RADARBANYUWANGI.ID - Salah satu putri terbaik Banyuwangi, Dr dr Syifa Mustika Sp PD-KGEH FINASIM, terus menorehkan kontribusi nyata dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.
Tak hanya di Banyuwangi, kiprahnya bahkan berdampak hingga tingkat nasional.
Putri dari almarhum Habib Shadiq bin Muhammad Al Hadar itu dikenal luas karena dedikasinya dalam pelayanan kesehatan yang menyentuh langsung masyarakat bawah.
Selama bertahun-tahun terakhir, dr Syifa secara konsisten menggelar pengobatan gratis bagi warga Banyuwangi, terutama masyarakat di sekitar kediamannya di Kelurahan Lateng.
Kegiatan sosial tersebut bukan sekadar rutinitas, melainkan wujud nyata kepedulian seorang dokter terhadap akses kesehatan yang adil dan merata.
Mengabdi Lewat Ilmu dan Keteladanan
Sebagai dokter spesialis penyakit dalam konsultan gastroenterohepatologi, dr Syifa memahami betul tantangan kesehatan masyarakat, khususnya penyakit tidak menular yang kerap luput dari perhatian.
Berangkat dari pengalamannya menangani pasien sehari-hari, ia melihat masih rendahnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya deteksi dini penyakit.
“Pengobatan gratis tetap kami lanjutkan seperti tahun-tahun sebelumnya. Namun, kami ingin memberikan nilai tambah berupa edukasi dan pemanfaatan teknologi agar masyarakat bisa lebih mandiri menjaga kesehatannya,” ujarnya.
Semangat pengabdian itu semakin terasa pada peringatan Haul Habib Shadiq bin Muhammad Al Hadar ke-20, di mana dr Syifa menghadirkan inovasi baru dalam pelayanan kesehatan berbasis digital.
SmartGerdX, Inovasi Digital Deteksi Dini GERD
Pada momentum tersebut, dr Syifa memperkenalkan SmartGerdX, sebuah website edukasi dan skrining kesehatan berbasis digital yang dirancang untuk deteksi dini penyakit asam lambung atau GERD (Gastroesophageal Reflux Disease).
Platform ini menggunakan metode kuesioner GERDQ, yang telah teruji secara klinis untuk menilai indikasi GERD.
Melalui SmartGerdX, masyarakat dapat mengenali gejala GERD secara mandiri hanya dengan menjawab sejumlah pertanyaan sederhana. Hasil skrining kemudian memberikan gambaran tingkat risiko sekaligus rekomendasi tindak lanjut yang sesuai.
“Website ini memungkinkan masyarakat menilai kondisi kesehatannya sendiri. Harapannya, kesadaran terhadap pola makan dan gaya hidup sehat bisa tumbuh sejak dini,” jelas dr Syifa.
Tak hanya berfungsi sebagai alat skrining, SmartGerdX juga memuat berbagai informasi edukatif. Mulai dari penyebab GERD, gejala yang perlu diwaspadai, hingga langkah pencegahan dan penatalaksanaan yang tepat.
Edukasi Langsung ke Masyarakat
Inovasi tersebut diperkenalkan langsung kepada sekitar 200 warga Banyuwangi yang mengikuti layanan pengobatan gratis.
Dengan pendampingan pengurus DPC Rabithah Alawiyah Banyuwangi serta dukungan 20 tenaga medis dari Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama (LKNU) Malang, dr Syifa memberikan edukasi intensif kepada masyarakat, yang mayoritas merupakan kalangan lanjut usia.
Selain sosialisasi SmartGerdX, layanan kesehatan juga dilengkapi dengan pemeriksaan penunjang, seperti USG, untuk membantu deteksi kondisi kesehatan warga secara lebih komprehensif.
Pendekatan ini dinilai efektif karena tidak hanya mengobati, tetapi juga membangun pemahaman masyarakat tentang pentingnya pencegahan penyakit.
Menjawab Tantangan Penyakit Tidak Menular
Sebagai dosen di Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya, dr Syifa menaruh perhatian besar pada meningkatnya tren penyakit tidak menular, termasuk GERD, yang kerap dipicu pola makan dan gaya hidup tidak sehat.
Ia berharap kehadiran SmartGerdX dapat menjadi pintu masuk perubahan perilaku kesehatan masyarakat. Dengan teknologi yang mudah diakses, edukasi kesehatan tak lagi terbatas ruang dan waktu.
“Jika masyarakat bisa mengenali gejalanya lebih awal, maka penanganan bisa dilakukan lebih cepat dan tepat. Ini penting untuk menekan angka komplikasi,” imbuhnya.
Mengabdi dengan Sentuhan Zaman
Langkah dr Syifa memadukan pengabdian sosial, ilmu kedokteran, dan inovasi digital menunjukkan bagaimana pelayanan kesehatan dapat berkembang seiring zaman tanpa kehilangan nilai kemanusiaan.
Dari Kelurahan Lateng hingga ruang digital, kontribusinya menjadi inspirasi bahwa teknologi dapat menjadi alat pemberdayaan masyarakat, bukan sekadar fasilitas.
Bagi Banyuwangi, kiprah dr Syifa Mustika bukan hanya kebanggaan, tetapi juga harapan akan masa depan layanan kesehatan yang lebih inklusif, preventif, dan berkelanjutan. (fre/sgt)
Editor : Ali Sodiqin