alexametrics
25.6 C
Banyuwangi
Thursday, August 11, 2022

Catatan: Handariyatul Masruroh

Budayakan “Masio Tah Mung Rong Ewu”

MUNGKIN sudah tak asing lagi bagi kita, fenomena banyaknya manusia yang berbondong-bondong menghabiskan daki dunia yang dimiliki. Apa itu daki dunia? Uang! Mulai dari yang berwarna cokelat, ungu, hijau, biru, bahkan merah muda. Dalam waktu sekejap “hap!”, ludes kertas berlembar-lembar di dalam dompet.

Banyak kita temui di mana pun tempat perbelanjaan, entah itu pagi, siang, dan malam. Tak mengenal tua-muda, besar-kecil, mereka rela berdesakan dan menghabiskan uang dengan begitu mudahnya. Bahkan tanpa beranjak dari zona nyaman pun atau dalam posisi rebahan, ratusan ribu uang dalam rekening hilang dalam satu kali “klik”.

Karena apa? Kok bisa mudah banget? Tinggal klik doang? Jangan lupakan aplikasi perbelanjaan online! Itulah alasan saldo rekening berkurang hanya dengan satu kali “klik”. Satu kali mata berkedip, di situlah barang berhasil dibeli. Sangat mudah bukan?

Namun, sangat bertolak belakang ketika melihat sebuah kotak amal di masjid atau di tempat lain. Kebanyakan insan saat ini berpikir dua kali untuk menyisihkan sedikit rezeki ke dalam kotak tersebut. Benar begitu? Selalu terbesit rasa eman-eman di dalam hati. Ketika di dalam saku kita terdapat dua lembar uang, satu lembar uang lima puluh ribu dan satu lembar uang dua ribu. Mana yang kita pilih untuk beramal? Analisis sederhana membuktikan, tak ayal dan tak bukan, pasti uang 2.000 yang kita pilih.

Ini realita! Kita menganggap dua ribu saja cukup. Akan tetapi, satu lembar uang 50 ribu tak akan cukup untuk modal berbelanja. Sementara 50 ribu untuk beramal kita berkata “kebanyakan!”.

Padahal, berinfak sedikit harta tak akan membuat kita miskin. Justru rezeki kita akan semakin bertambah. Karna bersedekah adalah salah satu cara untuk mensyukuri nikmat Tuhan. Sesuai firman Allah dalam Alquran surah Ibrahim ayat 7 yang berbunyi; “la`in syakartum la`azīdannakum wa la`ing kafartum inna ‘ażābī lasyadīd”.

Artinya “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.

Baca Juga :  Prajurit Blambangan

Nah, sudah jelas sekali jika kita mensyukuri nikmat, maka Allah akan semakin menambah nikmat kepada kita. So, jangan khawatir! Sedekah tidak akan membuat harta kita terbuang sia-sia. Sedekah tidak akan membuat kita mati sengsara. Justru dengan sedekah akan membuat kita semakin kaya raya!

Lantas, bagaimana cara memulai kebiasaan sedekah dalam hidup kita ini? Hidup hanya sementara, jangan membuat diri semakin sengsara karena tak mau berbagi harta dengan sesama. Mudah saja, coba kita biasakan membawa uang yang kita punya ketika keluar rumah. Dimulai dengan gerakan “meskipun hanya 2.000, yang penting ikhlas”. Tak apa hanya 2.000, karena tujuan kita yang pertama untuk membiasakan diri kita terlebih dahulu.

Jika kita memulai dengan nominal yang besar, kembali pada pernyataan awal, pasti akan timbul perasaan eman-eman. “Sayang kan uangnya. Mending buat belanja dulu!” dan masih banyak alasan lain.

Langkah awal, coba sedikit demi sedikit tanamkan rasa ikhlas. Setiap kali menemukan kotak amal, masukkan uang seadanya meskipun hanya dua ribu rupiah. Kadung jare wong Osing Banyuwangi “masio tah mung rong ewu, hang penting ikhlas”, (kalau kata masyarakat Suku Osing Banyuwangi, meskipun hanya dua ribu, yang penting ikhlas). Dengan begitu kita akan terbiasa bersedekah dan akan berkelanjutan pada hari berikutnya. Jika sudah terbiasa, nominal yang kita sedekahkan akan bertambah dengan sendirinya.

Meskipun jika dipikir dengan logika, nominal yang hanya dua ribu rupiah itu tak sebanding dengan nikmat Tuhan yang telah diberikan kepada kita. Tak percaya? Contoh saja, dalam sehari berapa kali kita bernapas? Apakah kita hanya menghirup udara dua ribu kali dalam sehari? Tentu tidak kan? Tidak sama sekali!

Baca Juga :  Hidup Sehat dengan Saraf yang Sehat

Melansir Wonderpolis, dalam sehari manusia bisa bernapas antara 17 ribu kali hingga 30 ribu kali atau lebih dalam sehari. Ini merupakan perhitungan rata-rata saat manusia beraktivitas normal, seperti belajar, istirahat, tidur, makan, atau beraktivitas ringan lainnya. Namun, jika melakukan aktivitas berat, seperti berolahraga atau melakukan aktivitas fisik lainnya, manusia bisa bernapas lebih dari 50 ribu kali dalam sehari.

Hal ini berarti tingkat kebutuhan napas manusia juga sangat dipengaruhi oleh seberapa berat aktivitas yang dijalaninya. Realitanya kita bernapas sebanyak belasan ribu bahkan puluhan ribu, dan itu hanya dalam satu hari? Lantas berapa kali dalam seminggu? Sebulan atau setahun? Bahkan seumur hidup? Tak terhingga.

Lalu, begitu teganya kita sebagai makhluk yang lemah sangat perhitungan hanya untuk bersedekah? Begitu teganya kita hanya menikmati kebahagiaan seorang diri tanpa memikirkan orang lain? Begitu kejamnya kita lupa dengan yang namanya bersyukur? Miris.

Padahal, Tuhan kita adalah Maha Pemurah. Apa pun pasti akan diberikan untuk hambanya. Sementara hambanya lalai dan terlena dengan gemerlapnya dunia yang hanya sementara. Dan merupakan hamba yang hanya mengingat Tuhan ketika merasa membutuhkan-Nya.

Coba bayangkan, jika Tuhan murka dan mengambil semua nikmat yang diberikan. Dari yang memiliki segalanya menjadi terlunta-lunta, tak berdaya dan tak ada artinya. Lantas, masihkah kita percaya diri untuk meminta pertolongan-Nya? Tanpa rasa malu kita menengadah, meratap, dan menangis memohon belas kasih-Nya. Tak malukah kita?

Syukur! Tak ada cara lain selain bersyukur sebagai jalan keluarnya. Mensyukuri nikmat-Nya dengan cara apa? Sedekah! Bersyukur tak hanya mengucap Alhamdulillah saja. Tetapi disertai dengan memanfaatkan nikmat yang kita miliki untuk kebathilan. Seperti menyisihkan sebagian harta untuk fakir miskin. So, mulai hari ini mari budayakan “masio tah mung rong ewu, hang penting ikhlas!”. Sanggup dulur? (*)

MUNGKIN sudah tak asing lagi bagi kita, fenomena banyaknya manusia yang berbondong-bondong menghabiskan daki dunia yang dimiliki. Apa itu daki dunia? Uang! Mulai dari yang berwarna cokelat, ungu, hijau, biru, bahkan merah muda. Dalam waktu sekejap “hap!”, ludes kertas berlembar-lembar di dalam dompet.

Banyak kita temui di mana pun tempat perbelanjaan, entah itu pagi, siang, dan malam. Tak mengenal tua-muda, besar-kecil, mereka rela berdesakan dan menghabiskan uang dengan begitu mudahnya. Bahkan tanpa beranjak dari zona nyaman pun atau dalam posisi rebahan, ratusan ribu uang dalam rekening hilang dalam satu kali “klik”.

Karena apa? Kok bisa mudah banget? Tinggal klik doang? Jangan lupakan aplikasi perbelanjaan online! Itulah alasan saldo rekening berkurang hanya dengan satu kali “klik”. Satu kali mata berkedip, di situlah barang berhasil dibeli. Sangat mudah bukan?

Namun, sangat bertolak belakang ketika melihat sebuah kotak amal di masjid atau di tempat lain. Kebanyakan insan saat ini berpikir dua kali untuk menyisihkan sedikit rezeki ke dalam kotak tersebut. Benar begitu? Selalu terbesit rasa eman-eman di dalam hati. Ketika di dalam saku kita terdapat dua lembar uang, satu lembar uang lima puluh ribu dan satu lembar uang dua ribu. Mana yang kita pilih untuk beramal? Analisis sederhana membuktikan, tak ayal dan tak bukan, pasti uang 2.000 yang kita pilih.

Ini realita! Kita menganggap dua ribu saja cukup. Akan tetapi, satu lembar uang 50 ribu tak akan cukup untuk modal berbelanja. Sementara 50 ribu untuk beramal kita berkata “kebanyakan!”.

Padahal, berinfak sedikit harta tak akan membuat kita miskin. Justru rezeki kita akan semakin bertambah. Karna bersedekah adalah salah satu cara untuk mensyukuri nikmat Tuhan. Sesuai firman Allah dalam Alquran surah Ibrahim ayat 7 yang berbunyi; “la`in syakartum la`azīdannakum wa la`ing kafartum inna ‘ażābī lasyadīd”.

Artinya “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.

Baca Juga :  Penumpang Bijaksana

Nah, sudah jelas sekali jika kita mensyukuri nikmat, maka Allah akan semakin menambah nikmat kepada kita. So, jangan khawatir! Sedekah tidak akan membuat harta kita terbuang sia-sia. Sedekah tidak akan membuat kita mati sengsara. Justru dengan sedekah akan membuat kita semakin kaya raya!

Lantas, bagaimana cara memulai kebiasaan sedekah dalam hidup kita ini? Hidup hanya sementara, jangan membuat diri semakin sengsara karena tak mau berbagi harta dengan sesama. Mudah saja, coba kita biasakan membawa uang yang kita punya ketika keluar rumah. Dimulai dengan gerakan “meskipun hanya 2.000, yang penting ikhlas”. Tak apa hanya 2.000, karena tujuan kita yang pertama untuk membiasakan diri kita terlebih dahulu.

Jika kita memulai dengan nominal yang besar, kembali pada pernyataan awal, pasti akan timbul perasaan eman-eman. “Sayang kan uangnya. Mending buat belanja dulu!” dan masih banyak alasan lain.

Langkah awal, coba sedikit demi sedikit tanamkan rasa ikhlas. Setiap kali menemukan kotak amal, masukkan uang seadanya meskipun hanya dua ribu rupiah. Kadung jare wong Osing Banyuwangi “masio tah mung rong ewu, hang penting ikhlas”, (kalau kata masyarakat Suku Osing Banyuwangi, meskipun hanya dua ribu, yang penting ikhlas). Dengan begitu kita akan terbiasa bersedekah dan akan berkelanjutan pada hari berikutnya. Jika sudah terbiasa, nominal yang kita sedekahkan akan bertambah dengan sendirinya.

Meskipun jika dipikir dengan logika, nominal yang hanya dua ribu rupiah itu tak sebanding dengan nikmat Tuhan yang telah diberikan kepada kita. Tak percaya? Contoh saja, dalam sehari berapa kali kita bernapas? Apakah kita hanya menghirup udara dua ribu kali dalam sehari? Tentu tidak kan? Tidak sama sekali!

Baca Juga :  Perkara Pengakuan Anak di Pengadilan Agama

Melansir Wonderpolis, dalam sehari manusia bisa bernapas antara 17 ribu kali hingga 30 ribu kali atau lebih dalam sehari. Ini merupakan perhitungan rata-rata saat manusia beraktivitas normal, seperti belajar, istirahat, tidur, makan, atau beraktivitas ringan lainnya. Namun, jika melakukan aktivitas berat, seperti berolahraga atau melakukan aktivitas fisik lainnya, manusia bisa bernapas lebih dari 50 ribu kali dalam sehari.

Hal ini berarti tingkat kebutuhan napas manusia juga sangat dipengaruhi oleh seberapa berat aktivitas yang dijalaninya. Realitanya kita bernapas sebanyak belasan ribu bahkan puluhan ribu, dan itu hanya dalam satu hari? Lantas berapa kali dalam seminggu? Sebulan atau setahun? Bahkan seumur hidup? Tak terhingga.

Lalu, begitu teganya kita sebagai makhluk yang lemah sangat perhitungan hanya untuk bersedekah? Begitu teganya kita hanya menikmati kebahagiaan seorang diri tanpa memikirkan orang lain? Begitu kejamnya kita lupa dengan yang namanya bersyukur? Miris.

Padahal, Tuhan kita adalah Maha Pemurah. Apa pun pasti akan diberikan untuk hambanya. Sementara hambanya lalai dan terlena dengan gemerlapnya dunia yang hanya sementara. Dan merupakan hamba yang hanya mengingat Tuhan ketika merasa membutuhkan-Nya.

Coba bayangkan, jika Tuhan murka dan mengambil semua nikmat yang diberikan. Dari yang memiliki segalanya menjadi terlunta-lunta, tak berdaya dan tak ada artinya. Lantas, masihkah kita percaya diri untuk meminta pertolongan-Nya? Tanpa rasa malu kita menengadah, meratap, dan menangis memohon belas kasih-Nya. Tak malukah kita?

Syukur! Tak ada cara lain selain bersyukur sebagai jalan keluarnya. Mensyukuri nikmat-Nya dengan cara apa? Sedekah! Bersyukur tak hanya mengucap Alhamdulillah saja. Tetapi disertai dengan memanfaatkan nikmat yang kita miliki untuk kebathilan. Seperti menyisihkan sebagian harta untuk fakir miskin. So, mulai hari ini mari budayakan “masio tah mung rong ewu, hang penting ikhlas!”. Sanggup dulur? (*)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/