alexametrics
27.6 C
Banyuwangi
Thursday, July 7, 2022

85 Perawat Belajar Basic Trauma Cardiac Life Support

JawaPos.com – Basic Trauma Cardiac Life Support (BTCLS) adalah pengetahuan atau skill yang menjadi salah satu prasyarat, yang harus dimiliki oleh perawat. Baik yang bekerja di pelayanan kesehatan dalam maupun luar negeri. Nah, Dewan Pimpinan Daerah Persatuan Perawat Nasional Indonesia (DPD PPNI) Kabupaten Banyuwangi memberikan pelatihan BTCLS selama tiga hari di gedung sekretariat PPNI Jalan Kampar, Banyuwangi.

Pelatihan BTCLS dilaksanakan mulai Minggu (7/1) hingga Selasa (9/1). Kegiatan diikuti 85 orang peserta dari kalangan perawat serta mahasiswa kebidanan dan keperawatan. Peserta perawat berasal dari seluruh rumah sakit, Puskesmas, dan perawat swasta. Mereka dilatih oleh sepuluh trainer berkompeten dari International Nursing Training Centre Jakarta dibantu trainer lokal yang telah bersertifikat.

Materi pelatihan yang diberikan meliputi materi dasar, yakni etika dan aspek legal kegawatdaruratan. Selain itu, sistem penanggulangan gawat darurat terpadu (SPGDT). Sedangkan materi inti terdiri dari penatalaksanaan di tempat kejadian gawat darurat dan bencana korban masal. Kemudian bantuan hidup dasar dan penilaian awal (initial assesment). Selain itu, penatalaksanaan gangguan pernafasan dan jalan nafas (airway and breathing). Ada juga materi penatalaksanaan trauma, yang terdiri dari kepala dan spiral, dada dan abdomen, muskuloskeletal, luka bakar, dan ekstrim udara panas dingin. Ditambah lagi, penatalaksanaan gangguan sirkulasi serta penatalaksanaan proses rujukan. Di samping itu, triase pasien, manajemen gawat darurat dan bencana korban masal, serta teknik melatih dan fasilitasi.

Ketua DPD PPNI Kabupaten Banyuwangi, Dr. Sismulyanto, SKep, Ners, MKes mengakui, pelatihan tersebut sengaja diberikan kepada para perawat, karena mereka yang berhubungan langsung dengan pasien. Selain itu, pengetahuan tentang BCTLS menjadi salah satu prasyarat bagi perawat yang bekerja di pelayanan kesehatan dalam maupun luar negeri. “PPNI juga bekerja sama dengan BNP2TKI untuk mengirim perawat bekerja di luar negeri setelah diberi pelatihan sebagai tenaga profesional terlebih dahulu,” tuturnya.

Sismulyanto mengakui, permintaan pelatihan dari masyarakat kepada PPNI cukup banyak. Selain pelatihan nursing tourism, PPNI siap memberikan pelatihan BTCLS kepada masyarakat. Tujuannya, kata dia, hanya ingin menularkan ilmu kepada masyarakat. Ke depan diharapkan masyarakat bisa menolong keluarga atau tetangganya sendiri. “Kami tidak minta apa-apa, tetapi hanya ingin membuat PPNI Banyuwangi sebagai barometer Nusantara,” ungkapnya.    

Yusron Amin, salah satu peserta pelatihan BCTLS mengapresiasi kegiatan yang digelar PPNI tersebut. Perawat yang baru menyelesaikan pendidikan S2 keperawatan itu mengakui, ilmu pertolongan pertama gawat darurat yang diajarkan sangat lengkap. Ada komponen-komponen pelatihan yang dikhususkan untuk petugas kesehatan. Namun, orang awam pun bisa mempelajarinya. “Selama ini, pelatihan seperti ini diselenggarakan oleh instansi pemerintah, seperti rumah sakit. Namun sekarang justru PPNI yang mengadakan untuk para perawat,” katanya.

JawaPos.com – Basic Trauma Cardiac Life Support (BTCLS) adalah pengetahuan atau skill yang menjadi salah satu prasyarat, yang harus dimiliki oleh perawat. Baik yang bekerja di pelayanan kesehatan dalam maupun luar negeri. Nah, Dewan Pimpinan Daerah Persatuan Perawat Nasional Indonesia (DPD PPNI) Kabupaten Banyuwangi memberikan pelatihan BTCLS selama tiga hari di gedung sekretariat PPNI Jalan Kampar, Banyuwangi.

Pelatihan BTCLS dilaksanakan mulai Minggu (7/1) hingga Selasa (9/1). Kegiatan diikuti 85 orang peserta dari kalangan perawat serta mahasiswa kebidanan dan keperawatan. Peserta perawat berasal dari seluruh rumah sakit, Puskesmas, dan perawat swasta. Mereka dilatih oleh sepuluh trainer berkompeten dari International Nursing Training Centre Jakarta dibantu trainer lokal yang telah bersertifikat.

Materi pelatihan yang diberikan meliputi materi dasar, yakni etika dan aspek legal kegawatdaruratan. Selain itu, sistem penanggulangan gawat darurat terpadu (SPGDT). Sedangkan materi inti terdiri dari penatalaksanaan di tempat kejadian gawat darurat dan bencana korban masal. Kemudian bantuan hidup dasar dan penilaian awal (initial assesment). Selain itu, penatalaksanaan gangguan pernafasan dan jalan nafas (airway and breathing). Ada juga materi penatalaksanaan trauma, yang terdiri dari kepala dan spiral, dada dan abdomen, muskuloskeletal, luka bakar, dan ekstrim udara panas dingin. Ditambah lagi, penatalaksanaan gangguan sirkulasi serta penatalaksanaan proses rujukan. Di samping itu, triase pasien, manajemen gawat darurat dan bencana korban masal, serta teknik melatih dan fasilitasi.

Ketua DPD PPNI Kabupaten Banyuwangi, Dr. Sismulyanto, SKep, Ners, MKes mengakui, pelatihan tersebut sengaja diberikan kepada para perawat, karena mereka yang berhubungan langsung dengan pasien. Selain itu, pengetahuan tentang BCTLS menjadi salah satu prasyarat bagi perawat yang bekerja di pelayanan kesehatan dalam maupun luar negeri. “PPNI juga bekerja sama dengan BNP2TKI untuk mengirim perawat bekerja di luar negeri setelah diberi pelatihan sebagai tenaga profesional terlebih dahulu,” tuturnya.

Sismulyanto mengakui, permintaan pelatihan dari masyarakat kepada PPNI cukup banyak. Selain pelatihan nursing tourism, PPNI siap memberikan pelatihan BTCLS kepada masyarakat. Tujuannya, kata dia, hanya ingin menularkan ilmu kepada masyarakat. Ke depan diharapkan masyarakat bisa menolong keluarga atau tetangganya sendiri. “Kami tidak minta apa-apa, tetapi hanya ingin membuat PPNI Banyuwangi sebagai barometer Nusantara,” ungkapnya.    

Yusron Amin, salah satu peserta pelatihan BCTLS mengapresiasi kegiatan yang digelar PPNI tersebut. Perawat yang baru menyelesaikan pendidikan S2 keperawatan itu mengakui, ilmu pertolongan pertama gawat darurat yang diajarkan sangat lengkap. Ada komponen-komponen pelatihan yang dikhususkan untuk petugas kesehatan. Namun, orang awam pun bisa mempelajarinya. “Selama ini, pelatihan seperti ini diselenggarakan oleh instansi pemerintah, seperti rumah sakit. Namun sekarang justru PPNI yang mengadakan untuk para perawat,” katanya.

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/