23.6 C
Banyuwangi
Tuesday, March 28, 2023

Khusnan: Pelaku Kekerasan Seksual Layak Dikebiri

BANYUWANGI, Jawa Pos Radar Banyuwangi – Ketua Fraksi PKB Khusnan Abadi merasa prihatin dengan kasus pelecehan maupun kekerasan seksual di Bumi Blambangan. Menurutnya, perlu adanya tindakan tegas dari penegak hukum dan instansi pendidikan untuk mencegah kejadian yang sama agar tidak terulang lagi.

Menurut Khusnan, kasus pelecehan seksual yang kini tengah ramai diperbincangkan layaknya fenomena gunung es. Sejumlah laporan yang muncul di permukaan hanyalah sebagian kecil dari kejadian yang terjadi di masyarakat.

”Ketika diamati fenomena ini terjadi secara terus-menerus. Kalau dibiarkan meski sudah masuk ke bagian penegak hukum, masih berpotensi akan muncul kasus yang sama. Masak hampir setengah bulan terjadi, ini harus segera ditangani,” ujarnya, Selasa (14/3).

Menurut Khusnan, pihak yang harus sigap dalam bertindak adalah Dinas Pendidikan (Dispendik) mengingat para korban masih bersekolah dan berusia di bawah umur. Terdapat dua poin penting yang dipaparkan oleh Khusnan. Pertama, perlu adanya pendampingan yang optimal kepada para korban.

Baca Juga :  Sepuluh Personel Polresta Dapat Penghargaan

Khusnan sangat menyayangkan apabila terdapat korban pelecehan seksual yang memutuskan untuk berhenti bersekolah karena kondisi yang dialami. ”Jangan sampai karena dia telah menjadi korban pelecehan, masih harus menjadi korban di dalam pendidikannya,” imbuhnya.

Menurut Khusnan, perlu adanya pendampingan yang optimal kepada para korban. Tidak hanya pendampingan psikis korban, tetapi pendampingan menyeluruh yang menjamin masa depan pendidikan korban. Seperti korban yang masih duduk di bangku SMP, maka pihak Dispendik perlu memastikan korban mendapatkan pendampingan untuk dapat melanjutkan jenjang pendidikan hingga tingkat SMA dan seterusnya. ”Perlu memperhatikan pendampingan dari aspek keamanan, nama baik, kerahasiaan, untuk tetap melanjutkan pendidikan,” tegas Sekretaris Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PKB Banyuwangi itu.

Poin kedua, lanjut Khusnan, yakni memberikan efek jera kepada para pelaku kejahatan. Apabila berbicara dari segi hukum, maka para pelaku mendapatkan hukuman yang setimpal sesuai dengan aturan yang ada. Bahkan, jika memungkinkan, hukuman kebiri layak diterapkan. ”Katakanlah dilakukan kebiri, itu tidak masalah kalau misal itu dapat membuat seseorang berhenti,” tegas politisi berusia 52 tahun itu.

Baca Juga :  Diancam Dikeluarkan dari Sekolah, Oknum Pengasuh Pesantren Diduga Cabuli Santri

Sebelumnya, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (Dinsos-PPKB) Henik Setyorini mengungkapkan, ada 12 kasus pelecehan seksual yang dialami oleh anak-anak dalam beberapa bulan terakhir. Hal itu menjadi catatan bagi Pemkab Banyuwangi dalam menangani permasalahan yang merebak tersebut.

Kepala Dispendik Suratno telah melakukan beberapa upaya untuk mencegah terjadinya pelecehan seksual yang menimpa anak sekolah. Pihaknya menambah dan mengubah pola pelatihan kepada guru serta tenaga pendidikan.

Materi yang diberikan tidak hanya berfokus pada pengembangan dunia pendidikan, tetapi juga berkaitan dengan risiko pelecehan seksual. ”Upaya kami adalah mencegah agar tidak terjadi lagi hal serupa di lingkungan sekolah. Tidak hanya pihak sekolah saja yang bergerak, lingkungan keluarga dan masyarakat turut bekerja sama,” pungkas Suratno. (rei/aif/c1)

BANYUWANGI, Jawa Pos Radar Banyuwangi – Ketua Fraksi PKB Khusnan Abadi merasa prihatin dengan kasus pelecehan maupun kekerasan seksual di Bumi Blambangan. Menurutnya, perlu adanya tindakan tegas dari penegak hukum dan instansi pendidikan untuk mencegah kejadian yang sama agar tidak terulang lagi.

Menurut Khusnan, kasus pelecehan seksual yang kini tengah ramai diperbincangkan layaknya fenomena gunung es. Sejumlah laporan yang muncul di permukaan hanyalah sebagian kecil dari kejadian yang terjadi di masyarakat.

”Ketika diamati fenomena ini terjadi secara terus-menerus. Kalau dibiarkan meski sudah masuk ke bagian penegak hukum, masih berpotensi akan muncul kasus yang sama. Masak hampir setengah bulan terjadi, ini harus segera ditangani,” ujarnya, Selasa (14/3).

Menurut Khusnan, pihak yang harus sigap dalam bertindak adalah Dinas Pendidikan (Dispendik) mengingat para korban masih bersekolah dan berusia di bawah umur. Terdapat dua poin penting yang dipaparkan oleh Khusnan. Pertama, perlu adanya pendampingan yang optimal kepada para korban.

Baca Juga :  Usai Dilayani, Bukannya Dibayar, PSK Malah Dihajar

Khusnan sangat menyayangkan apabila terdapat korban pelecehan seksual yang memutuskan untuk berhenti bersekolah karena kondisi yang dialami. ”Jangan sampai karena dia telah menjadi korban pelecehan, masih harus menjadi korban di dalam pendidikannya,” imbuhnya.

Menurut Khusnan, perlu adanya pendampingan yang optimal kepada para korban. Tidak hanya pendampingan psikis korban, tetapi pendampingan menyeluruh yang menjamin masa depan pendidikan korban. Seperti korban yang masih duduk di bangku SMP, maka pihak Dispendik perlu memastikan korban mendapatkan pendampingan untuk dapat melanjutkan jenjang pendidikan hingga tingkat SMA dan seterusnya. ”Perlu memperhatikan pendampingan dari aspek keamanan, nama baik, kerahasiaan, untuk tetap melanjutkan pendidikan,” tegas Sekretaris Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PKB Banyuwangi itu.

Poin kedua, lanjut Khusnan, yakni memberikan efek jera kepada para pelaku kejahatan. Apabila berbicara dari segi hukum, maka para pelaku mendapatkan hukuman yang setimpal sesuai dengan aturan yang ada. Bahkan, jika memungkinkan, hukuman kebiri layak diterapkan. ”Katakanlah dilakukan kebiri, itu tidak masalah kalau misal itu dapat membuat seseorang berhenti,” tegas politisi berusia 52 tahun itu.

Baca Juga :  Kembalikan Kerugian Negara, Sugianto Divonis 2,5 Tahun Penjara

Sebelumnya, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (Dinsos-PPKB) Henik Setyorini mengungkapkan, ada 12 kasus pelecehan seksual yang dialami oleh anak-anak dalam beberapa bulan terakhir. Hal itu menjadi catatan bagi Pemkab Banyuwangi dalam menangani permasalahan yang merebak tersebut.

Kepala Dispendik Suratno telah melakukan beberapa upaya untuk mencegah terjadinya pelecehan seksual yang menimpa anak sekolah. Pihaknya menambah dan mengubah pola pelatihan kepada guru serta tenaga pendidikan.

Materi yang diberikan tidak hanya berfokus pada pengembangan dunia pendidikan, tetapi juga berkaitan dengan risiko pelecehan seksual. ”Upaya kami adalah mencegah agar tidak terjadi lagi hal serupa di lingkungan sekolah. Tidak hanya pihak sekolah saja yang bergerak, lingkungan keluarga dan masyarakat turut bekerja sama,” pungkas Suratno. (rei/aif/c1)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/