alexametrics
25 C
Banyuwangi
Saturday, June 25, 2022

Banyuwangi Turun ke Level 3, Mal Boleh Buka, Tempat Wisata Masih Tutup

RadarBanyuwangi.id – Banyuwangi ”turun status”. Bumi Blambangan yang sebelumnya masuk daerah yang menerapkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Level 4, kini masuk wilayah PPKM Level 3.

Penurunan level ini diiringi sejumlah pelonggaran. Di antaranya diperbolehkannya pusat-pusat perbelanjaan alias mal beroperasi, kegiatan peribadatan di tempat ibadah juga sudah diperbolehkan. Selain itu, restoran, rumah makan, atau kafe dengan area pelayanan di ruang terbuka diizinkan melayani makan di tempat dengan ketentuan maksimal 30 menit.

Berdasar Instruksi Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Nomor 30 Tahun 2021, Banyuwangi menjadi salah satu daerah di Jatim yang masuk PPKM Level 3. Ketentuan tersebut berlaku sejak kemarin (10/8) sampai 16 Agustus mendatang.

Bupati Ipuk Fiestiandani mengatakan, sesuai dengan aturan terbaru, pusat perbelanjaan yang berada di kota-kota besar sudah bisa dibuka. Dengan catatan, setiap pengunjung yang datang harus menunjukkan kartu vaksin serta menerapkan protokol kesehatan secara ketat. ”Kalau kota-kota besar boleh dibuka. Tapi dengan syarat orang yang masuk mal harus menunjukkan kartu vaksin dan menerapkan protokol kesehatan (prokes) secara ketat. Untuk anak-anak masih tidak boleh masuk ke mal. Untuk Banyuwangi sendiri sudah diperbolehkan buka,” ujarnya usai meninjau kegiatan vaksinasi Covid-19 terhadap kaum disabilitas di Satpas Polresta Banyuwangi kemarin.

Selain mal, aktivitas di tempat ibadah juga sudah diperbolehkan. Namun, ada pembatasan maksimal 20 orang. ”Kemudian untuk makan di tempat makan, dibatasi waktu maksimal 30 menit,” kata dia.

Di sisi lain, kata Ipuk, untuk kegiatan hajatan dan pergelaran seni masih dilarang. Hal ini untuk mengantisipasi munculnya klaster baru penyebaran Covid-19. ”Hajatan masih tidak boleh,” tegasnya.

Kebijakan ini juga berlaku untuk destinasi wisata yang masih ditutup. ”Tempat wisata belum ada pembukaan. Masih akan kita uji coba secara bertahap. Tidak bisa diloskan. Kalau diloskan, maka kapasitas rumah sakit tidak cukup jika terjadi ledakan gelombang ketiga,” pungkasnya.

Sementara itu, Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis)  meminta agar pemkab bisa membuka tempat wisata di masa PPKM meski dengan prokes yang ketat. Tuntutan serupa juga diajukan oleh pengurus Persatuan Hotel Republik Indonesia (PHRI) Banyuwangi. Selama ini hotel dan restoran menjadi sektor yang ikut terpukul dengan penerapan PPKM. Padahal, sebagian besar pasar hotel dan restoran mengandalkan tamu-tamu tempat wisata.

”Jika mengikuti aturan PPKM yang diteruskan dari pusat, daerah akan kesulitan. Padahal, ada opsi jika kebijakan diserahkan ke masing-masing pemkab untuk menyesuaikan kebijakan PPKM. Kita harap ada penyesuaian di sana,” kata Ketua PHRI Banyuwangi Zaenal Muttaqin.

Dari data Satgas Covid-19, dalam sepekan terakhir angka rata-rata kematian pasien 17 orang per hari. Persentase kematian masih cukup tinggi, yaitu 11,41 persen. Ipuk meminta masyarakat tetap mematuhi protokol kesehatan dan mengikuti program yang sudah digagas oleh pemerintah. ”Sampai hari ini sudah ada penurunan di ruang isolasi, tapi belum signifikan,” kata Ipuk.

Sementara itu, tingginya angka kematian di Banyuwangi juga berimbas dengan banyaknya anak-anak yang mendadak jadi yatim. Pemkab melalui kecamatan tengah melakukan pendataan agar anak-anak tersebut bisa diperhatikan. ”Tetap kita pantau. Dengan banyaknya yang meninggal karena Covid jumlah anak yatim terus bertambah,” pungkasnya. (sgt/fre/aif/c1)

RadarBanyuwangi.id – Banyuwangi ”turun status”. Bumi Blambangan yang sebelumnya masuk daerah yang menerapkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Level 4, kini masuk wilayah PPKM Level 3.

Penurunan level ini diiringi sejumlah pelonggaran. Di antaranya diperbolehkannya pusat-pusat perbelanjaan alias mal beroperasi, kegiatan peribadatan di tempat ibadah juga sudah diperbolehkan. Selain itu, restoran, rumah makan, atau kafe dengan area pelayanan di ruang terbuka diizinkan melayani makan di tempat dengan ketentuan maksimal 30 menit.

Berdasar Instruksi Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Nomor 30 Tahun 2021, Banyuwangi menjadi salah satu daerah di Jatim yang masuk PPKM Level 3. Ketentuan tersebut berlaku sejak kemarin (10/8) sampai 16 Agustus mendatang.

Bupati Ipuk Fiestiandani mengatakan, sesuai dengan aturan terbaru, pusat perbelanjaan yang berada di kota-kota besar sudah bisa dibuka. Dengan catatan, setiap pengunjung yang datang harus menunjukkan kartu vaksin serta menerapkan protokol kesehatan secara ketat. ”Kalau kota-kota besar boleh dibuka. Tapi dengan syarat orang yang masuk mal harus menunjukkan kartu vaksin dan menerapkan protokol kesehatan (prokes) secara ketat. Untuk anak-anak masih tidak boleh masuk ke mal. Untuk Banyuwangi sendiri sudah diperbolehkan buka,” ujarnya usai meninjau kegiatan vaksinasi Covid-19 terhadap kaum disabilitas di Satpas Polresta Banyuwangi kemarin.

Selain mal, aktivitas di tempat ibadah juga sudah diperbolehkan. Namun, ada pembatasan maksimal 20 orang. ”Kemudian untuk makan di tempat makan, dibatasi waktu maksimal 30 menit,” kata dia.

Di sisi lain, kata Ipuk, untuk kegiatan hajatan dan pergelaran seni masih dilarang. Hal ini untuk mengantisipasi munculnya klaster baru penyebaran Covid-19. ”Hajatan masih tidak boleh,” tegasnya.

Kebijakan ini juga berlaku untuk destinasi wisata yang masih ditutup. ”Tempat wisata belum ada pembukaan. Masih akan kita uji coba secara bertahap. Tidak bisa diloskan. Kalau diloskan, maka kapasitas rumah sakit tidak cukup jika terjadi ledakan gelombang ketiga,” pungkasnya.

Sementara itu, Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis)  meminta agar pemkab bisa membuka tempat wisata di masa PPKM meski dengan prokes yang ketat. Tuntutan serupa juga diajukan oleh pengurus Persatuan Hotel Republik Indonesia (PHRI) Banyuwangi. Selama ini hotel dan restoran menjadi sektor yang ikut terpukul dengan penerapan PPKM. Padahal, sebagian besar pasar hotel dan restoran mengandalkan tamu-tamu tempat wisata.

”Jika mengikuti aturan PPKM yang diteruskan dari pusat, daerah akan kesulitan. Padahal, ada opsi jika kebijakan diserahkan ke masing-masing pemkab untuk menyesuaikan kebijakan PPKM. Kita harap ada penyesuaian di sana,” kata Ketua PHRI Banyuwangi Zaenal Muttaqin.

Dari data Satgas Covid-19, dalam sepekan terakhir angka rata-rata kematian pasien 17 orang per hari. Persentase kematian masih cukup tinggi, yaitu 11,41 persen. Ipuk meminta masyarakat tetap mematuhi protokol kesehatan dan mengikuti program yang sudah digagas oleh pemerintah. ”Sampai hari ini sudah ada penurunan di ruang isolasi, tapi belum signifikan,” kata Ipuk.

Sementara itu, tingginya angka kematian di Banyuwangi juga berimbas dengan banyaknya anak-anak yang mendadak jadi yatim. Pemkab melalui kecamatan tengah melakukan pendataan agar anak-anak tersebut bisa diperhatikan. ”Tetap kita pantau. Dengan banyaknya yang meninggal karena Covid jumlah anak yatim terus bertambah,” pungkasnya. (sgt/fre/aif/c1)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/