alexametrics
25.6 C
Banyuwangi
Thursday, August 11, 2022

Catatan: Hasan Basri

Kiling dan Ekspresi Religiusitas Masyarakat Oseng

RADAR BANYUWANGI – Manjer kiling sudah menjadi tradisi masyarakat Oseng sejak dahulu. Memang, sejauh ini kami belum menemukan referensi kapan tradisi itu bermula. Sepanjang yang kami tahu, tulisan tentang kiling tidak ditemui pada dokumen-dokumen lama, seperti tulisan atau laporan orang Belanda. Maka dari itu, kita bisa menerka bahwa tradisi manjer kiling tersebut bermula kurang lebih pada akhir abad ke-18.

Yang jelas, masyarakat Banyuwangi memaknai kiling tersebut bermacam-macam. Masyarakat agraris memiliki ketergantungan sangat tinggi dengan alam atau dengan kekuatan adi-kodrati. Nah, kiling bisa berbunyi tergantung tiupan angin yang notabene merupakan kekuatan alam semesta. Maka, ada yang memaknai kiling sebagai pengiling-iling atau media untuk mengingat kepada Tuhan Yang Mahakuasa, Sang Pencipta Alam Semesta.

Baca Juga :  Kerentanan Buruh Tani

Sedangkan dari unsur filosofi, kiling terdiri dari dua bagian. Sebelah kanan dan sebelah kiri. Dua sisi tersebut masing-masing merupakan bagian lanang (laki-laki) dan bagian wadon (perempuan).

Artinya, kepercayaan kuno masih melekat di situ. Kepercayaan bahwa asal mula kejadian alam atau manusia tidak bisa dimungkiri ada unsur laki-laki dan perempuan. Seperti bumi yang dilambangkan sebagai ibu (perempuan) dan langit sebagai perlambang laki-laki. Maka, kiling juga sebagai ekspresi ketuhanan atau paham religiusitas masyarakat Banyuwangi.

Sementara itu, dari sisi tempat pemasangannya, kiling selalu ditempatkan atau dipanjer di tempat yang tinggi. Membuat panjer kiling harus susah payah, memasangnya pun harus susah payah. Ini menjadi simbol bahwa mengingat-ingat Tuhan Yang Mahakuasa adalah sesuatu yang diperjuangkan. Rasa ketuhanan tidak bisa hadir secara sendiri. Harus melalui ibadah, seperti puasa, dan lain sebagainya.

Baca Juga :  Hujan Meramaikan Awal Tahun 2021

Di samping makna filosofis tersebut, dahulu kiling juga menjadi salah satu simbol status sosial seseorang. Seseorang yang memiliki kiling yang panjang dan besar serta ditempatkan di tempat yang bagus, maka status sosial petani atau pemilik kiling tersebut akan meningkat. (sgt/bay/c1)

RADAR BANYUWANGI – Manjer kiling sudah menjadi tradisi masyarakat Oseng sejak dahulu. Memang, sejauh ini kami belum menemukan referensi kapan tradisi itu bermula. Sepanjang yang kami tahu, tulisan tentang kiling tidak ditemui pada dokumen-dokumen lama, seperti tulisan atau laporan orang Belanda. Maka dari itu, kita bisa menerka bahwa tradisi manjer kiling tersebut bermula kurang lebih pada akhir abad ke-18.

Yang jelas, masyarakat Banyuwangi memaknai kiling tersebut bermacam-macam. Masyarakat agraris memiliki ketergantungan sangat tinggi dengan alam atau dengan kekuatan adi-kodrati. Nah, kiling bisa berbunyi tergantung tiupan angin yang notabene merupakan kekuatan alam semesta. Maka, ada yang memaknai kiling sebagai pengiling-iling atau media untuk mengingat kepada Tuhan Yang Mahakuasa, Sang Pencipta Alam Semesta.

Baca Juga :  Kerentanan Buruh Tani

Sedangkan dari unsur filosofi, kiling terdiri dari dua bagian. Sebelah kanan dan sebelah kiri. Dua sisi tersebut masing-masing merupakan bagian lanang (laki-laki) dan bagian wadon (perempuan).

Artinya, kepercayaan kuno masih melekat di situ. Kepercayaan bahwa asal mula kejadian alam atau manusia tidak bisa dimungkiri ada unsur laki-laki dan perempuan. Seperti bumi yang dilambangkan sebagai ibu (perempuan) dan langit sebagai perlambang laki-laki. Maka, kiling juga sebagai ekspresi ketuhanan atau paham religiusitas masyarakat Banyuwangi.

Sementara itu, dari sisi tempat pemasangannya, kiling selalu ditempatkan atau dipanjer di tempat yang tinggi. Membuat panjer kiling harus susah payah, memasangnya pun harus susah payah. Ini menjadi simbol bahwa mengingat-ingat Tuhan Yang Mahakuasa adalah sesuatu yang diperjuangkan. Rasa ketuhanan tidak bisa hadir secara sendiri. Harus melalui ibadah, seperti puasa, dan lain sebagainya.

Baca Juga :  Begini Cara Memaksimalkan Fitur-Fitur Smartphone Sejutaan yang Lebih Lancar

Di samping makna filosofis tersebut, dahulu kiling juga menjadi salah satu simbol status sosial seseorang. Seseorang yang memiliki kiling yang panjang dan besar serta ditempatkan di tempat yang bagus, maka status sosial petani atau pemilik kiling tersebut akan meningkat. (sgt/bay/c1)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/