alexametrics
24.3 C
Banyuwangi
Thursday, August 18, 2022

Angkutan Pelajar

SEHARUSNYA, kemacetan di jalan menuju kawasan sekolah tidak terjadi lagi. Mulai sekarang, teorinya, tidak ada lagi pelajar bermotor ke dan dari sekolah. Atau diantar-jemput orang tua ke sekolah. Pakai motor/mobil. Di sekitar kawasan sekolah. Terutama pada jam berangkat: pukul 06.00 – 07.00 WIB. Jam pulang sekolah: 12.00- 03.00 WIB.

Faktanya?

Masih ada yang ke sekolah naik motor. Bahkan bawa mobil. Ada juga yang diantar orang tuanya. Padahal sudah ada fasilitas dari negara. Pemkab Banyuwangi sudah menyediakan angkutan pelajar. Gratis tis tis. Untuk siswa TK, pelajar, sampai perguruan tinggi.

Bisa dimaklumi. Kan baru di-soft launching. Dicoba dulu. Sambil dievaluasi. Kekurangannya di mana. Juga kelemahan-kelemahannya. Hasilnya dijadikan bahan perbaikan. Agar ketika benar-benar di-launching kelak tidak ada lagi hambatan.

Meski bukan yang pertama di Indonesia, program angkutan pelajar gratis patut diapresiasi. Sebab, banyaknya kendaraan yang pergi-pulang ke-dari sekolah selama ini menjadi biang kepadatan lalu lintas. Efeknya kemacetan. Paling tidak lambat merayap. Ritual lambat merayap itu saban hari terjadi pada jam-jam pergi-pulang sekolah. Kecuali Ahad.

Untuk trial, ada 32 armada. Melayani rute 10 trayek angkutan kota di Bumi Blambangan. Jadi luas daya jangkaunya. Bisa saja armadanya akan tambah. Bisa juga tidak lagi angkutan kota (angkot). Tapi bus sekolah. Tergantung hasil evaluasi, tentunya.

Ada manfaat selain mengurangi kepadatan lalu lintas. Jika berjalan sesuai rencana, program angkutan siswa gratis bisa mengurangi pengeluaran orang tua. Orang tua tidak perlu ngasih uang bensin. Tidak lagi mengeluarkan uang transportasi bagi anaknya yang biasa naik angkutan umum. Orang tua sendiri tidak perlu repot-repot berangkat pagi antar anak ke sekolah.

Lebih dari semua itu, selama perjalanan dalam angkutan pelajar bisa berinteraksi dengan pelajar lainnya. Dari lain sekolah. Hal yang langka. Sulit dijumpai. Saat ini anak-anak kita cenderung tumbuh menjadi sosok individualist. Hanya kenal dengan teman satu sekolah. Bahkan, satu kelasnya. Lebih parah lagi, hanya kenal teman sebangku. Mereka  kurang bisa bergaul lintas sekolah. Beda dengan zaman saya dan para orang tua ketika sekolah dulu: berteman dengan siswa lain sekolah sudah biasa. Maklum, ketika itu kita ke sekolah jalan kaki. Dalam perjalanan pergi-pulang bertemu dengan banyak siswa dari banyak sekolah. Berkenalan. Menjadi teman. Seru sekali. Tidak ada kepadatan kendaraan di jalan. Yang padat justru sepanjang pedestrian di samping kiri dan kanan jalan menuju sekolah.

Baca Juga :  Pembukaan Wisata, Pelepas Dahaga Pengelola

Tapi zaman sudah berubah. Sekarang jalan kaki dianggap ketinggalan zaman. Gengsi. Lebih keren naik motor. Tak peduli sudah cukup umur atau belum. Yang penting ke sekolah naik motor. Dengan berbagai dalih. Di antaranya, orang tua sibuk. Bekerja sejak pagi. Tidak ada waktu mengantar anaknya ke sekolah. Mau naik angkutan gengsi. Malu sama temannya. Apalagi jalan kaki. Karena dihantui rasa gengsi melanggar pun dilakukan. Naik motor meski usianya belum cukup memadai. Belum punya SIM (Surat Izin Mengemudi).

Undang-undang lalu lintas mengatur, semua pengendara motor atau mobil harus bawa SIM. Tidak gampang untuk mendapatkan SIM. Harus berumur minimal 17 tahun. Di bawah 17 tidak boleh. Sama seperti KTP (Kartu Tanda Penduduk). Orang yang belum berumur 17 dianggap belum dewasa. Masih kekanak-kanakan. Sikapnya masih labil. Cenderung cari perhatian. Supaya dapat perhatian, caranya ugalan-ugalan di jalanan. Kebut-kebutan. Tidak pakai helm. Kalau sudah begitu tidak hanya membahayakan diri sendiri. Malah membahayakan pengendara lalu lintas lainnya.

Terkait angkutan sudah pasti tidak ada masalah. Asal subsidinya lancar akan baik-baik saja. Kalau pun mau dicari-cari titik lemahnya, mungkin hanya pada tingkat disiplin sopirnya. Misal, operasional angkutan harus tepat waktu. Tidak boleh molor. Sebab, menyangkut tingkat kehadiran siswa. Beberapa sekolah di Banyuwangi sudah pakai absen finger print. Yang tidak bisa diapusi. Jika sudah di-setting batas maksimal pukul 06.15 siswa harus sudah tempelkan sidik jarinya, maka ketika ada siswa yang baru melakukannya di atas 06.15 akan dianggap absen. Tidak masuk.

Sekolah juga punya peran penting menyukseskan angkutan pelajar. Sekolah harus tegas. Jangan ragu. Apalagi main-main. Sekolah harus umumkan ke siswa dan orang tua: 1. Mulai sekarang tidak boleh ada siswa bawa kendaraan ke sekolah! 2. Boleh diantar orang tua, asal tidak turun di depan gerbang sekolah atau dalam radius sekian meter dari gerbang sekolah. Poin 2 itu penting. Selama ini di sekitar gerbang sekolah selalu macet. Akibat para pengantar anak sekolah berhenti seenaknya di depan gerbang. Kekurang-sadaran pengantar/orang tua memarkir di tempat yang jauh dari gerbang sekolah memperparah kemacetan.

Baca Juga :  Enam Senjata Guru

Terakhir, angkutan pelajar itu kurang lebih sama dengan shuttle. Seperti di kota maju dan bandara di luar negeri. Ada shuttle bus atau shuttle train yang mengantar penumpang dari terminal satu ke terminal bandara lainnya. Karena berfungsi sebagai shuttle maka angkutan pelajar itu harus punya halte. Tempat pemberhentian penumpang. Angkutan pelajar harus berhenti di halte-halte itu. Tidak boleh, misalnya, menurunkan penumpang di depan gerbang sekolah. Pun sebaliknya. Tidak boleh mengangkut siswa dari luar halte yang sudah ditetapkan. Nah, para pelajar pun menunggu angkutan sekolahnya cukup menuju ke halte mana pun. Tentu saja sesuai dengan arah rumahnya. Orang tua juga begitu. Nge-drop anaknya di halte-halte yang dipilihnya. Tentu saya yang terdekat dengan rumahnya.

Khusus halte terakhir, seyogianya jangan terlalu dekat dengan gerbang sekolah. Yang di timur bundaran Cungking itu posisinya sangat ideal. Angkutan pelajar berhenti di situ. Semua penumpangnya tinggal jalan kaki ke sekolahnya masing-masing. Kalau mau nambah di barat GOR Tawang Alun juga bagus.

Nah, yang mendesak kini adalah halte besar menyerupai terminal mini untuk pemberhentian akhir itu. Tidak usah terlalu mewah. Yang sederhana saja. Asal nyaman untuk menunggu angkutan datang. Model halte baru yang berdiri di beberapa tempat itu cukup elegan. Simpel tapi modern. Ukurannya segitu gak papa. Tapi dibuat tiga atau empat berderet. Pasti bagus. Akan menambah keindahan kota The Sunrise of Java. (@AdlawiSamsudin, kaosing93@gmail.com)

SEHARUSNYA, kemacetan di jalan menuju kawasan sekolah tidak terjadi lagi. Mulai sekarang, teorinya, tidak ada lagi pelajar bermotor ke dan dari sekolah. Atau diantar-jemput orang tua ke sekolah. Pakai motor/mobil. Di sekitar kawasan sekolah. Terutama pada jam berangkat: pukul 06.00 – 07.00 WIB. Jam pulang sekolah: 12.00- 03.00 WIB.

Faktanya?

Masih ada yang ke sekolah naik motor. Bahkan bawa mobil. Ada juga yang diantar orang tuanya. Padahal sudah ada fasilitas dari negara. Pemkab Banyuwangi sudah menyediakan angkutan pelajar. Gratis tis tis. Untuk siswa TK, pelajar, sampai perguruan tinggi.

Bisa dimaklumi. Kan baru di-soft launching. Dicoba dulu. Sambil dievaluasi. Kekurangannya di mana. Juga kelemahan-kelemahannya. Hasilnya dijadikan bahan perbaikan. Agar ketika benar-benar di-launching kelak tidak ada lagi hambatan.

Meski bukan yang pertama di Indonesia, program angkutan pelajar gratis patut diapresiasi. Sebab, banyaknya kendaraan yang pergi-pulang ke-dari sekolah selama ini menjadi biang kepadatan lalu lintas. Efeknya kemacetan. Paling tidak lambat merayap. Ritual lambat merayap itu saban hari terjadi pada jam-jam pergi-pulang sekolah. Kecuali Ahad.

Untuk trial, ada 32 armada. Melayani rute 10 trayek angkutan kota di Bumi Blambangan. Jadi luas daya jangkaunya. Bisa saja armadanya akan tambah. Bisa juga tidak lagi angkutan kota (angkot). Tapi bus sekolah. Tergantung hasil evaluasi, tentunya.

Ada manfaat selain mengurangi kepadatan lalu lintas. Jika berjalan sesuai rencana, program angkutan siswa gratis bisa mengurangi pengeluaran orang tua. Orang tua tidak perlu ngasih uang bensin. Tidak lagi mengeluarkan uang transportasi bagi anaknya yang biasa naik angkutan umum. Orang tua sendiri tidak perlu repot-repot berangkat pagi antar anak ke sekolah.

Lebih dari semua itu, selama perjalanan dalam angkutan pelajar bisa berinteraksi dengan pelajar lainnya. Dari lain sekolah. Hal yang langka. Sulit dijumpai. Saat ini anak-anak kita cenderung tumbuh menjadi sosok individualist. Hanya kenal dengan teman satu sekolah. Bahkan, satu kelasnya. Lebih parah lagi, hanya kenal teman sebangku. Mereka  kurang bisa bergaul lintas sekolah. Beda dengan zaman saya dan para orang tua ketika sekolah dulu: berteman dengan siswa lain sekolah sudah biasa. Maklum, ketika itu kita ke sekolah jalan kaki. Dalam perjalanan pergi-pulang bertemu dengan banyak siswa dari banyak sekolah. Berkenalan. Menjadi teman. Seru sekali. Tidak ada kepadatan kendaraan di jalan. Yang padat justru sepanjang pedestrian di samping kiri dan kanan jalan menuju sekolah.

Baca Juga :  Rumus: I + H = B

Tapi zaman sudah berubah. Sekarang jalan kaki dianggap ketinggalan zaman. Gengsi. Lebih keren naik motor. Tak peduli sudah cukup umur atau belum. Yang penting ke sekolah naik motor. Dengan berbagai dalih. Di antaranya, orang tua sibuk. Bekerja sejak pagi. Tidak ada waktu mengantar anaknya ke sekolah. Mau naik angkutan gengsi. Malu sama temannya. Apalagi jalan kaki. Karena dihantui rasa gengsi melanggar pun dilakukan. Naik motor meski usianya belum cukup memadai. Belum punya SIM (Surat Izin Mengemudi).

Undang-undang lalu lintas mengatur, semua pengendara motor atau mobil harus bawa SIM. Tidak gampang untuk mendapatkan SIM. Harus berumur minimal 17 tahun. Di bawah 17 tidak boleh. Sama seperti KTP (Kartu Tanda Penduduk). Orang yang belum berumur 17 dianggap belum dewasa. Masih kekanak-kanakan. Sikapnya masih labil. Cenderung cari perhatian. Supaya dapat perhatian, caranya ugalan-ugalan di jalanan. Kebut-kebutan. Tidak pakai helm. Kalau sudah begitu tidak hanya membahayakan diri sendiri. Malah membahayakan pengendara lalu lintas lainnya.

Terkait angkutan sudah pasti tidak ada masalah. Asal subsidinya lancar akan baik-baik saja. Kalau pun mau dicari-cari titik lemahnya, mungkin hanya pada tingkat disiplin sopirnya. Misal, operasional angkutan harus tepat waktu. Tidak boleh molor. Sebab, menyangkut tingkat kehadiran siswa. Beberapa sekolah di Banyuwangi sudah pakai absen finger print. Yang tidak bisa diapusi. Jika sudah di-setting batas maksimal pukul 06.15 siswa harus sudah tempelkan sidik jarinya, maka ketika ada siswa yang baru melakukannya di atas 06.15 akan dianggap absen. Tidak masuk.

Sekolah juga punya peran penting menyukseskan angkutan pelajar. Sekolah harus tegas. Jangan ragu. Apalagi main-main. Sekolah harus umumkan ke siswa dan orang tua: 1. Mulai sekarang tidak boleh ada siswa bawa kendaraan ke sekolah! 2. Boleh diantar orang tua, asal tidak turun di depan gerbang sekolah atau dalam radius sekian meter dari gerbang sekolah. Poin 2 itu penting. Selama ini di sekitar gerbang sekolah selalu macet. Akibat para pengantar anak sekolah berhenti seenaknya di depan gerbang. Kekurang-sadaran pengantar/orang tua memarkir di tempat yang jauh dari gerbang sekolah memperparah kemacetan.

Baca Juga :  Penyakit Yang Mengganggu Pola Pikir Manusia Menuju Sukses

Terakhir, angkutan pelajar itu kurang lebih sama dengan shuttle. Seperti di kota maju dan bandara di luar negeri. Ada shuttle bus atau shuttle train yang mengantar penumpang dari terminal satu ke terminal bandara lainnya. Karena berfungsi sebagai shuttle maka angkutan pelajar itu harus punya halte. Tempat pemberhentian penumpang. Angkutan pelajar harus berhenti di halte-halte itu. Tidak boleh, misalnya, menurunkan penumpang di depan gerbang sekolah. Pun sebaliknya. Tidak boleh mengangkut siswa dari luar halte yang sudah ditetapkan. Nah, para pelajar pun menunggu angkutan sekolahnya cukup menuju ke halte mana pun. Tentu saja sesuai dengan arah rumahnya. Orang tua juga begitu. Nge-drop anaknya di halte-halte yang dipilihnya. Tentu saya yang terdekat dengan rumahnya.

Khusus halte terakhir, seyogianya jangan terlalu dekat dengan gerbang sekolah. Yang di timur bundaran Cungking itu posisinya sangat ideal. Angkutan pelajar berhenti di situ. Semua penumpangnya tinggal jalan kaki ke sekolahnya masing-masing. Kalau mau nambah di barat GOR Tawang Alun juga bagus.

Nah, yang mendesak kini adalah halte besar menyerupai terminal mini untuk pemberhentian akhir itu. Tidak usah terlalu mewah. Yang sederhana saja. Asal nyaman untuk menunggu angkutan datang. Model halte baru yang berdiri di beberapa tempat itu cukup elegan. Simpel tapi modern. Ukurannya segitu gak papa. Tapi dibuat tiga atau empat berderet. Pasti bagus. Akan menambah keindahan kota The Sunrise of Java. (@AdlawiSamsudin, kaosing93@gmail.com)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/