27.5 C
Banyuwangi
Tuesday, November 29, 2022

Gara-Gara Tidak Dikasih ‘Jatah’ Istri, Kakek Sahrito Cabuli Adik dan Anak Tiri

SITUBONDO, Jawa Pos Radar Situbondo – Sahrito, warga Desa/Kecamatan Asembagus, Situbondo, yang diduga mencabuli anak tiri dan adiknya sudah ditetapkan menjadi tersangka. Pria 57 tahun itu terancam hukuman 15 tahun penjara.

Kasatreskrim Polres Situbondo, AKP Dedhi Ardi Putra, menyebutkan sebelum ditetapkan tersangka, penyidik telah memiliki dua alat bukti. Selain itu, juga telah dilakukan gelar perkara. “Kami sudah melakukan gelar perkara. Dari dua alat bukti yang kami miliki dan pemeriksaan saksi-saksi, kami menaikkan status saudara SH dari saksi menjadi tersangka,” ungkapnya, Rabu (6/9).

Kata Kasatreskrim, Sahrito juga mengaku sudah melakukan perbuatan yang dilarang oleh agama tersebut. Yaitu memegang kemaluan anak tirinya. Yang ironis dia melakukan di atas sepeda motor pada saat berboncengan. “SH memegang kemaluan anak tirinya saat naik sepeda motor. Itu dilakukan pada malam hari dari Jalan Raya Desa Seletreng, hingga sampai ke Kecamatan Asembagus. Pengakuan SH hanya satu kali,” imbuh Kasatreskrim AKP Dedhi Ardi Putra.

Baca Juga :  DPO Kasus Pencabulan Akhirnya Menyerahkan Diri

Tersangka juga mengakui sudah mencabuli adiknya yang ada di rumah Desa Seletreng, Kecamatan Kapongan. Cara yang dilakukan Sahrito hanya menutupi lampu menggukan jaket yang dipakai. Tujuannya agar aksinya tidak diketahui oleh orang. “SH mengaku meniduri adik kandungnya di emperan rumahnya hanya satu kali,” ucap kasatreskrim singkat.

Alasan Sahrito tega melakukan perbuatan tersebut, mengaku karena tidak diberi ‘jatah’ oleh istrinya. “Kalau SH tidak membawa pulang Rp 100 ribu, istrinya tidak mau melayani SH. Sehingga SH melampiaskan nafsunya kepada orang terdekatnya. Yaitu  AS  14, warga Desa Seletreng, Kecamatan Kapongan dan NA, 15, yang merupakan anak tirinya,” terang Kasatreskrim.

Lebih lanjut, pria asal Mojokerto itu mengungkapkan, tersangka dikenakan Pasal 72 E junto Pasal 82 UU nomor 35 tahun 2014 tentang Perlindungan Anak. Dengan ancaman hukuman maksimal 15 tahun. “Untuk barang bukti yang kami amankan dari tersangka adalah jaket yang dibuat untuk menutup lampu, dan sepeda motor yang dijadikan sarana melakukan pencabulan,” tutur Kasatreskrim.

Baca Juga :  Rudapaksa Anak Asuh, Pengasuh Panti Asuhan Dicokok Polisi

Sementara itu, Sahrito menyadari atas apa yang sudah dilakukan tersebut. Sahrito mengaku perbuatannya adalah hal yang salah dan menyebabkan dia terkurung di jeruji besi. “Saya menyesal, dan perbuatan saya memang salah,” pungkas Sahrito, pada koran ini.

Sekedar diketahui,  Sahrito, warga Desa/Kecamatan Asembagus, dibekuk Anggota Polsek Kapongan, di Desa Saletreng, Kecamatan Kapongan, 26 Agustus 2022. Sahrito digrebek setelah kepala Desa Seletreng menghubungi Polsek Kapongan untuk melakukan pengamanan. (hum/pri)

SITUBONDO, Jawa Pos Radar Situbondo – Sahrito, warga Desa/Kecamatan Asembagus, Situbondo, yang diduga mencabuli anak tiri dan adiknya sudah ditetapkan menjadi tersangka. Pria 57 tahun itu terancam hukuman 15 tahun penjara.

Kasatreskrim Polres Situbondo, AKP Dedhi Ardi Putra, menyebutkan sebelum ditetapkan tersangka, penyidik telah memiliki dua alat bukti. Selain itu, juga telah dilakukan gelar perkara. “Kami sudah melakukan gelar perkara. Dari dua alat bukti yang kami miliki dan pemeriksaan saksi-saksi, kami menaikkan status saudara SH dari saksi menjadi tersangka,” ungkapnya, Rabu (6/9).

Kata Kasatreskrim, Sahrito juga mengaku sudah melakukan perbuatan yang dilarang oleh agama tersebut. Yaitu memegang kemaluan anak tirinya. Yang ironis dia melakukan di atas sepeda motor pada saat berboncengan. “SH memegang kemaluan anak tirinya saat naik sepeda motor. Itu dilakukan pada malam hari dari Jalan Raya Desa Seletreng, hingga sampai ke Kecamatan Asembagus. Pengakuan SH hanya satu kali,” imbuh Kasatreskrim AKP Dedhi Ardi Putra.

Baca Juga :  Penuhi Panggilan Penyidik, Korban Perkosaan Kembali Datangi Mapolresta

Tersangka juga mengakui sudah mencabuli adiknya yang ada di rumah Desa Seletreng, Kecamatan Kapongan. Cara yang dilakukan Sahrito hanya menutupi lampu menggukan jaket yang dipakai. Tujuannya agar aksinya tidak diketahui oleh orang. “SH mengaku meniduri adik kandungnya di emperan rumahnya hanya satu kali,” ucap kasatreskrim singkat.

Alasan Sahrito tega melakukan perbuatan tersebut, mengaku karena tidak diberi ‘jatah’ oleh istrinya. “Kalau SH tidak membawa pulang Rp 100 ribu, istrinya tidak mau melayani SH. Sehingga SH melampiaskan nafsunya kepada orang terdekatnya. Yaitu  AS  14, warga Desa Seletreng, Kecamatan Kapongan dan NA, 15, yang merupakan anak tirinya,” terang Kasatreskrim.

Lebih lanjut, pria asal Mojokerto itu mengungkapkan, tersangka dikenakan Pasal 72 E junto Pasal 82 UU nomor 35 tahun 2014 tentang Perlindungan Anak. Dengan ancaman hukuman maksimal 15 tahun. “Untuk barang bukti yang kami amankan dari tersangka adalah jaket yang dibuat untuk menutup lampu, dan sepeda motor yang dijadikan sarana melakukan pencabulan,” tutur Kasatreskrim.

Baca Juga :  NU-Ansor Bantu Nutrisi hingga Biaya Persalinan Korban Pencabulan

Sementara itu, Sahrito menyadari atas apa yang sudah dilakukan tersebut. Sahrito mengaku perbuatannya adalah hal yang salah dan menyebabkan dia terkurung di jeruji besi. “Saya menyesal, dan perbuatan saya memang salah,” pungkas Sahrito, pada koran ini.

Sekedar diketahui,  Sahrito, warga Desa/Kecamatan Asembagus, dibekuk Anggota Polsek Kapongan, di Desa Saletreng, Kecamatan Kapongan, 26 Agustus 2022. Sahrito digrebek setelah kepala Desa Seletreng menghubungi Polsek Kapongan untuk melakukan pengamanan. (hum/pri)

Artikel Terkait

Most Read

Artikel Terbaru

/