alexametrics
23.3 C
Banyuwangi
Sunday, August 14, 2022

Banyuwangi Belum Bisa Produksi Plasma Konvalesen Mandiri

RadarBanyuwangi.id – Penggunaan plasma konvalesen kerap menjadi alternatif bagi pengobatan pasien yang terinveksi virus covid 19. Di Banyuwangi sendiri kebutuhan plasma konvalesen masih mengandalkan suplai stok dari luar daerah seperti Jember atau Surabaya.

Juru Bicara Satgas Covid 19 Banyuwangi, dr Widji Lestariono mengatakan jika di Banyuwangi memang belum bisa memproduksi plasma konvalesen secara mandiri. Selama ini pendonor atau yang membutuhkan plasma harus mencari ke luar kota seperti Jember atau Sirabaya. “Sudah lama metode plasma konvalesen kita pakai, tapi untuk stok biasanya kita mendapatkan dari Surabaya,”jelasnya.

Kepala Unit Donor Darah (UDD) PMI Banyuwangi, dr Rezekiyanti menambahkan jika di Banyuwangi masih belum memungkinkan untuk memproduksi plasma konvalesen. Ada beberapa syarat yang menurutnya harus dilengkapi sebuah UDD untuk bisa memproduksi plasma konvalesen sendiri. Pertama terkait izin. UDD yang memproduksi Plasma Konvalesen harus tersertivikasi Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) dari Badan Pengawas Obat dan Makanan.

Baca Juga :  Tempat Karantina Sering Tak Ada Penghuni

Kemudian kondisi bangunan UDD juga harus sesuai jika ingin mendapatkan sertifikasi tersebut. Salah satunya alur orang yang masuk ke lab dan pendonor harus berbeda. Ini yang menurutnya sulit dikerjakan dalam waktu singkat.  Kedua terkait alat pengambilan darah berupa mesin plasmapheresis untuk mengambil cairan plasma dari darah yang sudah didonorkan. Mesin ini memiliki harga berkisar antara Rp 900 juta sampai Rp 1 Milyar per unit. Sebelum pendonor diambil darahnya, mereka juga harus diskrining antibodinya dengan alat khusus untuk memastikan darah yang diambil aman.

Hal itu untuk memastikan tidak ada infeksi menular saat transfusi darah dilakukan. Pemeriksaanya pun menggunakan alat khusus Nuclear antigen seperti mesin PCR. Karena peralatan tersebut selama ini belum bisa disediakan, maka Banyuwangi mengandalkan stok dari daerah lain. Seperti Gresik, Surabaya, Denpasar, Kota Malang, Jember dan Lumajang. “Plasma konvalesen ini sekali lagi bukan terapi utama, tapi terapi tambahan. Apalagi saat ini stoknya cukup banyak daripada kebutuhanya. Kita masih memungkinkan mencari dari tempat lain,”jelasnya.

Baca Juga :  Penertiban Klinik Abal-Abal untuk Melindungi Keselamatan Warga

Meski tak bisa memproduksi sendiri, wanita yang akrab disapa Yanti itu mengatakan jika UDD PMI Banyuwangi selalu mengupdate stok ketersediaan plasma konvalesen kepada rumah sakit yang melayani isolasi pasien covid seperti RSUD Blambangan, RSUD Genteng, RS AL Huda dan RSI Fatimah. Jadi ketika ada rumah sakit yang membutuhkan, UDD PMI bisa melakukan pemesanan ke tempat yang sedang menyediakan stok. “Meskipun kita punya anggaran, untuk membangun fasilitas plasma konvalesen secara mandiri butuh proses panjang. Seperti sertifikasi dari BPOM tidak bisa langsung keluar. Jadi sementara lebih memungkinkan kita mencari stok di kota lain,” tandasnya.

RadarBanyuwangi.id – Penggunaan plasma konvalesen kerap menjadi alternatif bagi pengobatan pasien yang terinveksi virus covid 19. Di Banyuwangi sendiri kebutuhan plasma konvalesen masih mengandalkan suplai stok dari luar daerah seperti Jember atau Surabaya.

Juru Bicara Satgas Covid 19 Banyuwangi, dr Widji Lestariono mengatakan jika di Banyuwangi memang belum bisa memproduksi plasma konvalesen secara mandiri. Selama ini pendonor atau yang membutuhkan plasma harus mencari ke luar kota seperti Jember atau Sirabaya. “Sudah lama metode plasma konvalesen kita pakai, tapi untuk stok biasanya kita mendapatkan dari Surabaya,”jelasnya.

Kepala Unit Donor Darah (UDD) PMI Banyuwangi, dr Rezekiyanti menambahkan jika di Banyuwangi masih belum memungkinkan untuk memproduksi plasma konvalesen. Ada beberapa syarat yang menurutnya harus dilengkapi sebuah UDD untuk bisa memproduksi plasma konvalesen sendiri. Pertama terkait izin. UDD yang memproduksi Plasma Konvalesen harus tersertivikasi Cara Pembuatan Obat yang Baik (CPOB) dari Badan Pengawas Obat dan Makanan.

Baca Juga :  Ruang UGD Kosong, Lima Pasien Langsung Masuk ke Ruang Isolasi

Kemudian kondisi bangunan UDD juga harus sesuai jika ingin mendapatkan sertifikasi tersebut. Salah satunya alur orang yang masuk ke lab dan pendonor harus berbeda. Ini yang menurutnya sulit dikerjakan dalam waktu singkat.  Kedua terkait alat pengambilan darah berupa mesin plasmapheresis untuk mengambil cairan plasma dari darah yang sudah didonorkan. Mesin ini memiliki harga berkisar antara Rp 900 juta sampai Rp 1 Milyar per unit. Sebelum pendonor diambil darahnya, mereka juga harus diskrining antibodinya dengan alat khusus untuk memastikan darah yang diambil aman.

Hal itu untuk memastikan tidak ada infeksi menular saat transfusi darah dilakukan. Pemeriksaanya pun menggunakan alat khusus Nuclear antigen seperti mesin PCR. Karena peralatan tersebut selama ini belum bisa disediakan, maka Banyuwangi mengandalkan stok dari daerah lain. Seperti Gresik, Surabaya, Denpasar, Kota Malang, Jember dan Lumajang. “Plasma konvalesen ini sekali lagi bukan terapi utama, tapi terapi tambahan. Apalagi saat ini stoknya cukup banyak daripada kebutuhanya. Kita masih memungkinkan mencari dari tempat lain,”jelasnya.

Baca Juga :  Ketersediaan Oksigen di Rumah Sakit Mencukupi

Meski tak bisa memproduksi sendiri, wanita yang akrab disapa Yanti itu mengatakan jika UDD PMI Banyuwangi selalu mengupdate stok ketersediaan plasma konvalesen kepada rumah sakit yang melayani isolasi pasien covid seperti RSUD Blambangan, RSUD Genteng, RS AL Huda dan RSI Fatimah. Jadi ketika ada rumah sakit yang membutuhkan, UDD PMI bisa melakukan pemesanan ke tempat yang sedang menyediakan stok. “Meskipun kita punya anggaran, untuk membangun fasilitas plasma konvalesen secara mandiri butuh proses panjang. Seperti sertifikasi dari BPOM tidak bisa langsung keluar. Jadi sementara lebih memungkinkan kita mencari stok di kota lain,” tandasnya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

DKB Gelar Workshop Teater dan Pantomim

Tarif Ojol Akan Naik

Ditinggal Ziarah Haji, Rumah Terbakar

/