alexametrics
25.1 C
Banyuwangi
Friday, August 12, 2022

Kemuliaan Terpatri Sepanjang Masa

Momen yang selalu menyadarkan kepada kita semua, jasa mulia yang tak kunjung sirna. Bahkan, setiap tanggal 22 Desember, kita sebagai masyarakat Indonesia, tidak terkecuali juga masyarakat Banyuwangi, selalu diingatkan untuk mengabadikan pengorbanan ibu untuk diperingati.

Mengapa setiap tanggal 22 Desember selalu kita peringati sebagai Hari Ibu? Karena pada tanggal 22 Desember 1928 merupakan tonggak sejarah, seluruh organisasi perempuan tanah air yang berasal dari wilayah Sumatera dan Jawa menyelenggarakan kongres perempuan yang pertama kali di Dalem Jayadipura Yogyakarta yang diikuti 600 peserta dari 30 organisasi.

Lahirnya hari ibu, kala itu juga tidak luput dari peran dan perjuangan beberapa kaum ibu di abad 19 seperti Cut Nyak Dhien, Cut Muti’ah, R.A. Kartini, M. Christina Tiahahu, Dewi Sartika, Nyai Ahmad Dahlan, dan Walanda Maramis. Dilangsungkannya pertemuan tersebut atas dasar kesamaan pandangan politik untuk mengubah dan memperjuangkan nasib kaum perempuan di Indonesia.

Bahkan, Presiden Soekarno melalui Ketetapan No 316 tahun 1959, Negara Indonesia mengukuhkan bahwa setiap tanggal 22 Desember diperingati sebagai Hari Ibu, dikandung maksud mengajak bangsa Indonesia untuk mendukung semangat kaum wanita Indonesia dalam meningkatkan kesadaran berbangsa dan bernegara.

Mengapa ibu begitu pentingnya untuk kita peringati. Karena peran dan jasa seorang ibu begitu tulus, ikhlas, dan sabar di keseharian yang bergelut dengan urusan rumah tangganya. Di sela-sela lainnya juga menjalankan peran ganda, mendidik dan membimbing anak-anaknya untuk mengantarkan perjalanan yang terbingkai keteladanan guna mengarungi tatanan kehidupan dalam meraih kesuksesan. Melalui tempaan dan besutan seorang ibu, anak juga mampu menjalani peradaban menuju kehidupan yang berujung pada kemanfaatan.

Sehingga tidak berlebihan kalau seorang ibu memang sepantasnya selalu kita kenang dan peringati jasa-jasa ketulusannya. Karena di tangan sang bunda muncul dan terlahir anak-anak penerus bangsa yang memiliki dedikasi tinggi, prestasi cemerlang, sikap mencintai, dan menghargai satu sama lainnya. Berkat jasa ibu terlahir kaum perempuan sukses.

Sebutlah contoh Tri Rismaharini sebagai Wali Kota Surabaya, yang banyak mendapatkan penghargaan atas kepemimpinannya. Sri Mulyani, perempuan Indonesia pertama yang pernah menjabat Direktur Pelaksana Bank Dunia, yang kini menjabat sebagai Menteri Keuangan,  dan banyak sosok wanita sukses lainnya.

Perempuan sebagai sosok ibu yang luar biasa beliau bisa berbagi peran (multiperan). Jika di rumah dia bisa menjadi seorang ibu untuk anak-anaknya dan menjadi seorang istri bagi suaminya. Namun, dalam pekerjaannya dia bisa menjadi pemimpin. Bahkan,terkadang pekerjaan keras dan seberat apa pun yang dikerjakan laki-laki bisa dijalaninya.

Baca Juga :  Santri Entrepreneur Pesantren

Karena itu, perempuan masa kini menyadari seberat apa pun perjalanan yang bergelut terhadap akses ekonomi, politik, sosial, dan bidang lainnya harus siap melakoni. Karena pengorbanan dan perjuangan, baik jiwa maupun raga di mana seorang ibu yang begitu tulus tanpa ada rasa mengeluh dan tanpa berharap balasan apa-apa. Di mana ibu mengandung selama sembilan bulan sampai melahirkannya. Siang dan malam ibu begitu tulus kasih sayang dan cintanya tiada tara selama dua tahun menyusui dan menggendong bayi kesayangannya. Bahkan, begitu besar ketulusan pengorbanan seorang ibu kepada anaknya, sampai dikatakan bahwa surga berada di telapak kaki ibu.

Begitu besar pengorbanan dan kasih sayang seorang ibu yang dicurahkan kepada anaknya. Sehingga setinggi  penghargaan, bahkan kebaikan sebesar apa pun yang dilakukan oleh anak kepada ibu tidak akan mampu membalas apa yang telah dilakukan oleh ibunya. Kita sebagai insan yang terlahir dari perut dan melalui rahim ibu bahkan dengan taruhan nyawa, maka selayaknya kita wajib untuk bersikap dan memuliakan ibu yang telah membesarkan kita. Di samping ibu merupakan sosok wanita paling berjasa bagi setiap insan manusia yang telah memberikan pengorbanan kepada anaknya yang begitu tulus dengan curahan tenaga, jiwa bahkan nyawa, namun sedikit pun tidak tebersit berharap balasan apa-apa dari anaknya.

Seorang ibu di sepanjang perjuangan dan pengorbanan mendidik anak-anaknya, setiap hari dan di setiap sepertiga malam tidak terlewatkan selalu memanjatkan doa yang begitu tulus dengan penuh asa di hadapan  Allah Yang Mahakuasa dengan tetesan air mata. Seraya memohon semoga kelak anaknya menjadi hamba yang saleh dan salehah, yang terlingkupi akhlak mulia yang selalu memberi kemanfaatan kepada sesama.

Apalagi di saat ini tahun 2020 di masa pandemi Covid-19, pemerintah khususnya di sektor pendidikan melalui surat edaran Mendikbud mulai tanggal 16 Maret 2020 menyatakan bahwa kegiatan proses pembelajaran harus dilaksanakan secara daring atau dalam istilah lain Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) atau belajar dari rumah (BDR) yang sampai saat ini sudah berjalan selama kurang lebih sembilan bulan.

Sehingga selama sembilan bulan itu pula, anak-anak harus belajar dari rumah. Ini tentunya akan mengimpit perilaku siswa yang dirasakan lama-lama akan merasa jenuh, selalu diselimuti rasa malas, bahkan yang memprihatinkan berimplikasi secara psikologis anak tidak sedikit yang berujung merasakan stres. Bahkan menurut laporan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyebutkan bahwa banyak anak di usia sekolah (siswa) mengalami tekanan secara psikologis bahkan berujung putus sekolah. Hal ini diperjelas berdasar survei yang dilakukan oleh Ikatan Psikologi Klinis (IPK) mengatakan bahwa 23% siswa mengalami perilaku strss akibat pembelajaran daring selama Covid-19 berlangsung di Indonesia.

Baca Juga :  Apresiasi untuk Sebuah Karya Seni

Maka dengan melihat begitu besarnya dampak yang diakibatkan pembelajaran secara daring selama pandemi Covid-19, di sini dibutuhkan kehadiran sosok ibu berperan dalam mendampingi anak-anaknya dalam melaksanakan pembelajaran dari rumah. Di samping agar proses pembelajaran secara daring berjalan sebagaimana mestinya, juga mengutamakan keselamatan dan kesehatan anak selama pandemi Covid-19.

Lantas, bagaimana respons seorang ibu dalam menyikapi situasi pembelajaran yang dilakukan oleh siswa secara daring. Maka lagi-lagi peran dan curahan seorang ibu yang menjadi garda depan dalam mengelola, mendidik, memelihara, dan mengasuh serta mendampingi anak-anaknya saat melaksanakan pembelajaran dari rumah. Memang berat tugas seorang ibu mendampingi anaknya dalam pembelajaran jarak jauh atau belajar yang dilakukan dari rumah di saat pandemi Covid-19.

Namun karena ketulusan pengorbanan seorang ibu, seberat apa pun yang dijalani. Demi kesuksesan dan masa depan anaknya tidak sedikit pun merasa mengeluh dan putus asa. Sehingga harus diakui bahwa dalam diri perempuan sebagai sosok ibu walaupun dirasa ada hambatan, tetapi perempuan mempunyai kehebatan dan keunggulan dalam mengantarkan anaknya menuju kesuksesan yang diidam-idamkan. Sehingga di sini ada kolaborasi selama anak melakukan pembelajaran dari rumah.

Dengan andil peran ibu secara intensif, maka kepribadian dan kebiasaan anak lebih dikenali. Dengan demikian anak dalam melakukan pembelajaran secara daring di rumah akan terbangun nuansa dan suasana menggembirakan. Merasa enjoy serta merasa tidak ada tekanan, apalagi mengalami stres secara psikologis.   

Begitu luar biasanya perjuangan dan peran sosok ibu dengan ”kemuliaan yang terpatri sepanjang masa.” Maka, tidak berlebihan dan memang sepatutnya setiap tanggal 22 Desember selalu kita peringati sebagai Hari Ibu. Sebagai wujud kita menghormat dan meneladani jasa ibu yang mulia tiada tara. (*)

*) Kepala SMPN 3 Purwoharjo Satu Atap, Banyuwangi.

Momen yang selalu menyadarkan kepada kita semua, jasa mulia yang tak kunjung sirna. Bahkan, setiap tanggal 22 Desember, kita sebagai masyarakat Indonesia, tidak terkecuali juga masyarakat Banyuwangi, selalu diingatkan untuk mengabadikan pengorbanan ibu untuk diperingati.

Mengapa setiap tanggal 22 Desember selalu kita peringati sebagai Hari Ibu? Karena pada tanggal 22 Desember 1928 merupakan tonggak sejarah, seluruh organisasi perempuan tanah air yang berasal dari wilayah Sumatera dan Jawa menyelenggarakan kongres perempuan yang pertama kali di Dalem Jayadipura Yogyakarta yang diikuti 600 peserta dari 30 organisasi.

Lahirnya hari ibu, kala itu juga tidak luput dari peran dan perjuangan beberapa kaum ibu di abad 19 seperti Cut Nyak Dhien, Cut Muti’ah, R.A. Kartini, M. Christina Tiahahu, Dewi Sartika, Nyai Ahmad Dahlan, dan Walanda Maramis. Dilangsungkannya pertemuan tersebut atas dasar kesamaan pandangan politik untuk mengubah dan memperjuangkan nasib kaum perempuan di Indonesia.

Bahkan, Presiden Soekarno melalui Ketetapan No 316 tahun 1959, Negara Indonesia mengukuhkan bahwa setiap tanggal 22 Desember diperingati sebagai Hari Ibu, dikandung maksud mengajak bangsa Indonesia untuk mendukung semangat kaum wanita Indonesia dalam meningkatkan kesadaran berbangsa dan bernegara.

Mengapa ibu begitu pentingnya untuk kita peringati. Karena peran dan jasa seorang ibu begitu tulus, ikhlas, dan sabar di keseharian yang bergelut dengan urusan rumah tangganya. Di sela-sela lainnya juga menjalankan peran ganda, mendidik dan membimbing anak-anaknya untuk mengantarkan perjalanan yang terbingkai keteladanan guna mengarungi tatanan kehidupan dalam meraih kesuksesan. Melalui tempaan dan besutan seorang ibu, anak juga mampu menjalani peradaban menuju kehidupan yang berujung pada kemanfaatan.

Sehingga tidak berlebihan kalau seorang ibu memang sepantasnya selalu kita kenang dan peringati jasa-jasa ketulusannya. Karena di tangan sang bunda muncul dan terlahir anak-anak penerus bangsa yang memiliki dedikasi tinggi, prestasi cemerlang, sikap mencintai, dan menghargai satu sama lainnya. Berkat jasa ibu terlahir kaum perempuan sukses.

Sebutlah contoh Tri Rismaharini sebagai Wali Kota Surabaya, yang banyak mendapatkan penghargaan atas kepemimpinannya. Sri Mulyani, perempuan Indonesia pertama yang pernah menjabat Direktur Pelaksana Bank Dunia, yang kini menjabat sebagai Menteri Keuangan,  dan banyak sosok wanita sukses lainnya.

Perempuan sebagai sosok ibu yang luar biasa beliau bisa berbagi peran (multiperan). Jika di rumah dia bisa menjadi seorang ibu untuk anak-anaknya dan menjadi seorang istri bagi suaminya. Namun, dalam pekerjaannya dia bisa menjadi pemimpin. Bahkan,terkadang pekerjaan keras dan seberat apa pun yang dikerjakan laki-laki bisa dijalaninya.

Baca Juga :  Matematika Tidak Hanya Pelajaran Berhitung

Karena itu, perempuan masa kini menyadari seberat apa pun perjalanan yang bergelut terhadap akses ekonomi, politik, sosial, dan bidang lainnya harus siap melakoni. Karena pengorbanan dan perjuangan, baik jiwa maupun raga di mana seorang ibu yang begitu tulus tanpa ada rasa mengeluh dan tanpa berharap balasan apa-apa. Di mana ibu mengandung selama sembilan bulan sampai melahirkannya. Siang dan malam ibu begitu tulus kasih sayang dan cintanya tiada tara selama dua tahun menyusui dan menggendong bayi kesayangannya. Bahkan, begitu besar ketulusan pengorbanan seorang ibu kepada anaknya, sampai dikatakan bahwa surga berada di telapak kaki ibu.

Begitu besar pengorbanan dan kasih sayang seorang ibu yang dicurahkan kepada anaknya. Sehingga setinggi  penghargaan, bahkan kebaikan sebesar apa pun yang dilakukan oleh anak kepada ibu tidak akan mampu membalas apa yang telah dilakukan oleh ibunya. Kita sebagai insan yang terlahir dari perut dan melalui rahim ibu bahkan dengan taruhan nyawa, maka selayaknya kita wajib untuk bersikap dan memuliakan ibu yang telah membesarkan kita. Di samping ibu merupakan sosok wanita paling berjasa bagi setiap insan manusia yang telah memberikan pengorbanan kepada anaknya yang begitu tulus dengan curahan tenaga, jiwa bahkan nyawa, namun sedikit pun tidak tebersit berharap balasan apa-apa dari anaknya.

Seorang ibu di sepanjang perjuangan dan pengorbanan mendidik anak-anaknya, setiap hari dan di setiap sepertiga malam tidak terlewatkan selalu memanjatkan doa yang begitu tulus dengan penuh asa di hadapan  Allah Yang Mahakuasa dengan tetesan air mata. Seraya memohon semoga kelak anaknya menjadi hamba yang saleh dan salehah, yang terlingkupi akhlak mulia yang selalu memberi kemanfaatan kepada sesama.

Apalagi di saat ini tahun 2020 di masa pandemi Covid-19, pemerintah khususnya di sektor pendidikan melalui surat edaran Mendikbud mulai tanggal 16 Maret 2020 menyatakan bahwa kegiatan proses pembelajaran harus dilaksanakan secara daring atau dalam istilah lain Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) atau belajar dari rumah (BDR) yang sampai saat ini sudah berjalan selama kurang lebih sembilan bulan.

Sehingga selama sembilan bulan itu pula, anak-anak harus belajar dari rumah. Ini tentunya akan mengimpit perilaku siswa yang dirasakan lama-lama akan merasa jenuh, selalu diselimuti rasa malas, bahkan yang memprihatinkan berimplikasi secara psikologis anak tidak sedikit yang berujung merasakan stres. Bahkan menurut laporan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) menyebutkan bahwa banyak anak di usia sekolah (siswa) mengalami tekanan secara psikologis bahkan berujung putus sekolah. Hal ini diperjelas berdasar survei yang dilakukan oleh Ikatan Psikologi Klinis (IPK) mengatakan bahwa 23% siswa mengalami perilaku strss akibat pembelajaran daring selama Covid-19 berlangsung di Indonesia.

Baca Juga :  Apresiasi untuk Sebuah Karya Seni

Maka dengan melihat begitu besarnya dampak yang diakibatkan pembelajaran secara daring selama pandemi Covid-19, di sini dibutuhkan kehadiran sosok ibu berperan dalam mendampingi anak-anaknya dalam melaksanakan pembelajaran dari rumah. Di samping agar proses pembelajaran secara daring berjalan sebagaimana mestinya, juga mengutamakan keselamatan dan kesehatan anak selama pandemi Covid-19.

Lantas, bagaimana respons seorang ibu dalam menyikapi situasi pembelajaran yang dilakukan oleh siswa secara daring. Maka lagi-lagi peran dan curahan seorang ibu yang menjadi garda depan dalam mengelola, mendidik, memelihara, dan mengasuh serta mendampingi anak-anaknya saat melaksanakan pembelajaran dari rumah. Memang berat tugas seorang ibu mendampingi anaknya dalam pembelajaran jarak jauh atau belajar yang dilakukan dari rumah di saat pandemi Covid-19.

Namun karena ketulusan pengorbanan seorang ibu, seberat apa pun yang dijalani. Demi kesuksesan dan masa depan anaknya tidak sedikit pun merasa mengeluh dan putus asa. Sehingga harus diakui bahwa dalam diri perempuan sebagai sosok ibu walaupun dirasa ada hambatan, tetapi perempuan mempunyai kehebatan dan keunggulan dalam mengantarkan anaknya menuju kesuksesan yang diidam-idamkan. Sehingga di sini ada kolaborasi selama anak melakukan pembelajaran dari rumah.

Dengan andil peran ibu secara intensif, maka kepribadian dan kebiasaan anak lebih dikenali. Dengan demikian anak dalam melakukan pembelajaran secara daring di rumah akan terbangun nuansa dan suasana menggembirakan. Merasa enjoy serta merasa tidak ada tekanan, apalagi mengalami stres secara psikologis.   

Begitu luar biasanya perjuangan dan peran sosok ibu dengan ”kemuliaan yang terpatri sepanjang masa.” Maka, tidak berlebihan dan memang sepatutnya setiap tanggal 22 Desember selalu kita peringati sebagai Hari Ibu. Sebagai wujud kita menghormat dan meneladani jasa ibu yang mulia tiada tara. (*)

*) Kepala SMPN 3 Purwoharjo Satu Atap, Banyuwangi.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/