alexametrics
28.1 C
Banyuwangi
Thursday, July 7, 2022

Tangani Tuberkulosis, Banyuwangi Skrining 22.500 Warga Rentan

BANYUWANGI – Pemkab Banyuwangi kembali menggencarkan skrining tuberkulosis (TB). Dalam rangka Hari Tuberkulosis Sedunia, Banyuwangi menargetkan sedikitnya ada 22.500 warga rentan yang diskrining selama bulan Maret sampai April mendatang.

”Selama pandemi ini, perhatian kita fokus pada penanganan Covid. Meski begitu, penyakit lainnya, seperti TB harus tetap jadi perhatian kita. Dan, dalam momentum Hari TB Sedunia ini, kami menggerakkan seluruh puskesmas di Banyuwangi untuk menskrining warga yang terindikasi mengidap TB,” ungkap Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani saat membuka puncak Peringatan Hari Tuberkulosis Sedunia di Puskesmas Songgon, Rabu (30/3/2022).

Untuk menangani TB, imbuh Ipuk, harus ada keterlibatan semua pihak. Terutama partisipasi warga untuk melaporkan anggota keluarganya yang sakit. Saat ini, di tiap puskesmas di Banyuwangi telah dibentuk tim khusus untuk melakukan pendampingan pasien TB. Bahkan, RSUD Blambangan juga telah dilengkapi dengan pelayanan Tuberkulosis Resisten Obat (TBC-RO). ”Sehingga pasien TB RO tak perlu lagi dirujuk ke luar kota. Cukup berobat di Banyuwangi saja,” jelasnya.

Salah satu pasien TB yang berhasil sembuh adalah Nur Kholidah. Warga Desa Sumberarum itu rutin melakukan perawatan di Puskesmas Songgon sejak divonis mengidap TB pada pertengahan 2020. Sembilan bulan lamanya, dia rutin mengonsumsi obat yang diberikan oleh puskesmas. 

”Awal minum obat, saya merasakan mual, pusing, dan lemas. Tapi, berkat pendampingan dan motivasi dari petugas puskesmas, Alhamdulillah, saya bisa melalui itu semua. Saya rutin minum obat dan kontrol,” terangnya.

Nur Kholidah juga mengapresiasi kesigapan pelayanan yang diberikan Puskesmas Songgon. ”Tidak hanya saya yang datang ke puskesmas, tapi petugas puskesmas juga datang ke rumah. Mereka memantau kondisi rumah dan lingkungan sekitar untuk memastikan kebersihannya,” paparnya.

Hal yang sama juga diakui oleh Rohman, warga Desa Songgon. Pasien yang telah melakukan pengobatan rutin selama tujuh bulan itu, mengajak seluruh warga yang menderita TB untuk tak ragu berobat di puskesmas. ”Kita akan selalu mendapatkan pendampingan setiap ada gejala atau perkembangan dari penyakit kita,” ujarnya.

 

Rohman mengakui jika dirinya termasuk pasien yang telat memeriksakan diri. Setelah mengidap batuk tak kunjung sembuh lebih dari tiga tahun, dia baru memberanikan diri untuk periksa. Saat periksa itulah, baru diketahui bahwa dirinya mengidap TB dengan kondisi yang sudah cukup parah. ”Jangan sampai telat periksa agar bisa segera diobati. Sehingga, bisa lebih cepat sembuh,” ujar Rohman.

Sementara itu, Plt Kepala Dinas Kesehatan Banyuwangi Amir Hidayat menyebutkan, pengidap tuberkulosis di Banyuwangi mencapai 1.892 orang. ”Sebanyak 158 di antaranya adalah pasien anak,” ungkap Amir.

Untuk itu, lanjut Amir, selain melakukan serangkaian pengobatan kepada para pasien yang telah teridentifikasi, pihaknya juga terus melakukan skrining sebagai upaya untuk mendeteksi dini potensi persebarannya. 

”Pada bulan Maret–April ini, saya targetkan sedikitnya ada 22 ribu warga rentan yang mendapatkan skrining di seluruh puskesmas se-Banyuwangi. Sampai saat ini, target tersebut setidaknya telah mencapai 70 persen,” pungkasnya. 

BANYUWANGI – Pemkab Banyuwangi kembali menggencarkan skrining tuberkulosis (TB). Dalam rangka Hari Tuberkulosis Sedunia, Banyuwangi menargetkan sedikitnya ada 22.500 warga rentan yang diskrining selama bulan Maret sampai April mendatang.

”Selama pandemi ini, perhatian kita fokus pada penanganan Covid. Meski begitu, penyakit lainnya, seperti TB harus tetap jadi perhatian kita. Dan, dalam momentum Hari TB Sedunia ini, kami menggerakkan seluruh puskesmas di Banyuwangi untuk menskrining warga yang terindikasi mengidap TB,” ungkap Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani saat membuka puncak Peringatan Hari Tuberkulosis Sedunia di Puskesmas Songgon, Rabu (30/3/2022).

Untuk menangani TB, imbuh Ipuk, harus ada keterlibatan semua pihak. Terutama partisipasi warga untuk melaporkan anggota keluarganya yang sakit. Saat ini, di tiap puskesmas di Banyuwangi telah dibentuk tim khusus untuk melakukan pendampingan pasien TB. Bahkan, RSUD Blambangan juga telah dilengkapi dengan pelayanan Tuberkulosis Resisten Obat (TBC-RO). ”Sehingga pasien TB RO tak perlu lagi dirujuk ke luar kota. Cukup berobat di Banyuwangi saja,” jelasnya.

Salah satu pasien TB yang berhasil sembuh adalah Nur Kholidah. Warga Desa Sumberarum itu rutin melakukan perawatan di Puskesmas Songgon sejak divonis mengidap TB pada pertengahan 2020. Sembilan bulan lamanya, dia rutin mengonsumsi obat yang diberikan oleh puskesmas. 

”Awal minum obat, saya merasakan mual, pusing, dan lemas. Tapi, berkat pendampingan dan motivasi dari petugas puskesmas, Alhamdulillah, saya bisa melalui itu semua. Saya rutin minum obat dan kontrol,” terangnya.

Nur Kholidah juga mengapresiasi kesigapan pelayanan yang diberikan Puskesmas Songgon. ”Tidak hanya saya yang datang ke puskesmas, tapi petugas puskesmas juga datang ke rumah. Mereka memantau kondisi rumah dan lingkungan sekitar untuk memastikan kebersihannya,” paparnya.

Hal yang sama juga diakui oleh Rohman, warga Desa Songgon. Pasien yang telah melakukan pengobatan rutin selama tujuh bulan itu, mengajak seluruh warga yang menderita TB untuk tak ragu berobat di puskesmas. ”Kita akan selalu mendapatkan pendampingan setiap ada gejala atau perkembangan dari penyakit kita,” ujarnya.

 

Rohman mengakui jika dirinya termasuk pasien yang telat memeriksakan diri. Setelah mengidap batuk tak kunjung sembuh lebih dari tiga tahun, dia baru memberanikan diri untuk periksa. Saat periksa itulah, baru diketahui bahwa dirinya mengidap TB dengan kondisi yang sudah cukup parah. ”Jangan sampai telat periksa agar bisa segera diobati. Sehingga, bisa lebih cepat sembuh,” ujar Rohman.

Sementara itu, Plt Kepala Dinas Kesehatan Banyuwangi Amir Hidayat menyebutkan, pengidap tuberkulosis di Banyuwangi mencapai 1.892 orang. ”Sebanyak 158 di antaranya adalah pasien anak,” ungkap Amir.

Untuk itu, lanjut Amir, selain melakukan serangkaian pengobatan kepada para pasien yang telah teridentifikasi, pihaknya juga terus melakukan skrining sebagai upaya untuk mendeteksi dini potensi persebarannya. 

”Pada bulan Maret–April ini, saya targetkan sedikitnya ada 22 ribu warga rentan yang mendapatkan skrining di seluruh puskesmas se-Banyuwangi. Sampai saat ini, target tersebut setidaknya telah mencapai 70 persen,” pungkasnya. 

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/