Medsos Sebagai Media Dakwah Era Modern

Oleh: Aji Raihan Zandani*

BELAKANGAN ini, kegiatan tulis menulis dan surat menyurat di kertas kian berkurang. Terutama di kalangan masyarakat. Masyarakat yang dahulu untuk mengetahui kabar dari seseorang atau pun ingin memberikan sebuah informasi terhadap khalayak ramai, haruslah dengan cara ditulis terlebih dahulu, kemudian dikirimkan melalui pos.

Namun seiring berjalannya waktu, kegiatan tersebut mulai berkurang di kalangan masyarakat. Saat ini masyarakat dikenalkan oleh sesuatu yang baru berupa media sosial atau yang sering kita kenal sebagai media sosial (medsos).

Penggunaan medsos sekarang ini telah menyebar ke berbagai arah. Bahkan kini sudah banyak yang menggunakan medsos tersebut. Mulai kalangan anak-anak, hingga kalangan dewasa. Semua tidak akan lepas dengan yang namanya sosial media.

Sama seperti namanya yakni sosial media, sosial artinya bagaimana kita berhubungan dengan orang banyak, dan media sebagai alat yang akan digunakan untuk bersosial dengan masyarakat. Jadi sosial media adalah cara kita berinteraksi dan berhubungan dengan masyarakat, dengan menggunakan alat atau media tertentu.

Contoh media sosial yang sering digunakan seperti, Google, Facebook, Instagram, Twitter, atau media sosial lainnya. Saat ini masyarakat tidak perlu repot untuk mengetahui kabar dari luar. Misalnya ingin mengetahui kabar tentang sepak bola, tinggal lihat di medsos tersebut. Atau yang ingin tahu tentang erupsi Gunung Semeru, dan kabar seputar korban dari erupsi. Hal ini dengan mudah bisa didapatkan informasinya melalui media sosial. Tak perlu lama-lama untuk menunggu surat kabar, walau pun surat kabar tersebut masih ada hingga sekarang.

Baca Juga :  Literasi Lingkungan, Jihad Ekologi di Tengah Pandemi

Namun, di perkembangan zaman yang semakin maju ini. Banyak orang yang menyalahgunakan media sosial. Seperti halnya, membuat berita palsu atau hoax, pencemaran nama baik, hingga terjadinya sikut sana sikut sini antara golongan beragama. Dan yang paling parah lagi, adalah membuat sistem penipuan melalui media sosial.

Hal ini terjadi karena, kurangnya kecerdasan emosional dan kepandaian bersosial yang melekat pada diri orang-orang tersebut. Yang pada awalnya, media sosial diadakan untuk mempermudah masyarakat untuk mengetahui suatu informasi yang belum didapatkan dan sekaligus untuk menjalin hubungan sosial dengan masyarakat lainnya, malah digunakan untuk kepentingan menyebar berita palsu. Juga disalahgunakan untuk merendahkan harga diri seseorang. Sehingga terjadilah perpecahan di antara mereka.

Baca Juga :  Dampak Global Warming, Populasi Penyu Terancam

Oleh karena itu, sebagai umat Islam yang merupakan agama pembawa rahmat bagi alam, kita haruslah pandai-pandai dalam menggunakan media sosial. Jadikan media sosial sebagai ladang dakwah bagi kita. Sampaikan berita-berita kebenaran. Saling menjaga agar tidak ada perselisihan antara umat beragama. Dan saling menghargai, terhadap apa yang telah mereka sampaikan.

Kita boleh mengkritik seseorang atau pun seorang pejabat misalnya, gunakan kritik yang sekiranya dapat diterima dan masuk akal. Bukan malah dengan kritik yang menjatuhkan.

Begitu pula ketika kita ingin menyampaikan sebuah informasi. Sajikan dengan baik dan benar. Agar supaya tidak ada unsur-unsur pemalsuan atau hoax. Hingga pada akhirnya, informasi yang kita sampaikan melalui media sosial bisa diterima oleh khalayak ramai. Dan tidak ada yang merasa dijatuhkan hingga harga dirinya.

Dengan demikian, jadikan media sosial sebagai jalan dakwah kita masa kini. Dengan cara memanfaatkan kecanggihan teknologi untuk menjalin hubungan harmoni. Serta mengurangi perpecahan di Bumi Pertiwi.  (*)

 *) Mahasiswa Fakutas Dakwah Prodi KPI, Universitas Ibrahimy, Sukorejo, Situbondo.