pesan tersebut diperoleh dari orang tertentu dan atau menyangkut hal-hal yang sifatnya emosional, serta berkaitan dengan keagamaan, maka pesan tersebut mudah untuk dipercayai dan disebarkan tanpa melakukan pengecekan terlebih dahulu.

YouTube dan Instagram juga digemari warga desa. Ada pengajian dari YouTube. Di satu sisi, ini dapat dikatakan positif karena para jamaah bisa menghemat tenaga dan biaya. Selain itu, streaming bisa membuat jamaah di tempat jauh bisa tetap istikamah mengikuti pengajian.

Namun, cepat atau lambat, kemudahan ini berpotensi memengaruhi kondisi kejiwaan jamaah. Minimal mereka akan berpikir dua kali untuk datang langsung ke tempat acara, toh pengajian dapat dinikmati dari rumah. Jika asumsi ini benar-benar terjadi, maka hampir dapat dipastikan ikatan emosional antara seorang murid dengan guru kian hari akan semakin memudar.

Sementara, tidak semua pengajian online berdasarkan Islam moderat, banyak di antaranya justru berasal dari juru dakwah yang berpaham radikal. Bahayanya, kemasan dan tampilan dakwah yang diasuh oleh kelompok radikal sangat menarik, sehingga mampu menyedot perhatian.

YouTube juga berhasil mengubah orientasi masyarakat desa. Satu dasawarsa sebelumnya, anak-anak desa masih bercita-cita menjadi seorang dokter, guru, tentara, ustad, dan presiden. Namun sekarang, mereka lebih tertarik menjadi YouTuber karena mudah terkenal dan mendapatkan banyak penghasilan. Fenomena ini otomatis menyebabkan bidang pertanian, perkebunan, atau peternakan, semakin tidak diminati oleh kawula muda.

 

Menakhodai Modernisasi

Modernisasi berbeda dengan globalisasi dan westernisasi. Modernisasi lebih kepada kecanggihan dan penggunaan teknologi secara masif, terlepas apakah di dalamnya ada misi westernisasi atau bisa berdampak pada penyatuan ruang dan waktu: global. Yang jelas, hemat penulis, modernisasi juga berpeluang untuk dimanfaatkan demi kemaslahatan warga desa tanpa harus merusak dan menanggalkan tradisi daerah. Pasalnya, tradisi dan adat istiadat adalah konten, sementara modernisasi adalah media yang dapat diperbantukan untuk mempromosikan konten.

Ada banyak cara yang bisa dilakukan agar tradisi kedaerahan tetap eksis di tengah gempuran globalisasi. Sedikitnya ada tiga cara:

Pertama, pendekatan budaya. Kepala desa bersama pemerintah kabupaten secara rutin menggelar festival budaya meliputi pameran lukisan dan keunggulan masing-masing desa, pelatihan membatik dan menari, pementasan drama kedaerahan, serta lomba permainan tradisional. Bersamaan dengan itu, pemangku kekuasaan seyogianya memberikan apresiasi yang sangat tinggi kepada tokoh atau kelompok yang terbukti konsisten menggerakkan masyarakat untuk tetap ingat dan menjalankan tradisi dan kebudayaan setempat.

Kedua, pendekatan birokratis. Pemerintah daerah harus melakukan inventarisasi kebudayaan, tradisi, atau kekayaan lainnya untuk kemudian di-branding menjadi kelebihan desa. Penggalakan kebudayaan juga bisa ditempuh dengan cara sederhana lainnya, seperti mengenakan karya warga desa baik berupa batik atau kerajinan lainnya.

Ketiga, pendekatan keluarga. Usaha yang harus dilakukan oleh setiap keluarga adalah mengenalkan adat istiadat dan tradisi setempat kepada anak sejak dini. Sebab pengenalan sejarah, kebudayaan, serta nilai dan norma yang kuat akan mampu menjadi penyeimbang arus modernisasi dan tantangan zaman. (*)

 

*) ASN Pemkab Situbondo.

Hingga tahun 2000-an, masyarakat desa yang memiliki televisi masih bisa dihitung dengan jari. Mungkin hanya dua hingga tiga orang dalam satu dusun. Kala itu televisi adalah barang mewah. Hanya orang-orang berkecukupan yang memilikinya. Akhirnya nyaris saban malam anggota keluarga yang tidak memilikinya berkumpul di rumah salah seorang warga untuk nonton bareng.

Hal positifnya, setiap kali waktu iklan, obrolan-obrolan yang memacu keakraban sering terjadi. Tema yang dibicarakan cukup beragam, mulai dari pertanian, peternakan, hingga urusan pernikahan.

Sepuluh tahun berikutnya, terlihat pemandangan yang sangat kontras. Televisi menjadi barang privat. Setiap keluarga sudah memilikinya. Bahkan, dalam satu rumah bisa terdapat lebih dari satu televisi, tergantung jumlah kamar dan keluarga. Akibatnya, masyarakat desa tidak lagi tertarik untuk berkumpul seperti periode sebelumnya guna mendapatkan hiburan atau sekadar basa-basi.

Teknologi tidak hanya menggeser generasi tua, kaum milenial juga ikutan terseret. Sebagai contoh, permainan tradisional yang biasa dimainkan oleh anak-anak saat ini juga jarang ditemui di pedesaan. Hampir setiap anak asyik bermain dengan ponsel. Teknologi memaksa anak-anak agar lebih akrab dengan jenis permainan daring dibanding permainan tradisional.

Inilah yang terjadi di tengah masyarakat desa, khususnya di kawasan Tapal Kuda, Jawa Timur. Corak utama masyarakat desa yang tradisional, memiliki ikatan sosial erat, pola interaksi intensif, dan sebagainya mulai hilang. Teknologi telah menghilangkan banyak hal yang sangat bernilai dari masyarakat desa.

 

Kontestasi Antar-Generasi

Kalau diamati, sebenarnya kemajuan teknologi cukup sering menjadi pemicu ketegangan antara kelompok tua yang lahir sekitar tahun 1970-an dengan generasi 1990-an. Generasi kedua dapat dibilang sebagai native teknologi yang sangat mahir menggunakannya. Nyaris segala bentuk kebutuhan, hiburan, maupun tugas-tugas sekolah dikerjakan dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi. Khususnya ponsel dan laptop.

Sebaliknya, mayoritas generasi tua tidak melek teknologi. Sehingga pekerjaan sehari-hari lebih sering dioperasikan secara manual. Dan kadang mereka memandang sinis teknologi.

Lebih dari itu, ketegangan antargenerasi berada dalam domain nilai dan norma. Secara tidak langsung kemajuan teknologi memengaruhi eksistensi dan transmisi dua hal tersebut. Sejumlah kasus yang biasa dijumpai di desa, seorang anak asyik bermain gawai sehingga lalai berangkat ke Madrasah Diniyah, malas mengikuti bimbingan membaca Alquran di masjid, lebih gemar menyendiri di rumah daripada bersosialisasi dengan keluarga dan tetangga.

Kejadian semacam itu kerap terjadi di semua daerah. Seperti berita waktu lalu, bocah kecanduan game sehingga tidak mau belajar. Akhirnya ibu berinisiatif memoleskan zat pewarna hitam pada kedua kelopak mata anak.

Ide sang ibu bekerja dengan baik, saat anak bangun dari tidur langsung merasa ketakutan dan jera bermain game online. Sepintas kasus ini terlihat baik-baik saja, bahkan lucu. Namun secara psikologis, tentu tidak baik karena berpotensi trauma, juga tidak langsung mengajari anak berbohong.

Dalam kasus di atas, keberadaan teknologi dan lunturnya nilai-norma semata-mata media dan efek, bukan sebagai faktor. Hemat penulis, ada dua faktor yang melatarbelakangi ketegangan:

Pertama, orang tua gagap memahami kemajuan teknologi, sehingga gagal mengantisipasi dan menyelesaikan hal-hal negatif yang ditimbulkan teknologi. Masih ada sejumlah orang tua yang menyalahkan teknologi, dan bahkan sama sekali melarang anaknya menggunakannya. Namun alih-alih melindungi anak dari efek negatif teknologi, justru membuat anak ketinggalan informasi dan perkembangan zaman.

Kedua, adalah lemahnya kontrol pada diri anak. Generasi muda atau anak adalah kelas kedua dalam struktur keluarga. Logikanya, segala sesuatu yang ada pada diri anak baik fisik maupun psikis adalah turunan dari orang tua, khususnya ayah dan ibu. Artinya, alat-alat canggih milik anak kemungkinan besar dari orang tua, sehingga orang tua seharusnya sadar atas efek yang ditimbulkan dan mengetahui cara menanggulangi sisi negatifnya.

Demikian juga masalah mental, lemahnya kontrol. Anak adalah hasil imitasi dan kreasi orang tua. Anak yang memiliki kontrol lemah atas tindakan dan perilakunya kemungkinan besar adalah titik kulminatif dari proses kehidupan yang dijalaninya bersama keluarga. Anak tidak akan lalai dengan kewajiban belajar, ketika ayah atau ibu sudah lebih awal membangun sistem yang baik. Sebagai contoh, keluarga membuat perjanjian kapan dan di mana anak boleh menggunakan gawai, serta target apa saja yang harus dilakukan sebelum dan sesudahnya. Dalam konteks kehidupan masyarakat desa, upaya ini perlu dilakukan sebelum benar-benar terlambat.

 

Ancaman Modernisasi

Modernisasi tidak hanya mengancam integrasi sosial, tetapi juga merambah pada aspek sufistik masyarakat desa, seperti berprasangka baik, keikhlasan, kepasrahan, ke-ta’dziman, dan keberkahan. Karena sebagian besar penduduk desa termasuk para pemuka agama sudah memiliki akun media sosial. Mereka sama-sama gemar mengunggah foto, menulis status, dan memberi komentar atas unggahan orang lain.

Sepanjang aktivitas di media daring masih dalam koridor, maka bermedia sosial tidak menjadi masalah. Bahkan, dapat dijadikan sebagai media dakwah. Namun bagaimanapun, tak dapat dinafikan bahwa dunia maya sarat berita bohong, ujaran kebencian, pornografi, dan hal negatif lainnya. Maka sangat memungkinkan algoritme tersebut berhasil mendiami alam bawah sadar masyarakat desa, sehingga pada gilirannya akan menjadi referensi dalam bersikap dan berperilaku.

Ada sejumlah bukti warga desa terpapar tindakan negatif. Dua di antaranya adalah pencabulan yang dilakukan oleh anak SD terhadap temannya, dan insiden sekelompok pemuda yang nyaris mati karena menenggak oplosan yang diketahuinya dari media sosial.

Aplikasi WhatsApp juga sangat populer sejak beberapa tahun terakhir. Bahkan, penggunaan aplikasi ini lebih intens dibanding media online lainnya. Namun, filter terhadap pesan atau berita yang diterima sangat lemah. Sepanjang pesan tersebut diperoleh dari orang tertentu dan atau menyangkut hal-hal yang sifatnya emosional, serta berkaitan dengan keagamaan, maka pesan tersebut mudah untuk dipercayai dan disebarkan tanpa melakukan pengecekan terlebih dahulu.

YouTube dan Instagram juga digemari warga desa. Ada pengajian dari YouTube. Di satu sisi, ini dapat dikatakan positif karena para jamaah bisa menghemat tenaga dan biaya. Selain itu, streaming bisa membuat jamaah di tempat jauh bisa tetap istikamah mengikuti pengajian.

Namun, cepat atau lambat, kemudahan ini berpotensi memengaruhi kondisi kejiwaan jamaah. Minimal mereka akan berpikir dua kali untuk datang langsung ke tempat acara, toh pengajian dapat dinikmati dari rumah. Jika asumsi ini benar-benar terjadi, maka hampir dapat dipastikan ikatan emosional antara seorang murid dengan guru kian hari akan semakin memudar.

Sementara, tidak semua pengajian online berdasarkan Islam moderat, banyak di antaranya justru berasal dari juru dakwah yang berpaham radikal. Bahayanya, kemasan dan tampilan dakwah yang diasuh oleh kelompok radikal sangat menarik, sehingga mampu menyedot perhatian.

YouTube juga berhasil mengubah orientasi masyarakat desa. Satu dasawarsa sebelumnya, anak-anak desa masih bercita-cita menjadi seorang dokter, guru, tentara, ustad, dan presiden. Namun sekarang, mereka lebih tertarik menjadi YouTuber karena mudah terkenal dan mendapatkan banyak penghasilan. Fenomena ini otomatis menyebabkan bidang pertanian, perkebunan, atau peternakan, semakin tidak diminati oleh kawula muda.

 

Menakhodai Modernisasi

Modernisasi berbeda dengan globalisasi dan westernisasi. Modernisasi lebih kepada kecanggihan dan penggunaan teknologi secara masif, terlepas apakah di dalamnya ada misi westernisasi atau bisa berdampak pada penyatuan ruang dan waktu: global. Yang jelas, hemat penulis, modernisasi juga berpeluang untuk dimanfaatkan demi kemaslahatan warga desa tanpa harus merusak dan menanggalkan tradisi daerah. Pasalnya, tradisi dan adat istiadat adalah konten, sementara modernisasi adalah media yang dapat diperbantukan untuk mempromosikan konten.

Ada banyak cara yang bisa dilakukan agar tradisi kedaerahan tetap eksis di tengah gempuran globalisasi. Sedikitnya ada tiga cara:

Pertama, pendekatan budaya. Kepala desa bersama pemerintah kabupaten secara rutin menggelar festival budaya meliputi pameran lukisan dan keunggulan masing-masing desa, pelatihan membatik dan menari, pementasan drama kedaerahan, serta lomba permainan tradisional. Bersamaan dengan itu, pemangku kekuasaan seyogianya memberikan apresiasi yang sangat tinggi kepada tokoh atau kelompok yang terbukti konsisten menggerakkan masyarakat untuk tetap ingat dan menjalankan tradisi dan kebudayaan setempat.

Kedua, pendekatan birokratis. Pemerintah daerah harus melakukan inventarisasi kebudayaan, tradisi, atau kekayaan lainnya untuk kemudian di-branding menjadi kelebihan desa. Penggalakan kebudayaan juga bisa ditempuh dengan cara sederhana lainnya, seperti mengenakan karya warga desa baik berupa batik atau kerajinan lainnya.

Ketiga, pendekatan keluarga. Usaha yang harus dilakukan oleh setiap keluarga adalah mengenalkan adat istiadat dan tradisi setempat kepada anak sejak dini. Sebab pengenalan sejarah, kebudayaan, serta nilai dan norma yang kuat akan mampu menjadi penyeimbang arus modernisasi dan tantangan zaman. (*)

 

*) ASN Pemkab Situbondo.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/