alexametrics
28.7 C
Banyuwangi
Thursday, June 30, 2022

Idul Fitri atau Hari Raya?

MANUSIA tidak akan punya kemampuan untuk ”sampai”. Sehingga, tuntutan untuk segera itu bukan pada ”sampai”-nya. Namun, tuntutan segera lebih ditekankan kepada ”menuju”. Konsep ”menuju” merupakan bentuk upaya dan gerak manusia untuk ”sampai”. Namun, benar-benar sampai atau tidak, ada peran Tuhan di dalamnya. Kewajibannya adalah bergerak ”menuju”. Yang penting bergerak menuju saja. Nanti akan tiba waktunya berada pada ”sampai”. Urusan ”sampai” ini kaitannya dengan ”kebenaran”.

Kita tahu bersama, bahwa kebenaran mutlak hanya milik Allah. Idul Fitri itu artinya kembali suci, kembali asli, kembali kepada asal, atau kembali murni tanpa kontaminasi. Namun seumpama dirunut berdasar arti harfiahnya yang benar-benar fitrah di paling asal-usul, paling lubuk, dan paling sumber, tentunya hanyalah Allah sendiri.

Namun bukan berarti kita abai karena fitrah itu maknanya Allah sendiri dan kebenaran mutlak milik Allah. Abainya karena ada anggapan atau aspirasi kebenaran objektif. Karena kebenaran dan yang dituju objektif, sehingga mereka yang tidak punya akses akan tertinggal dalam aktivitas ”menuju”-nya. Jadi, rentang antara relativitas semua makhluk dengan kemutlakan Sang Khalik bukan seperti hamparan tanah yang masing-masing dari kita mendirikan rumah kebenaran.

Kebenaran itu tidak statis, sedikit bisa dipadatkan simbolismenya. Kebenaran mengalir sebagai kemungkinan-kemungkinan makna. Sebab, pencarinya memerlukan perjalanan menuju kesadaran penemuan kebenaran yang seolah-olah sama dengan sebelumnya. Kebenaran yang kita pahami sekarang bisa jadi adalah bentuk kesalahan yang belum kita pahami. Kira-kira seperti itulah bentuk mengalirnya kebenaran berbentuk dari berbagai kemungkinan-kemungkinan.

Maka, tidak ada rumah permanen untuk kebenaran. Apalagi, jika ada mahkota nama madzhab di puncaknya, atau papan kelompok dan golongan tertentu terpasang di depannya. Maka, ”Idul Fitri” ini menjadi ”Idul Fitri”-nya semua manusia yang mendeklarasikan untuk ”menuju”. Bukan hanya untuk mereka yang telah ”sampai” saja.

Pertanyaannya, siapa yang berhak menentukan ”sampai” atau ”tidak sampai”-nya. Maka kewajibannya adalah terus ”menuju”. Bagi mereka yang telah seperti itu, maka ”Idul Fitri” adalah hak mereka masing-masing. Biarlah diri masing-masing dan masing-masing diri memproses perjalanannya, pencariannya, penelusurannya dan percintaannya dengan Sang Fitrah.

Sehingga masing-masing tidak ada hak untuk menghakimi, menjatuhkan, merendahkan, dan meneraka-surgakan. Adanya hak untuk saling menghormati, mengapresiasi, saling berempati, saling belajar, saling bertanya-menjawab, saling bertukar pendapat, saling mengingatkan dan diingatkan.

Jadi Idul Fitri bukan kemutlakan untuk ”sampai” kepada Fitri. Walaupun toh belum ”sampai” dan masih proses ”menuju” ia telah dikatakan Fitri, karena hati dan niatnya secara sejati telah ”sampai”. Syukur-syukur kalau Sang Ilahi sudi menyeretnya untuk ”sampai” dan menyatu dengan-Nya dalam kefitrahan.

Apakah Idul Fitri hanya sebuah momentum yang dinanti setelah sekian lama berpuasa. Apakah Idul Fitri adalah momen pergi salat ke lapangan secara bersama-sama, lalu bersalam-salaman penuh dengan kegembiraan. Apakah Idul Fitri hanya sebagai sebuah tradisi mudik, mengunjungi kampung halaman, sanak saudara, lalu diakhiri dan ditutup dengan kembalinya pada rutinitas pekerjaan dan pengejaran terhadap harta dunia.

Apakah Idul Fitri hanya sebatas ditabuhnya beduk dengan aransemen takbir bertalu-talu. Kalau Idul Fitri dimaknai seperti itu tanpa meningkatnya kualitas rohaniah, maka itu hanya definisi secara kebudayaan. Ia hanya kentong yang dipukul untuk menandai datang peristiwa rutin. Ia hanya sebatas pagi yang menerbitkan matahari dan senja yang menenggelamkannya. Ia hanya sebatas tanda alam penanda peristiwa budaya.

Idul Fitri bukan alam yang dipekerjakan oleh pemiliknya, oleh Tuhannya. Idul Fitri bukan kebudayaan yang ditata sedemikian rupa untuk dimapankan dan dipasang indah sepanjang masa. Idul Fitri adalah pencapaian nilai atas kesepakatan manusia menyepakati sebuah perjuangan. Idul Fitri adalah bentuk persetujuan manusia atas tugas kekhalifahan. Ia adalah kata kerja yang bermakna melangkah, berusaha, mencari, membangun, mengelola, mengubah, menemukan dalam terus-menerusnya perputaran proses.

Idul Fitri adalah momen di mana manusia berlaku sebagai subjek kedua, setelah subjek pertama yang merupakan Maha Subjek yaitu Tuhan. Idul Fitri hanya relevan dengan manusia dan relasinya kepada Tuhan. Idul Fitri tidak berlaku dan relevan kepada pohon, gunung, sungai, hewan, bahkan setan dan malaikat. Idul Fitri hanya memiliki hubungan tematik dengan manusia.

Jika di dalam ruhaniah dan aqliyah manusia tidak terjadi dinamisasi tematik, pencarian, pergolakan gerak peperangan terhadap hawa nafsu, penemuan kebenaran dan kesejatian, hingga penemuan akan nilai dan kedamaian batin, maka itu bukan Idul Fitri. Ia hanya ”hari raya” yang diciptakan oleh kebudayaan. Idul Fitri adalah karya Allah, sementara hari raya adalah bikinan manusia. Idul Fitri adalah rohani, hari raya adalah jasad. Jika manusia sama sekali tidak bisa menemukan titik dan garis halus pemisah dan pilahan dari hari raya dengan Idul Fitri, maka di situlah letak kejumudan peradaban. Jika manusia tidak bisa memahami Idul Fitri karena tertutup mata dan akalnya oleh kemewahan hari raya, maka di situlah letak keringnya spiritualitas.

Idul Fitri adalah suatu rentang proses yang tak ada ujungnya. Bahkan, kematian bukan penanda ujung. Idul Fitri itu satu, namun tidak terhitung jumlahnya, sebagaimana ia tak terhitung jumlahnya namun sejatinya satu. Hari ini Idul Fitri, tahun kemarin Idul Fitri, namun Idul Fitri tahun ini tidak sama dengan tahun kemarin. Idul Fitri hari ini bukanlah Idul Fitri tahun kemarin, bahkan tahun depan. Setiap diri manusia harus memperjuangkan Idul Fitrinya masing-masing. Diri dalam segala dimensi, baik diri-individu, diri-keluarga, diri-masyarakat, diri-kekhalifahan. Maka, setiap saat kita memfitrikan kesadaran dan ingatan kita bahwa Fitri yang kita tuju hanyalah Allah. Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam bish shawwab. (*)

*) Guru MAN 2 Banyuwangi.

MANUSIA tidak akan punya kemampuan untuk ”sampai”. Sehingga, tuntutan untuk segera itu bukan pada ”sampai”-nya. Namun, tuntutan segera lebih ditekankan kepada ”menuju”. Konsep ”menuju” merupakan bentuk upaya dan gerak manusia untuk ”sampai”. Namun, benar-benar sampai atau tidak, ada peran Tuhan di dalamnya. Kewajibannya adalah bergerak ”menuju”. Yang penting bergerak menuju saja. Nanti akan tiba waktunya berada pada ”sampai”. Urusan ”sampai” ini kaitannya dengan ”kebenaran”.

Kita tahu bersama, bahwa kebenaran mutlak hanya milik Allah. Idul Fitri itu artinya kembali suci, kembali asli, kembali kepada asal, atau kembali murni tanpa kontaminasi. Namun seumpama dirunut berdasar arti harfiahnya yang benar-benar fitrah di paling asal-usul, paling lubuk, dan paling sumber, tentunya hanyalah Allah sendiri.

Namun bukan berarti kita abai karena fitrah itu maknanya Allah sendiri dan kebenaran mutlak milik Allah. Abainya karena ada anggapan atau aspirasi kebenaran objektif. Karena kebenaran dan yang dituju objektif, sehingga mereka yang tidak punya akses akan tertinggal dalam aktivitas ”menuju”-nya. Jadi, rentang antara relativitas semua makhluk dengan kemutlakan Sang Khalik bukan seperti hamparan tanah yang masing-masing dari kita mendirikan rumah kebenaran.

Kebenaran itu tidak statis, sedikit bisa dipadatkan simbolismenya. Kebenaran mengalir sebagai kemungkinan-kemungkinan makna. Sebab, pencarinya memerlukan perjalanan menuju kesadaran penemuan kebenaran yang seolah-olah sama dengan sebelumnya. Kebenaran yang kita pahami sekarang bisa jadi adalah bentuk kesalahan yang belum kita pahami. Kira-kira seperti itulah bentuk mengalirnya kebenaran berbentuk dari berbagai kemungkinan-kemungkinan.

Maka, tidak ada rumah permanen untuk kebenaran. Apalagi, jika ada mahkota nama madzhab di puncaknya, atau papan kelompok dan golongan tertentu terpasang di depannya. Maka, ”Idul Fitri” ini menjadi ”Idul Fitri”-nya semua manusia yang mendeklarasikan untuk ”menuju”. Bukan hanya untuk mereka yang telah ”sampai” saja.

Pertanyaannya, siapa yang berhak menentukan ”sampai” atau ”tidak sampai”-nya. Maka kewajibannya adalah terus ”menuju”. Bagi mereka yang telah seperti itu, maka ”Idul Fitri” adalah hak mereka masing-masing. Biarlah diri masing-masing dan masing-masing diri memproses perjalanannya, pencariannya, penelusurannya dan percintaannya dengan Sang Fitrah.

Sehingga masing-masing tidak ada hak untuk menghakimi, menjatuhkan, merendahkan, dan meneraka-surgakan. Adanya hak untuk saling menghormati, mengapresiasi, saling berempati, saling belajar, saling bertanya-menjawab, saling bertukar pendapat, saling mengingatkan dan diingatkan.

Jadi Idul Fitri bukan kemutlakan untuk ”sampai” kepada Fitri. Walaupun toh belum ”sampai” dan masih proses ”menuju” ia telah dikatakan Fitri, karena hati dan niatnya secara sejati telah ”sampai”. Syukur-syukur kalau Sang Ilahi sudi menyeretnya untuk ”sampai” dan menyatu dengan-Nya dalam kefitrahan.

Apakah Idul Fitri hanya sebuah momentum yang dinanti setelah sekian lama berpuasa. Apakah Idul Fitri adalah momen pergi salat ke lapangan secara bersama-sama, lalu bersalam-salaman penuh dengan kegembiraan. Apakah Idul Fitri hanya sebagai sebuah tradisi mudik, mengunjungi kampung halaman, sanak saudara, lalu diakhiri dan ditutup dengan kembalinya pada rutinitas pekerjaan dan pengejaran terhadap harta dunia.

Apakah Idul Fitri hanya sebatas ditabuhnya beduk dengan aransemen takbir bertalu-talu. Kalau Idul Fitri dimaknai seperti itu tanpa meningkatnya kualitas rohaniah, maka itu hanya definisi secara kebudayaan. Ia hanya kentong yang dipukul untuk menandai datang peristiwa rutin. Ia hanya sebatas pagi yang menerbitkan matahari dan senja yang menenggelamkannya. Ia hanya sebatas tanda alam penanda peristiwa budaya.

Idul Fitri bukan alam yang dipekerjakan oleh pemiliknya, oleh Tuhannya. Idul Fitri bukan kebudayaan yang ditata sedemikian rupa untuk dimapankan dan dipasang indah sepanjang masa. Idul Fitri adalah pencapaian nilai atas kesepakatan manusia menyepakati sebuah perjuangan. Idul Fitri adalah bentuk persetujuan manusia atas tugas kekhalifahan. Ia adalah kata kerja yang bermakna melangkah, berusaha, mencari, membangun, mengelola, mengubah, menemukan dalam terus-menerusnya perputaran proses.

Idul Fitri adalah momen di mana manusia berlaku sebagai subjek kedua, setelah subjek pertama yang merupakan Maha Subjek yaitu Tuhan. Idul Fitri hanya relevan dengan manusia dan relasinya kepada Tuhan. Idul Fitri tidak berlaku dan relevan kepada pohon, gunung, sungai, hewan, bahkan setan dan malaikat. Idul Fitri hanya memiliki hubungan tematik dengan manusia.

Jika di dalam ruhaniah dan aqliyah manusia tidak terjadi dinamisasi tematik, pencarian, pergolakan gerak peperangan terhadap hawa nafsu, penemuan kebenaran dan kesejatian, hingga penemuan akan nilai dan kedamaian batin, maka itu bukan Idul Fitri. Ia hanya ”hari raya” yang diciptakan oleh kebudayaan. Idul Fitri adalah karya Allah, sementara hari raya adalah bikinan manusia. Idul Fitri adalah rohani, hari raya adalah jasad. Jika manusia sama sekali tidak bisa menemukan titik dan garis halus pemisah dan pilahan dari hari raya dengan Idul Fitri, maka di situlah letak kejumudan peradaban. Jika manusia tidak bisa memahami Idul Fitri karena tertutup mata dan akalnya oleh kemewahan hari raya, maka di situlah letak keringnya spiritualitas.

Idul Fitri adalah suatu rentang proses yang tak ada ujungnya. Bahkan, kematian bukan penanda ujung. Idul Fitri itu satu, namun tidak terhitung jumlahnya, sebagaimana ia tak terhitung jumlahnya namun sejatinya satu. Hari ini Idul Fitri, tahun kemarin Idul Fitri, namun Idul Fitri tahun ini tidak sama dengan tahun kemarin. Idul Fitri hari ini bukanlah Idul Fitri tahun kemarin, bahkan tahun depan. Setiap diri manusia harus memperjuangkan Idul Fitrinya masing-masing. Diri dalam segala dimensi, baik diri-individu, diri-keluarga, diri-masyarakat, diri-kekhalifahan. Maka, setiap saat kita memfitrikan kesadaran dan ingatan kita bahwa Fitri yang kita tuju hanyalah Allah. Semoga bermanfaat. Wallahu a’lam bish shawwab. (*)

*) Guru MAN 2 Banyuwangi.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/