alexametrics
24.8 C
Banyuwangi
Monday, July 4, 2022

Menjadi Manusia Otodidak

DI ERA sekarang, era di mana informasi tersedia begitu mudah, untuk dapat terus berada di depan tergantung pada kemampuan seseorang untuk belajar secara mandiri. Kemampuan itu biasa kita sebut dengan otodidak. Banyak orang jenius yang mempelajari banyak hal sendiri. Biasanya mereka belajar melalui bantuan buku, internet, artikel, bahkan sejumlah jurnal. Mereka mencari waktu khusus untuk dapat mendalami sejumlah pembahasan tertentu.

Mengapa sendiri? Karena sebagian orang yang belajar dengan cara otodidak akan lebih nyaman belajar sendiri dan meluangkan sebagian waktu mereka untuk mengkaji sesuatu. Mungkin akan ada pertanyaan lagi, kok bisa dia paham? Perlu kita tahu bahwa orang yang belajar dengan cara otodidak akan membaca banyak sekali artikel. Cara ini digunakan untuk menjadi bahan perbandingan bagi dia akan ilmu pengetahuan yang sudah ia pelajari.

Seperti Albert Einstein. Dia adalah salah seorang ilmuwan yang menggunakan cara belajar otodidak. Dan juga Scott H. Young, dia menjalani pendidikan mandiri atau otodidak. Dalam waktu kurang lebih 12 bulan dengan biaya kurang lebih 2000 dolar, dia mempelajari cara menulis kode komputer dengan sangat baik sehingga dapat lulus ujian akhir yang sama dengan ilmu komputer universitas bergengsi MIT di Amerika Serikat.

Menariknya, dalam jangka waktu 12 bulan dan dengan biaya yang kurang lebih 2000 dolar, dia bisa meraih kemahiran teknis yang membutuhkan waktu empat tahun dengan biaya lebih dari 250.000 dolar jika ia mengambil jalur konvensional perguruan tinggi.

Ini membuktikan bahwa belajar otodidak bisa membawa kita menemukan keahlian baru. Yang dapat mengubah diri kita maupun cara pandang orang lain terhadap kita menjadi lebih baik. Walaupun dalam proses belajar mandiri atau otodidak sering mengalami kekurangan, dan di antaranya juga sering membuat kesalahan. Tapi, tidak apa, karena dari kesalahan itulah kita bisa belajar.

Tapi, sekarang apakah mungkin kita bisa memperoleh keahlian tanpa harus duduk di bangku kuliah atau pun di tempat keilmuan lainnya? Ternyata, ada budaya di mana sekelompok orang berusaha mencapai tujuan yang mereka inginkan dengan belajar secara mandiri dengan waktu yang relatif singkat daripada pendidikan formal. Saya biasa menyebutnya ultra-learner. Kemampuan ini bisa mempercepat karir yang kita inginkan atau transisi karir yang selalu kita inginkan dengan mudah bahkan keahlian baru yang berharga.

Ini merupakan metode untuk terus relevan di dunia yang bergerak dengan sangat cepat. Jadi, Anda akan terus berusaha mencari solusi atas sebuah masalah atau tantangan yang dihadapi. Jika sudah, Anda akan mempelajari dan kenapa harus mempelajari hal tersebut. Selanjutnya, Anda mulai belajar secara rutin dan efektif bagaimana bisa belajar cepat dan efisien.

Nah, sekarang, bagi yang ingin sekali bisa memiliki keahlian yang baru dengan cara otodidak, kita bisa memakai budaya ini. Budaya ultralearning, yang mana cukup belajar secara mandiri. Bukannya tidak butuh guru, hanya saja mungkin kita akan lebih mudah memahami suatu pengetahuan dengan belajar sendiri. Karena akan lebih cepat dicerna penjelasannya dibanding dengan mendengarkan penjelasan orang lain. Walaupun tidak semua orang bisa melakukannya.

Mungkin banyak di antara kita yang bertanya, bagaimana belajar sendiri dengan cepat? Ada beberapa metode yang dikemukakan oleh Scott, di antaranya adalah meta-learning dan directness.

Meta-learning merupakan sebuah langkah awal perjalanan kita menuju ultra-learner. Kita diharapkan untuk mampu melihat gambaran yang besar dan menyusun strategi belajar yang optimal. Anda bisa memulainya dengan meta-learning yang berisi tiga kategori besar, yaitu konsep, fakta, dan prosedur.

Konsep, berhubungan dengan apa yang perlu kita pahami. Fakta, berhubungan dengan apa yang perlu dihafal. Prosedur, berhubungan dengan apa yang diperlukan. Setelah kita mempertimbangkan tiga kategori tersebut, maka selanjutnya kita harus fokus pada kategori yang paling relevan. Kita juga belajar dari orang lain yang sudah mempelajari keahlian ini sebelumnya. Dengan cara melihat bagaimana mereka melakukannya dan coba praktik dengan sentuhan kita sendiri.

Setelah kita mengetahui metode meta-learning, selanjutnya adalah directness. Alasan mengapa ultra-learning mampu membuat orang yang ahli dalam waktu relatif singkat adalah adanya immertive learning. Jadi, seseorang belajar tidak hanya dalam kelas, namun bersentuhan langsung dengan yang dipelajari.

Misalnya, kita ingin belajar bahasa Inggris, jalan konvensionalnya adalah kita belajar di kelas. Namun, langkah yang paling cepat adalah berkomunikasi langsung dengan menggunakan bahasa Inggris. Pendekatan belajar sambil praktik merupakan cara efisien untuk mempersingkat waktu belajar.

Setelah kita membahas banyak tentang ultra-learning, penting tidak kita belajar tentang ultra-learning? Di awal kita sudah membahasnya, bahwa ultra-learning dapat meningkatkan kemampuan kita. Di sisi lain, secara pribadi, apakah Anda mempunyai mimpi untuk mempelajari keahlian baru? Misal, belajar alat musik baru, bahasa asing, dan lain-lain.

Pada dasarnya, hidup bisa dibilang tentang belajar. Memilih keahlian baru dan mengembangkannya menjadi lebih baik. Tentunya, itu bisa dilakukan ketika kita bisa belajar dengan cepat, maka kita juga akan berkembang dengan cepat.

Tapi, mungkin ada banyak keraguan pada hati kita semua, bahwa ini semua tergantung bakat kita masing-masing. Perlu diingat, yang jauh lebih penting bukan hanya bakat, tapi kerja keras dan strategi mencapainya. Belajar hal baru, tentu saja tidak mudah dan cukup menantang. Di tengah perjalanan, mungkin kita akan menemukan kesulitan. Namun, jangan menyerah dan terus mencari solusi akan tantangan yang kita hadapi.

Kemampuan terbesar bukan berasal dari melakukan hal yang biasa. Namun, menyadari potensi diri yang terpendam dan mampu mematahkan pemikiran yang membatasi diri untuk sukses. (*)

 *) Mahasiswa Bahasa Inggris, Institut Agama Islam Darussalam, Blokagung, Banyuwangi.

DI ERA sekarang, era di mana informasi tersedia begitu mudah, untuk dapat terus berada di depan tergantung pada kemampuan seseorang untuk belajar secara mandiri. Kemampuan itu biasa kita sebut dengan otodidak. Banyak orang jenius yang mempelajari banyak hal sendiri. Biasanya mereka belajar melalui bantuan buku, internet, artikel, bahkan sejumlah jurnal. Mereka mencari waktu khusus untuk dapat mendalami sejumlah pembahasan tertentu.

Mengapa sendiri? Karena sebagian orang yang belajar dengan cara otodidak akan lebih nyaman belajar sendiri dan meluangkan sebagian waktu mereka untuk mengkaji sesuatu. Mungkin akan ada pertanyaan lagi, kok bisa dia paham? Perlu kita tahu bahwa orang yang belajar dengan cara otodidak akan membaca banyak sekali artikel. Cara ini digunakan untuk menjadi bahan perbandingan bagi dia akan ilmu pengetahuan yang sudah ia pelajari.

Seperti Albert Einstein. Dia adalah salah seorang ilmuwan yang menggunakan cara belajar otodidak. Dan juga Scott H. Young, dia menjalani pendidikan mandiri atau otodidak. Dalam waktu kurang lebih 12 bulan dengan biaya kurang lebih 2000 dolar, dia mempelajari cara menulis kode komputer dengan sangat baik sehingga dapat lulus ujian akhir yang sama dengan ilmu komputer universitas bergengsi MIT di Amerika Serikat.

Menariknya, dalam jangka waktu 12 bulan dan dengan biaya yang kurang lebih 2000 dolar, dia bisa meraih kemahiran teknis yang membutuhkan waktu empat tahun dengan biaya lebih dari 250.000 dolar jika ia mengambil jalur konvensional perguruan tinggi.

Ini membuktikan bahwa belajar otodidak bisa membawa kita menemukan keahlian baru. Yang dapat mengubah diri kita maupun cara pandang orang lain terhadap kita menjadi lebih baik. Walaupun dalam proses belajar mandiri atau otodidak sering mengalami kekurangan, dan di antaranya juga sering membuat kesalahan. Tapi, tidak apa, karena dari kesalahan itulah kita bisa belajar.

Tapi, sekarang apakah mungkin kita bisa memperoleh keahlian tanpa harus duduk di bangku kuliah atau pun di tempat keilmuan lainnya? Ternyata, ada budaya di mana sekelompok orang berusaha mencapai tujuan yang mereka inginkan dengan belajar secara mandiri dengan waktu yang relatif singkat daripada pendidikan formal. Saya biasa menyebutnya ultra-learner. Kemampuan ini bisa mempercepat karir yang kita inginkan atau transisi karir yang selalu kita inginkan dengan mudah bahkan keahlian baru yang berharga.

Ini merupakan metode untuk terus relevan di dunia yang bergerak dengan sangat cepat. Jadi, Anda akan terus berusaha mencari solusi atas sebuah masalah atau tantangan yang dihadapi. Jika sudah, Anda akan mempelajari dan kenapa harus mempelajari hal tersebut. Selanjutnya, Anda mulai belajar secara rutin dan efektif bagaimana bisa belajar cepat dan efisien.

Nah, sekarang, bagi yang ingin sekali bisa memiliki keahlian yang baru dengan cara otodidak, kita bisa memakai budaya ini. Budaya ultralearning, yang mana cukup belajar secara mandiri. Bukannya tidak butuh guru, hanya saja mungkin kita akan lebih mudah memahami suatu pengetahuan dengan belajar sendiri. Karena akan lebih cepat dicerna penjelasannya dibanding dengan mendengarkan penjelasan orang lain. Walaupun tidak semua orang bisa melakukannya.

Mungkin banyak di antara kita yang bertanya, bagaimana belajar sendiri dengan cepat? Ada beberapa metode yang dikemukakan oleh Scott, di antaranya adalah meta-learning dan directness.

Meta-learning merupakan sebuah langkah awal perjalanan kita menuju ultra-learner. Kita diharapkan untuk mampu melihat gambaran yang besar dan menyusun strategi belajar yang optimal. Anda bisa memulainya dengan meta-learning yang berisi tiga kategori besar, yaitu konsep, fakta, dan prosedur.

Konsep, berhubungan dengan apa yang perlu kita pahami. Fakta, berhubungan dengan apa yang perlu dihafal. Prosedur, berhubungan dengan apa yang diperlukan. Setelah kita mempertimbangkan tiga kategori tersebut, maka selanjutnya kita harus fokus pada kategori yang paling relevan. Kita juga belajar dari orang lain yang sudah mempelajari keahlian ini sebelumnya. Dengan cara melihat bagaimana mereka melakukannya dan coba praktik dengan sentuhan kita sendiri.

Setelah kita mengetahui metode meta-learning, selanjutnya adalah directness. Alasan mengapa ultra-learning mampu membuat orang yang ahli dalam waktu relatif singkat adalah adanya immertive learning. Jadi, seseorang belajar tidak hanya dalam kelas, namun bersentuhan langsung dengan yang dipelajari.

Misalnya, kita ingin belajar bahasa Inggris, jalan konvensionalnya adalah kita belajar di kelas. Namun, langkah yang paling cepat adalah berkomunikasi langsung dengan menggunakan bahasa Inggris. Pendekatan belajar sambil praktik merupakan cara efisien untuk mempersingkat waktu belajar.

Setelah kita membahas banyak tentang ultra-learning, penting tidak kita belajar tentang ultra-learning? Di awal kita sudah membahasnya, bahwa ultra-learning dapat meningkatkan kemampuan kita. Di sisi lain, secara pribadi, apakah Anda mempunyai mimpi untuk mempelajari keahlian baru? Misal, belajar alat musik baru, bahasa asing, dan lain-lain.

Pada dasarnya, hidup bisa dibilang tentang belajar. Memilih keahlian baru dan mengembangkannya menjadi lebih baik. Tentunya, itu bisa dilakukan ketika kita bisa belajar dengan cepat, maka kita juga akan berkembang dengan cepat.

Tapi, mungkin ada banyak keraguan pada hati kita semua, bahwa ini semua tergantung bakat kita masing-masing. Perlu diingat, yang jauh lebih penting bukan hanya bakat, tapi kerja keras dan strategi mencapainya. Belajar hal baru, tentu saja tidak mudah dan cukup menantang. Di tengah perjalanan, mungkin kita akan menemukan kesulitan. Namun, jangan menyerah dan terus mencari solusi akan tantangan yang kita hadapi.

Kemampuan terbesar bukan berasal dari melakukan hal yang biasa. Namun, menyadari potensi diri yang terpendam dan mampu mematahkan pemikiran yang membatasi diri untuk sukses. (*)

 *) Mahasiswa Bahasa Inggris, Institut Agama Islam Darussalam, Blokagung, Banyuwangi.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/