alexametrics
27 C
Banyuwangi
Saturday, August 13, 2022

Bagaimana Harus Bersikap pada Penderita Kepikunan?

GEJALA sering lupa atau dementia sering kali kita jumpai pada pasien berusia lanjut. Orang awam sering menganggap ini sebagai hal yang wajar pada usia tua. Namun, anggapan ini harus kita luruskan. Seiring dengan perkembangan ilmu kedokteran, kepikunan dapat dicegah dan ditangani.

Gejala apa saja yang harus menjadi perhatian kita? 1) Sering lupa, terutama pada kejadian baru. 2) Tidak fokus dalam mengerjakan suatu hal. 3) Lupa waktu, tempat, dan orang. 4) Sulit menemukan kata yang tepat dalam berbicara. 5) Perubahan mood dan perilaku menjadi pendiam atau pemarah. 6) Menarik diri dari pergaulan.

Gejala di atas merupakan gejala kepikunan, yang 50–75% disebabkan penyakit Alzheimer. Penyakit Alzheimer disebabkan oleh kerusakan saraf otak, sehingga terjadi gangguan produksi dopamin, yaitu zat penghantar rangsangan listrik pada saraf otak.

Baca Juga :  Yuk! Cek Kesuburan Anda dan Pasangan Anda dengan Tes HSG

Bila menemukan anggota keluarga atau kerabat dengan gejala di atas, jangan anggap remeh. Segera bawa ke dokter untuk diperiksakan lebih lanjut. Peresepan obat yang tepat, terapi emosi, pelatihan kognitif yang dilakukan oleh tenaga medis yang tepat sedini mungkin dapat memberikan perbaikan kualitas hidup yang sangat baik.

Di samping pengobatan medis, sangat penting bagi keluarga dan kerabat untuk memberikan dukungan secara moral dan modifikasi lingkungan terhadap penderita.

Cara Pertama, yakni dengan memberikan suasana ruangan terang pada siang dan gelap saat malam, buka korden atau jendela saat siang agar penderita mudah memahami kapan waktu beraktivitas dan istirahat.

Cara Kedua, dengan mendengarkan dan membantu penderita agar dapat mengutarakan keinginannya. Jangan tinggalkan mereka saat mereka kesulitan mengucapkan suatu hal.

Baca Juga :  Spa Mempercepat Perkembangan Otak Bayi

Cara Ketiga, adalah berikan pengingat akan jadwal kegiatan sehari-hari. Contohnya alarm atau jadwal untuk makan, minum obat, mandi, dan aktivitas fisik.

Cara Keempat, adalah dengan melatih kognitif penderita. Contohnya dengan permainan rangkai kata, teka-teki silang, berhitung, dan lain-lain. Dengan kecanggihan teknologi menjadikan modalitas ini sangat mudah kita dapatkan.

Perubahan cara hidup dan lingkungan ini diharapkan dapat mencapai keadaan optimal bagi penderita dan keluarga, sehingga hidup yang berkualitas dan masa tua yang bahagia dapat tercapai. (*)

 *) Penanggung jawab Klinik Pratama BPJS Mitra Sehat.

GEJALA sering lupa atau dementia sering kali kita jumpai pada pasien berusia lanjut. Orang awam sering menganggap ini sebagai hal yang wajar pada usia tua. Namun, anggapan ini harus kita luruskan. Seiring dengan perkembangan ilmu kedokteran, kepikunan dapat dicegah dan ditangani.

Gejala apa saja yang harus menjadi perhatian kita? 1) Sering lupa, terutama pada kejadian baru. 2) Tidak fokus dalam mengerjakan suatu hal. 3) Lupa waktu, tempat, dan orang. 4) Sulit menemukan kata yang tepat dalam berbicara. 5) Perubahan mood dan perilaku menjadi pendiam atau pemarah. 6) Menarik diri dari pergaulan.

Gejala di atas merupakan gejala kepikunan, yang 50–75% disebabkan penyakit Alzheimer. Penyakit Alzheimer disebabkan oleh kerusakan saraf otak, sehingga terjadi gangguan produksi dopamin, yaitu zat penghantar rangsangan listrik pada saraf otak.

Baca Juga :  Masa Depan Desa Dalam Genggaman Kaum Milenial

Bila menemukan anggota keluarga atau kerabat dengan gejala di atas, jangan anggap remeh. Segera bawa ke dokter untuk diperiksakan lebih lanjut. Peresepan obat yang tepat, terapi emosi, pelatihan kognitif yang dilakukan oleh tenaga medis yang tepat sedini mungkin dapat memberikan perbaikan kualitas hidup yang sangat baik.

Di samping pengobatan medis, sangat penting bagi keluarga dan kerabat untuk memberikan dukungan secara moral dan modifikasi lingkungan terhadap penderita.

Cara Pertama, yakni dengan memberikan suasana ruangan terang pada siang dan gelap saat malam, buka korden atau jendela saat siang agar penderita mudah memahami kapan waktu beraktivitas dan istirahat.

Cara Kedua, dengan mendengarkan dan membantu penderita agar dapat mengutarakan keinginannya. Jangan tinggalkan mereka saat mereka kesulitan mengucapkan suatu hal.

Baca Juga :  Air Hangat Bantu Legakan Hidung Tersumbat

Cara Ketiga, adalah berikan pengingat akan jadwal kegiatan sehari-hari. Contohnya alarm atau jadwal untuk makan, minum obat, mandi, dan aktivitas fisik.

Cara Keempat, adalah dengan melatih kognitif penderita. Contohnya dengan permainan rangkai kata, teka-teki silang, berhitung, dan lain-lain. Dengan kecanggihan teknologi menjadikan modalitas ini sangat mudah kita dapatkan.

Perubahan cara hidup dan lingkungan ini diharapkan dapat mencapai keadaan optimal bagi penderita dan keluarga, sehingga hidup yang berkualitas dan masa tua yang bahagia dapat tercapai. (*)

 *) Penanggung jawab Klinik Pratama BPJS Mitra Sehat.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/