PURWOHARJO, Jawa Pos Radar Genteng – Pasangan suami istri (pasutri) Prico Dwi Prama Dana Putra, 24, dan Ida Dwi Damayanti, 26, warga Dusun Sidodadi, Desa Karetan, Kecamatan Purwoharjo ditemukan keponakannya Ika Evelin Putri, 12, tewas dengan mengenaskan di rumahnya, Selasa (27/6) pagi.
Saat ditemukan sekitar pukul 07.30, tubuh Ida Dwi Damayanti ditemukan terlentang di lantai kamar rumahnya, dari hidungnya keluar busa. Sedang sang suami Prico Dwi Prama Dana Putra, tubuhnya menggantung di kandang belakang rumahnya. “Suami dan istri meninggal semua,” cetus Kapolsek Purwoharjo, AKP Budi Hermawan.
Pasutri yang ditemukan meninggal dengan gantung diri itu, diketahui sekitar pukul 07.30. Orang yang kali pertama melihat Ika Evelin Putri, 12, keponakan Prico Dwi Prama yang selama ini tinggal di rumah pasangan muda ini. Ika yang bangun tidur, melihat rumah bapak angkatnya sepi. Semua kamar di rumah itu masih tertutup. “Ika mau masuk ke kamar Prico dan Ida, tapi terkunci, dan kuncinya menggantung di pintu bagian luar. Ika langsung buka pintu,” terangnya.
Saat buka pintu kamar itu, Ika melihat Ida Dwi tubuhnya terlentang di lantai kamar dan tidak bergerak. Melihat pemandangan yang menyeramkan, remaja putri ini ketakutan dan berupaya mencari Prico dengan lari ke belakang rumah. “Saat Ika ke belakang rumah, melihat Prico tubuhnya menggantung di kandang,” ungkapnya.
Ika semakin ketakutan dan lari keluar rumah untuk menyampaikan ke para tetangga. Hanya dalam hitungan detik, warga di kampung itu geger. Para tetangga langsung berdatangan ke rumah pasutri yang meninggal dengan cara tragis. “Warga lapor ke polsek sekitar pukul 09.30,” cetusnya.
Kapolsek mengaku juga langsung ke lokasi setelah mendapat laporan dari warga itu. Saat di lokasi, tubuh Prico masih menggantung di kandang dengan leher terikat kain kerudung warna hitam dengan kayu di kandang,” ungkapnya.
Menurut Kapolsek, saat kejadian ini yang ada di rumah pasutri bersama keponakannya Ika Evelin dan anak korban yang masih berusia 11 bulan. “Dari keterangan Ika, setelah Subuh atau sekitar pukul 04.00, Prico dan Ida Dwi ini bertengkar,” katanya.
Saat bertengkar itu, lanjut Kapolsek, sampai menimbulkan suara keras hingga membuat Ika Evelin yang tidur sendiri di kamar belakang terbangun. Pertengkaran itu berhenti sekitar pukul 04.30. “Prico ke kamar Ika Evelin sambil menggendong anaknya yang masih berumur 11 bulan,” jelasnya.
Ika Evelin yang saat itu masih tiduran, langsung bangun dan menyambut saudaranya yang kini juga menjadi ayah angkatnya itu. “Prico menyerahkan anaknya pada Ika Evelin sambil bilang, titip ya, tolong dirawat. Setelah itu Prico keluar,” bebernya.
Kapolsek Purwoharjo menjelaskan, berdasarkan keterangan dari para tetangga, pasutri ini sering bertengkar. Sebelum keduanya ditemukan meninggal, tetangga ada yang mendengar keduanya sempat bertengkar. Hanya saja, tidak mengetahui masalah yang membuat bertengkar. “Bertengkarnya sangat keras,” jelasnya.
Saat pasutri ini masih berada di rumah, Kapolsek menyampaikan tidak sempat memeriksa secara medis. Saat itu, dua dokter di Puskesmas Purwoharjo kebetulan sedang cuti bersama. “Di Puskesmas Purwoharjo tidak ada dokternya, dua dokter sedang cuti bersama, pasutri langsung kita bawa ke RSUD Genteng,” ungkapnya.
Tapi sayang, masih kata Kapolsek, pasutri ini hanya bisa dilakukan pemeriksaan fisik. Keluarga menolak dilakukan otopsi. “Hasil pemeriksaan pada tubuh istri tidak ada luka bekas kekerasan, sedang suami ada luka di leher bekas jeratan saat gantung diri,” katanya.
Ditanya penyebab sang istri meninggal dan suami gantung diri, Kapolsek mengaku masih belum mengetahui secara pasti. Saat ini, pihaknya sedang melakukan penyelidikan. “Kita masih memeriksa saksi dan penyelidikan lainnya,” ujarnya.
Hanya saja, lanjut dia, dari keterangan saksi Ika Evelin, diduga psutri itu yang meninggal dulu sang istri Ida Dwi. Itu bisa dilihat dari pintu kamarnya terkunci dari luar. Tapi penyebab meninggal, juga perlu dilakukan penyelidikan. “Kalau Prico sepertinya sengaja bunuh diri, di dekatnya ada Vape. Diduga sebelum gantung diri merokok dulu,” terangnya.(gas/abi)
Editor : Agus Baihaqi