Berita Daerah Edukasi Ekonomi Film Game Internasional Kasuistika Kesehatan Kuliner Lifestyle Nasional Otomotif Pemerintahan Peristiwa Politik Seni & Budaya Sports Teknologi Tips & Trik Travelling

Viral tapi Keliru! Ini 10 Tren Skincare TikTok 2025 yang Justru Bikin Kulit Rusak!

Agung Sedana • Minggu, 20 Juli 2025 | 23:03 WIB
Tren skincare TikTok yang salah kaprah! Waspada jangan asal ikut-ikutan soal kesehatan.
Tren skincare TikTok yang salah kaprah! Waspada jangan asal ikut-ikutan soal kesehatan.

RADARBANYUWANGI.ID - TikTok memang gudangnya tips cepat. Tapi saat urusan skincare jadi tren viral, banyak yang tergoda mencoba tanpa tahu dasar ilmunya. Parahnya, beberapa klaim populer justru bertentangan dengan saran dermatolog dan bisa merusak kulit jika diterapkan sembarangan.

Berikut 10 mitos skincare paling ramai di TikTok sepanjang 2025 yang wajib kamu waspadai beserta penjelasan ilmiahnya!

1. SPF 50 sekali oles cukup seharian

Faktanya, sunscreen bukan produk sekali pakai untuk sehari penuh. Meski ber-SPF tinggi, perlindungannya akan hilang karena oksidasi, keringat, dan gesekan.

Dermatolog dari American Academy of Dermatology (AAD) menyarankan reapply setiap 2 jam, terutama saat aktivitas luar ruangan.

Saran ahli: Gunakan sunscreen sebanyak 2 jari penuh untuk wajah dan leher, lalu ulangi pemakaian meski cuaca mendung atau berawan.

2. Kalau cuma di rumah, nggak perlu sunscreen

Keliru besar. Meski di dalam ruangan, sinar UVA tetap bisa menembus kaca jendela dan menyebabkan penuaan dini.

Studi menunjukkan lebih dari 70% paparan UVA tetap terjadi meski kamu duduk dekat jendela tertutup.

Solusinya: Gunakan sunscreen meski hanya WFH, terutama kalau kamar atau meja kerja dekat jendela.

Baca Juga: Pagi vs Malam: Urutan Skincare Paling Efektif 2025 Menurut Dermatolog, Lengkap Jam Pemakaian

3. Foundation atau cushion dengan SPF sudah cukup melindungi

Sayangnya, kamu butuh 7 lapis foundation untuk mencapai dosis perlindungan SPF yang seharusnya. Produk make-up dengan SPF hanya jadi pelengkap, bukan pengganti sunscreen murni.

Tips: Tetap gunakan sunscreen sebelum make-up, baru aplikasikan foundation SPF sebagai lapisan kedua.

4. Petroleum jelly bikin pori-pori tersumbat

Padahal, petrolatum (seperti Vaseline) bersifat non-komedogenik. Molekulnya terlalu besar untuk menyumbat pori. Justru efektif menjaga kelembapan kulit dan memperkuat skin barrier, asalkan kulit sudah bersih.

Catatan: Jangan lakukan “slugging” di atas kulit kotor, karena bisa menjebak bakteri dan kotoran.

5. Produk alami pasti lebih aman dari yang sintetis

Banyak orang percaya ‘natural = aman’, tapi faktanya, bahan alami seperti tea tree oil, citrus, dan lavender bisa menyebabkan iritasi jika tidak diformulasi dengan benar. Justru bahan sintetis sering kali lebih stabil dan minim reaksi alergi.

Kesimpulan: Cek kandungan dan konsentrasi, bukan cuma label “natural”.

6. Retinol cuma untuk usia 30 ke atas

Mitos ini membuat remaja melewatkan manfaat retinoid. Padahal, retinol dosis rendah aman digunakan usia 16+, terutama untuk jerawat dan tekstur kulit tidak rata. Kuncinya ada di frekuensi dan pendampingan.

Cara aman: Mulai 1–2 kali seminggu, malam hari, dengan lapisan pelembap sesudahnya.

7. Vitamin C lebih baik dipakai malam supaya nggak oksidasi

Justru sebaliknya. Vitamin C adalah antioksidan terbaik untuk dipakai pagi hari, karena melindungi kulit dari radikal bebas, polusi, dan sinar UV. Bila dikombinasikan dengan sunscreen, efek proteksinya jauh lebih kuat.

Tips penyimpanan: Simpan vitamin C dalam botol gelap di tempat sejuk agar tidak cepat teroksidasi.

8. Kulit berminyak harus hindari double cleansing

Double cleansing dengan oil cleanser sering dianggap penyebab jerawat, padahal salah. Oil cleanser non-komedogenik justru melarutkan sebum dan sunscreen lebih efektif, asal diikuti sabun lembut sebagai pembersih kedua.

Rekomendasi: Gunakan oil cleanser berbasis squalane atau grapeseed untuk hasil maksimal tanpa pori tersumbat.

9. Pasta gigi bisa mengempeskan jerawat

Ini mitos paling berbahaya. Kandungan menthol, fluoride, dan baking soda dalam pasta gigi bisa membuat kulit iritasi dan meradang, bahkan meninggalkan bekas gelap (hiperpigmentasi).

Solusi aman: Gunakan spot treatment dengan benzoyl peroxide 2,5% atau azelaic acid 10%.

10. Kulit butuh detox day tanpa skincare agar bisa bernapas

Fakta biologis: kulit tidak memiliki sistem detoks seperti liver atau ginjal. Pori-pori juga tidak ‘bernapas’. Justru, menghindari skincare bisa membuat kulit dehidrasi atau kehilangan perlindungan alami.

Saran dermatolog: Gunakan skincare basic setiap hari (pembersih – pelembap – sunscreen) untuk menjaga fungsi skin barrier tetap optimal.

Jangan Asal Ikut Tren, Wajib Tahu Ilmunya!

Tren skincare viral bisa jadi lucu dan menarik, tapi kulitmu bukan tempat eksperimen. Jangan mudah tergoda oleh tutorial 30 detik tanpa dasar medis. Jika ragu, konsultasikan pada ahli atau cek sumber terpercaya.

Editor : Agung Sedana
#skincare #pasta gigi jerawat #retinol remaja