alexametrics
28.7 C
Banyuwangi
Thursday, June 30, 2022

Ayo Kenali Difteri

HAMPIR dua bulan terakhir ini, berita kesehatan di Indonesia dipenuhi oleh angka kejadian penyakit difteri di beberapa provinsi yang terus meningkat. Bahkan, beberapa dinas kesehatan sudah menyatakan kasus itu sebagai kejadian luar biasa (KLB).

Hal ini karena korban jiwa terus bertambah. Data Kementerian Kesehatan menunjukkan hingga November 2017, ada 95 kabupaten/kota di 20 provinsi yang melaporkan kasus difteri. Secara keseluruhan terdapat 622 kasus, 32 di antaranya meninggal dunia. Dari angka tersebut terdapat 271 kasus dengan 11 kematian terjadi di Provinsi Jawa Timur.

Difteri merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh kuman Corynebacterium diphtheriae yang sangat mudah menular dan berbahaya karena dapat menyebabkan kematian akibat sumbatan jalan napas bagian atas dan toksinnya yang bersifat patogen menimbulkan komplikasi miokarditis (peradangan pada lapisan dinding jantung).

Difteri ditularkan secara kontak langsung dengan penderita atau karier (pembawa) melalui droplet transmission (udara) saat batuk, bersin, atau berbicara. Kuman C. diphtheriae masuk melalui mukosa atau kulit, melekat serta berkembang biak pada permukaan mukosa saluran napas atas dan memproduksi toksin yang merembes ke sekeliling dan selanjutnya menyebar ke seluruh tubuh melalui pembuluh limfa dan pembuluh darah.

Difteri menimbulkan gejala dan tanda berupa demam yang tidak begitu tinggi, 38ºC, munculnya pseudomembran atau selaput di tenggorokan yang berwarna putih keabu-abuan yang mudah berdarah jika dilepaskan, sakit waktu menelan, kadang-kadang disertai pembesaran kelenjar getah bening leher, dan pembengkakan jaringan lunak leher yang disebut bullneck.

Difteri merupakan penyakit lama yang sudah ada vaksinnya. Dengan melakukan imunisasi lengkap sejak usia bayi maka akan menurunkan risiko terinfeksi. Terdapat tiga jenis vaksin untuk imunisasi difteri, yaitu DPT-HB-Hib, vaksin DT, dan vaksin Td yang diberikan pada usia berbeda. Imunisasi difteri diberikan melalui imunisasi dasar pada bayi (di bawah satu tahun) sebanyak tiga dosis vaksin DPT-HB-Hib dengan jarak satu bulan pada usia dua bulan, tiga bulan, dan empat bulan. Selanjutnya, diberikan imunisasi lanjutan (booster) pada anak umur 18 bulan sebanyak satu dosis dan pada anak sekolah tingkat dasar kelas 1 diberikan satu dosis vaksin DT. Untuk anak usia lebih dari 7 tahun diberikan vaksin Td atau Tdap dan booster Td diberikan setiap 10 tahun.

Upaya penanggulangan difteri yang saat ini sedang mewabah harus dilakukan bersama-sama dengan tindakan deteksi dini kasus, pengobatan kasus, rujukan ke rumah sakit, mencegah penularan, dan memberantas carrier.

Semua pihak harus berpartisipasi sesuai peran masing-masing. Orang tua harus lebih proaktif terhadap kelengkapan imunisasi anak-anaknya. Petugas kesehatan harus bekerja lebih keras untuk mengedukasi masyarakat sekaligus melakukan pendekatan dengan kelompok-kelompok yang antivaksin dan pemerintah memiliki kewajiban untuk melengkapi fasilitas hingga ke tingkat daerah.

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) telah mengeluarkan beberapa rekomendasi yang dapat dilakukan oleh masyarakat dalam penanggulangan kasus difteri. Pertama, kenali gejala awal difteri. Kedua, segera ke puskesmas atau rumah sakit terdekat apabila ada anak mengeluh nyeri tenggorokan disertai suara berbunyi seperti mengorok (stridor), khususnya anak berumur kurang dari 15 tahun.

Berikutnya, anak harus segera dirawat di rumah sakit apabila dicurigai menderita difteri agar segera mendapat pengobatan dan pemeriksaan laboratorium untuk memastikan apakah anak benar menderita difteri.

Untuk memutuskan rantai penularan, seluruh anggota keluarga serumah harus segera diperiksa oleh dokter apakah mereka juga menderita atau karier (pembawa kuman) difteri dan mendapat pengobatan.

Anggota keluarga yang telah dinyatakan sehat, segera dilakukan imunisasi DPT. Apabila belum pernah mendapat DPT, diberikan imunisasi primer DPT tiga kali dengan interval masing-masing empat minggu. Apabila imunisasi belum lengkap segera dilengkapi (lanjutkan dengan imunisasi yang belum diberikan, tidak perlu diulang). Apabila telah lengkap imunisasi primer (< 1 tahun) perlu ditambah imunisasi DPT ulangan satu kali.

Masyarakat harus mengetahui dan memahami bahwa setelah imunisasi DPT, kadang-kadang timbul demam, bengkak, dan nyeri di tempat suntikan DPT, yang merupakan reaksi normal dan akan hilang dalam beberapa hari. Bila anak mengalami demam atau bengkak di tempat suntikan, boleh minum obat penurun panas parasetamol sehari 4 kali sesuai umur, sering minum jus buah atau susu, serta pakai baju tipis atau segera berobat ke petugas kesehatan terdekat.

*) Dokter umum RS Yasmin Banyuwangi

HAMPIR dua bulan terakhir ini, berita kesehatan di Indonesia dipenuhi oleh angka kejadian penyakit difteri di beberapa provinsi yang terus meningkat. Bahkan, beberapa dinas kesehatan sudah menyatakan kasus itu sebagai kejadian luar biasa (KLB).

Hal ini karena korban jiwa terus bertambah. Data Kementerian Kesehatan menunjukkan hingga November 2017, ada 95 kabupaten/kota di 20 provinsi yang melaporkan kasus difteri. Secara keseluruhan terdapat 622 kasus, 32 di antaranya meninggal dunia. Dari angka tersebut terdapat 271 kasus dengan 11 kematian terjadi di Provinsi Jawa Timur.

Difteri merupakan penyakit infeksi yang disebabkan oleh kuman Corynebacterium diphtheriae yang sangat mudah menular dan berbahaya karena dapat menyebabkan kematian akibat sumbatan jalan napas bagian atas dan toksinnya yang bersifat patogen menimbulkan komplikasi miokarditis (peradangan pada lapisan dinding jantung).

Difteri ditularkan secara kontak langsung dengan penderita atau karier (pembawa) melalui droplet transmission (udara) saat batuk, bersin, atau berbicara. Kuman C. diphtheriae masuk melalui mukosa atau kulit, melekat serta berkembang biak pada permukaan mukosa saluran napas atas dan memproduksi toksin yang merembes ke sekeliling dan selanjutnya menyebar ke seluruh tubuh melalui pembuluh limfa dan pembuluh darah.

Difteri menimbulkan gejala dan tanda berupa demam yang tidak begitu tinggi, 38ºC, munculnya pseudomembran atau selaput di tenggorokan yang berwarna putih keabu-abuan yang mudah berdarah jika dilepaskan, sakit waktu menelan, kadang-kadang disertai pembesaran kelenjar getah bening leher, dan pembengkakan jaringan lunak leher yang disebut bullneck.

Difteri merupakan penyakit lama yang sudah ada vaksinnya. Dengan melakukan imunisasi lengkap sejak usia bayi maka akan menurunkan risiko terinfeksi. Terdapat tiga jenis vaksin untuk imunisasi difteri, yaitu DPT-HB-Hib, vaksin DT, dan vaksin Td yang diberikan pada usia berbeda. Imunisasi difteri diberikan melalui imunisasi dasar pada bayi (di bawah satu tahun) sebanyak tiga dosis vaksin DPT-HB-Hib dengan jarak satu bulan pada usia dua bulan, tiga bulan, dan empat bulan. Selanjutnya, diberikan imunisasi lanjutan (booster) pada anak umur 18 bulan sebanyak satu dosis dan pada anak sekolah tingkat dasar kelas 1 diberikan satu dosis vaksin DT. Untuk anak usia lebih dari 7 tahun diberikan vaksin Td atau Tdap dan booster Td diberikan setiap 10 tahun.

Upaya penanggulangan difteri yang saat ini sedang mewabah harus dilakukan bersama-sama dengan tindakan deteksi dini kasus, pengobatan kasus, rujukan ke rumah sakit, mencegah penularan, dan memberantas carrier.

Semua pihak harus berpartisipasi sesuai peran masing-masing. Orang tua harus lebih proaktif terhadap kelengkapan imunisasi anak-anaknya. Petugas kesehatan harus bekerja lebih keras untuk mengedukasi masyarakat sekaligus melakukan pendekatan dengan kelompok-kelompok yang antivaksin dan pemerintah memiliki kewajiban untuk melengkapi fasilitas hingga ke tingkat daerah.

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) telah mengeluarkan beberapa rekomendasi yang dapat dilakukan oleh masyarakat dalam penanggulangan kasus difteri. Pertama, kenali gejala awal difteri. Kedua, segera ke puskesmas atau rumah sakit terdekat apabila ada anak mengeluh nyeri tenggorokan disertai suara berbunyi seperti mengorok (stridor), khususnya anak berumur kurang dari 15 tahun.

Berikutnya, anak harus segera dirawat di rumah sakit apabila dicurigai menderita difteri agar segera mendapat pengobatan dan pemeriksaan laboratorium untuk memastikan apakah anak benar menderita difteri.

Untuk memutuskan rantai penularan, seluruh anggota keluarga serumah harus segera diperiksa oleh dokter apakah mereka juga menderita atau karier (pembawa kuman) difteri dan mendapat pengobatan.

Anggota keluarga yang telah dinyatakan sehat, segera dilakukan imunisasi DPT. Apabila belum pernah mendapat DPT, diberikan imunisasi primer DPT tiga kali dengan interval masing-masing empat minggu. Apabila imunisasi belum lengkap segera dilengkapi (lanjutkan dengan imunisasi yang belum diberikan, tidak perlu diulang). Apabila telah lengkap imunisasi primer (< 1 tahun) perlu ditambah imunisasi DPT ulangan satu kali.

Masyarakat harus mengetahui dan memahami bahwa setelah imunisasi DPT, kadang-kadang timbul demam, bengkak, dan nyeri di tempat suntikan DPT, yang merupakan reaksi normal dan akan hilang dalam beberapa hari. Bila anak mengalami demam atau bengkak di tempat suntikan, boleh minum obat penurun panas parasetamol sehari 4 kali sesuai umur, sering minum jus buah atau susu, serta pakai baju tipis atau segera berobat ke petugas kesehatan terdekat.

*) Dokter umum RS Yasmin Banyuwangi

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/