alexametrics
24.3 C
Banyuwangi
Thursday, August 11, 2022

Pembangunan Manusia Jawa Timur di Masa Pandemi

SALAH satu target pembangunan nasional adalah indeks pembangunan manusia, di samping tingkat pengangguran terbuka, tingkat kemiskinan, dan indeks GINI. Dipertegas lagi pada RPJMN 2020–2021 yang memuat Nawacita kedua Presiden Joko Widodo, di mana salah satu arahan utama atau prioritasnya adalah membangun SDM pekerja keras yang dinamis, produktif, terampil, menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi didukung dengan kerja sama industri dan talenta global. Tujuan prioritas ini adalah untuk mewujudkan manusia Indonesia yang berkualitas dan berdaya saing, manusia Indonesia yang sehat, cerdas, adaptif, kreatif, inovatif, dan terampil serta bermartabat.

Oleh Gubernur Khofifah Indar Parawansa, IPM yang merupakan indeks komposit dari dimensi kesehatan, dimensi pengetahuan, dan dimensi kesejahteraan juga dijadikan sebagai salah satu indikator kinerja utama Pemprov Provinsi Jatim. Karena IPM merupakan salah satu instrumen untuk mengetahui seberapa jauh capaian keberhasilan pembangunan manusia di Jatim dan dalam batas-batas tertentu IPM bisa mewakili tujuan dari pembangunan manusia.

Konsep pembangunan manusia menempatkan penduduk sebagai subjek dari serangkaian proses pembangunan dengan penekanan pada perluasan pilihan dan peningkatan kemampuannya sekaligus menciptakan suatu lingkungan yang memungkinkan penduduk hidup lebih lama, lebih sehat, serta memiliki kreativitas untuk mengaktualisasikan gagasan. Pembangunan manusia juga menempatkan penduduk sebagai objek dari proses pembangunan yang diharapkan dapat menciptakan peluang-peluang yang secara langsung menyumbang upaya memperluas dan meningkatkan kemampuan dan kualitas kehidupannya.

Komponen pembentuk IPM adalah dimensi umur panjang dan hidup sehat yang didasarkan pada variabel umur harapan hidup, dimensi pengetahuan yang didasarkan pada variabel harapan lama sekolah dan variabel angka rata-rata lama sekolah, dan dimensi standar hidup layak yang didasarkan pada variabel pengeluaran per kapita per tahun yang disesuaikan. Tiga unsur yang selalu didambakan setiap manusia: umur panjang dan sehat, cerdas, dan sejahtera.

Dalam penyusunan IPM, variabel-variabel pembentuknya tidak terlepas dari kaidah-kaidah demografi. Misalnya variabel umur harapan hidup tidak akan mungkin bertambah lebih dari satu poin. UHH bisa bertambah satu poin selama satu tahun dengan catatan jika selama setahun tidak ada penduduk yang meninggal. Hal yang mustahil. Kalau Pemprov Jatim ingin meningkatkan UHH sampai mendekati satu poin, maka yang bisa dilakukan adalah dengan meminimalkan angka kematian, terutama angka kematian bayi. Jika angka kematian bisa ditekan, maka umur harapan hidup bisa meningkat.

Baca Juga :  Membuktikan Marwah Dewan Pengawas KPK

Untuk variabel harapan lama sekolah dan variabel rata-rata lama sekolah juga sulit untuk bisa bertambah satu poin setiap tahunnya. Tergantung pada tingkat partisipasi sekolah. Semakin tinggi tingkat partisipasi sekolah pada semua jenjang pendidikan, maka bisa semakin besar penambahan poin setiap tahunnya pada dimensi pengetahuan. Kalau penerapan program wajib belajar 9 tahun bahkan 12 tahun bisa berhasil, akan berdampak langsung kepada variabel harapan lama sekolah menjadi semakin besar. Sedangkan penerapan program kejar paket untuk penduduk 25 tahun ke atas akan berdampak kepada variabel rata-rata lama sekolah menjadi semakin besar.

Sementara hanya pada dimensi standar hidup layak saja yang bisa memberi kontribusi tinggi terhadap IPM. Bahkan bisa berlipat, tergantung pada pertumbuhan ekonomi dan pemerataan pendapatan. Kalau pertumbuhan ekonomi tinggi dan ketimpangan pendapatannya rendah, maka pertumbuhan ekonominya bisa dinikmati oleh sebagian besar penduduk, yang berarti pendapatannya semakin besar yang diikuti dengan pengeluaran yang semakin besar. Sehingga pada akhirnya variabel pengeluaran per kapita per tahun menjadi semakin besar. Dengan demikian kontribusi terhadap IPM bisa semakin tinggi. Kuncinya adalah pertumbuhan ekonomi yang tercipta adalah pertumbuhan ekonomi inklusif, pertumbuhan ekonomi yang bisa dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat.

Pada akhir tahun 2020, BPS Jatim telah merilis angka IPM. Tampak bahwa pandemi Covid-19 membawa pengaruh terhadap keberhasilan pembangunan manusia di Jatim. Walaupun capaian keberhasilan pembangunan manusia Jatim di masa pandemi relatif masih cukup baik, namun mengalami perlambatan pertumbuhan. BPS mencatat IPM Jatim tahun 2020 sebesar 71,71; hanya lebih baik 0,21 poin atau tumbuh 0,29 persen. Pertumbuhan ini menempati peringkat ke 5 nasional dan pertumbuhan tertinggi di Pulau Jawa. Hal ini mengindikasikan bahwa capaian keberhasilan pembangunan manusia di Jatim relatif lebih baik dari provinsi lainnya terutama di Pulau Jawa. Kalau dilihat peringkatnya, IPM Jatim tetap berada di posisi ke 15.

Perlambatan pertumbuhan IPM Jatim tahun 2020 dipengaruhi oleh turunnya rata-rata pengeluaran per kapita yang disesuaikan. Variabel ini turun dari 11,74 juta rupiah pada tahun 2019 menjadi 11,60 juta rupiah pada tahun 2020. Meskipun dimensi standar hidup layak mengalami penurunan, namun patut disyukuri bahwa pandemi Covid-19 di Jatim tidak berdampak buruk kepada dimensi umur panjang dan hidup sehat dan dimensi pengetahuan. Kedua dimensi ini masih bisa meningkat, walaupun kecil. Dari sisi kesehatan, bayi yang lahir di Jatim pada tahun 2020 memiliki harapan untuk dapat hidup hingga 71,30 tahun, lebih lama 0,12 tahun dibandingkan dengan bayi yang lahir pada tahun sebelumnya. Dari sisi pendidikan, anak-anak yang berusia 7 tahun memiliki harapan dapat menikmati pendidikan selama 13,19 tahun atau hampir setara dengan lamanya waktu untuk menamatkan pendidikan hingga setingkat dengan Diploma I. Angka ini meningkat 0,03 tahun dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 13,16 tahun. Selain itu, rata-rata lama sekolah penduduk umur 25 tahun ke atas juga masih meningkat 0,18 tahun, dari 7,59 tahun pada tahun 2019 menjadi 7,78 tahun pada tahun 2020.

Baca Juga :  Strategi Mendobrak Pintu PTN via SNMPTN

Meskipun program vaksinasi Covid-19 sudah berjalan, tetapi butuh waktu lama untuk men-vaksinasi seluruh penduduk. Pemerintah menargetkan program vaksinasi baru akan selesai pada awal tahun 2022. Ini berarti pandemi Covid-19 pada tahun 2021 masih akan mempengaruhi capaian pembangunan manusia. Tantangan pembangunan manusia pada 2021 masih akan sama seperti pada 2020.

Dari gambaran di atas, di masa pandemi Covid-19 apabila Pemprov Jatim ingin angka IPM masih bisa meningkat, maka paling tidak harus bisa mempertahankan kecepatan kemajuan pembangunan manusia-nya atau bahkan bisa lebih. Agar variabel pengeluaran per kapita per tahun yang disesuaikan tidak turun lagi, maka kebijakan pemulihan ekonomi secara cepat dan komprehensif yang berdampak pada peningkatan pendapatan masyarakat, harus dimaksimalkan. Tetapi harus dibarengi dengan optimalisasi penerapan prokes (5M) yang lebih ketat lagi. Sehingga roda ekonomi bisa tetap berjalan dan kasus positif Covid-19 bisa dihambat. Kita tunggu apakah tahun ini capaian pembangunan manusia (IPM) di Jatim akan tetap mampu tumbuh positif atau justru mengalami kemunduran. (*)

 

*) Bekerja pada BPS Provinsi Jawa Timur.

SALAH satu target pembangunan nasional adalah indeks pembangunan manusia, di samping tingkat pengangguran terbuka, tingkat kemiskinan, dan indeks GINI. Dipertegas lagi pada RPJMN 2020–2021 yang memuat Nawacita kedua Presiden Joko Widodo, di mana salah satu arahan utama atau prioritasnya adalah membangun SDM pekerja keras yang dinamis, produktif, terampil, menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi didukung dengan kerja sama industri dan talenta global. Tujuan prioritas ini adalah untuk mewujudkan manusia Indonesia yang berkualitas dan berdaya saing, manusia Indonesia yang sehat, cerdas, adaptif, kreatif, inovatif, dan terampil serta bermartabat.

Oleh Gubernur Khofifah Indar Parawansa, IPM yang merupakan indeks komposit dari dimensi kesehatan, dimensi pengetahuan, dan dimensi kesejahteraan juga dijadikan sebagai salah satu indikator kinerja utama Pemprov Provinsi Jatim. Karena IPM merupakan salah satu instrumen untuk mengetahui seberapa jauh capaian keberhasilan pembangunan manusia di Jatim dan dalam batas-batas tertentu IPM bisa mewakili tujuan dari pembangunan manusia.

Konsep pembangunan manusia menempatkan penduduk sebagai subjek dari serangkaian proses pembangunan dengan penekanan pada perluasan pilihan dan peningkatan kemampuannya sekaligus menciptakan suatu lingkungan yang memungkinkan penduduk hidup lebih lama, lebih sehat, serta memiliki kreativitas untuk mengaktualisasikan gagasan. Pembangunan manusia juga menempatkan penduduk sebagai objek dari proses pembangunan yang diharapkan dapat menciptakan peluang-peluang yang secara langsung menyumbang upaya memperluas dan meningkatkan kemampuan dan kualitas kehidupannya.

Komponen pembentuk IPM adalah dimensi umur panjang dan hidup sehat yang didasarkan pada variabel umur harapan hidup, dimensi pengetahuan yang didasarkan pada variabel harapan lama sekolah dan variabel angka rata-rata lama sekolah, dan dimensi standar hidup layak yang didasarkan pada variabel pengeluaran per kapita per tahun yang disesuaikan. Tiga unsur yang selalu didambakan setiap manusia: umur panjang dan sehat, cerdas, dan sejahtera.

Dalam penyusunan IPM, variabel-variabel pembentuknya tidak terlepas dari kaidah-kaidah demografi. Misalnya variabel umur harapan hidup tidak akan mungkin bertambah lebih dari satu poin. UHH bisa bertambah satu poin selama satu tahun dengan catatan jika selama setahun tidak ada penduduk yang meninggal. Hal yang mustahil. Kalau Pemprov Jatim ingin meningkatkan UHH sampai mendekati satu poin, maka yang bisa dilakukan adalah dengan meminimalkan angka kematian, terutama angka kematian bayi. Jika angka kematian bisa ditekan, maka umur harapan hidup bisa meningkat.

Baca Juga :  Covid-19 Ajarkan Hidup Lebih Bersih

Untuk variabel harapan lama sekolah dan variabel rata-rata lama sekolah juga sulit untuk bisa bertambah satu poin setiap tahunnya. Tergantung pada tingkat partisipasi sekolah. Semakin tinggi tingkat partisipasi sekolah pada semua jenjang pendidikan, maka bisa semakin besar penambahan poin setiap tahunnya pada dimensi pengetahuan. Kalau penerapan program wajib belajar 9 tahun bahkan 12 tahun bisa berhasil, akan berdampak langsung kepada variabel harapan lama sekolah menjadi semakin besar. Sedangkan penerapan program kejar paket untuk penduduk 25 tahun ke atas akan berdampak kepada variabel rata-rata lama sekolah menjadi semakin besar.

Sementara hanya pada dimensi standar hidup layak saja yang bisa memberi kontribusi tinggi terhadap IPM. Bahkan bisa berlipat, tergantung pada pertumbuhan ekonomi dan pemerataan pendapatan. Kalau pertumbuhan ekonomi tinggi dan ketimpangan pendapatannya rendah, maka pertumbuhan ekonominya bisa dinikmati oleh sebagian besar penduduk, yang berarti pendapatannya semakin besar yang diikuti dengan pengeluaran yang semakin besar. Sehingga pada akhirnya variabel pengeluaran per kapita per tahun menjadi semakin besar. Dengan demikian kontribusi terhadap IPM bisa semakin tinggi. Kuncinya adalah pertumbuhan ekonomi yang tercipta adalah pertumbuhan ekonomi inklusif, pertumbuhan ekonomi yang bisa dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat.

Pada akhir tahun 2020, BPS Jatim telah merilis angka IPM. Tampak bahwa pandemi Covid-19 membawa pengaruh terhadap keberhasilan pembangunan manusia di Jatim. Walaupun capaian keberhasilan pembangunan manusia Jatim di masa pandemi relatif masih cukup baik, namun mengalami perlambatan pertumbuhan. BPS mencatat IPM Jatim tahun 2020 sebesar 71,71; hanya lebih baik 0,21 poin atau tumbuh 0,29 persen. Pertumbuhan ini menempati peringkat ke 5 nasional dan pertumbuhan tertinggi di Pulau Jawa. Hal ini mengindikasikan bahwa capaian keberhasilan pembangunan manusia di Jatim relatif lebih baik dari provinsi lainnya terutama di Pulau Jawa. Kalau dilihat peringkatnya, IPM Jatim tetap berada di posisi ke 15.

Perlambatan pertumbuhan IPM Jatim tahun 2020 dipengaruhi oleh turunnya rata-rata pengeluaran per kapita yang disesuaikan. Variabel ini turun dari 11,74 juta rupiah pada tahun 2019 menjadi 11,60 juta rupiah pada tahun 2020. Meskipun dimensi standar hidup layak mengalami penurunan, namun patut disyukuri bahwa pandemi Covid-19 di Jatim tidak berdampak buruk kepada dimensi umur panjang dan hidup sehat dan dimensi pengetahuan. Kedua dimensi ini masih bisa meningkat, walaupun kecil. Dari sisi kesehatan, bayi yang lahir di Jatim pada tahun 2020 memiliki harapan untuk dapat hidup hingga 71,30 tahun, lebih lama 0,12 tahun dibandingkan dengan bayi yang lahir pada tahun sebelumnya. Dari sisi pendidikan, anak-anak yang berusia 7 tahun memiliki harapan dapat menikmati pendidikan selama 13,19 tahun atau hampir setara dengan lamanya waktu untuk menamatkan pendidikan hingga setingkat dengan Diploma I. Angka ini meningkat 0,03 tahun dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai 13,16 tahun. Selain itu, rata-rata lama sekolah penduduk umur 25 tahun ke atas juga masih meningkat 0,18 tahun, dari 7,59 tahun pada tahun 2019 menjadi 7,78 tahun pada tahun 2020.

Baca Juga :  Utang dan Hak Warga Negara

Meskipun program vaksinasi Covid-19 sudah berjalan, tetapi butuh waktu lama untuk men-vaksinasi seluruh penduduk. Pemerintah menargetkan program vaksinasi baru akan selesai pada awal tahun 2022. Ini berarti pandemi Covid-19 pada tahun 2021 masih akan mempengaruhi capaian pembangunan manusia. Tantangan pembangunan manusia pada 2021 masih akan sama seperti pada 2020.

Dari gambaran di atas, di masa pandemi Covid-19 apabila Pemprov Jatim ingin angka IPM masih bisa meningkat, maka paling tidak harus bisa mempertahankan kecepatan kemajuan pembangunan manusia-nya atau bahkan bisa lebih. Agar variabel pengeluaran per kapita per tahun yang disesuaikan tidak turun lagi, maka kebijakan pemulihan ekonomi secara cepat dan komprehensif yang berdampak pada peningkatan pendapatan masyarakat, harus dimaksimalkan. Tetapi harus dibarengi dengan optimalisasi penerapan prokes (5M) yang lebih ketat lagi. Sehingga roda ekonomi bisa tetap berjalan dan kasus positif Covid-19 bisa dihambat. Kita tunggu apakah tahun ini capaian pembangunan manusia (IPM) di Jatim akan tetap mampu tumbuh positif atau justru mengalami kemunduran. (*)

 

*) Bekerja pada BPS Provinsi Jawa Timur.

Artikel Terkait

Most Read

UMKM Yang Smart

Bangga sekaligus Pilu

Artikel Terbaru

/